Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Tatapan Rindu


__ADS_3

Hari ini tepat lima hari Freya dirawat di rumah sakit. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi di ulu hatinya maupun lambungnya. Muntah yang dialaminya sudah tidak separah sebelumnya. Freya juga masih mengalami morning sickness, tapi dia bukannya muntah di pagi hari melainkan menjelang sore sampai malam dia akan mengalami morning sickness.


Hari ini juga Freya sudah dibolehkan pulang oleh dokter melihat kondisi Freya yang sudah jauh lebih baik dari pertama dia masuk rumah sakit.


Kabar di perbolehkan nya pulang disambut begitu antusias oleh Freya juga Maura, namun tidak dengan Bryan. Bryan masih khawatir tiap kali melihat Freya yang muntah-muntah di sore hari ataupun malam hari. Dia takut kalau Freya sampai muntah darah dan pingsan lagi.


Sebelum pulang, Bryan mengajak Freya untuk melakukan USG ditemani Mama Lea juga yang kebetulan sudah datang dari pagi. Sedangkan Maura harus pulang karena harus mengikuti test, dia sebentar lagi mau ikut kompetisi matematika di Singapura.


Bryan begitu antusias saat Freya menjalani USG, karena ini baru pertama kalinya dia bisa melihat sebesar apa janin yang ada di rahim istrinya. Bahkan Bryan sampai terharu saat mendengar detak jantung bayinya yang masih berusia 11 minggu dengan ukuran sebesar bola golf dan panjang 3 sentimeter. Tak hentinya Bryan mencium kening Freya dengan mengucapkan beribu terima kasih dan sesekali mencium tangan kanan Freya.


"Sayang!! Kamu kembali dulu sama Mama ya."


"Aku mau lihat Andre dulu karena nanti malam dia dan anaknya akan melakukan operasi besar."


"Nggak apa kan?"


"Atau kamu mau ikut?" tawar Bryan menatap Freya yang duduk di kursi roda. Berharap istrinya itu ikut serta dengan dirinya.


"Nggak!! Aku tunggu di ruang rawat sama Mama sambil nunggu Papa." tolak Freya yang belum siap kalau harus ketemu Anelis ataupun Mama kandungnya. Freya belum menyiapkan hatinya untuk menerima kenyataan kalau dia memiliki seorang kakak dan Mama kandung. Dan dia juga masih marah juga kecewa sama Anelis yang masih saja mengganggu Bryan padahal Anelis sendiri tahu kalau Bryan sudah menikah. Meski alasannya memang meminta bantuan Bryan untuk memanggil Andre supaya cepat pulang. Tetap saja dia kecewa kenapa harus bicara sembunyi-sembunyi.


Bryan melihat Freya yang sudah pergi bersama Mama Lea. Bryan kembali masuk ke dalam ruangan dokter Obgyn. Dia tadi belum puas dan masih khawatir kalau Freya sudah diperbolehkan pulang.


"Anda tenang saja Tuan Bryan."


"Nona Freya insha Allah akan baik-baik saja dan tidak akan muntah darah lagi selagi apa yang dimakannya tidak dia muntah kan."


"Dan harus ada makanan yang cukup untuk menunjang kesehatan Ibu dan janinnya."


"Dan saya lihat, tiga hari terakhir ini Nona Freya sudah makan dengan normal meski ada sedikit mual dan muntah."


"Mual muntah itu wajar terjadi pada ibu hamil di trimester pertama bahkan sampai trimester kedua."


"Jadi anda tidak perlu khawatir lagi Tuan."


"Anda bisa membawa Nona Freya ke rumah sakit kalau ada keluhan yang tidak wajar yang dirasakan Nona Freya."


"Nona Freya untuk sementara waktu di larang bepergian jauh sampai kandungannya benar-benar kuat." jelas Dokter Obgyn, Dokter Sari sejelas mungkin supaya Tuan Muda yang duduk di seberang meja paham dan mengerti.


"Berapa lama?" tanya Bryan yang memang belum paham soal kehamilan. Yang dia pahami hanya dunia bisnis, marketing dan finance accounting juga ilmu aljabar yang fasih di luar kepala. Dan itu menurun ke anaknya, Maura.


"Kurang lebih sampai kandungan Nona Freya menginjak usia empat atau lima bulan baru bisa bepergian jauh."


"Itu hanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi."


"Dan tolong jaga emosi Nona Freya juga jangan sampai stress." Bryan mengangguk paham. Seenggaknya di juga dulu pernah mempelajari biologi meski tidak begitu mendalami seperti mendalami matematika dan fisika.


************


Freya juga Mama Lea terlihat memakan buah mangga. Lebih tepatnya Freya yang makan karena Mama Lea hanya melihat saja dengan mata yang merem melek dengan sesekali membasahi bibirnya juga meneguk saliva perlahan. Mama Lea tidak mungkin makan buah mangga yang belum masak. Pasti nanti dia akan sakit perut dan keluar masuk kamar mandi.


"Mama tadi kenapa tidak ikut sama Mas Bryan melihat Andre?" tanya Freya sambil mengunyah mangga muda dengan nikmatnya tanpa memperdulikan rasanya yang asam.

__ADS_1


"Mama nanti saja nunggu Papa menjemput kita." jawab Mama Lea. Freya mengangguk saja karena sedang menikmati mangga muda yang sudah lima hari tidak dia makan karena dilarang dokter.


"Sudah Freya jangan banyak-banyak. Nanti mual kamu semakin parah." tegur Mama Lea saat melihat Freya akan mengupas satu lagi.


"Tapi Freya masih ingin,Ma." ucap Freya dengan tampang memelas menatap Mama Lea juga mencium dan menghirup bau mangga muda yang tadi dibawakan oleh Mama mertuanya itu karena Freya semalam memintanya tanpa sepengetahuan Bryan pastinya. Kalau sampai tahu sudah pasti hari ini dia tidak diperbolehkan pulang.


"Kamu mau nginep di rumah sakit lagi?" Freya menggelengkan kepalanya cepat menjawab pertanyaan Mama Lea.


"Kalau Bryan tahu, Mama yakin Bryan tidak mengizinkan kamu pulang." kata Mama Lea.


Freya membenarkan perkataan Mama mertuanya. Dia saja sebenarnya sudah dari dua hari yang lalu minta pulang tapi tidak diizinkan Bryan juga Papa Abri dan dokter pun juga belum mengizinkan. Dan sekarang dia sudah boleh pulang dan tidak mau tidur lagi di rumah sakit.


"Kalau nggak mau, stop makan mangga mudanya."


"Itu juga masih ada buah yang lain yang bisa kamu makan." ujar Mama Lea menunjuk buah apel, jeruk juga pir serta anggur hijau yang ada di atas meja.


Dengan berat hati, juga dengan wajah yang begitu sedih Freya meletakkan kembali buah mangga dan disimpannya sebelum Bryan kembali.


Mama Lea menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dilihatnya Bryan kembali tidak sendiri, melainkan dengan seorang lelaki, keponakan dari suaminya juga dua orang wanita yang Mama Lea kenal salah satunya. Mama Lea lantas berdiri dengan menatap tajam pada Bryan. Bisa-bisa anaknya itu membawa masuk pembuat onar yang menyebabkan Freya hampir saja meninggalkan Bryan dalam kondisi hamil untuk kedua kalinya.


Mama Lea melirik Freya yang terlihat tengah asik dengan aneka jenis buahnya sambil melihat vidio di handphone. Freya kelihatannya tidak terusik sama sekali dengan kedatangan Bryan juga posisinya sekarang yang berdiri di samping Freya. Mama Lea berharap Freya nantinya tidak kepikiran terus hingga membuatnya stress pikiran.


"Ma!! Bau buah mangga nya kayaknya masih tercium dech."


"Di buang saja gimana, Ma?" Freya mendongak menatap Mama Lea yang berdiri menatap pintu masuk dalam diam.


Freya yang penasaran menoleh dan membuat mangkuk buah dan juga handphonenya meluncur dari pegangan tangannya hingga terkoyak dilantai.


"Freya!! Kamu nggak apa?" tanya Mama Lea. Dia yakin pasti Freya saat ini tengah syok dan dia tidak mau Freya bersedih dan itu akan mempengaruhi kehamilannya.


Freya hanya diam dan berdiri dari duduknya dengan pandangan masih tertuju pada Bryan. Freya berjalan mendekati Bryan tanpa menoleh ke siapapun.


"Aku mau pulang sekarang."


"Tidak usah menunggu Papa." ucap Freya dengan nada rendah dan terkesan tegas juga dingin.


"Ada yang ingin bertemu denganmu." Bryan menatap ketiga orang yang dibawanya masuk bergantian dan tidak memperdulikan permintaan Freya yang ingin pulang. Dia tahu pasti Freya belum siap bertemu Anelis juga Mama kandungnya.


"Mereka akan menjelaskan semuanya." Bryan berkata dengan sangat pelan juga lembut supaya Freya mau mendengar penjelasan dari ketiga orang yang masih diam saja itu.


Freya menggeleng perlahan. Dia menolak untuk bertemu dengan mereka. Terutama kedua wanita itu. Dia menatap Bryan dengan tatapan sedih bercampur marah juga kecewa.


"Aku mau pulang." ucap Freya dengan suara tercekat karena tak sengaja matanya melihat wanita paruh baya yang berdiri tepat di belakang Bryan tengah menangis dalam diam menatap dirinya dengan tatapan rindu. Freya dapat merasakan itu namun dia tepisnya. Wanita yang sekilas begitu mirip dengan dirinya. Warna rambut juga warna matanya bahkan warna kulit mereka sama.


"Aku ingin semua cepat selesai dan tidak ada masalah lagi di keluarga kita."


"Aku ingin mengakhiri semua masalah ini agar hubungan diantara dua keluarga baik kembali."


"Coba kamu dengarkan dulu penjelasan mereka."


"Aku sudah memaafkan kamu."

__ADS_1


"Tapi kamu belum memaafkan mereka." sargah Bryan cepat.


Freya sontak diam dengan mata berkaca-kaca menatap Bryan. Benar dia sudah memaafkan Bryan,tapi dia memang belum memaafkan Anelis atas kejadian beberapa minggu yang lalu. Yang membuat dirinya harus pergi dan sembunyi dari Bryan untuk menenangkan diri.


Tapi kenapa yang datang menemuinya tidak hanya Anelis saja. Kenapa juga ada wanita paruh baya itu. Wanita yang kata Ibu Arini sangat Bapak cintai bahkan sebelum Bapak menutup mata untuk selamanya. Kata Ibu, Bapak mengatakan kalau dia begitu mencintai Marisa, Mama kandung Freya dan berarti itu dirinya.


Air mata Freya tumpah mengingat kejadian dimana Ibu Arini yang dia anggap Ibu kandungnya sendiri sebelum meninggal menceritakan sosok Mama kandungnya.


"Freya!!" pekik Mama Lea yang melihat Freya hampir terjatuh.


Bryan buru-buru memegang kedua lengan Freya saat istrinya itu hampir saja jatuh. Dibawanya tubuh Freya kedalam dekapannya. Entah Bryan tidak tahu istrinya itu menangis karena apa. Entah karena melihat Anelis yang sempat membuatnya kecewa hingga dia marah dan bersembunyi atau karena melihat Marisa juga ada di sana.


"Kak!!" panggil Andre dengan suara pelan. Bryan menoleh menatap sepupunya itu.


"Kami sebaiknya pergi dulu. Mungkin sekarang waktunya belum pas untuk meminta maaf dan menjelaskan semua melihat kondisi kakak ipar seperti sekarang."


"Kami hanya minta doanya supaya nanti malam operasinya berjalan lancar dan Michel bisa sembuh." ujar Andre


"Kami pergi dulu Bibi." pamit Andre pada Mama Lea dan membawa Anelis yang sedari tadi diam dengan rasa bersalah juga menahan tangis pergi dari ruang rawat Freya.


Marisa masih diam ditempat menatap Freya yang ada di dekapan Bryan. Dia sedari tadi tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar saat melihat anak yang dari bayi tidak dia lihatnya dan sekarang terlihat begitu membenci dirinya.


"Aunty, ayo keluar."


Freya menutup mulutnya untuk meredam suara yang menangis. Air matanya semakin deras jatuh membasahi pipinya saat mendengar Anelis memanggil wanita paruh baya itu Aunty. Bukankah wanita paruh baya itu juga Ibu kandung Anelis. Kenapa Anelis memanggilnya Aunty.


"Apa yang dikatakan Mas Bryan waktu itu benar kalau Anelis membenci Mamanya karena membiarkan aku dibawa pergi sama Bapak?" batin Freya bertanya-tanya.


"Sudah jangan menangis lagi."


"Kita pulang sekarang." Bryan mengusap punggung Freya dengan lembut dan menyapukan bibirnya di puncak kepala Freya.


Freya mengangguk dalam dekapan Bryan. Pikirannya masih terbayang tatapan rindu dari seorang Mama, seorang Ibu kandung yang begitu merindukan anaknya yang telah bertahun-tahun tidak dilihatnya.


"Maafkan Freya, Ma. Freya hanya belum siap dan belum bisa menerima kenyataan ini walau sudah tahu beberapa tahun yang lalu sebelum Ibu meninggal."


"Beri Freya waktu lagi untuk menerima semua kenyataan ini."


"Dan Freya pastikan Anelis tidak akan memanggil Aunty lagi."


🍁🍁🍁


have a nice day


Terima kasih untuk kakak-kakak yang masih setia dengan kisah Freya dan Bryan juga si kecil Maura.


Maaf ya kalau up nya lama dan cuma sedikit.


Mohon dimaklumi yaaaa


big hug from far away 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2