Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Membahas pernikahan ku dengan Manda


__ADS_3

Manda baru saja turun dari mobilnya, di berjalan malas memasuki rumah kedua orang tuanya. Sudah hampir sebulan dia tidak pulang ke rumah orang tuanya yang selalu membuat telinganya panas. Tak hanya telinganya, hatinya pun terkadang ikut panas sampai terkadang selalu bikin dia emosi dan malas untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Tapi hari ini dia memang harus pulang ke rumah orang tuanya karena memang ada yang harus dibicarakan dan harus segera diselesaikan dalam waktu kurang dalam dua minggu.


"Ingat rumah juga ternyata putri ku satu ini." sindir Mama Manda saat melihat Manda yang baru datang dan kembali fokus pada sinetronnya


Manda ikut duduk di ruang keluarga bersama Mama juga Abangnya. Dia malas untuk naik ke lantai dua menuju kamarnya.


"Abang dirumah? Emang Abang nggak kerja?" tanya Manda pada Abangnya tanpa memperdulikan sindiran Mamanya.


"Buat apa kerja kalau adik Abang satu ini sebentar lagi akan menjadi Nyonya muda di keluarga Abrisam." jawab Abang Manda dengan angkuhnya. Dia asik main game di handphone nya.


"Berdoa saja semoga keinginan kalian untuk berbesan dengan keluarga Abrisam terwujud." ucap Manda santai dan berlalu pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk mendinginkan pikirannya.


"Apa maksud adik mu itu?" tanya Mama Manda pada putranya.


Abangnya Manda hanya mengendihkan bahunya. Abangnya itu tiap hari kerjaannya hanya main game terus padahal usianya sudah kepala tiga. Hari-hari juga dia selalu meminta uang pada Manda untuk bersenang-senang dengan ceweknya. Dan ceweknya itu mau saja sama orang pengangguran seperti Abangnya.


Mamanya sok jadi sosialita namun untuk beli ini itu selalu minta juga pada Manda untuk membelikannya. Kenapa tidak minta saja sama suaminya?


Jawabannya karena suaminya hanya menjalankan bisnis keluarga tanpa memiliki bisnis sendiri. Dan bisnis keluarganya saat ini sudah hampir gulung tikar. Makanya mereka sekarang meminta Manda untuk menikah dengan Tuan Muda Abrisam untuk memajukan lagi bisnis keluarga Hertanto.


Memang keluarga yang tidak punya malu. Cucu tertua di keluarga Hertanto, sepupu Manda telah dipenjara karena membunuh putri dari keluarga Abrisam dan sekarang dengan mudahnya keluarga Hertanto merayu Nyonya Abrisam untuk menikahkan putranya, Bryan dengan putri mereka, Manda.


Dan dengan mudahnya Mama Lea mengiyakan rayuan itu dengan alasan kalau Manda itu anaknya baik tidak seperti yang orang lain lihat.


"Papa belum pulang, Ma?" tanya Manda setelah kembali dari dapur membawa minuman dingin.


"Ada di kamar mandi orangnya." jawab Mama Manda.


Manda hanya mengangguk sambil meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Dia melirik Mama juga Abangnya yang terlihat cuek saja dengan kehadirannya.


"Kenapa aku bisa lahir di tengah-tengah keluarga seperti ini sih?" gerutu Manda dalam hati.


"Sudah datang kamu."


Manda melihat Papanya yang berjalan menuju ke arahnya dan duduk di dekat istrinya.


"Kapan kita akan membahas pernikahanmu dengan Bryan bersama keluarga Abrisam?" tanya Papa Manda yang terlihat cuek dengan putrinya.


"Manda nggak tahu, karena sekarang ada wanita yang mengaku memiliki anak dengan Bryan." jawaban yang Manda berikan membuat kedua orang tuanya juga Abangnya langsung menatap tajam pada Manda untuk memberi penjelasan apa maksud dari pernyataannya itu.


"Dan Bryan begitu sayang dengan anak kecil itu juga kelihatannya sama Ibunya anak itu juga."


"Bahkan Tuan Abrisam sendiri melamar wanita itu untuk Bryan." sambung Manda menjelaskan maksud dari pernyataannya.

__ADS_1


"Bryan punya anak?" tanya Mama Manda tidak percaya.


"Ya bagaimana tidak punya anak kalau tiap hari main wanita di Club." jawab Abang Manda yang memang pernah berkali-kali melihat Bryan di Club Malam.


Mama Manda menatap tajam penuh amarah sama Manda. "Kenapa kamu sampai saat ini tidak bisa merayu Bryan dan menjebaknya supaya kamu bisa dengan mudahnya menikah dengan Bryan?" tanya Mama Manda tanpa rasa malunya meminta sang putri untuk menjebak seorang Tuan Muda Abrisam supaya menikah dengan anaknya.


"Bagaimana aku bisa merayu Bryan kalau Bryan saja selalu menghindar saat aku menemuinya." jawab Manda dengan kesalnya, karena dia sudah berkali-kali mendekati Bryan namun Bryannya selalu menghindar bahkan di tolak mentah-mentah di depan umum. Malu, itu yang Manda rasakan waktu itu.


"Mama akan menghubungi Nyonya Alea untuk membahas pernikahan ini dan juga masalah wanita yang mengaku memiliki anak dengan Bryan itu." kata Mama Manda dan pergi ke kamar untuk menghubungi Mama Lea.


"Kenapa gak kamu jebak saja itu Bryan dan kamu mengaku hamil anaknya juga." kata Papa Manda tanpa di filter terlebih dahulu. Tidak istri tidak suami sama saja. Sama-sama gila.


"Benar itu yang dikatakan Papa." Abang Manda membenarkan perkataan Papanya.


"Apalagi kalau kamu beneran hamil anaknya Bryan." sambung Abang Manda menatap adiknya itu dengan tatapan mengejek.


Manda mendengkus kesal mendengar perkataan Papa juga Abangnya itu. Bukannya mencari solusi untuk masalahnya tapi ini justru menambah masalahnya. Manda mengelus perutnya pelan mengingat perkataan Papa juga Abangnya.


"Nanti malam kita di undang makan malam sama keluarga Abrisam di restorannya di daerah X." ujar Mama Manda setelah kembali dari kamar dan gabung dengan yang lainnya.


Papa Manda mengangguk dengan seringaian jahatnya. Dia akan menyusun rencana supaya anaknya bisa dengan segera menikah dengan Bryan. Supaya apa yang diinginkannya cepat terwujud.


"Manda ke kamar dulu." pamit Manda yang tidak mendapat sahutan apapun dari anggota keluarganya.


Bryan dan Freya terlihat baru saja keluar dari ruang Dokter Gery. Tadi sehabis makan siang Maura merengek lagi pada Ayahnya meminta untuk segera pulang. Bryan yang tidak tega melihat putrinya yang terus merengek dan menangis akhirnya pergi menemui Dokter Gery bersama Freya. Menanyakan tentang kondisi Maura sekiranya apa sudah aman dan bisa dibawa pulang.


"Besok pulangnya nunggu aku dulu." Bryan membuka pembicaraan di tengah keheningan saat mereka berjalan kembali menuju kamar rawat Maura.


"Aku pagi ada meeting, mungkin sampai jam sebelas siang." sambung Bryan yang mencuri pandang Freya yang berjalan di sampingnya.


Bryan saat ini melangkahkan kakinya dengan langkah kecil supaya bisa berjalan berdampingan dengan Freya. Siapa tahu besok dan seterusnya akan selalu berdampingan. Tinggal menunggu waktu saja, karena besok Maura sudah pulang dan berarti Freya akan menjawab lamarannya yang kemarin.


Bibir bergetar saat Bryan menahan untuk tidak tersenyum saat membayangkan kalau Freya akan menerima lamarannya dan segera menjadi istri sahnya. Bryan sudah tidak sabar bagaimana reaksi 'si rosi' nantinya, pasti akan senang karena bisa menikmati lubang kenikmatan.


Drrrtttt


Bryan merogoh saku celananya saat merasakan handphone nya bergetar. "Papa." gumam Bryan.


"Kamu duluan saja, aku terima telephone dulu." kata Bryan dan hanya diangguki Freya.


"Iya, Pa?" tanya Bryan setelah menggeser tombol hijau.


"Kamu dimana?" tanya Papa Abri


"Bryan di rumah sakit. Ada apa?"

__ADS_1


"Nanti malam datang ke restoran di daerah X. Kita selesaikan masalah kita dengan Manda secepatnya sebelum kamu menikah dengan Freya."


"Papa gak mau nantinya setelah kamu menikah dengan Freya keluarga itu menuntut yang bukan-bukan dan membuat Freya maupun Maura dalam bahaya." jelas Papa Abri panjang lebar.


"Baik, Pa. Bryan rencananya juga akan mengakhiri ini semua meski harus bermusuhan dengan Mama." kata Bryan menahan kekesalannya pada Mama Lea.


"Urusan Mama, Bryan serahkan pada Papa." sambung Bryan.


"Baiklah. Berikan pengawalan pada Freya juga Maura."


"Papa nggak mau terjadi apa-apa sama mereka nantinya."


"Baik Pa."


Bryan mengakiri sambungan telephone dan melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Maura.


"Kamu mau kembali ke kantor?" tanya Freya saat melihat Bryan baru saja masuk.


"Kenapa memangnya?" tanya Bryan balik dan duduk di sofa samping Freya.


"Nggak apa, cuma tanya saja." jawab Freya kembali memainkan handphone nya.


"Kenapa? kamu masih kangen sama aku, makanya tanya seperti itu." kata Bryan dengan pedenya, tangannya di rangkulkan pada pundak Freya dan menariknya pelan supaya lebih dekat dengannya.


"Ishhh...Apaan sih!!! Pede banget jadi orang." sungut Freya dan melepaskan tangan Bryan yang merangkul pundaknya. Dia bergeser sedikit agak jauh dari Bryan setelah berhasil melepaskan rangkulan tangan Bryan.


Bryan terkekeh pelan, dia suka saat menggoda Freya dan apalagi saat melihat Freya yang terlihat kesal ataupun malu pada akhirnya. Suka gemas sendiri Bryan melihatnya.


"Nanti malam aku akan pergi untuk membahas pernikahan ku dengan Manda." kata Bryan tanpa menatap Freya, dia sibuk dengan ponselnya


Freya yang terkejut langsung menoleh ke samping menatap Bryan yang duduk di sebelahnya. Entah kenapa hati Freya terasa sakit saat mendengar Bryan mengatakan itu. "Jadi benar Bryan akan menikah dengan Manda? tapi kenapa dia melamarku kemarin? Terus, perhatian yang dia berikan itu apa maksudnya?" batin Freya bertanya-tanya.


"Semoga nanti malam berjalan lancar dan mudah untuk diselesaikan." sambung Bryan yang masih terlihat sibuk dengan ponselnya.


Freya memalingkan wajahnya menatap keluar jendela. Dia menahan matanya yang sudah mulai memanas. "Apa aku sudah mulai suka sama dia? kenapa sakit banget rasanya." batin Freya sudah menangis mendengar harapan Bryan untuk nanti malam.


"Ya..Semoga lancar acaranya."


🍁🍁🍁


Have a nice day


Jangan lupa like and vote ya kakak-kakak readers tercinta dan tersayang


Big Hug From Far Away 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2