Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Maaf ya Mas!!


__ADS_3

"Maura nggak mau makan kalau nggak sama Ayah!" tolak Maura saat di ajak Bundanya untuk makan malam.


"Ayah tadi kan sudah telephon Maura hari ini pulang telat." Freya mencoba mengingatkan putrinya yang sedang merajuk dari siang tadi sepulang dari kantor.


Tadi sore Bryan menelepon Freya memberi tahu Maura kalau dia akan pulang malam. Maura semakin merajuk pada Ayahnya, padahal dia mau memberi tahu kalau dia sudah mengingat kembali ingatannya tentang siapa Ayah kandungnya.


"Tapi Maura mau Ayah, Bunda." Maura melengkungkan bibirnya ke bawah dengan mata berkaca-kaca bersiap untuk menangis.


Freya menghembuskan nafas lelah, Bryan tadi bilang akan pulang telat karena melakukan pertemuan dengan kliennya yang dari jepang. Yang seharusnya di lakukan di siang hari dan harus dibatalkan oleh Bryan hanya karena wanita di masa lalu. Ya!! Bryan tadi sudah jujur sama Freya.


"Maaf sayang, aku nggak tahu kamu tadi ke kantor sama Maura juga."


"Maaf tadi aku ada sedikit masalah dengan orang di masa lalu."


"Aku terpaksa menemuinya untuk menyelesaikan masalah biar cepat clear."


"Biar rumah tangga kita tidak di ganggu terus."


"Dia perempuan apa laki-laki?" tanya Freya yang pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Perempuan. Dia dulu mantan pacar aku atau lebih tepatnya mantan tunangan."


"Maaf ya sebelumnya aku nggak jujur sama kamu."


"Nanti akan aku ceritakan setelah pulang kerja."


"Hmm..Baiklah, jangan lupa sholat dan makan."


"Kalau sudah selesai langsung pulang gak usah belok-belok."


"Kalau gak belok nabrak dong sayang."


"Maksudnya gak usah mampir, langsung pulang!"


"Siap Ibu negara."


Freya menatap Maura yang duduk di depannya dengan bersandar boneka teddy bear besar yang Bryan belikan kemarin waktu di Jeju.


"Sedikit saja ya!! Maura tadi siang belum makan loh. Maura hanya makan roti saja tadi siang."


"Memangnya Maura tidak lapar?" Maura menggeleng dengan buliran air mata sudah jatuh di pipinya.


"Nanti kalau Ayah sampai tahu Maura tidak mau makan bagaimana?"


"Terus Ayah nanti marah sama Maura juga sama Bunda."


"Maura mau Ayah marah?" Maura lagi-lagi hanya geleng kepala.


"Ya sudah deh kalau Maura nggak mau makan."


"Bunda juga nggak makan biar Ayah juga memarahi Bunda." Freya akhirnya ikut bersandar pada teddy bear dia samping Maura sambil memejamkan matanya.


"Kak Freya sama Maura kok masih disini? nggak makan?" tanya Caca yang lewat kamar Maura dan mendapati ibu dan anak itu sedang tiduran bersandar pada boneka teddy bear.


"Nggak mau sebelum Ayahnya pulang." jawab Freya yang membuka katanya dan menegakkan duduknya.


"Isshhhh manja banget sih keponakan aunty satu ini" Caca yang gemas langsung menggelitiki perut Maura membuat Maura semakin menangis histeris.


"Eh.. kok malah nangis sih kak?" Caca terlihat panik sendiri melihat Maura menangis.


Freya hanya terkekeh pelan, Dia tahu Maura menangis bukan karena digelitiki Caca, tapi karena ingin ketemu Ayahnya.

__ADS_1


"Nggak apa. Lebih baik kamu segera turun dan bilang sama Papa juga Mama kalau aku sama Maura makan nanti." ujar Freya


Caca mengangguk dan segera pergi ke bawah untuk makan malam.


"Kenapa kamu nggak mau makan malam bersama kami?"


"Kamu marah sama Mama karena Mama membela Anelis?" tanya Mama Lea yang tiba-tiba masuk ke kamar Maura.


"Mama!" Freya yang sedang menenangkan Maura tersentak kaget.


"Kenapa Maura menangis?" Mama Lea melangkah mendekat.


"Oma!! Oma!! Maura mau ketemu Ayah?" adu Maura yang menangis lagi, dia memeluk Omanya erat.


"Memang Bryan belum pulang?" tanya Mama Lea


"Belum Ma. Mas Bryan masih ada pertemuan dengan klien yang seharusnya siang tadi diundur malam ini karena tadi siang harus bertemu masa lalunya untuk menyelesaikan masalah diantara mereka." jawab Freya apa adanya tanpa rasa takut.


Mama Lea menatap tak percaya pada Freya yang begitu lancar mengatakan Bryan bertemu masa lalu yang itu artinya bertemu Anelis, karena Anelis tadi bilang mau bertemu Bryan.


"Apa kamu nggak takut Bryan kembali lagi ke masa lalunya?" tanya Mama Lea dengan menyeringai.


Freya tersenyum manis mendengar pertanyaan Mama Mertuanya. Dia berdiri dari duduknya.


"Freya tidak takut."


"Kalau sampai Mas Bryan tergoda dan kembali ke masa lalunya, Freya akan berterima kasih pada wanita itu karena telah menyadarkan Freya kalau memang Mas Bryan tidak layak untuk Freya juga Ayah dari Maura."


"Dan kalau sebaliknya,Mas Bryan tidak tergoda sama masa lalunya, Freya juga akan berterima kasih kasih pada wanita itu karena telah membuktikan kepada Freya kalau Mas Bryan memang sangat layak untuk Freya juga Ayah dari Maura." kata Freya dengan tenang tanpa meninggalkan senyum diwajahnya.


Mama Lea hanya diam saja tanpa membalas perkataan Freya dan berlalu begitu saja.


Akhirnya keduanya tidak makan malam dan tertidur di kamar Maura.


...............


"Apa foto dan vidio tadi yang aku kirim sudah jelas keasliannya apa belum?" tanya Bryan pada Rendy yang sedang mengemudi mobil untuk kembali ke rumah.


"Belum tahu, temenku belum memberi kabar lagi."


"Mungkin besok." kata Rendy


"Hmm..."


"Bagaimana penyelidikan mu tentang wanita itu?" tanya Bryan.


"Wanita mana yang anda maksud Tuan Muda?"


"Anelis apa Ibu kandung Nona Freya?"


"Kalau ngomong yang jelas." cibir Rendy melirik Bryan dari spion dalam mobil yang duduk di jok belakang.


"Dua-duanya."


"Kalau Ibu kandung Nona Freya, belum ketemu karena Nona Freya belum memberikan fotonya."


"Kalau Anelis, aku yakin dia hanya disuruh sama Manda untuk menghancurkan keluarga Abrisam terutama keluarga kecil anda, Tuan Muda."


"Kalaupun itu memang niat Anelis sendiri dia akan menemui mu setelah dia dinyatakan hamil."


Bryan hanya diam saja. Dia memikirkan vidio dan foto itu. Dia merasa tidak pernah melakukan itu sama Anelia. Seingat Bryan, dia saat pacaran begitu jarang ketemu karena mereka kuliah di tempat dan negara yang berbeda. Kalaupun ketemu Anelis sendiri yang mendatangi Bryan ke London, dan Bryan tidak mengijinkan Anelis untuk menginap di apartemennya. Tapi kenapa ada foto dan vidio itu dan dia begitu asing dengan tempat yang ada di foto juga vidio itu.

__ADS_1


"Kita sudah sampai Tuan Muda."


"Tuan!!"


Rendy menoleh ke belakang saat melihat Bryan diam melamun.


"Sudah sampai Tuan Muda." teriak Rendy disertai bunyi klakson.


Bryan yang tersadar dari lamunannya refleks menjitak kepala Rendy keras. Dia begitu kaget saat mendengar bunyi klakson yang begitu memekik telinga.


"Asisten nggak ada akhlak!!" umpat Bryan dan segera turun dari mobil.


"Anda yang lebih nggak ada akhlak." cibir Rendy dan berlalu untuk pulang. Mau apel pun yang diapeli nggak ada di apartemen.


Bryan memasuki rumah yang sudah terlihat sepi, dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah dua belas. Tadi jam sembilan sebenarnya pertemuannya sudah selesai, namun klien nya itu mengadakan upacara minum teh hijau atau biasa disebut Chanoyu dan Bryan beserta asisten dan sekertarisnya diajak juga.


Bryan mengerutkan keningnya saat tidak mendapati istrinya ada di dalam kamar. "Kemana Freya?" monolog Bryan.


Bryan segera meletakkan tas dan melepas jas juga dasinya. Dia membuka kedua kancing lengan kemejanya dan dilipatnya sampai kesiku.


Bryan melangkahkan kakinya menuju kamar Maura. Dia tersenyum saat melihat dua bidadarinya tertidur begitu lelapnya. Bryan mendekat dan duduk di tepi ranjang sebelah Freya. Diciumnya kening Maura dan beralih mencium kening Freya.


"Maaf aku baru pulang!" bisik Bryan dan kembali mencium pipi Freya.


"Hmm.." Freya bergumam dan memeluk tangan Bryan yang memegang tangannya.


"Mas lama pulangnya." Bryan terkekeh melihat Freya yang mengigau. Disingkirkannya rambut yang jatuh ke pipi Freya.


"Tidur saja kamu terlihat begitu cantik sayang." puji Bryan yang melihat kecantikan Freya di bawah lampu pijar yang temaram.


"Dan apa ini." Bryan mengerutkan keningnya saat merasakan lengannya basah. Didorong pelan kepala Freya dan mendapati mulut Freya mengeluarkan air.


"Sayang kamu ileran!" pekik Bryan dan menarik kasar tangannya yang dipeluk Freya membuat Freya langsung membuka matanya lebar.


"Mas Bryan kenapa?" gumam Freya menggaruk rambutnya yang tidak gatal melihat Bryan yang lari ke kamar mandi.


"Aneh!!" Freya kembali merebahkan tubuhnya di samping Maura dan memeluk putrinya itu erat.


Freya menyunggingkan senyum geli melihat Bryan yang jijik karena ulahnya.


"Maaf ya mas!!"


"Itu balasan karena kamu nggak jujur sama aku dari kemarin."


🍁🍁🍁


Assalamualaikum 🙏


Hai kakak-kakak cantik dan ganteng 👋


Terima kasih untuk kalian semua yang masih setia dengan karya novel author dengan judul karya Maura : Tragedi Tahun Maura.


Terima kasih untuk dukungannya dan sudi membaca cerita receh author dengan tingkat kehaluan rata-rata.


Hari ini double up, besok libur mau refreshing dulu.


happy weekend 😘


big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya

__ADS_1


__ADS_2