
"Jangan tinggalkan aku."
"Apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku, sayang."
"Aku bersungguh-sungguh minta maaf padamu."
"Pada Mama Marisa juga Anelis."
"Terutama mendiang Pak Armand juga Ibu Arini dan adik kamu."
"Aku sungguh minta maaf pada kalian semua."
"Maafkan aku, Freya."
"Maafkan aku."
Ucapan Bryan semalam benar-benar memenuhi ruangan yang ada di otak Freya, baik otak kirinya maupun otak kanannya, semua dipenuhi dengan kata maaf yang Bryan lontarkan terus menerus pada dirinya.
"Apa maksud dari ucapan Mas Bryan semalam?"
"Kenapa Mas Bryan terus-terusan meminta maaf?"
"Dan kenapa Mas Bryan menyebut mendiang Bapak juga Ibu dan Laras (adik Freya dari Ibu Arini)?"
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Freya terus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Tidak biasanya Bryan bersikap seperti itu. Freya merasa kalau suaminya itu melakukan kesalahan besar yang mungkin membuat suaminya takut kalau sampai dirinya pergi meninggalkan Bryan.
"Kesalahan apa yang sebenarnya Mas Bryan perbuat hingga dia terus meminta maaf dan meminta ku untuk tidak meninggalkannya."
"Apa Mas Bryan saat ini tengah dekat dengan wanita lain?"
"Atau mungkin sudah tidak mencintaiku lagi."
"Itu tidak mungkin."
"Mas Bryan sangat mencintaiku."
"Bahkan rasa cinta Mas Bryan lebih besar dari rasa cinta yang aku miliki untuknya."
"Tidak mungkin Mas Bryan mengkhianati pernikahan suci ini."
Freya mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit itu. Di dalam perutnya itu ada makhluk kecil sebagai tanda cinta Bryan pada dirinya. Makhluk kecil yang sangat Bryan nantikan kehadirannya dan berharap nanti itu adalah Bryan Junior.
Freya menatap Maura yang tengah fokus dengan rumus-rumus aljabar milik Bryan dulu waktu kuliah yang tadi pagi Bryan berikan kepada Maura untuk dipelajari. Besok Maura sudah berangkat ke Singapura untuk mengikuti kompetisi dan dirinya juga Bryan tidak bisa mengantar dan menemani Maura disana.
Putrinya itu benar-benar seorang genius matematika seperti Ayahnya, Bryan. Meski Bryan juga tergolong genius matematika, tapi terkadang Bryan akan lelet dalam berhitung saat diterpa banyak masalah yang dihadapi, contohnya seperti kemarin waktu masalah penggelapan dana perusahaan, Bryan sama sekali tidak bisa menemukan berapa total keseluruhan hasil penggelapan juga berapa lama mereka melakukan penggelapan.
"Mas Bryan tidak mungkin menyakiti Freya lagi."
"Apalagi sekarang ada dedek junior di dalam perut aku." gumam Freya yang masih terus menerka kesalahan apa yang telah Bryan perbuat pada dirinya.
"Freya!!!! Freya!!! Kamu dimana?"
Freya menoleh kearah pintu saat mendengar teriakan Mama mertuanya.
"Sayang, Maura, Bunda tinggal sebentar ya." pamit Freya.
Maura mengangguk saja karena dia masih fokus dengan rumus-rumus yang menurutnya baru dan lebih mudah dari yang diberikan oleh dosen ganteng, Pak Kevin.
Freya lantas berdiri dan keluar dari ruang perpustakaan mini dimana dia menemani Muara belajar. Dia melihat Mama Lea yang terdengar masih memanggil dirinya.
"Ada apa,Ma? Freya disini." tanya Freya saat melihat Mama Lea yang akan naik tangga.
"Ohhh..Mama kira kamu di kamar."
"Ayo ikut Mama ke rumah sebelah."
"Oma sama Opanya Bryan sudah dalam perjalanan menuju kesini."
"Dan kita harus sambut mereka sebelum Oma nantinya menyuruh-nyuruh kita."
"Apalagi kamu lagi hamil."
"Mama nggak mau kamu nanti disuruh-suruh Oma." Mama Lea menarik tangan Freya pelan. Beliau sudah tidak sabar untuk menyambut mertuanya itu juga iparnya yang jauh-jauh datang dari Sydney.
"Tunggu, Ma!! Maura tidak diajak?" tanya Freya mengingat putrinya yang masih berada di perpustakaan mini.
"Ah iya Mama lupa."
"Dimana dia? Biar Mama saja yang panggil." Mama Lea terlihat antusias untuk memanggil Maura. Karena nanti bisa beliau tunjukkan kepada mertuanya itu kalau dia punya cucu genius dan sebentar lagi akan mengikuti kompetisi class internasional di Singapura.
"Maura di perpustakaan."
Mendengar jawab dari Freya, Mama Lea lantas bergegas ke perpustakaan dengan berlari kecil sambil memanggil-manggil nama Maura.
Freya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mama Lea sambil menyunggingkan senyum, Freya tahu pasti Mama mertuanya itu akan memamerkan Maura kepada Oma dan Opa Bryan.
Dan benar saja, setengah jam kemudian mobil yang menjemput Oma juga Opa Bryan dan Bibi Raya berserta suaminya sudah datang.
"Mama..Papa..Lama sekali kita tidak bertemu."
"Terakhir setahun yang lalu saat Lea dan Papa Al berkunjung kesana." Mama Lea langsung memeluk kedua mertuanya itu bergantian.
"Lihat Ma, Pa." Mama Lea menarik tangan Maura yang berdiri di belakangnya.
"Ini cucu Lea. Cantiknya sama kan seperti Lea."
"Dia juga genius seperti Bryan."
"Bahkan besok dia akan berangkat ke Singapura untuk mengikuti kompetisi matematika class internasional."
"Mama sama Papa harus bangga sama Lea yang menurunkan ke-geniusan Lea pada Bryan." Mama Lea benar-benar memamerkan Maura sebagai cucu geniusnya dengan bangga pada Oma dan Opa Bryan.
Omanya Bryan mencibir Mama Lea yang memiliki jiwa sombong dan suka pamer. Padahal setahu dia Mama Lea itu tidak genius, hanya pintar saja. Pintar menilai orang sebelum mengenalnya terlebih dahulu, itu maksud Omanya Bryan.
"Maura, ayo sayang kenalin dulu."
"Ini Oma buyut dan yang ini Opa buyut."
"Mereka Oma dan Opanya Ayahnya Maura." Mama Lea memperkenalkan Maura pada kedua mertuanya.
"Selamat datang di rumah......" Maura mendongak menatap Omanya.
"Ini rumah siapa Oma?"
"Terus nama grandma sama grandpa itu siapa?" tanya Maura yang memang belum pernah menginjakkan kakinya di rumah sebelah bangunan utama yang dibatasi pagar bunga.
Semuanya menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Maura. Berbeda dengan Mama Lea yang meringis mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Maura. Bisa-bisanya dia tadi lupa untuk memberi tahu Maura terlebih dahulu.
"Ini rumahnya Opa dan Oma buyut Maura." ucap Mama Lea tertahan.
"Grandma sama grandpa, Oma. Bukannya Oma buyut sama Opa buyut."
"Terlalu panjang manggilnya."
__ADS_1
"Dan grandma sama grandpa kan masih terlihat muda daripada Oma."
Mama Lea menggeram tertahan mendengar ucapan Maura yang terlalu jujur itu. Bisa-bisa Maura bilang kalau mertuanya lebih muda dari dirinya. Mama Lea benar-benar malu didepan kedua mertuanya itu yang pasti sedang menertawakan dirinya dan juga suaminya yang terlihat tertawa puas itu.
"Iya, grandma sama grandpa."
"Nama grandma, Ami dan nama grandpa, Surya." ucap Mama Lea dengan menatap Papa Abri dengan kesal karena sedari tadi suaminya itu tidak berhenti menertawakan dirinya. Dan untungnya Bryan sama Caca tidak ada, bisa habis jadi bahan bullyan dirinya.
Maura mengangguk paham dan tersenyum menatap grandma juga grandpa.
"Welcome back home, grandma, grandpa."
"My name is, Maura Hanin Azzahra."
"Nice to meet you grandma, grandpa." ucap Maura dengan ceria dan semangatnya menyambut grandma juga grandpa yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Nice to meet you too, Maura." Opa Surya mengusap rambut kepala Maura sambil tersenyum.
"Apa dia istrinya Alvaro?" Oma Ami menunjuk Freya yang berdiri disamping Mama Lea yang sedari tadi nampak diam dan menunduk itu.
Freya yang merasa ditunjuk mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Oma Ami dan juga Opa Surya bergantian.
"Iya, Ma. Dia istrinya Alvaro." kata Mama Lea dan meminta Freya untuk memperkenalkan dirinya mengingat waktu nikah dulu, Oma Ami juga Opa Surya tidak bisa hadir.
"Oma!! Opa!!" Freya menyalami tangan keduanya bergantian.
"Saya Freya, istrinya Mas Bryan." ucap Freya dengan sopan tanpa meninggalkan senyum.
Oma Ami terlihat mengangguk sambil tersenyum tipis, "Pantas saja Al ngotot mencari dia. Anaknya cantik dan sopan seperti ini." batin Oma Ami yang terlihat langsung suka sama Freya meski tidak ditunjukkan.
"Aduh!! Maura tadi lupa belum salim sama grandma juga grandpa."
"Oma juga belum salim tadi."
"Ayo salim dulu."
Maura menarik tangan Mama Lea untuk mengikuti dirinya salim pada grandma juga grandpa.
"Emang dasar kamu ini Lea."
"Sudah jadi nenek-nenek tapi tidak bisa memberi contoh yang baik buat cucu kamu."
"Nggak malu apa kamu sama cucu kamu."
"Tidak pernah berubah."
"Udah mau punya cucu dua kelakuannya masih sama." omel Oma Ami pada Mama Lea yang menurutnya sikap Mama Lea tidak pernah berubah.
"Bawa ini tas Mama."
"Mama mau masuk, mau istirahat dulu. Capek." Oma Ami memberikan tasnya pada Mama Lea yang terlihat mendengkus kesal.
"Freya!! Antar Oma ke kamar."
Freya menunjuk dirinya dengan kening mengkerut, "Freya Oma??? Tapi Freya tidak tahu kamar Oma."
"Nanti Oma tunjukkin."
Freya menuntun Oma Ami masuk kedalam rumah dan diikuti yang lainnya. Freya lantas membawa Oma Ami menuju kamar yang ada di lantai satu dekat tangga yang ternyata itu adalah kamar Oma Ami dulu sebelum pindah ke Sydney.
"Maura, sayang. Nggak boleh loncat-loncat seperti itu."
"Nanti grandma pusing kepalanya kalau Maura main loncatan seperti itu." tegur Freya pada Maura yang loncat-loncat di ranjang dimana Oma Ami juga sedang duduk disana.
"Ranjangnya empuk seperti punya Maura apa tidak."
"Kalau tidak nanti biar Maura minta Ayah untuk belikan grandma ranjang yang empuk dan lembut." kilah Maura, padahal dirinya kalau melihat ranjang yang baru pasti dia akan loncat-loncat seperti layaknya anak kecil pada umumnya.
"Kamu ini ya..pintar banget cari alasannya."
"Ayo turun, biar grandma nya istirahat." Freya menarik pelan tangan Maura supaya mau turun dari atas ranjang.
"Biarkan saja."
"Sikap Muara tadi mengingatkan Oma pada Al waktu kecil."
"Dia kalau melihat ranjang pasti akan loncat-loncat, seperti Maura tadi."
"Al dulu berpikir kalau ranjang sama trampoline itu sama." Oma Ami tertawa kecil mengingat masa kecil Bryan.
"Al itu siapa grandma?"
"Grandma tadi juga menyebut nama Alvaro?" tanya Maura yang penasaran dan mendekati grandma nya.
" Al itu, Alvaro. Abrisam Bryan Alvaro, Ayahnya Maura."
"Dulu waktu kecil, Ayah Maura dipanggil Al sama grandma juga Oma Lea."
"Tapi semenjak sudah besar dan sekolah menengah maunya dipanggil Bryan saja biar keren gitu katanya."
"Biar ada bule-bulenya gitu katanya." ujar Oma Ami sambil tertawa mengingat Bryan kecil.
"Tapi Maura lebih suka panggilnya Ayah Bryan yang paling tampan sedunia."
"Bunda juga suka panggil Ayah seperti Maura."
"Bedanya kalau Bunda seperti ini grandma."
"Mas Bryan suamiku paling tampan sedunia tidak ada yang menandingi."
Mata Freya membola mendengar perkataan Maura. Putri kecilnya ini benar-benar bikin dia malu. Dapat kalimat darimana, pikirnya. Perasaan selama ini Freya tidak pernah bilang begitu pada Bryan apalagi dihadapan Maura.
"Maura!! Jangan aneh-aneh kalau bicara." Freya membekap mulut Maura yang suka bilang aneh-aneh pada orang yang baru dikenalnya. Freya malu, apalagi Oma Ami terlihat menertawakan dirinya yang saat ini mungkin wajahnya sudah memerah.
"Sudah yuk kembali ke rumah."
"Katanya tadi belum selesai mempelajari rumusnya."
"Nanti kita kembali lagi kesini."
"Biar grandma istirahat dulu."
Maura mengangguk, dia memang tadi belum selesai mempelajari rumus yang Ayah Bryan berikan kepadanya namun sudah dipaksa sama Oma Lea untuk mengikuti dirinya.
"Grandma, Maura kembali belajar lagi ya ditemani Bunda."
"Nanti sore Maura kesini lagi."
"Kita bermain lagi sebelum Maura pergi ke Singapura."
Freya dan Maura kembali ke rumah utama dan melanjutkan kegiatan mereka di ruang perpustakaan mini milik Bryan.
"Bunda!!"
__ADS_1
"Iya sayang." Freya yang sedang membaca salah satu buku ilmu bisnis milik Bryan lantas menutupnya dan mendekati Maura.
"Kenapa?"
"Sudah belajarnya. Mau istirahat?"
"Besok Maura sudah berangkat loh." kata Freya dan diangguki Maura.
"Tapi bolehkan telphone Ayah dulu Bunda." pinta Maura dengan tampang memelas.
"Iya boleh, tunggu sebentar."
Freya kembali ke meja yang dia tempati tadi dan tidak menemukan handphonenya. Di saku bajunya pun tidak ada.
"Maura tahu dimana handphone Bunda tadi?" tanya Freya yang tidak kunjung menemukan handphonenya.
"Tidak tahu Bunda."
Freya lantas keluar dan menuju ruang keluarga dimana dia tadi menunggu Mama Lea yang memanggil Maura.
"Disini juga tidak ada." gumam Freya yang juga tidak menemukan handphone nya di ruang keluarga.
"Mungkin ketinggalan di rumah sebelah, Bun." kata Maura yang mengikuti Bundanya keluar dan menguap lebar tanda sudah mengantuk.
"Ya sudah, Bunda lihat dulu di sebelah."
"Maura istirahat dulu dikamar tidak apakan?" Maura mengangguk.
"Iya Bunda." lantas Maura bergegas menuju kamarnya untuk istirahat.
Dan Freya bergegas menuju rumah sebelah dimana dia baru ingat kalau tadi sempat meletakkan handphone nya di kamar Oma Ami.
"Apa maksud kamu sayang?"
"Jadi Freya itu anak dari korban kecelakaan yang di tabrak Al dulu."
Freya menghentikan langkahnya saat mendengar namanya disebut oleh Mama Lea. Dia melihat semua orang tadi berkumpul di ruang tengah seperti tengah membahas sesuatu yang serius.
"Kenapa kalian semua diam saja?"
"Ma!! Raya!! dan kamu." Mama Lea menunjuk suami Raya.
"Kenapa kalian semua diam?"
"Jangan bilang kalian sudah tahu semua ini." teriak Mama Lea pada mereka semua.
"Al...Apa Al juga sudah tahu semua ini."
"Jawab Pa." bentak Mama Lea pada Papa Abri. Dirinya terlihat begitu marah karena hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa.
"Ma tenang dulu. Bryan belum tahu."
"Sudah, duduk saya bilang." ucap Papa Abri dengan tegas menarik tangan Mama Lea untuk duduk kembali.
"Bagaimana Mama bisa tenang, Pa."
"Bagaimana kalau Freya tahu Bryan lah yang menabrak Bapak juga adiknya sampai meninggal."
"Mama tidak bisa membayangkan bagaimana nanti nasib Bryan kalau Freya marah dan pergi dari kehidupan Bryan."
"Mama nggak sanggup melihat mereka berpisah."
Freya menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat. Air matanya mengalir dengan sendiri tanpa diminta. Sebuah kenyataan pahit baru saja dia dengar dari mulut Mama mertuanya secara tidak langsung. Kenyataan bahwa Bapak dan adiknya yang meninggal karena kecelakaan itu ternyata suaminya sendiri yang menabraknya.
Freya yang tidak sanggup mendengarnya lagi lantas pergi dari sana tanpa mengambil handphone nya terlebih dahulu. Dia menuju kamar Maura dan duduk di sebelah Maura yang terlihat tidur siang.
"Apa ini penyebab sikap Mas Bryan aneh kemarin?"
"Mas Bryan selalu meminta maaf dan memintaku untuk tidak pergi meninggalkannya."
"Mas Bryan juga minta maaf pada mendiang Bapak juga Laras."
"Jadi ini...jadi ini penyebabnya."
Freya menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk meredam suara tangisnya. Dia tidak menyangka, lagi-lagi takdir mempermainkannya. Takdir membawa dirinya bertemu dengan pembunuh Bapaknya. Bahkan dia menikah dan memiliki anak dari pembunuh itu.
"Bapak..Apa yang harus Reya lakukan."
"Haruskah Reya membalas pembunuh itu yang ternyata suami Reya sendiri?"
"Atau Reya pergi saja dari hidup pembunuh itu?"
"Reya tidak sanggup jika harus melihat wajah pembunuh itu."
Freya memandang Maura yang tengah tertidur pulas itu. Putri nya besok pergi ke Singapura dan hari ini dia tahu kenyataan pahit bahwa Ayah dari anaknya ternyata pembunuh bapaknya.
"Maafkan Bunda sayang."
"Raihlah cita-cita kamu setinggi bintang di angkasa."
"Maafkan Bunda jika tidak bisa lagi menemanimu untuk meraih cita dan mimpimu."
Freya mencium kening Maura begitu lama. Dia lantas menata baju Maura dan diletakkannya di koper dan kembali ke kamarnya.
Freya duduk di tepi ranjang dan mengambil sebuah bingkai foto dirinya dan Bryan. Diusapnya foto itu, ada perasaan benci, marah, kecewa, cinta dan sayang jadi satu.
Freya menatap cincin pernikahan yang melingkar dijari manis sebelah kanan. Diputar-putarnya cincin itu dan diciumnya lama.
"Kenapa harus Mas Bryan yang dulu menabrak Bapak?"
"Kenapa bukan orang lain?"
"Apa aku sanggup pergi jauh dari Mas Bryan."
"Tapi hati ini begitu sakit mendengar kenyataan kalau Mas Bryan lah yang menabrak Bapak."
"Mas Bryan lah yang membunuh Bapak."
"Orang yang aku cintai ternyata orang yang telah membunuh Bapak."
Freya terus menangis sambil memeluk bingkai foto dirinya juga Bryan. Kenyataan yang dia dengar hari ini lebih menyakitkan daripada kenyataan saat tahu Bryan adalah mantan tunangan kakaknya sendiri.
"Aku membencimu, tapi aku juga mencintaimu."
"Pembunuh..kamu memang pembunuh."
"Dasar monster sialan."
Hmmm...akankah Freya bertahan dan tetap mempertahankan rumah tangganya meski ada kebencian atau pergi dan berpisah dengan Bryan yang ternyata sudah menabrak Bapaknya hingga meninggal?
🍁🍁🍁
have a nice day
__ADS_1
big hug 🤗🤗🤗