Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Tidak bisa mengontrol diri


__ADS_3

Pagi pukul 08.57 waktu setempat di Halona Hotel.


Maura terlihat begitu pulas tidur di tengah antara Ayah Bryan dan Bunda Freya. Dia tersenyum dalam tidurnya seperti memimpikan sesuatu. Bryan yang gemas melihat putrinya itu tersenyum dalam mimpinya, menciumi gemas kedua pipi Maura bergantian.


"Ehhmm." lenguh Maura yang merasa kalau tidurnya terganggu.


Dia berbalik dan memeluk Ayahnya dengan erat supaya Ayahnya itu tidak mengganggunya tidur.


"Jangan diganggu, kasihan Maura semalem tidur lewat tengah malam." tegur Freya yang baru saja membuka matanya.


Dia terbangun karena merasakan pergerakan di sampingnya dan di lihatnya Maura tengah diganggu Bryan.


Bryan hanya menyengir kuda menanggapi teguran dari Freya. Dia merasa bersalah pada putrinya yang harus menunggu dirinya juga Freya di depan pintu kamar mandi sampai tertidur pulas. Bahkan saat Bryan mengangkat dan menggantikan Maura baju, putrinya itu tidak terbangun sama sekali.


FLASHBACK ON


"Cantiknya Ayah kenapa ada disini?" tanya Bryan saat kembali ke kamar setelah acara resepsi selesai dan melihat ada Maura di dalam kamar pengantinnya bersama Freya.


Maura turun dari ranjang yang penuh taburan kelopak bunga mawar merah. Dia berjalan mendekati Ayah Bundanya yang berdiri mematung melihat dirinya.


"Maura mau tidur sama Ayah dan Bunda." jawab Maura dengan tampang polosnya, tersenyum menatap Ayah dan Bundanya.


"Apa?" pekik Bryan saat mendengar jawaban Maura.


"Ayah kenapa?" tanya Maura yang melihat Ayahnya sepertinya kaget, berbeda dengan Bundanya yang terlihat biasa-biasa saja.


"Bukannya tadi Ayah meminta Maura untuk tidur sama Oma atau Mama Mutia?" tanya Bryan yang diangguki Maura.


"Bukannya Maura tadi sudah setuju?" Bryan menatap lekat Maura.


Maura mengangguk, "Iya Ayah. Tapi Maura malam ini ingin tidur bersama Ayah." jawab Maura.


"Maura ingin melepas rindu bersama Ayah setelah lama Maura menantikan moment ini Ayah."


"Maura ingin tidur dipelukan Ayah." ucap Maura lirih sambil menunduk dan menautkan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca.


Bryan dan Freya yang mendengar ucapan putrinya diam sesaat dengan pikirannya masing-masing.


Bryan berjongkok di hadapan Maura dengan menumpukan salah satu lututnya. Dia mengelus kepala Maura dengan lembut dan membawa putrinya ke pelukannya.


"Maafkan Ayah, cantik."


"Maafkan Ayah yang baru menemukan Maura juga Bunda."


"Mulai sekarang Ayah akan selalu ada untuk Maura juga Bunda."


"Kita akan selalu bersama." kata Bryan dengan lirih.


Bryan terlihat menyesal akan dirinya sendiri yang baru menemukan Freya dan Maura. "Maafkan Ayah." gumam Bryan.


"Ayah janji gak akan pergi lagi meninggalkan Maura juga Bunda?" tanya Maura yang melingkarkan tangannya di leher sang Ayah.


"Iya, Ayah janji. Ayah gak akan pernah meninggalkan Maura atupun Bunda." Bryan mencium rambut putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Freya juga ikut berjongkok dengan menumpukan kedua lututnya dan mengusap rambut kepala putrinya. Dia tersenyum melihat putrinya yang menatapnya. "Maafkan Bunda juga sayang." lirih Freya dan ikut memeluk Maura.


"Maura sudah mengantuk." kata Maura yang masih berada dipelukan Ayah dan Bundanya.


Bryan dan Freya saling lirik kemudian tersenyum, di saat suasana sedih Maura justru mengadu kalau sudah mengantuk. Mereka melepaskan pelukannya pada Maura. Bryan langsung mengangkat tubuh Maura ke gendongannya dan di bawanya kembali duduk di ranjang.


"Tolong, Bunda!!" pinta Freya dengan tampang memelas menatap pada Bryan juga Maura.


"Bunda kenapa?" tanya Maura yang melihat Bundanya justru duduk di lantai dan tak kunjung berdiri.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" tanya Bryan sambil melepas dasi kupu-kupu yang terpasang di kerah kemejanya.


"Gaunnya berat, Bunda nggak kuat lagi untuk berdiri. Rasanya mau pingsan." keluh Freya yang terlihat sudah kelelahan itu.


Bagaimana dia tidak mengeluh, dia harus memakai gaun yang beratnya hampir mencapai 50 kg. Gaun yang Bryan pesan secara khusus untuk Freya pada perancang busana yang karyanya sering Lady Gaga pakai, yaitu Tex Saverio, seorang perancang busana asal Indonesia.


Bryan memesan gaun model ball gown dengan detail indah penuh mutiara dan sayap kupu-kupu berwarna lilac. Gaun yang mampu mengeluarkan kilau berpendar saat berada di ruang gelap maupun cahaya remang.


Seperti saat ini, gaunnya yang di pakai Freya memancarkan pijaran cahaya lilac yang begitu indah karena lampu kamar hotel mereka yang remang.


Tak hanya gaun Freya saja yang memancarkan kilau berpendar, gaun yang Maura kenakan juga memancarkan pijaran cahaya baby pink. Gaun yang sama persis dengan gaun yang Freya kenakan. Hanya saja ukurannya lebih kecil dan tidak seberat yang Freya kenakan. Beratnya hanya 5 kg saja.


Bryan melepaskan tuxedo set rompi setelan lilac fitted slim fit yang dia pesan langsung pada perancang busana Alexander Wang. Dia berjalan mendekati Freya yang tadi siang sudah resmi menjadi istrinya.


"Ayo berdiri.!!" Bryan mengulurkan tangannya tepat di depan wajah Freya.


Freya menatap malas pada Bryan. Dia kira Bryan akan menggendongnya seperti Bryan menggendong Maura, ternyata tidak.


Freya menerima uluran tangan Bryan dan ditariknya tangan Bryan sekuat tenaga. Bukan dirinya yang akhirnya berdiri justru tubuh tinggi dan tegap milik Bryan jatuh menimpa dirinya.


"Cie!!! Ayah sama Bunda ciuman." seru Maura yang heboh di atas ranjang sambil menaburkan kelopak bunga mawar keatas sebagai tanda euforia kebahagiaannya.


Mata Freya membola sempurna saat melihat Bryan yang ada di atasnya sedang mencium bibirnya. Dan sekarang justru Bryan memberi sedikit luma tan di bibir Freya saat mendengarkan seruan Maura.


"Mmmppffhhhh...!!!!!" Freya berusaha melepaskan diri dari ciuman yang Bryan berikan karena ketidak sengajaan itu dan justru dimanfaatkan oleh Bryan tanpa memperdulikan adanya sosok anak kecil yang sedang euforia sendiri dengan kelopak bunga mawar.


"Terima kasih atas energinya." ucap Bryan setelah melepaskan ciumannya.


Dia bangkit dari atas tubuh Freya dan dengan sekali angkat dia membawa Freya ke gendongannya ala bridal style. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk mempermudah Freya membersihkan diri.


"Kamu mau apa?" tanya Freya yang melihat Bryan tak kunjung keluar dari kamar mandi dan justru memegang rambut kelapanya yang masih terpasang mahkota rancangan Rinaldy Yunardi.


"Membantu kamu melepaskan mahkota dan accesories yang masih menempel di tubuh kamu." jawab Bryan santai yang sudah berhasil melepas mahkota yang ada di kepala Freya.


"Kasihan Maura sendirian."


"Pasti dia nanti akan menunggu lama." kata Freya mencari alasan.


"Aku akan membantu."


"Tenang saja, ini tidak akan lama." ujar Bryan yang kembali melepas kalung berlian yang melingkar di leher jenjang Freya.


Tubuh Freya meremang saat hembusan nafas hangat Bryan mengenai tengkuknya. Dia menahan nafasnya dan tubuhnya tegang. Dia belum siap jika harus melakukan itu kembali walau dua hari yang lalu mereka baru saja melakukan itu.


"Kenapa harus menahan nafas seperti itu." kata Bryan yang sudah selesai melepas kalung juga anting berlian yang terpasang di leher juga telinga Freya.


"Apa kamu berfikir aku akan melakukan itu lagi padamu?" tanya Bryan dengan salah satu alisnya diangkat juga seringai mesumnya menatap Freya yang wajahnya memerah karena malu.


"Ishh..Apaan sih!!! Sudah sana keluar, kasihan Maura." Freya yang malu mengusir Bryan dengan wajah cemberut.


"Iya, tunggu sebentar. Ada yang kurang."


"Apammppphhh!!!"


Bryan kembali mencium Freya dengan lembut. Dibawanya tubuh Freya ke rengkuhannya. Bryan menyesap bergantian belahan dua kenyal dan lembut itu yang terasa manis.


Bryan menggunakan satu tangannya yang tadi di tengkuk Freya, kini dia gunakan untuk membuka resleting belakang gaun Freya. Diturunkannya perlahan resleting itu sambil mengelus lembut punggung putih nan mulus milik Freya.


Srekk


Brukk


Gaun yang Freya kenakan sudah luruh dari tubuhnya dan kini sudah berada di atas lantai.

__ADS_1


Bryan semakin merengkuh tubuh Freya dan semakin memperdalam cumbuannya. Bahkan tangannya Bryan sudah aktif menjalar ke seluruh tubuh sensitif milik Freya.


Freya melenguh dalam ciuman Bryan saat tangan Bryan tepat berada di salah satu gunung kembarnya dan meremasnya. Tak hanya itu, tangan satunya milik Bryan meremas bokong Freya dengan gemas.


"Egghhh.." desah Freya saat merasakan milik Bryan menggesek miliknya.


Bryan melepaskan ciumannya sebentar dan menatap Freya dengan kabut gairah.


"Hanya sebentar, aku janji hanya sebentar." geram Bryan yang sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya.


"Janjmmmpphhh..." belum juga Freya selesai mengatakan sesuatu, Bryan sudah kembali mencium bibir Freya.


Tangan Bryan satunya dia gunakan untuk melepas ikat pinggang juga celananya dan tangan satunya lagi membuka segitiga milik Freya.


Freya melenguh berkali-kali saat milik Bryan berhasil masuk ke lubangnya. Freya mengacak dan menjambak kasar rambut Bryan saat Bryan semakin mempercepat gerakannya.


Tok tok tok


"Ayah!! Bunda!! kenapa lama sekali? Maura juga mau ganti baju dan cuci muka terus tidur." kata Maura di depan pintu kamar mandi menunggu Ayah dan Bundanya.


Kedua pasangan yang baru saja menikah itu seakan tidak mendengar bahkan tidak terganggu dengan adanya gedoran pintu dari luar kamar mandi. Mereka terus melakukan olahraga dalam posisi berdiri.


Aagghhhhh


Lenguh keduanya bersamaan saat sama-sama mengeluarkan lahar panas. Bryan merengkuh kuat tubuh Freya saat merasakan kalau tubuh gadisnya itu, salah maksudnya sekarang Freya wanitanya sudah lemas tak bertenaga kerena ulahnya.


Bryan menempelkan keningnya di kening Freya dengan mata terpejam dan nafas memburu.


"Terima kasih." Cup.Bryan mengecup sekilas bibir Freya yang membengkak.


Egghhh


Desah Freya saat Bryan mengeluarkan miliknya dari lubang Freya.


Bryan membawa Freya ke bathtub dan dimasukkannya tubuh Freya kedalam sana setelah mengisi air hangat juga sabun. Di nyalakannya lilin aroma terapi untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk istri barunya itu.


Bryan sendiri mandi air hangat dibawah guyuran air shower. Dia ingin mempercepat mandinya untuk melihat kondisi Maura yang tadi dia dengar mengetuk pintu kamar mandi.


Bryan segera memakai bathrobe setelah selesai mandi. "Aku keluar dulu." pamit Bryan pada Freya yang masih merilekskan tubuhnya.


Setelah mencium kening Freya, Bryan bergegas keluar kamar mandi dan mendapati putrinya tertidur di depan pintu kamar mandi.


"Maura!!" pekiknya lirih.


Bryan begitu kaget saat melihat putrinya yang begitu mengenaskan, tidur di depan pintu kamar mandi hanya karena menunggu Ayah dan Bundanya selesai mandi, atau lebih tepatnya selesai bercinta.


"Maafkan Ayah yang tidak bisa mengontrol diri Ayah saat bersama Bunda kamu."


FLASHBACK OFF


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote, comment and gift


terima kasih atas dukungannya dan masih setia menantikan kelanjutan cerita Maura bersama Ayah Bryan juga Bunda Freya


big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya


__ADS_1


__ADS_2