
Terlihat Maura baru saja keluar dari ruang praktek Dokter Gery bersama Bunda Freya yang mendorong kursi rodanya dan Oma Lea yang berjalan di samping mereka. Kaki kiri Maura yang terkilir waktu jatuh dari tangga beberapa minggu yang lalu masih di gips dan membuat kesulitan untuk berjalan.
"Oma!!! Nanti kita jadikan pergi ke mall?" tanya Maura menengadah menatap Omanya yang berjalan di sampingnya. Omanya tadi menjanjikan kepada dirinya untuk diajak jalan-jalan ke mall setelah check up. Dan sekarang dia menagih janji itu.
"Iya..Tapi tidak untuk pergi ke zona bermain." kata Mama Lea dengan tegas.
"Oke, Oma!!" Maura mengedipkan sebelah matanya dan membentuk huruf O dengan jari tangan kanan nya.
Mama Lea yang gemas dengan cucu nya itu mengusap pelan kepala Maura. Dia menyesal karena awal dia tahu kalau Maura itu cucunya dia tidak menyambutnya dengan hangat. Kini dia sadar setelah apa yang dialami Maura beberapa minggu yang lalu. Dia tidak menampik kalau dia memang benar sangat menyayangi cucunya itu meski sikapnya terkadang cuek dan tak peduli jika ada Freya diantara mereka.
"Bunda belok!!!" tegur Maura saat Bunda Freya mendorong kursi rodanya lurus terus tidak berbelok, padahal jalan menuju lobby rumah sakit itu harus belok kalau dari ruang praktek tadi. Tapi kenapa Bundanya justru lurus terus, pikirnya.
"Eh..Maaf sayang, Bunda lupa jalannya." kilah Freya dengan tersenyum kecut.
"Bunda lapar yah?? Makanya tidak bisa konsentrasi." tanya Maura mendongak menatap Bundanya yang berada di belakangnya mendorong kursi rodanya.
"Sedikit." jawab Freya menyunggingkan senyum tipisnya.
"Kenapa kamu?" tanya Mama Lea pelan karena dia sadar, sedari tadi Freya terlihat tidak konsentrasi dan sepertinya ada yang dipikirkannya. Karena sejak di ruangan Dokter Gery tadi hanya dia saja yang menanyakan perkembangan kesehatan Maura, Freya hanya diam entah mendengarkan atau tidak. Entah apa yang dipikirkannya Mama Lea tidak tahu. Apa karena Bryan meminta pernikahannya dipercepat? batin Mama Lea bertanya.
Mereka masuk mobil dan segera menuju QOne Mall sesuai janjinya pada Maura. Mereka segera menuju restoran untuk makan siang karena Maura sudah lapar katanya.
"Bunda, Maura minta ice cream ya!!!" pinta Maura menatap Bundanya penuh harap. Tadi dia melihat ada pelayan yang membawa semangguk ice cream dengan berbagai topping diatasnya. Dan sekarang dia ingin memakan ice cream itu.
"Maura minta yang lain saja ya." tawar Freya membuat Maura langsung cemberut.
"Maura kan belum sembuh, nanti kalau sudah sembuh akan Bunda belikan." ujar Freya dengan lembut.
"Sedikit saja, Bun." Maura masih mencoba membujuk Bundanya untuk diijinkan makan ice cream.
"Maura..." panggil Freya dengan nada rendah menatap manik biru Maura lekat.
Maura mencebikkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca. Kenapa sih Bundanya gak ngerti perasaan Maura yang ingin sekali memakan ice cream yang manis, segar dan dingin itu, apalagi sekarang cuacanya lagi panas dan dia ingin yang segar-segar. Kan hanya sedikit saja tidak banyak. Sudah dua minggu dia tidak makan ice cream.
"Oma pesankan. Sudah jangan nangis." kata Mama Lea yang sudah memanggil pelayan untuk memesan ice cream buat cucunya.
"Tapi Nyonya...."
"Kalau kamu takut Maura kenapa-kenapa, aku yang akan bertanggung jawab." potong Mama Lea cepat sebelum mendengar penolakan Freya.
"Benar Oma??" tanya Maura yang sudah kembali berbinar.
"Iya..tapi hanya sedikit saja."
"Iya Oma."
Freya menghembuskan nafas pelan, percuma dia melawan keluarga Abrisam, pasti dia yang akan kalah. Apalagi menyangkut Maura, dia akan menyerah dengan sendirinya.
Mereka akhirnya makan dengan tenang tanpa ada obrolan apapun. Hanya Maura saja yang mengoceh sendiri karena sambil menonton film kartun kesukaannya di iPad.
"Kamu kenapa?" Mama Lea menatap Freya yang terlihat melamun setelah menghabiskan makanannya walau masih tersisa sedikit karena dia tidak ***** makan.
"Apa kamu kepikiran karena Bryan memajukan tanggal pernikahan kalian?" tanya Mama Lea.
Freya menatap Mama Lea dalam diam dan belum menjawabnya. Dia memang sedang memikirkan omongan Bryan semalam yang akan memajukan tanggal pernikahan jadi minggu depan.
"Bukankah itu jauh lebih baik buat Maura?"
"Maura bisa dengan mudah melihat Ayahnya tanpa harus menelephon dulu atau menunggu Ayahnya datang baru bisa menemuinya." Mama Lea menatap lekat pada Freya yang hanya diam kembali menunduk itu.
"Atau...Kamu hanya mempermainkan Bryan saja?"
__ADS_1
"Kamu menerima lamarannya tapi tidak mau menikah dengan dia." kata Mama Lea yang terlihat menahan emosinya karena marasa anaknya dipermainkan. Meski dia menentang pernikahan Bryan dan Freya tapi dia tidak mau kalau anaknya dipermainkan kembali untuk kedua kalinya.
"Bukan seperti itu, Nyonya." sahut Freya cepat. Dia bukannya tidak mau menikah dengan Bryan ataupun mau mempermainkan Bryan. Masih ada sedikit keraguan yang mengganjal di hati Freya kalau harus menikah dengan Bryan sekarang. Haruskah dia tanyakan langsung dihadapan Mama Lea sekarang. Atau dia tanyakan ke Bryan nya langsung. Tapi Freya takut menyinggung perasaan mereka.
"Terus seperti apa?"
"Kamu masih ingatkan apa yang saya katakan waktu itu?" Freya mengangguk mengiyakan. Dia tidak hanya mengingatnya saja, bahkan dia saat ini masih saja penasaran akan jawaban dari perkataan itu, dan kalau berani akan dia tanyakan langsung pada Mama Lea saat ini juga.
"Kalau kamu masih ingat, seharusnya kamu ikuti keinginan Bryan terlepas apapun alasan yang kamu miliki untuk mencoba menunda-nunda pernikahan kalian."
"Saya sudah mencoba untuk menerima pernikahan kalian dan seharusnya kamu juga mencoba menerima Bryan dengan masa lalunya." kata Mama Lea menatap tajam Freya.
"Entah masa lalu yang saya katakan ke kamu waktu itu atau masa lalu dia yang sering bermain dengan banyak wanita hingga akhirnya menghasilkan Maura tanpa dia sadari."
"Dan saya tidak tahu, masa lalu mana yang kamu ragukan."
"Semoga bukan karena masa lalu Bryan yang membuat kamu menghasilkan Maura."
Freya menatap Mama Lea lekat dalam diam. "Memangnya kenapa?" batin Freya.
"Karena kalau benar karena itu. Kamu akan menyesal untuk selama." Freya mengerut bingung, "menyesal bagaimana maksudnya?" batin Freya.
...............
Mutia keluar kamar dan mendapati Maura menonton televisi sendirian, dia mendekati anak kecil itu.
"Anak Mama sendirian saja disini. Mana Bunda kamu?" tanya Mutia yang tidak melihat Freya sedari pulang kerja.
"Itu!!!" Maura menunjuk balkon dimana Bundanya ada disana.
"Tadi setelah dapat telephone dari Ayah, Bunda langsung kesana." sambung Maura yang matanya kembali melihat film kartun kesukaannya.
Mutia mengangguk, "Kamu disini yah, Mama mau nyusul Bunda kamu." pamit Mutia dan pergi menyusul Freya yang terlihat duduk melamun sambil menutupi dirinya dengan selimut kecil.
"Apa terjadi sesuatu tadi saat kamu pergi dengan mertua kamu?" tanya Mutia menatap sahabatnya yang terlihat memejamkan matanya itu.
Freya hanya geleng kepala sebagai jawabannya.
"Terus kenapa?"
"Apa karena Bryan memajukan tanggal pernikahan kalian?" Freya langsung menatap sahabatnya itu, darimana Mutia tahu, pikirnya. Karena dia belum cerita sama sahabatnya ini.
Mutia terkekeh pelan melihat keterkejutan Freya, "Aku nggak sengaja dengar obrolan kalian semalam saat kalian video call an." sambung Mutia menjawab keterkejutan Freya.
"Kenapa memangnya kalau pernikahan kalian di majukan?"
"Bukankah itu jauh lebih baik karena aku sekarang bisa bebas tinggal sendirian disini gak ada yang ganggu." goda Mutia pada sahabatnya itu.
"Jadi maksud kamu aku ini pengganggu gitu?" geram Freya menatap tak suka pada sahabatnya.
"Aishhh..Gitu aja ngambek." Mutia menarik pelan hidung mancung Freya hingga memerah.
"Bercanda sayang, jangan baper gitu ahh." ucap Mutia saat melihat sahabatnya tidak meresponnya sama sekali. Freya terlihat murung kembali.
"Aku ragu, Mut." Freya menatap kosong kedepan, "Aku ragu menikah dengan Bryan." gumamnya
"Kalau ragu kenapa kamu menerima lamarannya?"
"Kemarin aku begitu kaget saat Tuan Muda mengumumkan kalau kalian resmi bertunangan."
"Dan kenapa kamu memakai cincin pemberian Tuan Muda?" Mutia mengangkat jari tangan Freya yang terpasang cincin pemberian Bryan.
__ADS_1
Freya melihat cinicin itu, Diamond Ring on White Gold yang dipasangkan di jari manis tangan kirinya setelah kemarin dia menerima lamaran Bryan.
"Kamu ragu kenapa sih?" tanya Mutia yang geram karena Freya hanya diam saja.
"Kamu ragu karena masa lalu Bryan yang sering gonta-ganti pasangan itu?" tebak Mutia karena hanya itu masa lalu yang Mutia tahu.
"Astagfirullah Freya!!!!" geram Mutia saat melihat Freya mengangguk membenarkan tebakannya.
"Jadi kamu ragu karena itu?" Freya menatap Mutia dan mengangguk.
Mutia menghela nafas panjang mengetahui keraguan Freya akan Bryan.
"Kamu tahu Sonya anak resepsionis?" tanya Mutia.
Freya mengerut bingung, "Tahu. Kenapa memangnya?" tanya Freya balik yang merasa heran kenapa justru membahas Sonya anak club itu.
"Sonya itu punya teman seorang ja lang yang bekerja di bawah Ladysa."
"Sonya bilang kalau temannya itu pernah di sewa oleh Tuan Bryan."
"Buat apa kamu cerita seperti itu ke aku?" tanya Freya yang terlihat kesal dan sewot itu.
Mutia tersenyum sinis melihat kekesalan Freya. "Kamu itu suka sama dia, tapi gengsi saja mengakuinya sampai kamu akhirnya mencari alasan untuk membatalkan pernikahan dengan keraguan yang kamu miliki tentang masa lalunya." ujar Mutia menatap Freya dengan senyum
"Sok tahu kamu." Freya beranjak dari duduknya sambil membawa selimut untuk masuk ke dalam.
"Eh..Mau kemana kamu? Duduk dulu!" Mutia menarik tangan Freya dan meminta Freya duduk kembali.
"Aku mau cerita sebentar sama kamu." ujar Mutia serius.
"Dengarkan aku." Mutia memegang kedua lengan Freya supaya duduk mereka berhadapan dan Mutia bisa melihat ekspresi wajah Freya.
"Teman Sonya yang di sewa Tuan Bryan itu cerita kalau dia di sewa Tuan Muda hanya untuk menemaninya saja tidak lebih dari itu."
"Tuan Muda tidak pernah main dengan siapapun."
"Ck...Siapa yang percaya kalau hanya menemaninya saja. Bisa saja mereka dibungkam mulutnya dengan uang." sewot Freya.
"Terserah kamu berpikiran seperti apapun, Freya. Tapi banyak yang bilang wanita-wanita itu hanya untuk menemani Tuan Muda saja."
"Karena Tuan Muda tidak pernah memasuki siapapun"
"Kecuali kamu."
"Dibayar berapa kamu sama Tuan Muda untuk menceritakan itu ke aku?" tanya Freya yang tidak percaya dengan perkataan Mutia.
"Terserah, karena itu faktanya." Mutia lantas berdiri dan pergi masuk kedalam.
"Kalau kamu mau cerita lebihnya, akan aku temukan kamu dengan Ladysa." ucap Mutia sebelum dia menghilang dari balik pintu.
"Apa benar???"
"Apa benar Bryan hanya melakukan itu pada ku??"
"Apa aku telah salah menilainya?" mata Freya memanas menahan air matanya untuk tidak jatuh.
"Jadi yang dimaksud Nyonya Lea tadi itu ini."
"Ya Tuhan..."
"Maaf kan aku yang telah berprasangka buruk pada masa lalu Bryan." Freya menangis dalam diam.
__ADS_1
"Berhasil, Freya terlihat menyesal."
"Aku yakin minggu depan Tuan Muda sama Freya akan menikah."