Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Jangan Egois


__ADS_3

4 bulan berlalu paska pesta resepsi pernikahan Mutia dengan Rendy. Mutia sudah pindah dari apartemen yang ditempatinya dan tinggal di apartemen milik Rendy yang jauh lebih luas dan mewah tentunya. Kenapa tidak tinggal di rumah? Karena Rendy ingin memberi kenyamanan pada Mutia. Dia tidak ingin nantinya Mutia sering merasa tidak enak hati kalau harus tinggal bersama Mama juga Adiknya.


Rendy tersenyum kecil saat melihat istrinya terlihat sibuk di dapur dan terlihat kerepotan mengingat tadi keduanya bangun kesiangan.


"Ada yang bisa saya bantu istriku?"


Klontang!!! Spatula kayu juga mangkok yang berisi telur jatuh terkoyak di atas lantai. Mutia begitu kaget saat tiba-tiba Rendy ada didekatnya dan sontak saja apa yang dipegangnya terjatuh.


"Rendy!!!" pekik Mutia dengan kesal. Dirinya begitu geram saat melihat telur terakhirnya yang ada di dalam kulkas jatuh terkoyak di lantai. Apalagi itu telur satu-satu yang tersisa dan tidak ada lagi sayur ataupun bahan mentah lainnya.


"Kamu bisa tidak sih nggak usah ngagetin begitu?!"


"Kita sarapan apa coba nanti. Ini itu bahan terakhir yang kita punya dan sekarang sudah jatuh dan tidak bisa digunakan lagi."


"Dan aku tidak bisa makan mie lagi." sungut Mutia dengan berapi-api sambil membersihkan lantai yang kotor.


"Maaf, kitakan bisa delivery. Tidak harus makan mie juga."


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan." tanya Rendy yang mengeluarkan handphonenya dan melihat beberapa menu sarapan yang menurutnya cocok untuk dipesannya.


"Tidak usah, aku bisa makan nanti di kantor. Lagian sekarang aku sudah tidak lapar lagi." kata Mutia dan berlalu pergi menuju kamar untuk mandi dan sebagainya.


Rendy menghembuskan nafas perlahan, bukan bermaksud tadi dirinya mengagetkan Mutia. Dia hanya menawarkan diri saja untuk membantu Mutia menyiapkan sarapan. Dia tidak ingin Mutia kecapekan ataupun kelelahan mengingat saat ini Mutia dilarang oleh Mamanya juga dokter untuk melakukan aktifitas fisik yang bisa membuatnya lelah dan capek.


Rendy memilih mandi dan bersiap di kamar tamu setelah tadi menghubungi anak buahnya untuk mengantar makanan sehat buat Mutia juga dirinya.


Mutia mengerutkan keningnya saat keluar kamar dan mendapati banyak makanan di atas meja makan. Dia juga melihat Rendy yang sudah bersiap tengah duduk di kursi meja makan.


"Duduk dan makanlah dulu. Tadi aku sudah minta izin kantor kalau kamu akan datang terlambat." Rendy berdiri dari duduknya dan menarik kursi untuk Mutia tempati.


"Mutia!" seru Rendy saat melihat Mutia yang tak bergeming dan hanya menatap makanan juga segelas jamu yang sudah hampir dua bulan dia minum.


"Aku minta maaf." ucap Mutia dan berlalu pergi dari hadapan Rendy. Dia sudah bosan dengan makanan rea lfood juga jamu apa itu dia sendiri tidak tahu, yang pasti rasanya begitu pahit.


"Makan dulu." Mutia meringis menahan sakit saat tangannya dicengkeram erat oleh Rendy.


"Aku tidak lapar. Aku juga harus segera berangkat. Freya sudah menunggu ku." bukannya melepas cengkeraman tangannya pada Mutia, Rendy justru semakin mempererat cengkeramannya.


"Kenapa? Apa kamu sudah bosan dan tidak ingin segera memiliki anak?"


"Atau kamu memang tidak mau melahirkan anak untuk ku."

__ADS_1


Mutia membalas tatapan Rendy dengan mata memerah. Siapa yang tidak menginginkan anak dari orang yang kita cintai dan memberikan keturunan buat suami yang dicintai? Hanya saja Mutia saat ini merasa tertekan dan terbebani dengan tekanan juga pertanyaan yang Mamanya Rendy berikan pada dirinya yang tak kunjung hamil walau pernikahannya baru jalan empat bulan.


Bukan hanya Mama Mertuanya saja, Rendy terkadang juga mempertanyakan pada dirinya apa sudah ada hasilnya apa belum. Bahkan Rendy juga sudah membawa Mutia ke dokter kandungan untuk pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya normal semua. Kenapa tidak dia sendiri yang periksa ke dokter? Apa dia normal apa tidak.


"Aku wanita dan aku juga seorang istri, sudah pasti aku ingin memberikan keturunan buat kamu, Rendy."


"Tidak ada seorang istri yang tidak menginginkan seorang anak kecuali dia tidak ingin anak atau dia tidak mencintai suaminya dan hanya ingin hartanya saja."


"Jadi kau tidak mencintaiku?"


Mutia tertawa sumbang mendengar pertanyaan spontan dan tanpa pikir dari Rendy. Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak harus dijawabnya. Itu juga termasuk pertanyaan yang membuat hatinya terasa perih.


"Kenapa kamu tertawa? Jadi benar kamu tidak mencintaiku dan hanya menginginkan hartaku saja. Makanya kamu tidak mau memberiku keturunan." Mutia menyentak kasar tangannya yang di cengkeram sama Rendy. Sungguh apa yang Rendy katakan barusan telah membuat hatinya sangat sakit. Dia tidak pernah menyangka Rendy akan mengatakan dan berpikiran seperti itu pada dirinya.


"Terserah apa yang kamu pikirkan tentang aku."


"Kamu telah berubah Rend. Hanya karena aku belum memberimu keturunan kamu jadi seperti ini."


"Apa kamu lupa apa yang kamu katakan waktu kita baru nikah kemarin?"


"Apa kamu juga lupa apa tujuanmu membawa aku tinggal di apartemen daripada tinggal di rumah Mama?"


"Kamu juga sudah tahu kalau hasil pemeriksaan ku normal. Tapi kenapa kamu terus memaksaku untuk makan dan minum ini itu?"


"Kenapa tidak kamu sendiri saja yang periksa? Kenapa selalu wanita yang disalahkan saat dia belum kunjung hamil."


"Jangan egois kamu, Rendy." Mutia segera pergi setelah mengungkapkan isi hatinya selama beberapa minggu ini yang merasa tertekan dan terbebani karena tak kunjung hamil juga meski usia pernikahannya baru dibilang muda.


Rendy bergeming menatap Mutia yang pergi keluar entah kemana. Dia mencerna semua perkataan Mutia satu-persatu. Benar apa yang Mutia katakan, dia memang melupakan perkataannya sendiri juga melupakan tujuannya kenapa memilih tinggal di apartemen. Dia juga terus memaksa Mutia untuk makan dan minum ini itu sesuai apa yang Mamanya katakan pada dirinya tanpa memperdulikan perasaan istrinya.


"Damn!!!" umpat Rendy dengan melempar kursi yang didudukinya tadi ke samping. Dirinya begitu kesal pada dirinya sendiri yang melupakan tujuan awalnya kenapa membawa Mutia tinggal di apartemen.


"Jadi aku. Jadi aku penyebab Mutia tak kunjung hamil. Aku yang selalu menekannya, bahkan Mama juga."


Rendy begitu menyesal karena telah berlaku egois pada Mutia, meski dia sendiri tidak sadar akan tindakannya justru membuat istrinya tertekan.


"Kemana Mutia tadi?" tanya Rendy pada anak buahnya yang selalu mengikuti Mutia kemana saja saat tidak bersama dengannya.


"Nona Mutia pergi naik taxi Tuan, dan saya diminta untuk tidak mengikutinya. Katanya tadi mau ketemu sama Nona Freya." jelas anak buahnya.


"Shittt!!" umpat Rendy saat nomor Mutia tak dapat dihubungi, bahkan nomor Freya juga tak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Bryan!! Pasti dia tahu dimana Freya saat ini." dengan melangkah menuju basman, Rendy menghubungi Bryan.


Bryan meraba-raba nakas dengan mata terpejam saat handphone nya terus saja berbunyi dan membangunkan mimpi indahnya.


"Hmm..Ada ap,_" belum juga Bryan selesai bertanya, suara Rendy sudah menggema di gendang telinganya.


"Nona Freya dimana sekarang?" tanya Rendy di seberang sana.


"Hai kanebo!! Ngapain kau cari istriku?"


"Sudah punya istri sendiri malah cari istri orang."


"Berani kau sama Tuan mu ini?" sungut Bryan yang tidak terima Rendy mencari istrinya padahal sudah punya istri sendiri.


"Hai Tuan Muda. Saya hanya tanya dimana Nona Freya saat ini, karena istri saya sekarang bersama istri anda."


"Siapa sih Mas? Ganggu saja. Aku masih ingin tidur dan dipeluk. Dingin." ucap Freya dengan suara serak dan lemah.


"Maaf membuatmu terbangun. Ini si mantan asisten yang mengganggu." ujar Bryan sambil kembali memeluk mesra Freya yang tengah hamil besar.


"Sial!!" umpat Rendy untuk ke sekian lakinya. Dia lantas memutus sambungan telephone saat baru mengingat kalau Bryan juga Freya sudah dua bulan ini tengah berada di Swiss untuk nantinya melahirkan di negara yang dulu rencananya mereka buat untuk honneymoon tapi tidak jadi dan dijadikan tempat untuk lahiran anak kedua mereka tanpa membawa Maura yang sudah sibuk dengan sekolahnya tanpa memperdulikan adiknya yang sebentar lagi akan launching.


"Terus kemana perginya Mutia tadi?" Rendy menggusar rambutnya dengan acak karena tidak tahu keberadaan istrinya saat ini.


"Kau sudah membuatnya sakit hati Rend. Sakit hati bukan karena kau telah menduakannya, melainkan sakit hati karena menyalahkan Mutia yang tak kunjung memberimu keturunan."


"Benar yang Mutia katakan. Kau egois Rendy. Tak seharusnya hanya Mutia saja yang menjalani progam hamil, tapi kamu juga. Kamu juga harus mengikuti progam hamil dan harus diperiksa juga, Rend."


"Harus, harus ikut program juga dan jangan hanya menyalahkan pihak wanitanya saja."


🍁🍁🍁


Assalamualaikum..


Author kembali lagi...


Maaf baru muncul kembali, karena ada satu dua hal yang membuat Author tidak fokus ke dunia perhaluan, karena orang tua Author sakit dan harus fokus ke beliau dulu. Author minta doanya dari kakak-kakak readers untuk kedua orang tua Author semoga lekas sembuh dan diberi kesehatan kembali.


Terima kasih sebelumnya dan terima kasih juga masih setia di cerita Maura: Tragedi Tahun Baru.


Big hug kakak-kakak cantik dan ganteng 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2