Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Lipstik


__ADS_3

Tit tit tit tit


"Oh tidak!!" Mutia berdiri dari duduknya menatap pintu masuk. Kunci canggih itu berbunyi, dia yakin bukan Freya yang memencet melainkan manusia robot macam kanebo kering. Rendy.


"Mau apa anda masuk ke apartemen wanita tanpa di persilahkan masuk?" tanya Mutia menatap tajam saat sosok kanebo kering memasuki apartemennya.


"Kalaupun saya masuk dengan memencet tombol bel pun juga tidak akan anda bukakan." Rendy langsung duduk di sofa tanpa dipersilahkan oleh Mutia terlebih dahulu.


"Saya tadi sudah di beri izin Nona Freya untuk masuk ke sini."


"Jadi tidak perlu meminta izin anda terlebih dahulu wanita bar-bar." kata Rendy dengan wajah datar dan gaya cool nya yang semakin membuat Mutia ingin muntah saat melihatnya.


"Freya!!!! Sebenarnya kamu itu di pihak siapa sih." geram Mutia mengingat sahabatnya itu.


"Pergi dari sini!!!" usir Mutia. Dia lagi malas, lagi gak mood untuk berantem dan yang pasti malas melihat wajah Rendy yang datar macam triplek itu.


"Saya bilang pergi dari sini kanebo kering!!" teriak Mutia karena tidak mendapat respon apapun dari Rendy.


Rendy asyik dengan ponselnya dan terlihat cuek saja tidak terganggu dengan teriakan Mutia.


"Memang perlu di beri pelajaran manusia satu itu."


"Tidak mengerti bahasa manusia." Mutia menyepol rambutnya dan mengangkat lengan bajunya lebih tinggi lagi.


Dia berjalan ke dapur mengambil sesuatu yang akan dia gunakan untuk mengusir lalat besar yang terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya itu.


"Astagfirullahalazim!!" pekik Mutia yang terkejut saat berbalik dan melihat Rendy sudah berdiri di depannya.


"Mau apa kamu kesini?" Mutia menodong Rendy dengan spatula kayu yang baru saja dia ambil tadi. Matanya mendelik tak suka pada Rendy.


"Melihat wanita bar-bar yang pergi tanpa memberi kabar." jawab Rendy dengan menatap manik mata silver Mutia yang jarang dia temui di wanita yang dia kenal.


Mutia berjalan mundur perlahan saat Rendy semakin mendekat padanya.


"Bisa tidak nggak usah dekat-dekat." sentak Mutia yang sudah merasa terpojok.


"Jangan tatap seperti itu dong kanebo kering. Bisa meleleh aku nantinya." jerit Mutia dalam hati saat Rendy menatap dalam tanpa berkedip.


"Oh Mutia!! Amankan jantung kamu dan jangan membuat kegaduhan seperti saat ini." gumam Mutia dalam hati saat jantungnya mulai berdendang kencang seperti mau perang.


"Kenapa manusia ini makin cakep saja sih setelah tidak melihatnya selama dua minggu terakhir ini?" batin Mutia bertanya-tanya.


"Bodoh kamu Mutia jangan sampai mengagumi sosok kanebo kering yang ada di hadapanmu ini."


Rendy mengerutkan dahinya saat melihat Mutia menepuk jidatnya sendiri dengan spatula kayu yang dibawanya untuk menghalau Rendy tentunya.


"Anda sakit Nona?" tanya Rendy dengan masih di posisinya sedikit menunduk menatap Mutia mengangkat sebelah alisnya.


"Ishhh sudah sana jauh-jauh nggak usah dekat-dekat seperti ini." Mutia mendorong Rendy dengan spatula yang dipegangnya.


Namun Rendy tidak berpindah tempat sedikitpun, dia masih menatap Mutia dalam dan semakin mendekat pada Mutia. "Hukuman buat orang yang tidak mau mengangkat telephon juga membalas chat."


"Hah???" bingung Mutia yang sedikit membuka mulutnya menatap Rendy.


"This time, baby." gumam Rendy.


"Mmmpphhh..!!!!!" Mutia memukul lengan Rendy saat manusia robot itu tiba-tiba menciumnya.


Tapi tunggu!!! Mutia merasakan ciuman yang Rendy berikan saat ini berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya yang terkesan kasar dan memaksa. Namun ini??? Mutia dapat merasakan kalau Rendy menciumnya penuh dengan kelembutan hingga ia tanpa sadar terbuai dan membalas ciuman bibir itu.


Tuk


Tak


Spatula kayu yang ada di tangan Mutia jatuh dengan sendirinya karena tangan Mutia sudah lemas akibat cum buan yang Rendy berikan pada dirinya.


"Gadis pintar." ucap Rendy setelah selesai menikmati bibir Mutia yang kenyal dan manis itu.


"Thank's for the ammo." Cup. Rendy mengecup sekilas bibir Mutia dan mengacak kasar rambut Mutia lalu dia bergegas keluar dari apartemen Mutia mengingat jam sudah hampir jam dua siang. Karena tadi dia izin pada Bryan akan kembali jam dua.


Mata Mutia mengerjap beberapa kali setelah Rendy menghilang dari hadapannya. Dia memegang bibirnya yang tadi ikut membalas ciuman itu yang padahal biasanya selalu memberontak dan menghindar.


"Apa yang kamu pikirkan tadi Mutia? Kenapa kamu membalas ciuman itu?" gerutu Mutia yang kesal pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia mengambil ponselnya yang tadi terdapat pesan masuk.


"Thanks"


"You're even prettier after two weeks we haven't seen each other"


Mutia menutup mulutnya tak percaya dengan pesan yang baru saja dia baca.


"Itu orang nggak salah makan sesuatu kan?" tanya Mutia dalam benaknya.


Dia membuka gorden dan mengintip ke luar jendela. Dengan segera dia menutup kembali saat Rendy tersenyum padanya bahkan memberinya kiss bye.


"Kerasukan setan apa dia tadi?"


"Ohh kenapa wajah ini rasanya panas sekali sih."


Mutia berlari masuk ke kamarnya dan bersembunyi di dalam balik selimut sambil senyum-senyum nggak jelas.


...............


Freya baru saja sampai di kantor Bryan setelah pulang dari apartemen tadi. Dia datang kesana karena Maura minta dijemput sama Bunda Freya dan makan siang sekalian dengan Bunda dan Ayah.


"Selamat siang Nona Freya!" sapa Julian yang baru saja selesai istirahat siang. Mereka bertemu saat menunggu lift.


"Siang juga Jul."


"Baru selesai istirahat nih?" tebak Freya.


"Iya Nona, Alhamdulillah. Perut kenyang hati pun ikut senang." kelakar Julian membaut Freya tertawa.


Mereka segera masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas gedung.


"Saya duluan ya Jul." pamit Freya pada sekertaris suaminya itu setelah keluar dari lift.


Freya segera masuk ke ruangan Bryan karena mengetuk berkali-kali tidak ada sahutan dari dalam.


"Kok nggak ada orang." monolog Freya karena tidak menemukan seorangpun di ruangan Bryan.


"Bukannya tadi Mas Bryan bilang ada di kantor?" gumam Freya mengingat pesan Bryan yang memintanya datang ke kantor untuk menjemput Maura.


Maura yang bersembunyi di bawah meja kerja Ayahnya menutup mulutnya untuk tidak menimbulkan suara. Dia ingin mengerjai Bundanya.


"Mas Bryan!!! Maura!!! Bunda datang."


Freya juga sudah melihat ke toilet juga kamar pribadi Bryan namun tak menemukan dua sosok yang di carinya.


"Tadi minta untuk cepat kesini dan sekarang hilang entah kemana." gerutu Freya.


"Sudah dari tadi sayang?" tanya Bryan yang baru saja masuk ke ruang kerjanya dan mendapati Freya sudah ada di sana.


Freya tersenyum dan mengangguk, "Mas dari mana tadi?" tanya Freya setelah mencium tangan Bryan.


"Keruangan Papa sebentar." jawab Bryan dan membawa Freya duduk di sofa.


"Maura mana Mas?" tanya Freya saat tidak melihat Maura yang bersama Bryan.


"Maura tadi disin_" Bryan mengedarkan pandangannya, "_mungkin dia bersembunyi." bisik Bryan pada Freya.


"Ya sudah yuk,Mas! Kita makan di luar saja berhubung Maura nya nggak ada." kata Freya yang berjalan mendekat ke arah meja Bryan dimana Maura sembunyi dibawahnya.


"Ayo, kita nikmati waktu berdua tanpa Maura. Kalau ada dia sukanya mengganggu saja." sahut Bryan yang mendekat ke arah dimana Freya berdiri.


Bryan memeluk Freya dari belakang, semalam dia tidak bisa memeluk istrinya karena merajuk dan tidur di kamar Maura. Padahal Maura nya sendiri tidur di kamar mereka.


"Kok nggak keluar dia sayang?" tanya Bryan berbisik pada Freya.


Freya menggeleng, "Kita jalan saja mendekati pintu." saran Freya.


"Ayo sayang kita berangkat sekarang." ajak Bryan.


Mereka berdua berjalan menuju pintu dan.....


"Ayah!! Bunda!! Maura ikut." seru Maura dengan setengah berteriak saat melihat Ayah dan Bundanya sudah berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Maura ikut!!!" dia berlari menuju Ayah Bundanya dengan mata berkaca-kaca.


Bryan sontak mengangkat Maura ke gendongannya saat melihat putrinya yang akan menangis itu.


"Memangnya Maura mau ikut kemana?" tanya Bryan yang masuk kembali ke ruangannya bersama Freya juga.


"Makan diluar." jawab Maura pelan.


"Nggak jadi, kita makan di sini saja." ujar Freya sambil mengacak pelan rambut Maura.


"Tadi kata Bunda mau makan diluar." kata Maura.


"Bunda tadi bilang seperti itu supaya Maura keluar dari persembunyian Maura." kata Freya yang berjalan menuju sofa untuk makan, dia sudah lapar sedari tadi. Padahal dia tadi sudah menghabiskan dua potong roti coklat/ cake coklat dan segelas coklat hangat.


Bryan tersenyum melihat wajah Maura yang langsung ditekuk cemberut karena kesal merasa di kerjain Ayah dan Bundanya balik.


"Sudah yuk kita susul Bunda. Bukannya Maura tadi juga sudah lapar?" tanya Bryan sambil berjalan menuju sofa dimana Freya sudah duduk di sana menyiapkan makanan yang sudah Bryan pesan. Lebih tepatnya Rendy yang memesankan sebelum akhirnya diijinkan keluar oleh Bryan.


"Kok ada cake juga Mas? Mas Bryan kan nggak suka cake." tanya Freya.


"Itu buat kamu, aku lihat akhir-akhir ini kamu suka makan cake." Freya tersenyum mendengar jawaban dari Bryan. Meskipun Bryan sibuk kerja dan kadang terlihat cuek ternyata juga memperhatikannya juga.


"Terima kasih ya Mas." ucap Freya tulus dengan tersenyum manis menatap Bryan yang duduk di sampingnya.


"Kalau mau berterima kasih yang benar." ujar Bryan yang tidak menerima ucapan terima kasih dari Freya.


Freya mengulum senyum dan mendekat ke Bryan. Cup. Freya mengecup pipi Bryan. "Terima kasih." ucap Freya dengan lembut.


"Aku maunya disini bukan disini." Bryan menunjuk bibirnya sendiri.


"Ada Maura,nanti saja." kilah Freya yang padahal dia sendiri yang malu kalau harus mencium bibir Bryan duluan.


"Oke, aku tunggu nanti." ucap Bryan.


Mereka melanjutkan makan dan sesekali Maura minta disuapi makanan yang ada di piring Bundanya maupun Ayahnya.


"Aku angkat telephone dulu." pamit Bryan yang mendengar handphonenya yang dia letakkan di meja kerja terus saja berbunyi sedari tadi.


Freya mengangguk melihat Bryan yang berdiri dekat meja kerjanya sambil menatap keluar jendela mendengarkan suara orang di balik telephone.


"Sudah aku bilang paksa dia."


"Kalau tidak mau ancam dia."


"Aku nggak mau tahu dalam seminggu dia sudah ada disini."


"Aku tidak peduli bagaimanapun caranya kamu membawa dia."


"Yang aku mau dia ada disini dalam keadaan hidup-hidup."


Freya menatap punggung Bryan dengan mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu siapa yang menelephone suaminya itu, tapi kalau dilihat dari gestur tubuh Bryan dan nada bicara Bryan, Freya dapat menyimpulkan kalau suaminya saat ini sedang marah.


"Mas Bryan marah kenapa ya? Sama siapa?" batin Freya bertanya-tanya.


Freya membenarkan bantal sofa yang berantakan dan tak sengaja menemukan lipstik.


"Punya siapa ini?" gumam Freya.


Dia memutar-mutar lipstik itu dan di bukanya. "Merah?? Aku tidak punya lipstik merah dengan merek ini."


Freya mencium bau lipstik itu juga karena biasanya lipstik memiliki aroma ataupun rasa. "Sepertinya aku kenal dengan warna dan bau lipstik ini."


Freya menatap Bryan dengan begitu banyak tanda tanya di benaknya.


"Jangan membangunkan singa betina yang sedang tidur, anda Tuan Muda Abrisam."


Freya mengepalkan tangannya kuat hingga membuat buku jarinya memutih.


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, vote, comment and gift

__ADS_1


big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya


__ADS_2