Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Nama khusus dari Bapak


__ADS_3

Rendy dan anak buahnya melakukan tugasnya dengan sangat baik, cepat dan tepat. Semua bukti sudah terkumpul beserta tersangka tepat pukul 07.35 waktu setempat. Tinggal menunggu dalang dari pembuat masalah datang ke tempat yang telah di tentukan sendiri oleh dalang tersebut.


Bryan menarik salah satu sudut bibirnya keatas setelah membaca email yang Rendy kirim kepadanya. Dia begitu puas dengan kinerja asisten pribadinya itu. Tidak rugi dia dulu membiayai Rendy kuliah hingga mendapat gelar master seperti dirinya dan bekerja dua puluh empat jam untuk dirinya dengan gaji fantastis tentunya yang Rendy dapat tiap bulannya.


"Jangan harap kau bisa main-main dengan ku lagi kadal betina."


"Sudah cukup aku selama ini diam saja dan hanya memberi mu gertakan."


"Tapi tidak untuk sekarang."


"Aku sudah menyiapkan hadiah khusus buat mu dan sangat istimewa."


"Aku yakin kau tak akan bisa tidur karena selalu terbayang akan hadiah yang telah aku siapkan."


Bryan menyeringai menatap mini zoo yang berada tidak jauh dari rumah utama keluarga Abrisam dari lantai tiga. Dia sudah tidak sabar menonton pertunjukan yang pasti akan membuatnya sangat puas dengan hasilnya. Apalagi saat mendengar pekikan, jeritan minta tolong dan tangisan frustasi. Bryan sudah tidak sabar untuk mendengar itu semua.


"Bersiaplah kau Manda Hertanto." geram Bryan dengan menatap tajam ke depan dengan tatapan setajam elang. Dia dari dulu ingin melenyapkan seluruh keluarga Hertanto karena telah beraninya membunuh Nesa, Agnesa Pricillia Abrisam, adiknya. Namun keinginan Bryan itu dihalangi oleh Papa Abri dengan alasan pembunuhnya telah dipenjara seumur hidup atau hukuman mati.


Tapi tidak untuk sekarang, dia sudah melenyapkan Leon dan sebentar lagi Manda yang akan dia lenyap kan. Untuk kedua orang tua Manda dan Leon, Bryan hanya cukup menjebloskan mereka ke penjara akan kejahatan yang mereka lakukan. Kalau masih tetap berulah, Bryan tak segan melakukan cara yang sama seperti dia melenyapkan Leon.


"Mas Bryan!!!"


Bryan tak bergeming dari tempatnya berdiri saat Freya memanggilnya. Dia masih diam dengan amarah yang tengah merasuki jiwanya.


Freya mengulum senyum tipis melihat suaminya yang berpakaian serba hitam sedang berdiri melihat keluar jendela dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku. Freya juga memakai dress selutut dengan lengan panjang berwarna hitam berjalan mendekati suaminya yang tak bergeming sama sekali itu saat dia panggil.


"Mas!!" Freya memegang pelan lengan Bryan, namun dengan cepat Bryan menangkisnya dan memegang pergelangan tangan Freya erat kemudian di putarnya kebelakang tubuh Freya.


"Aakkhhhh!!!"


"Sakit, Mas!!!"


Bryan tersadar saat mendengar suara pekikan yang sangat dia kenal, suara istrinya. Dilihatnya tubuh yang berada di depannya saat ini yang membelakanginya itu. Dan benar saja itu Freya istrinya sendiri dan dia telah melukai istrinya tanpa tidak sengaja. Dengan segera Bryan melepas genggaman di pergelangan tangan Freya.


Bryan membalikkan tubuh Freya menghadap dirinya dan memegang kedua lengan Freya dengan lembut.


"Sayang aku minta maaf, aku tidak sengaja tadi."


"Aku hanya refleks."


"Kamu tidak apa kan?" Bryan terlihat khawatir karena tidak sengaja melukai istrinya sendiri.


Diraihnya pergelangan tangan Freya yang tadi dia pegang dengan erat. Pergelangan tangan itu memerah dan pasti itu sangat sakit. Diciumnya beberapa kali pergelangan tangan Freya.


Dengan satu tangan lainnya Bryan menangkup sebelah pipi Freya yang menunduk itu. Diusapnya pelan dan kembali mencium pergelangan tangan Freya. "Maaf ya sayang."


Freya mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Bryan dengan mata berkaca-kaca. "Sakit!!" suara Freya terdengar tercekat.


Bryan kembali mencium pergelangan tangan Freya yang memerah dan dibawanya tubuh istrinya yang tengah berbadan dua itu kedalam pelukannya. Bryan memejamkan matanya karena tidak bisa mengendalikan dirinya saat dia tengah marah.


"Apa yang membuat Mas Bryan marah? Kenapa tadi tatapannya begitu tajam dan dingin?" batin Freya bertanya-tanya.


"Apa Mas Bryan sudah tahu siapa orang yang membunuh Michel?" pikir Freya.

__ADS_1


Bryan mengurai pelukannya dan mengusap dengan lembut pergelangan tangan Freya. Dia tatapannya mata Freya dengan tatapan yang begitu lembut.


"Sudah tidak sakit kan, sayang?"


"Aku minta maaf, ya!!" Freya mengangguk dan tersenyum tipis meski kenyataannya pergelangan tangannya masih terasa sedikit sakit.


"Ayo kita turun. Mungkin yang lain sudah menunggu."


Freya mengangguk dan membiarkan Bryan merengkuh pinggangnya dengan salah satu tangan selama berjalan menuju lantai satu. Dia tadi mendatangi Bryan memang ingin memanggil Bryan karena yang lain sudah siap untuk berangkat ke pemakaman Michel.


Bryan dan Freya juga Papa Abri dan Mama Lea segera berangkat setelah membujuk Maura yang ingin ikut. Mengingat jam sudah hampir menunjukkan jam setengah sepuluh lebih. Mobil Bryan dan juga Papa Abri langsung melesat ke pemakaman keluarga Abrisam yang terletak di kawasan bukit.


Bryan memegang tangan Freya dan diusapnya dengan lembut menggunakan ibu jarinya. Dia tahu, pasti Freya saat ini tegang karena harus bertemu dengan Anelis juga Marisa. Mau menghindar pun tidak bisa kecuali Freya tidak datang ke pemakaman Michel.


Freya menatap tangannya yang di pegang Bryan dan menoleh pada suaminya sambil menyunggingkan senyum tipis untuk menutupi kegugupannya. Padahal Bryan sudah tahu, bahkan sudah merasakan kalau saat ini Freya tengah gugup.


"Kalau kamu belum siap. Tunggu di mobil saja tidak apa." kata Bryan saat mobil melewati gapura yang bertuliskan. HEAVEN HILL, Pemakaman Keluarga Abrisam.


Freya menggelengkan kepala menolak tawaran Bryan. Dia menatap sekeliling yang sudah dipenuhi mobil pelayat atau mungkin mobil pengawal keluarga Abrisam, entahlah Freya tidak tahu. Yang ada dipikirannya saat ini, apa yang harus dia katakan nanti saat bertemu dengan Anelis dan Mamanya. Haruskah dia cuek saja atau menyapa mereka.


"Sayang!!!"


"Kamu mau turun apa di mobil saja." kata Bryan setelah mobil terparkir dengan sempurna.


Freya menatap Bryan sejenak sebelum akhirnya menguatkan diri untuk bertemu dengan Mama dan kakaknya yang terlihat sudah berada di pemakaman.


"Bagaimana??" Bryan mengangkat sebelah alisnya.


Freya mengangguk yakin, "Aku mau kesana."


"Tuan Bryan!!"


Panggilan dari Rendy menghentikan langkah Bryan juga Freya. Mereka berdua menoleh dan melihat Rendy berjalan ke arah mereka setengah berlari.


Bryan mengerutkan keningnya kenapa Rendy ada disini. Bukankah tadi dia sudah meminta Rendy untuk mengikuti Manda atau mungkin stand by di tempat pertemuan Manda dengan orang suruhannya. Pikir Bryan.


Rendy melirik Freya yang ada di sebelah Bryan. Dia ragu untuk menyampaikan hal penting kalau ada Freya. Dia takutnya nanti istri bosnya itu akan kepikiran dan berpengaruh pada kandungan Freya.


Bryan yang paham melihat gelagat Rendy meminta Freya untuk duluan menyusul Papa Abri dan Mama Lea. Namun sayang, istrinya itu menolak.


"Aku mau disini sama Mas Bryan." Freya mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan Bryan.


Bryan menghembuskan nafas pelan dan menatap Rendy. "Apa?"


Mencari aman, Rendy memilih membisikkan langsung pada Bryan daripada didengar Freya.


"Aku serahkan semua padamu."


"Bukannya orangnya Papa juga ikut gabung?" tanya Bryan yang heran kenapa Rendy tiba-tiba cemas.


Rendy mengangguk pelan, "Iya Tuan."


"Kerjakan dengan rapi dan jangan mengecewakan."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Bryan lantas melanjutkan kembali langkah kakinya menuju tenda putih bersama Freya yang sedari tadi diam saja mendengar pembicaraan suaminya dengan sang asisten yang tidak Freya pahami sama sekali.


Freya menghentikan langkahnya saat Bryan mengajaknya duduk di deretan kursi paling depan.


"Kenapa?" tanya Bryan


"Aku mau duduk di belakang sama Mama juga Papa." kata Freya dengan melihat deretan kursi nomor dua dari depan yang Papa Abri juga Mama Lea tempati. Namun tanpa sengaja pandangan mata Freya bertemu dengan Marisa yang tengah menatapnya sedari Freya memasuki area makam. Dengan cepat Freya memutuskan pandangan itu.


Bryan mengangguk saja, padahal Bryan memilih kursi paling depan supaya Freya tidak bisa melihat Anelis juga Marisa dan tidak gugup nantinya. Tapi ini justru Freya mengajaknya duduk tepat di deretan nomor dua yang berarti Freya dapat melihat Anelis juga Marisa dari belakang.


Selama prosesi pemakaman, Freya tak hentinya mencoba menenangkan diri dan menerima kalau sosok wanita paruh baya yang sekilas mirip dengannya itu adalah Mamanya, Ibu kandungnya. Freya mencuri pandang pada Marisa yang menangis sambil memeluk dan menenangkan Anelis. Ada rasa sakit dihatinya melihat dua orang wanita itu menangis. Ingin rasanya dia ada diantara keduanya dan saling menguatkan. Tapi apa boleh buat, dirinya belum siap dan mau menerima kalau dua wanita itu Ibu dan Kakak kandungnya.


Semua yang hadir di pemakaman berpamitan dan mengucapkan turut berduka cita. Dan sekarang hanya sisa anggota keluarga inti Abrisam dan Pramudya yang ada di sana. Bryan dan Freya mendekati Anelis dan Marisa untuk mengucapkan turut berduka cita setelah tadi menyapa Andre dan Paman Samuel tanpa ada Bibi Arta yang sudah pulang duluan.


"Yang sabar, El. Ini sudah takdir dari yang kuasa."


"Kamu juga harus bangkit lagi supaya Michel tidak sedih di sana."


"Tunjukkan pada dia kalau kamu Mama yang baik dan akan menjadi lebih baik lagi."


"Saya turut berduka atas Michel." ucap Bryan panjang lebar sambil mengusap lengan Anelis.


Anelis yang menangis hanya mengangguk saja, "Terima kasih." ucap Anelis lirih dan terdengar tercekat.


"Bibi, saya turut berduka." Bryan sedikit menundukkan kepalanya pada Marisa. Karena dia tahu,bagaimanapun keadaannya wanita paruh baya di hadapannya saat ini adalah Ibu dari istrinya walau istrinya sendiri belum mengakui wanita itu.


Marisa hanya mengangguk,dia tidak mampu mengeluarkan suara karena bisa melihat putri bungsunya secara dekat, benar-benar dekat. Ingin rasanya dia memeluk putrinya itu.


"Saya turut berduka." ucap Freya cepat dan segera berbalik sambil menarik tangan Bryan untuk pergi dari sana. Dia dari tadi menahan untuk tidak menangis di hadapan kedua wanita itu.


"Reya!!"


Freya menghentikan langkah kakinya yang baru melangkah dua kali saat ada yang memanggil nama Reya. Nama yang sama yang sering Bapaknya, Armand panggil untuk dirinya. Kata Bapak, nama itu nama khusus beliau buat untuk dirinya. Nama yang hanya boleh Bapak panggil untuk dirinya, tidak dengan yang lain.


"Reya...bangun nak!"


"Reya, ayo makan dulu."


"Reya anak Bapak yang paling pintar."


"Reya harus tetap jadi anak baik dan selalu tersenyum untuk semua."


"Bapak sayang sama Reya. Selamanya."


Freya menangis mengingat Bapaknya yang telah meninggal. Bapaknya yang sangat menyayangi dirinya. Bapaknya yang selalu memanggil dirinya dengan panggilan Reya. Namun saat ini dia mendengar orang lain memanggil nama itu tepat di belakangnya.


"Mama!!"


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for like, vote, comment and gift

__ADS_1


big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya


__ADS_2