
Sudah seminggu ini Bryan mendiamkan Freya hanya karena Freya tidak ingin melakukan program bayi kembar. Bukan tidak ingin, Freya hanya tidak ingin nanti pemberian ASI ekslusif untuk baby Attar terhambat bahkan terhenti karena program bayi kembar.
Nanti kalau usia baby Attar dua tahun, Freya mau saja melakukan program yang diinginkan suaminya itu. Tapi Bryan sudah beranggapan kalau Freya tidak ingin memiliki anak lagi darinya hanya karena menolak program bayi kembar untuk saat ini.
Tak hanya mendiamkan Freya, Bryan bahkan tidur di ruang kerjanya yang ada di rumah. Bahkan keperluan Bryan yang sudah disiapkan Freya tak Bryan sentuh sedikitpun. Justru dia menyiapkan sendiri keperluannya.
Freya hanya bisa pasrah saja. Diajak bicara pun suaminya itu tidak mau mendengar bahkan menanggapinya. Ingin rasanya Freya marah juga merasakan sikap dan kelakuan Bryan yang kekanakan hanya karena keinginannya tidak dituruti.
Tapi kalau amarah dibalas dengan amarah, yang ada nanti akan semakin menyulutkan api. Jadi Freya saat ini membalas suaminya dengan sikap masa bodo seperti yang Bryan lakukan padanya.
Biarlah, memang enak apa dicuekin, dianggurin. Freya sih fine aja. Pernah juga terlintas di benak Freya untuk menggoda suaminya dengan pakaian sek si. Apakah akan tergoda atau tetap acuh dan cuek saja. Tapi ide itu belum terlaksana juga karena Freya masih ragu.
"Ini semua karena si kanebo kering, manusia kaku seperti robot."
Freya selalu saja menyalahkan Rendy yang menyulut rasa isi pada hati Bryan. Sudah tahu Bryan tidak mau dikalahkan, tapi Rendy justru memamerkan kalau dirinya sekali tembak langsung dapat dua, tidak seperti Bryan yang dapatnya satu satu.
"Kalian ada masalah? Mama perhatikan sudah hampir seminggu ini kamu sama Bryan diam-diam saja tidak saling tegur bahkan menyapa. Kalian lagi marahan?"
Tanya Mama Lea yang sebenarnya sudah dari kemarin kemarin mau menanyakan keadaan anak dan menantunya yang terlihat tidak ada yang beres itu. Mulutnya yang gatal dan sudah tidak tahan lagi, akhirnya Mama Lea bertanya juga pada menantunya.
Freya yang tengah memberi ASI pada baby Attar hanya tersenyum tipis pada Mama Lea dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus kenapa saling diam dan Mama perhatikan kalian juga saling acuh."
Mama Lea menatap menantunya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sayu meski bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Mas Bryan ingin Freya menjalani program bayi kembar." ucap Freya dengan disertai nafas berat di akhir kalimatnya. Sungguh, hanya karena tidak ingin kalah dari Rendy,Bryan sampai mendiamkan istrinya seperti saat ini.
"Oh...Ya nggak apa, biar rumah ini nanti semakin rame. Mama suka aja itu. Tapi nanti aja dulu, tunggu usia Attar dua tahun baru program. Kamu juga habis operasi cesar juga. Dua tahun sudah bisa itu untuk hamil lagi."
Freya menghembuskan nafas berat mendengar perkataan Mama mertuanya. Andai saja pemikiran suaminya itu seperti Mama Lea, pasti dia setuju saja. Lha ini, suaminya inginnya sekarang. Saat ini juga.
Hello...Membuat anak itu memang mudah, prosesnya juga enak bahkan bikin kita lupa waktu. Tapi masalahnya yang menjadikan anak itu meridhoi apa tidak untuk langsung dikasih saat ini juga. Itu yang jadi permasalahannya.
Apalagi saat ini Freya baru juga melahirkan secara cesar dan pasti luka bekas operasinya juga belum pulih 100% mengingat baru tiga bulan yang lalu dia melahirkan.
"Tapi Mas Bryan inginnya sekarang, Ma."
Mama Lea langsung memekik kaget mendengar penuturan Freya. Mama Lea bahkan sampai membuka mulutnya lebar-lebar dengan kedua mata yang membola.
Baby Attar sampai menangis karena mendengar suara pekikan sang Oma yang langsung masuk begitu saja ke gendang telinganya tanpa permisi dulu. Buru-buru Freya memberi baby Attar ASI lagi. Sungguh, mama mertuanya itu tidak lihat apa kalau ada bayi yang tengah haus bercampur ngantuk tengah menyusu ibunya.
"Bryan memang gila." Mama Lea terlihat begitu geram dan kesal dengan anaknya lelaki satu-satunya itu. Bisa-bisanya meminta Freya yang baru melahirkan diminta ikut program bayi kembar. Dimana pula otaknya itu untuk berpikir.
"Tak hanya gila. Mas Bryan juga mengira kalau Freya sudah tidak mau memberinya anak lagi. Itu lebih dari gila menurut Freya."
Mama Lea geleng kepala mendengar apa yang baru saja Freya katakan. Mama Lea sampai mengusap dadanya sambil mengucap istighfar beberapa kali akan pikiran yang ada di otak Bryan.
__ADS_1
"Ya Allah! Habis keracunan apa otak putraku sampai dia tidak bisa berpikir seperti ini"
Mama Lea tidak habis pikir dengan sikap Bryan yang dengan mudahnya menuduh Freya tidak ingin memberinya anak lagi hanya karena tidak ingin program bayi kembar dalam waktu dekat.
"Apa Bryan kemarin waktu di Swiss salah makan? Atau kepalanya terbentur marmer?"
Mama Lea begitu penasaran kenapa putranya itu tidak bisa berpikiran jernih untuk saat ini. Apa karena baru kehilangan sosok Papa, makanya otaknya konslet. Tapi disini semua juga merasakan kehilangan, tidak hanya Bryan saja. Dan mereka semua fine aja.
Freya terdiam sejenak sambil mengerutkan keningnya menatap mama mertuanya, lalu dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak terjadi sesuatu yang serius sama Mas Bryan selama di Swiss, Ma. Hanya saja, Mas Bryan merasa kalah sama Rendy yang mendapatkan calon anak dua sekaligus. Jadi Mas Bryan memaksa Freya untuk ikut program bayi kembar sekarang untuk mengalahkan Rendy."
Kepala Mama Lea tiba-tiba pusing mendengar penjelasan dari Freya. Tidak mau kalah dari Rendy? Ya..Anaknya itu memang tidak pernah kalah dari Rendy maupun Alex juga Bara. Bryan selalu menang. Makanya setiap kali ada yang lebih unggul darinya. Bryan langsung berusaha menyusul dan mengejarnya sampai dia yang akhirnya jadi yang unggul dan terbaik.
Tapi sekarang ini masalahnya bukan soal kalah atau menang. Punya atau tidak punya anak, jodoh dan kematian itu sudah ada garis takdirnya. Ketiga itu tidak bisa dijadikan ajang perlombaan. Tidak akan pernah bisa.
"Mungkin Bryan harus diberi pelajaran biar dia sadar."
Freya menatap Mama Lea dengan kening mengkerut, bingung. Diberi pelajaran bagaimana maksudnya? Didengerin ceramah gitu kah atau diperlihatkan sebuah artikel? pikir Freya.
Freya semakin mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya hampir menyatu saat Mama Lea menelisik penampilannya dari atas sampai bawah dengan senyum yang membuat Freya takut sendiri.
"Mama kenapa natap Freya seperti itu?"
Freya begitu waspada dengan tatapan menelisik dari Mama mertuanya. Persis seperti dulu awal-awal keduanya baru bertemu. Mama Lea menunjukkan sikap tidak sukanya pada Freya.
Mama Lea berdiri dan berpindah duduk di dekat Freya dan membisikkan sesuatu yang langsung membuat Freya menelan ludahnya kasar.
"Harus, Ma?"
Mama Lea mengangguk mantap tanpa keraguan.
"Tapi,_"
Freya terlihat begitu ragu dengan ide Mama Lea meski dirinya juga sempat memiliki ide itu juga meski belum terlaksana.
"Sudah tidak usah ragu-ragu. Malam ini cepat laksanakan. Biar Attar sama Maura nanti Mama yang tangani."
*****
"Cantiknya Ayah mau kemana nih? Kok belum tidur?"
Bryan yang baru pulang kerja mendapati Maura yang keluar dari kamarnya sendiri.
Maura menatap Ayahnya dan mendekati sang Ayah sambil memeluk boneka teddy bear usang miliknya. Gadis kecil itu lantas mencium tangan kanan Ayahnya dengan takzim.
"Maura mau tidur di kamar Oma bersama adik attar juga. Good night, Ayah."
__ADS_1
Bryan mengerutkan keningnya melihat Maura yang langsung berlalu pergi begitu saja tanpa minta dicium maupun dipeluk terlebih dahulu. Tidak seperti biasanya.
"Good night, Cantik. Mimpi indah." ucap Bryan sedikit agak keras karena Maura sudah hampir menghilang di balik pintu kamar Mama Lea.
Dan tidak mendapat balasan apapun dari Maura. Bryan hanya mengendihkan bahunya bersamaan dengan nafas lelahnya.
Lelah. Lelah karena begitu banyak kerjaan dan tidak ada yang menyemangatinya selama seminggu ini. Apalagi dirinya tidak mendapat amunisi sama sekali selama seminggu ini.
Semua itu karena Rendy. Coba kalau Rendy tidak memprovokasinya, Bryan juga tidak akan meminta Freya untuk hamil lagi dalam waktu dekat ini.
Tapi semua memang salah Rendy. Karena sang mantan asistennya itu, dirinya tidak mendapat sentuhan dari wanitanya selama seminggu ini. Jangan sampai nanti 'Si Rosi' karatan karena jarang di pakai dan nganggur.
Dengan malas Bryan membuka pintu kamarnya. Dia yakin saat ini istrinya tidak ada dikamar dan tidur dikamar Maura, kalau tidak ya tidur bersama Mama Lea. Karena selama seminggu terakhir itu kebiasaan yang Bryan lihat dari istrinya yang sudah dia abaikan selama seminggu ini.
Bryan mematung ditempat setelah menutup pintu kamarnya. Matanya terbuka lebar dengan mulut terbuka dan hanya sekejap saja mulutnya langsung terkatup dengan jakunnya yang naik turun saat melihat pemandangan yang dia rindukan selama satu minggu ini tidak pernah dilihatnya.
Matanya mengerjap beberapa kali saat pemandangan indah itu turun dari ranjang dan melangkah menuju arahnya. Nafas Bryan semakin berat, bahkan hawa panas tiba-tiba menyerang tubuhnya hingga membuat 'si rosi' dengan tidak tahu malunya sudah mulai mengembang dan mengeras di balik celana kain yang dia kenakan.
Bryan semakin tidak bisa bernafas saat melihat dua squishy kembar itu hampir saja menculat dari penyangganya. Ingin rasanya dia meremas dan menyesap squishy yang terlihat begitu menantangnya.
Tanpa sadar kedua sudut bibir Bryan tertarik keatas membentuk senyum bahkan kedua tangannya juga sudah terangkat tanpa sadar untuk meremas squishy yang begitu menggoda imannya saat melihat pemandangan yang begitu indah dari sang pencipta sudah hampir mendekatinya, kurang lebih setengah meter lagi.
Senyum Bryan yang baru saja tercipta langsung lenyap begitu saja dengan mulut menganga lebar saat pemandangan indah yang begitu menggiurkan bukan mendekat padanya, tapi berbelok masuk ke walk-in closet.
Freya...
Ya..pemandangan indah yang Bryan maksud tadi adalah Freya. Seorang istri yang diacuhkan suaminya selama seminggu itu tadi hanya memakai lingerie berwarna merah yang menutupi aset atas dan bawahnya saja dengan kain tipis transparan diluar nya.
Freya masuk ke walk-in closet dengan senyum sinis yang mengembang di wajahnya. Benar yang Mama Lea katakan tadi. Kalau Bryan pasti tak akan kuat kalau melihat dirinya yang hanya memakai lingerie tipis. Dan ini baru pertama kali Freya memakai lingerie yang begitu tipis dan transparan. Biasanya dia memakai lingerie yang masih terbilang sopan meski masih tetap saja memperlihatkan keindahan lekuk tubuhnya.
"Rasain. Siapa suruh anggurin Freya selama seminggu ini. Tahu sendiri kan akibatnya. Bangun bangun dah tu si rosi." cibir Freya dalam hati saat tadi tidak sengaja matanya melihat batang si rosi yang mengembang dan mengeras.
BRAKK
Freya terlonjak kaget saat pintu kamar mandi tertutup dengan kencangnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Bryan, suaminya.
"Ahhh..Freya kau membuatku gila. Aaahhhhh"
Itu suara yang Freya dengar dari dalam kamar mandi. Freya sampai menggigit bibir bawahnya membayangkan suaminya saat ini tengah menidurkan si rosi dengan membayangkan tubuhnya.
"Gila..Gila...Gila...Kenapa aku panas sendiri walau hanya mendengar suara desahannya Mas Bryan."
Freya bingung sendiri antara ikut masuk ke kamar mandi apa tidak, karena dia sendiri sudah terpancing dengan permainannya sendiri. Dia mengambil nafas dalam sambil menutup kedua bola matanya.
"Aku sudah tidak tahan. Aku harus masuk."
Belum juga Freya membuka pintu kamar mandi, sebuah tangan menarik tangan Freya dan membawa tubuh setengah naked itu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sebuah pekikan dan teriakan berganti dengan ******* terdengar dari dalam kamar mandi di bawah guyuran air dingin shower. Melepas has rat masing-masing yang terpendam selama seminggu yang tidak tersalurkan.