Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Katakan dengan jelas


__ADS_3

Brakkk


Beberapa dokumen yang tadi sudah disusun rapi oleh Julian, Bryan hempaskan begitu saja di lantai secara kasar dan berujung berserakan.


"Elis sialan!!" umpat Bryan dengan penuh kekesalan pada sosok Anelis.


"Gara-gara dia, Freya jadi mendiamkan bahkan terkesan dingin padaku."


Aakkkhhhh


Bryan meremas rambutnya kasar mengingat sikap Freya tiga hari terakhir ini.


"Sayang!! bantal sama selimutnya mau kamu kemanain?" tanya Bryan saat melihat Freya membawa bantal dan selimut.


"Kenapa kamu taruh di sofa sayang?"


"Apa kamu ingin kita membuat Bryan junior di sofa lagi?" Bryan menaik turunkan alisnya sambil tersenyum lebar berjalan mendekati Freya.


"Berhenti!!" teriak Freya membuat Bryan menghentikan langkahnya bingung.


"Apa mas nggak ingat apa yang Freya katakan tadi siang saat di kantor?" tanya Freya dengan wajah cemberutnya.


Bryan menggaruk pelipisnya sambil meringis saat mengingat perkataan Freya sebelum menciumnya di hadapan Anelis dan kedua curutnya, Rendy dan Alex.


"Mas Bryan harus puasa sebulan penuh untuk tidak menyentuh Freya. Itu hukuman buat Mas Bryan yang membiarkan masa lalu Mas Bryan memeluk Mas Bryan seenaknya saja. Ingat!!! Puasa sebulan untuk tidak membuat adik buat Maura."


"Sudah ingat?" tanya Freya.


"Iya sayang, aku ingat." jawab Bryan dengan tampang memelas. Dia melangkah lebih dekat lagi ke Freya.


"Jangan sebulan dong sayang."


"Sehari atau dua hari saja yaa." Bryan mencoba memberi penawaran pada Freya.


Freya tersenyum sinis pada Bryan. "Sehari atau dua hari ya??" Bryan mengangguk cepat sambil tersenyum lebar merasa penawarannya di setujui Freya.


"Tunggu sebentar." Freya berjalan menuju kamar mandi.


Bryan mengerutkan keningnya saat melihat Freya keluar kamar mandi membawa kemeja yang tadi dia pakai.


"Itu kemeja kotor sayang."


"Kenapa kamu bawa kesini?" tanya Bryan menatap Freya yang sepertinya ingin marah itu.


"Ini apa?" Freya menunjuk noda merah di kemeja yang Bryan pakai tadi saat ke kantor.


"Freya tidak punya lipstik warna merah menyala seperti ini."


"Dan bau parfum ini bukan bau parfum kamu mas."


"Juga bukan bau parfum Freya."


"Apa yang telah kalian lakukan setelah aku pergi dari sana?" ucap Freya lantang dengan menahan air matanya untuk tidak jatuh.


"Aku tidak melakukan apa-apa sayang."


"Setelah kamu pergi aku langsung mengusir dia."


"Suer!!" Bryan mengangkat tangan kanannya membentuk huruf 'V' dengan jari telunjuk dan jari tengah.

__ADS_1


"Kalau nggak percaya, kamu bisa tanya sama Rendy atau Alex atau perlu aku lihatkan CCTV yang ada di ruangan ku." tawar Bryan.


"Nggak perlu." tukas Freya cepat.


"Sudah sana jauh-jauh, aku mau tidur." usir Freya yang sudah bersiap mau tidur di sofa.


Bryan menghembuskan nafas lelah. "Tidurlah di ranjang, biar aku yang tidur disitu."


Tanpa penolakan Freya akhirnya pindah ke ranjang dan membiarkan Bryan tidur di sofa.


Tidak sampai disitu, Freya juga tidak menyiapkan pakaian yang akan Bryan kenakan untuk ke kantor juga tidak memakaikan dasi untuknya. Freya juga tidak menyiapkan makanan untuk Bryan hingga membuat anggota keluarga yang lain menatap Freya heran namun Freya cuek saja. Freya juga tidak mengantar Bryan sampai ke teras seperti biasanya dan itu sudah terjadi selama tiga hari terakhir ini.


Tok Tok Tok


Rendy masuk ke ruangan Bryan setelah mendapat sahutan dari dalam. Dia mengerutkan keningnya saat melihat ruangan Tuan Muda nya berantakan. Banyak berkas dokumen yang berserakan di lantai.


"Apa Nona Freya masih marah sama Tuan Bryan sampai Tuan marah-marah nggak jelas selama tiga hari terakhir ini?" batin Rendy bertanya-tanya.


Karena selama tiga hari ini Bryan kerjaannya marah-marah pada karyawannya, termasuk Rendy, Alex dan Julian juga kena marah.


Julian kena marah karena membiarkan Anelis masuk ke ruangannya karena dia belum mengenal Anelis dan tidak tahu siapa Anelis.


Sedangkan Rendy dan Alex kena marah karena mereka berdua diam saja tanpa membantu Bryan lepas dari serangan Anelis yang tiba-tiba.


"Mau apa kamu kesini? hah." bentak Bryan saat melihat Rendy yang masuk ke ruangannya. Karena tadi dia sudah memberitahu untuk tidak ada yang mengganggunya.


"Bukannya dia sendiri yang memberi izin untuk masuk." batin Rendy.


"Maaf Tuan."


"Ini ada berita penting."


"Vidio kemarin baru teman saya kirim. Dan coba Tuan lihat."


"Tapi Tuan jangan terkejut dan heran ataupun marah."


Bryan memicingkan matanya saat mendengar perkataan Rendy.


Rendy membuka beberapa folder dan memutar sebuah vidio yang baru saja temannya kirim dan dihadapkan ke Bryan.


Bryan membulatkan matanya lebar saat melihat siapa pria yang ada di vidio itu. Bryan sangat mengenal siapa pria itu. Karena Bryan tumbuh besar dengan pria itu dari kecil.


"Kamu yakin ini gak salah?" tanya Bryan menatap Rendy tajam.


"Iya itu benar!!"


Bryan dan Rendy menoleh menatap Alex yang tiba-tiba masuk dan menimbruk pembicaraan mereka.


"Apa maksud kamu?" tanya Bryan yang sudah berdiri dari duduknya menatap Alex tajam.


Alex terkekeh pelan dan duduk di sofa tanpa di persilahkan.


"Apa kamu gak sadar kalau mereka itu saling suka?" Bryan memicingkan matanya mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Alex.


"Mereka berpacaran sembunyi-sembunyi di belakang kamu karena tidak ingin membuat perseteruan di keluarga Abrisam."


"Leon hanya di jadikan alibi saja oleh Anelis supaya kamu tidak menghancurkan karir sepupu mu sendiri."


"Dan dengan bodohnya si Leon terjerat dengan alibi yang Anelis buat karena Leon sendiri juga cinta mati sama Anelis."

__ADS_1


"Dan sepupu mu itu pergi setelah dia bilang ke aku kalau dia telah menghamili seorang wanita."


"Dia menghamili seorang wanita?" tanya Bryan yang tidak percaya dengan apa yang Alex bicarakan.


"Jangan asal kalau bicara Alex." Bryan terlihat marah pada sahabatnya itu. Karena dia tahu sepupunya tidak akan berbuat keji seperti itu.


"Aku nggak asal dan aku bicara jujur."


"Dan aku nggak tahu jelas siapa wanita yang dimaksud sepupu mu itu."


"Tapi kemarin saat aku tidak sengaja ketemu dengan Anelis dan anaknya, aku baru sadar."


"Kalau wanita yang di hamili sepupu mu itu adalah Anelis."


Bryan mengepalkan tangannya erat diatas meja menatap tajam lurus kedepan. Dia tidak percaya akan fakta yang baru saja dia ketahui. Anelis main serong dengan sepupunya sendiri. Dan dia dulu juga mempercayakan sepupunya untuk menjaga Anelis selama dia kuliah di London. Tapi kenyataan yang baru saja dia ketahui itu sangatlah membuatnya kecewa pada sepupunya yang memilih pergi tanpa mau bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat.


"Tuan!!" panggil Rendy pelan.


Bryan diam saja dengan amarah yang terpendam di benaknya dengan sepupunya itu.


"Tuan!! Saya sudah menemukan Mama nya Nona Freya." lanjut Rendy meski tidak mendapat respon dari Bryan.


"Hebat juga kamu, Ren." puji Alex yang melangkah mendekat ke Rendy.


"Sini aku lihat." Alex menyahut beberapa foto yang ada di tangan Rendy.


"Oh my god!! Ini beneran Ren?" Alex heboh sendiri setelah melihat-lihat foto itu.


Rendy hanya mengangguk tanda membenarkan pertanyaan Alex.


"Kenapa kamu membuat kebisingan di kantor saya?" Bryan menatap tajam pada Alex yang teriak-teriak gak jelas.


Alex hanya menyengir dan mengangkat foto yang ada di tangannya. "Kamu harus memastikan kalau jantung dan hati kamu baik-baik saja sebelum melihat foto ini."


"Apa maksud kamu?" Bryan menatap heran pada Alex.


"Lihat saja sendiri dan semoga kamu tidak syok." Alex menyerahkan beberapa foto kepada Bryan.


Dengan ragu Bryan mengambil foto itu dan dilihatnya. "Bukannya ini Mamanya Freya?" tanya Bryan pada Rendy.


"Benar Tuan." jawab Rendy cepat.


"Kenapa ada foto Anelis juga bersama Mamanya Freya?" Bryan menunjukkan foto Anelis yang dipeluk Mamanya Freya bersama seorang bayi.


"Itu_!!!" Rendy terlihat ragu untuk menjawab. Dia sendiri tadi juga begitu syok saat membaca email dari anak buahnya yang dia kirim ke Spanyol.


"Itu apa Rendy? Katakan dengan jelas." bentak Bryan yang sudah kembali emosi.


"Semoga tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan." batin Bryan dalam benaknya yang mulai ketakutan.


🍁🍁🍁


have a nice day


thank's for like, vote, comment and gift


big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya

__ADS_1


__ADS_2