
Bryan POV
Siang tadi saat aku dan Rendy ingin keluar cari makan, tiba-tiba Anelis datang dalam keadaan kacau. Kening ku mengkerut menatap penampilan Anelis. Ada apa pikir ku, karena sudah beberapa hari tidak melihat Anelis sejak melakukan test DNA waktu itu. Aku dilarang Papa untuk berurusan dengan Anelis lagi dan aku pun menurutinya. Karena urusan Anelis dengan sepupu ku, Andre sudah di urus oleh Bara dan beberapa orang suruhan Papa, jadi aku sudah tidak ikut campur untuk masalah itu. Tapi kenapa sekarang Anelis justru menemui ku lagi. Apa ada masalah yang serius, pikir ku.
Aku meminta Rendy untuk pergi terlebih dulu dan sekalian memesankan makan siang untuk ku. Awalnya dia menolak karena tidak ingin aku berduaan saja dengan Anelis. Aku tahu karena Rendy sudah di wanti Papa untuk menjauhkan aku dengan Anelis. Walau aku sendiri juga sebenarnya sudah tidak ada rasa sama sekali pada Anelis. Tapi Papa kelihatannya begitu takut aku kembali terpuruk karena Anelis lagi. Atau lebih tepatnya Papa takut Freya akan terluka kalau sampai aku kembali pada Anelis. Walau itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi. Karena hanya ada Freya dan Maura yang ada di hatiku saat ini. Hanya mereka berdua sumber kebahagiaan ku sekarang dan aku tidak ingin kehilangan mereka berdua untuk kedua kalinya.
"Tenang saja, aku akan aman, nggak akan terjadi apa-apa." kata ku saat melihat keraguan dan kekhawatiran di mata Rendy. Sebegitu takutnya Rendy kalau aku sampai kembali terjerat dengan masa lalu, pikir ku yang merasa senang Rendy khawatir pada diriku. Benar-benar asisten the best. Kesetiaan Rendy tidak aku ragukan lagi hanya karena aku pernah menolongnya waktu zaman kuliah dulu sebagai balas budi.
"Baiklah Tuan, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya." ucap Rendy yang menatap sinis pada Anelis. Aku tahu Rendy tidak menyukai Anelis sejak aku bertemu untuk pertama kali dengan Rendy saat dia menolongku dan bercerita masalahku pada Rendy.
Aku mengangguk saja, dan membiarkan Rendy pergi duluan. Aku menatap Anelis, ada rasa kasihan saat melihat penampilan Anelis saat ini. Aku mendekat padanya dan ku rangkul bahunya saat melihat dia tiba-tiba menangis. Aku ajak dia ke ruang Aula pertemuan yang ada di lantai satu dekat lobby. Mau kembali ke ruangan terlalu jauh dan pasti nanti Papa akan tahu dan berakhir perdebatan. Aku nggak mau itu terjadi takut jantung Papa akan kambuh.
"Ada apa?" tanya ku tanpa basa-basi, karena aku tidak ingin berlama-lama dengan Anelis dan nantinya akan menjadi salah paham bagi mereka yang melihatnya.
Namun Anelis bukannya menjawab justru menangis tersendu-sendu. Aku yang merasa kasihan refleks saja memeluk Anelis. Aku mencoba menenangkan dia sebelum melanjutkan perbincangan kami.
Aku menundukkan kepalaku saat merasa Anelis memelukku begitu erat. Aku mencoba melepaskan pelukan Anelis namun dia menggelengkan kepalanya dan semakin memelukku erat.
Bisa gawat kalau ada yang lihat, batin ku yang mulai sedikit risau saat kedekatan ku dengan Anelis yang terlihat begitu intim.
Ini salah, aku tak seharusnya memeluk dia duluan. Bodoh kamu Bryan!! umpat ku merasakan kekesalan pada kebodohan yang baru saja aku lakukan.
"Lepas Anelis!!"
"Ada apa sebenarnya?"
"Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Ku yang memaksa Anelis untuk melepas pelukannya pada tubuh ku.
"Andre...Andre tidak mau bertanggung jawab dan tidak peduli dengan anaknya." ungkap Anelis dengan menunduk dan menangis sesenggukan.
"Andre? Apa Andre sudah menghubungi mu?" tanya ku dengan penasaran.
Karena sampai saat ini aku sendiri belum bisa menghubungi Andre. Hanya dari Bara saja aku tahu keadaan Andre di sana. Andre juga tidak mau bicara dengan ku saat aku menghubungi Bara. Dia juga tidak mau pulang dengan alasan di sana masih banyak pasien yang membutuhkan bantuannya. Bullshits!! Memangnya di sana tidak ada dokter lainnya apa, pikir ku yang geram dengan alasan yang Andre berikan. Ingin rasanya aku sendiri yang menjemput Andre supaya aku bisa hidup tenang dengan Freya dan Maura.
Anelis menganggukkan kepalanya dengan masih menunduk.
"Aku berbicara dengannya saat Mamanya Andre datang menemui ku."
"Saat itu juga Mamanya Andre menghubungi Andre dan Andre langsung mengatakan itu pada ku."
"Bahkan dia tidak peduli kalau sampai anaknya meninggal."
"Mamanya Andre juga mengatakan hal yang sama." ungkap Anelis dengan suara seraknya karena menangis.
Nggak mungkin Andre bicara seperti itu kalau bukan ada yang menghasutnya. Kalau dari cerita yang aku dengar dari Alex, aku yakin kalau mereka itu sebenarnya saling mencintai namun ada penghambatnya, kalau aku nggak mungkin. Pasti penghambat mereka Bibi Arta, pikir ku mengingat sikap adik dari Papa yang mirip seperti Mama.
"Apa yang harus aku lakukan Bryan?" Anelis menatap ku dengan air mata yang sedari tadi menetes di pipinya yang semakin tirus saja. Anelis semakin kurus tidak seperti awal aku bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu.
"Padahal Andre dulu begitu senang saat tau aku hamil."
"Namun dia tiba-tiba berubah dan justru pergi begitu saja tanpa memperdulikan aku dan anaknya lagi."
__ADS_1
"Apalagi saat tahu kamu akan pulang dari London."
Aku hanya diam saja melihat Anelis. Aku sendiri juga bingung harus bagaimana. Papa melarang ku untuk tidak berurusan lagi dengan Anelis supaya Freya tidak salah paham.
"Sudah tenanglah!!" aku hanya menepuk pelan pundak Anelis untuk menenangkannya.
"Aku akan coba membantumu."
"Aku akan meminta Bara untuk memaksa Andre kembali bagaimanapun caranya." akhirnya aku harus mengatakan itu supaya Anelis tenang. Kasihan kalau Anelis nantinya jatuh sakit dan siapa nanti yang merawat anaknya, meski ada Mamanya Anelis juga di sini. Mama kandung Freya juga yang berarti mertua ku yang baru sekali aku menemuinya.
"Terima kasih Bryan." Anelis langsung memelukku erat.
"Maaf membuatmu repot harus membantu ku."
Aku hanya berdehem dengan memejamkan mata dan menghembuskan nafas kasar.
"Sudah, kamu sebaiknya kembali sebelum Papa melihat." kata ku supaya Anelis melepas pelukannya.
Anelis mengangguk dan melepas pelukannya sebelum akhirnya mengikuti langkah ku.
Aku merangkulnya supaya dia jauh lebih tenang lagi. Kasihan melihatnya keluar dengan keadaan mata sembab dan bengkak.
Hingga saat di lobby bukan Papa yang melihat ku dengan Anelis, melainkan Caca yang melihat kedekatan kami dan memaki Anelis dengan suara lantang bahkan sampai menamparnya di depan karyawan yang baru saja kembali dari jam istirahat mereka. Aku begitu geram dengan sikap Caca barusan.
"Apa yang kamu lakukan, Ca." geram ku tertahan dengan sikap Caca pada Anelis yang menurutku tidak sopan.
Caca justru marah dan mengira kalau aku membela Anelis, padahal aku hanya menegurnya saja karena sikap Caca itu tidak sopan pada yang lebih tua.
"Bagaimana perasaan Kak Freya melihat kelakuan kakak?"
Aku begitu syok saat tahu Freya datang ke kantor. Apa benar Freya melihatku bersama Anelis, pikir ku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Freya saat tahu aku tadi berduaan bersama Anelis.
Samar aku mendengar Caca bertanya pada Rendy di mana keberadaan Freya dan Rendy mengatakan tidak tahu dan tidak melihat Freya. Itu artinya Freya tadi melihat ku saat bersama Anelis.
Apa Freya langsung pergi setelah melihat ku bersama Anelis? dan kejutan apa sebenarnya yang akan Freya berikan padaku?
Begitu banyak pertanyaan di benakku hingga akhirnya aku meminta Anelis untuk segera pulang setelah Caca pergi untuk mencari Freya.
Aku pun juga melakukan hal yang sama. Aku juga segera pergi bersama Rendy untuk mencari keberadaan Freya. Dan meminta beberapa anak buahnya Rendy untuk ikut mencari Freya.
Author POV
"Kita kemana Tuan?" tanya Rendy karena sudah hampir dua jam lebih mobil yang Rendy kemudikan hanya keliling jalan yang sekiranya di lalu Freya.
"Kita coba ke apartemen yang Mutia tempati." ucap Bryan mengingat Freya belum mengenal seluk beluk kota J dan hanya apartemen itulah yang sering Freya kunjungi.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rendy sedikit menambah kecepatan laju kendaraannya untuk menuju apartemen Mutia.
Bryan memicingkan matanya melihat Rendy yang begitu hafal nya kode password pintu apartemen yang Mutia tinggali. "Apa hubungan Rendy dan Mutia sudah sejauh itu sampai Rendy tahu kode password nya?" batin Bryan. "Sudahlah, aku kesini untuk Freya bukan untuk yang lain." gerutunya dalam hati saat dirinya justru membatin hubungan Rendy dengan Mutia.
Bryan dan Rendy segera masuk dan tidak mendapati siapapun di dalam apartemen. Mutia masih kerja dan Freya tidak menampakkan sosoknya di apartemen itu. Bahkan Bryan sudah mencari ke kamar yang dulu Freya tempati dan juga bahkan Bryan sudah mengecek kamar mandi juga kamar Mutia namun tidak menemukan sosok yang dicarinya.
__ADS_1
"Kamu kemana Freya?" gumam Bryan mengusap kasar wajahnya. Dia begitu frustasi kalau sampai Freya benar tahu dan melihat tadi dia berduaan saja dengan Anelis.
"Sayang kamu dimana?" geram Bryan yang beberapa kali mencoba menghubungi nomor Freya namun hanya suara operator yang dia dengar.
"Kita cari ketempat lain." kata Bryan setelah keluar dari kamar Freya.
Mereka berdua akhirnya kembali menelusuri jalan untuk mencari keberadaan Freya. Tadi Rendy juga sudah menghubungi anak buahnya yang berjaga di rumah keluarga Abrisam namun yang dia dapat sama saja, Freya belum kembali ke rumah.
"Apa tadi Freya sempat melihat, Ren?" tanya Bryan yang matanya menatap sisi kiri jalan siapa tahu menemukan sosok Freya.
"Saya tidak tahu Tuan. Saya tadi juga baru kembali dari restoran untuk membeli makan." kata Rendy yang memang tadi hanya ke restoran untuk memesan makanan untuk dirinya juga Bryan tanpa makan di sana. Dan makanan yang dia beli tadi belum sempat dia makan dan Bryan pun juga belum makan siang padahal sekarang hari sudah malam. Mereka masih saja menelusuri jalan mencari keberadaan Freya.
Bryan memejamkan matanya, kepalanya dia sandarkan di punggung kursi mobil. Hatinya terasa sesak saat tak kunjung menemukan Freya.
"Kejutan apa yang akan Freya berikan padaku?"
"Kenapa dia tiba-tiba menghilang?" batin Bryan bertanya-tanya.
Freya pergi begitu saja itu artinya Freya benar melihat aku dan Anelis tadi yang sempat begitu intim, pikir Bryan.
Bryan menghembuskan nafas lelah, selalu saja tiap berdekatan dengan Anelis selalu terjadi kesalahpahaman. Memang benar apa yang Papa katakan, lebih baik jauh-jauh dari Anelis biar rumah tangganya tenang dan damai tidak terjadi pertengkaran dan kesalahpahaman seperti ini.
"Maafkan aku sayang!!"
"Aku tak bermaksud membuat mu sakit hati dan salah paham seperti ini."
"Aku sudah tidak ada rasa lagi sama dia."
"Hanya kamu!! Hanya kamu yang ada di hati aku saat ini dan selamanya."
"I really love you. Love you very much, Freya."
"Sorry, I'm late to tell you that."
"Don't go and stay by my side, Freya."
Rendy melirik Bryan dari sepion mobil yang ada di dalam. Dia melihat Bryan yang terlihat begitu terpuruk dan sedih karena tak kunjung menemukan keberadaan Freya.
"Haruskah aku beri tahu dimana keberadaan Nona Freya sekarang?" batin Rendy yang kasihan melihat keadaan Tuan Mudanya. Tadi saat di apartemen Mutia, Rendy mendapat kabar dari Papa Abri untuk merahasiakan semuanya tentang keberadaan Freya pada Bryan. Papa Abri terdengar begitu geram dan kesal pada Bryan yang tidak mau menuruti perkataannya.
"Tapi mengingat kondisi Nona Freya yang terakhir aku dengar, lebih baik nanti saja aku beri tahu sampai Tuan Muda benar-benar menyesal karena selalu berurusan dengan masa lalunya itu."
🍁🍁🍁
Have a nice day
Thanks for like, vote, comment and gift
Big hug from far away 🤗🤗🤗
dewi widya
__ADS_1