Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Sakit tak berdarah


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Rendy segera menuju meja pelayanan untuk menanyakan informasi tentang kecelakaan yang menimpa adik juga Mamanya.


"Permisi!!!"


"Korban kecelakaan atas nama Nino Pratama juga Asti Wardani sekarang ada dimana?." tanya Rendy langsung tanpa basa-basi. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dan melihat kondisi adik juga Mamanya.


"Mohon tunggu sebentar Tuan."


Rendy menatap sekeliling sambil menunggu petugas rumah sakit mencari data adik juga Mamanya yang baru masuk hari ini.


"Bos!!"


Rendy menoleh dan melihat anak buahnya berjalan menuju arahnya.


"Adik juga Mama Tuan Rendy masih di IGD dalam penanganan dokter."


"Juga yang menabrak Tuan Nino juga Nyonya Asti juga masih kami tahan di IGD." lapor anak buah Rendy, sebut saja namanya Baron.


Rendy mengangguk dan berjalan menuju IGD diikuti Baron. Sambil Baron menceritakan kondisi Nino juga Mama Asti saat dibawa ke rumah sakit.


"Nino bonceng Mama pakai sepeda motor?" tanya Rendy yang kaget bercampur geram pada Nino yang beraninya membonceng Mama Asti pakai sepeda motor.


"Benar Tuan."


"Mamanya Tuan ingin diantar Tuan Nino ke pasar naik sepeda motor, padahal Tuan Nino sudah melarang, namun Mamanya Tuan memaksa ingin naik sepeda motor." jelas Baron.


"Pasti Nino tadi ngebut hingga mengakibatkan kecelakaan." geram Rendy yang mengingat Nino sering kebut-kebutan dijalan bahkan sampai ikut balap liar.


"Siang Tuan!!" sapa dua anak buahnya yang lain sambil menunduk.


Rendy mengangguk saja dan melihat pintu IGD yang masih tertutup. Pandangan matanya tertuju pada seorang wanita yang duduk menunduk dalam kegelisahan. Keningnya mengkerut saat sekilah dirinya mengenali wajah itu meski dari samping.


"Dia yang menabrak adik juga Mama Tuan Rendy." ujar Baron saat melihat gelagat Rendy yang terus menatap wanita yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Mona namanya." sambung Baron.


Rendy menoleh cepat pada Baron saat anak buahnya itu menyebutankan nama Mona. "Kamu yakin dia yang menabrak Mama juga Nino?" tanya Rendy untuk memastikan saja.


Dia tidak pernah berpikir untuk bertemu wanita itu lagi,mengingat wanita itu sekarang tinggal di Amerika.


"Benar Tuan, dia tadi yang membawa adik juga Mama Tuan Rendy ke rumah sakit dan mengakui kalau dialah yang menabrak adik juga Mama Tuan." terang Baron sesuai dengan apa yang dia dapat dari petugas rumah sakit.


Rendy memejamkan matanya sambil memenjet pangkal hidungnya. Entah kenapa dia merasa begitu pusing saat ini.


"Kak Rendy!!" pekik Nino sambil menangis seperti anak kecil saat keluar dari IGD.


Rendy menoleh dan melihat adiknya yang menangis berjalan mendekati dirinya dengan tangan kiri di gips juga jalannya sedikit pincang.


"Kakak!! Nino minta maaf."


"Nino tidak bisa menjaga Mama."


"Huwaaaa..." Rendy memejamkan matanya saat Nino menangis kencang sambil memeluknya.


Pletak


"Aduhhhh!!!!" seru Nino sontak melepaskan pelukannya pada Rendy sambil mengusap kepalanya yang dijitak dengan keras oleh Rendy.


"Kamu itu mahasiswa tingkat akhir."


"Apa pantas kamu menangis kejer seperti itu?" Rendy begitu geram dengan sikap Nino yang kekanakan dan manja kalau lagi sakit. Berbeda jauh kalau saat membikin onar.


Nino mendengkus dan memilih duduk karena kaki, tangan pokoknya seluruh badannya terasa sakit semua karena jatuh dari sepeda motor.


"Rendy!!" suara lirih dan terbata itu membuat Rendy dan Nino menolehkan kesamping. Dimana ada seorang wanita yang terlihat cantik dengan mata sembab juga wajah terlihat pucat.


"Itu dia Kak yang nabrak motor yang Nino kendarai." Nino kembali berdiri sambil menunjuk wanita itu dengan kesal bercampur amarah karena sudah beraninya menabrak motor kesayangannya hingga harus masuk bengkel. Padahal dia tadi sudah mengendarai motor pelan juga sudah melaju di jalur yang benar.


"Rendy Pratama!!!"


"Apa itu kamu??"


Nino memicingkan matanya menatap wanita yang tadi mengaku bernama Mona. "Kenapa dia menangis dan juga tahu namanya Kak Rendy? Siapa dia?" batin Nino menerka-nerka siapa sebenarnya wanita yang menabraknya itu.


Apalagi saat ini Rendy terlihat diam saja menatap Mona yang tengah menangis. Entah wanita itu merasa bersalah atau senang bertemu dengan dirinya, Rendy sendiri tidak tahu. Karena dia sudah tidak ingin melihat dan juga bertemu dengab wanita itu lagi.


"Rend..Apa dia adik kamu?" tanya Mona menunjuk Nino, yang ditunjuk hanya melotot saja menatap Mona.


Rendy diam saja, tidak mengangguk juga tidak mengiyakan.


"Aku minta maaf."


"Aku tidak sengaja menabrak adik juga Mama kamu." ucap Mona dengan tampang memelas, memohon pada Rendy yang hanya diam saja.

__ADS_1


"Keluarga pasien atas nama Nyonya Asti Wardani." kata perawat setelah membuka pintu IGD menatap pada semua orang yang ada di depan IGD dalam keadaan tegang itu.


Rendy mendekat, disusul Nino dengan berjalan tertatih.


"Saya anaknya. Bagaimana kondisi Mama saya?" tanya Rendy dengan cemas dan khawatir.


"Kondisi pasien baik-baik saja."


"Hanya ada beberapa luka ringan dan sedikit syok."


"Pasien hanya perlu istirahat dan dirawat dua sampai tiga hari di rumah sakit."


"Dan tolong anda urus dulu administrasi untuk rawat inapnya, supaya pasien segera dipindahkan ke rawat inap." jelas perawat itu.


Rendy mengangguk dan bergegas menuju administrasi. Dia sedikit lega mengetahui Mamanya tidak dalam kondisi parah. Tapi yang namanya anak, jika terjadi sesuatu sama orang tuanya, apalagi saat ini hanya tinggal Mamanya saja pasti akan khawatir dan melakukan apapun yang terbaik untuk Mamanya.


"Rendy!!"


Rendy menghentikan langkahnya saat mengenali suara itu, dia menoleh ke belakang dan mendapati Bryan juga Mutia berjalan mendekatinya.


Rendy menatap Mutia sekilas yang dapat Rendy lihat kalau wanita itu terlihat panik dan khawatir. Rendy juga melihat tatapan Mutia yang penuh tanda tanya.


"Bagaimana keadaan Bibi Asti juga Nino?" tanya Bryan yang juga terlihat cemas. Mengingat cukup lama dirinya kenal dan dekat dengan Mama Asti juga Nino.


"Nino baik-baik saja."


"Hanya tangan kirinya yang patah juga jalannya sedikit pincang."


"Dan Mama..."


"Mama hanya luka ringan."


"Tapi, Mama harus dirawat untuk beberapa hari karena syok." jelas Rendy apa adanya seperti yang dia lihat dan dia dengar.


Bryan mengangguk, "Syukurlah kalau mereka baik-baik saja dan tidak parah."


"Ayo, aku mau melihat kondisi Bibi Asti juga Nino." Bryan menepuk pundak pelan.


Rendy mengangguk dan langsung menuju ruang perawatan Mamanya. Barusan dia mendapat chat dari Nino kalau Mamanya sudah dipindah di ruang perawatan.


"Selamat sore Tuan Muda!"


Bryan hanya mengangguk saja saat mendapat sapaan dari anak buahnya dan masuk ke dalam setelah Rendy membuka kan pintu.


"Kenapa ada Mona disini?" batin Bryan, dia melirik Rendy yang terlihat biasa saja.


"Ma..Ada Tuan Muda disini." Rendy memberi tahu Mamanya yang terlihat mengobrol dengan Mona. Entah apa yang dibicara Rendy tidak ingin tahu.


"Rend..Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Mama Asti saat melihat putra sulungnya ada di sana.


"Sudah Ma."


"Rendy juga baru sampai sekitar dua jam yang lalu." Rendy tersenyum pada Mama Asti.


"Mutia juga ikut pulang sama kamu juga?" Rendy mengangguk atas pertanyaan Mama Asti.


"Bagaimana keadaan Bibi?" tanya Bryan saat sudah berdiri di dekat brankar Mama Asti membuat Mona mundur dengan sendirinya.


"Tuan Muda.!!" Mama Asti tersenyum saat melihat bos anaknya yang dulu sering membantu mereka datang menjenguk dirinya.


"Alhamdulillah kabar Bibi baik."


"Hanya sedikit luka dan syok saja."


"Masih sedikit lemas." jelas Mama Asti dengan suara lirih.


"Alhamdulillah kalau Bibi baik-baik saja." Bryan mengangguk dan menepuk pundak kiri Nino yang memang saat ini berada disampingnya.


"achh...sakit Kak." keluh Nino yang merasakan sakit karena tepukan Bryan dipundaknya menjalar sampai tangannya yang patah.


"Gitu saja ngeluh, jadi laki yang kuat."


"Berani buat onar tapi takut sakit." ejek Bryan karena tahu adik dari asistennya itu selalu bertingkah kekanakan kalau tengah sakit.


Nino mendengkus dan berjalan menuju sofa untuk duduk. Berdiri lama kakinya terasa sakit dan dia tidak mau badannya lebih sakit lagi kalau berdekatan dengan bos kakaknya itu.


"Nona Freya tidak ikut Tuan?" tanya Mama Asti yang memang tidak melihat adanya Freya di sana.


"Tidak Bi. Tadi Maura baru sampai jadi saya meminta Freya untuk menemani Maura di rumah, padahal tadi dia juga mau ikut." terang Bryan sambil tersenyum tipis.


"Rend..Kenapa kamu diam saja?" tanya Mama Asti pada anaknya yang terlihat diam dan gelisah itu.


"Mama baik-baik saja, tidak usah mengkhawatirkan Mama." imbuh Mama Asti dengan tersenyum.

__ADS_1


"Iya Ma." Rendy membalas senyuman Mamanya.


"Rendy keluar sebentar, Ma." pamit Rendy


Tanpa menunggu lebih lama lagi Rendy bergegas keluar karena tidak melihat Mutia ikut masuk bersama dirinya juga Bryan ke ruang perawatan Mamanya.


"Kemana dia?" Rendy tidak menemukan sosok Mutia di luar ruang perawatan. Disana anak buahnya juga sudah tidak ada.


"Apa dia sudah menyadari semuanya." Rendy menghembuskan nafas kasar. Dia tidak ingin Mutia marah dan kecewa pada dirinya karena sudah menyembunyikan semua ini darinya.


"Rendy!!" Rendy tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"Lepaskan tanganmu." ucap Rendy tegas mencoba membuka ikatan tangan itu dari tubuhnya.


"Tidak mau sebelum kamu memaafkan aku."


"Aku tahu kamu saat ini masih marah sama aku."


"Apalagi sekarang akulah yang tadi menabrak adik juga Mama kamu."


"Maafkan aku, Rend."


Rendy memejamkan matanya, dia begitu pusing saat ini karena memikirkan adik juga Mamanya, juga memikirkan Mutia dan ditambah saat ini masa lalunya itu yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Dia sudah melupakan masa lalunya itu dan dia tidak ingin mengungkitnya lagi karena menurutnya itu sudah selesai.


"Lepaskan tanganmu, Mona."


"Ingatlah, kamu sudah punya anak sama suami."


"Jadilah wanita yang mampu menjaga harkat juga martabat suamimu."


"Jangan jadi wanita murahan seperti ini." Rendy melepas kasar tangan Mona yang melingkar di tubuhnya.


"Aku sudah memaafkan mu."


"Lebih baik kamu pergi."


"Kita sudah tidak ada masalah lagi." ucap Rendy dengan tegas menatap Mona.


"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya."


"Sebelum kita berpisah lagi." pinta Mona dengan memelas, memohon pada Rendy.


Melihat Rendy mengangguk, Mona sontak mencium bibir Rendy.


"Mona!! Apa yang kamu lakukan." sentak Rendy dengan kasar mendorong Mona yang beraninya mencium bibirnya.


"Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan padamu."


"Apa aku boleh menciummu lagi?"


Rahang Rendy mengeras dengan tatapan setajam elang menatap Mona. "Gila kamu Mona.!"


"Aku akan gila kalau kamu tidak mengizinkan aku menciummu."


"Dan aku pastikan, aku akan mengikutimu terus seperti hantu."


"Jadi...Bolehkah aku menciummu?"


"Untuk terakhir kalinya."


Mona tersenyum karena Rendy akhirnya yang justru menciumnya walau hanya sekilas, namun dengan cepat ditahannya untuk lebih lama lagi dirinya bisa mencicipi bibir Rendy yang dulu belum pernah sama sekali dia rasakan.


Mutia yang baru saja keluar dari dalam lift sontak menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan yang begitu menyesakkan itu. Kedua tangannya menggenggam erat kantong yang berisi buah juga tali tasnya kuat. Tanpa sadar, bibir bawahnya berdarah karena dia gigit kuat bibir bawahnya saat melihat Rendy tengah berciuman dengan wanita lain.


Sakit..Itu yang tengah Mutia rasakan saat ini. Entah kenapa dadanya begitu sesak melihat adegan tadi.


"Tidak mungkin aku sudah memiliki rasa lebih padanya."


"Aku begitu membencinya."


"Freya!!! Apa aku jatuh cinta?"


"Tapi??? Benci dan cinta itu beda tipis."


"Apa yang harus aku lakukan Freya??"


"Mana aku sudah menerima perjodohan itu."


🍁🍁🍁


have a nice day


big hug 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2