
Sudah dua hari ini Freya membantu suaminya untuk memecahkan masalah penggelapan uang yang dilakukan oleh Manager Keuangan. Freya berangkat kerja bersama Bryan di pagi hari dan pulang seperti karyawan biasa jam 4 sore, karena Bryan tidak ingin membuat istrinya itu terlalu capek. Awalnya Freya protes, namun akhirnya menyetujui keinginan Bryan juga.
"Kenapa aku nggak pulang bareng Mas Bryan aja."
"Kenapa juga harus jam 4 sore seperti karyawan yang lain."
"Dan ini juga baru jam dua siang." protes Freya saat diminta Bryan untuk menyudahi pekerjaan dan segera pulang. Padahal baru saja istirahat dan kembali kerja.
"Aku nggak mau kamu lelah,_"
"Aku nggak lelah." sargah Freya cepat dengan nada suara sedikit tinggi, karena dia tidak suka disebut perempuan lemah.
"Aku masih kuat kalau harus bekerja sampai jam 7 malam."
"Aku bukan wanita lemah seperti yang Mas Bryan pikirkan."
Bryan mengusap wajahnya kasar. Bicara dengan wanita hamil memang harus ekstra sabar. Apalagi emosi Freya saat ini sudah mulai tidak stabil.
Bryan melirik Rendy dan yang lainnya yang berada di ruang rapat di sebelah ruangannya. Ruangan itu diminta Freya untuk menyusut tuntas sudah berapa lama Manager Keuangan itu melakukan penggelapan. Mereka semua terlihat sibuk karena Freya meminta hasil laporan keuangan selama 5 tahun terakhir.
Bryan menghembuskan nafasnya perlahan dan mencoba membujuk istrinya kembali mengingat Maura kemarin yang protes karena Bundanya tidak menemani dirinya yang sebentar lagi akan pergi ke Singapura mengikuti kompetisi matematika.
"Sayang!!!"
"Apa sih Mas???!!!"
"Sudah sana kembali ke ruangan Mas Bryan dan kerjakan pekerjaan Mas Bryan setelah selesai kesini lagi dan bantu aku supaya cepat selesai dan bisa diserahkan ke pengacara." omel Freya yang tidak suka diganggu kalau sedang konsentrasi dalam menganalisa keuangan.
Rendy, Mutia dan Julian juga beberapa staf keuangan yang membantu Freya terlihat menahan tawa mereka dengan pura-pura fokus dan sibuk dengan pekerjaan mereka. Padahal dalam hati mereka, mereka menertawakan Tuan Muda Abrisam yang biasanya dingin dan tegas terhadap karyawannya seakan mati kutu jika berhadapan dengan istrinya.
"Baiklah kalau begitu."
"Nanti kalau merasa mual atau muntah nggak usah nyari aku."
"Dan kalau Maura marah lagi aku nggak ikut-ikut." Bryan lantas pergi begitu saja dan kembali ke ruangannya tanpa menatap Freya.
Freya membanting bolpoin nya dan menoleh kearah pintu dimana Bryan baru saja keluar dari sana. Dadanya sedikit sesak saat mendengar perkataan Bryan tadi. Matanya berkaca-kaca mengingat kemarin Maura marah pada dirinya yang tidak menemani Maura dirumah, karena kemarin jam 9 malam baru sampai rumah. Tak hanya Maura yang marah, bahkan Mama Lea juga Papa Abri ikut memarahi dirinya dan juga Bryan dan tidak mengizinkan lagi dirinya membantu di kantor kalau pulang malam lagi.
"Rendy!! Mutia!!"
"Aku serahkan pada kalian." ucap Freya dan berlalu keluar dari ruang rapat tanpa menatap Rendy maupun Mutia juga tanpa berpamitan pada yang lainnya juga.
"Yang satunya over protektif, yang satunya lagi emosinya tidak stabil."
"Cocok kalau di satu,_auuwwww!!!" Julian tidak melanjutkan perkataannya saat Rendy menjitak kepalanya menggunakan kalkulator.
Julian menatap tajam pada Rendy yang selalu saja menyiksa dirinya. Dia melirik Mutia yang terlihat begitu fokus dengan pekerjaannya. Julian menyeringai saat mendapatkan ide untuk mengerjai Rendy berhubung ada Mutia disini juga tidak ada Tuan Bryan ataupun Nona Freya, pikir Julian.
"Sayang!!! Kamu kenapa sih jahat banget sama aku."
"Kan sakit kepala aku." ucap Julian dengan nada bencisnya sambil bergelayut manja di tangan Rendy yang duduk di sebelahnya.
Staff yang lain biasa saja karena mereka sudah tahu siapa sosok sekertaris Tuan Bryan itu. Julian itu memang suka berbicara ataupun bergaya layaknya perempuan saat melihat lelaki yang menurut sek si. Namun dia tidak pernah melakukan itu pada Bryan maupun Rendy karena dapat dipastikan dirinya pasti akan dipecat atau lebih parahnya lagi dia akan di kurung sehari semalam bersama macan peliharaan Bryan.
Berbeda dengan Mutia yang menatap Rendy dan Julian bergantian dan merasa aneh. Pasalnya dia tidak tahu siapa sosok Julian itu. Apalagi melihat Rendy yang biasa saja tanpa rasa terganggu sedikitpun.
"Apa mereka berdua memiliki hubungan ya??" batin Mutia dalam benaknya. Mutia mengusap tengkuknya merasa geli sendiri melihat pemandangan di depannya.
"Terus seperti itu atau masuk kandang macan sehari semalam." gumam Rendy dengan suara rendah namun begitu dingin dan terkesan mengancam.
Julian lantas mengelus lengan Rendy dan menggeser tubuhnya menjauh dari dimana Rendy duduk. Dia mana mau harus tidur bersama macan, yang ada dia nanti bakal tidur untuk selamanya.
*****
Freya membuka pintu ruangan Bryan perlahan. Dia mengintip suaminya yang tengah menerima telephone. Pandangan mata Freya bersitumbuk dengan mata Bryan, untuk sesaat keduanya saling pandang kemudian Bryan terlebih dulu memutus pandangan itu dan menulis sesuatu sambil masih menerima telephone.
Freya masuk dan menutup pintu perlahan. Dia masih berdiri mematung didekat pintu tanpa berani mendekat ke Bryan yang terlihat sudah selesai menerima telephone, namun tidak memanggilnya untuk mendekat atau sekedar bertanya.
Freya menunduk, dia mengaku salah karena harus menentang juga memarahi Bryan di depan karyawannya. Namun untuk mengucapkan maaf itu terasa berat saat melihat Bryan yang terlihat cuek kepada dirinya.
"Freya minta maaf." akhirnya Freya mengucapkan maaf juga walau suaranya seperti bergumam.
"Maafkan kesalahan Freya tadi." Freya masih menunduk dan menyeka air matanya yang tumpah dengan cepat.
"Maafkan Freya, Mas Bryan." suara Freya terdengar tercekat.
"Aku sudah memaafkan mu sedari tadi."
Freya mengangkat kepalanya perlahan saat mendengar suara Bryan berada di dekatnya. Dan benar saja, suaminya itu sudah berdiri di hadapannya.
Bryan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum tipis saat melihat istrinya itu menangis. Diulurkan nya tangannya untuk mengusap air mata yang jatuh membasahi wajah cantik istrinya.
"Kenapa harus menangis segala saat minta maaf."
"Apa kamu takut nggak aku maafin?" tanya Bryan dan membawa Freya untuk duduk di sofa. Lebih tepatnya Bryan yang duduk di sofa dan Freya duduk dipangkuan nya.
"Freya nggak takut tidak dapat maaf dari Mas Bryan,dan Freya nangis karena Mas Bryan tadi cuek sama Freya."
"Freya nggak mau dicueki sama Mas Bryan seperti tadi." Freya menunduk dan memilin ujung rok yang dipakainya.
"Kalau kamu nggak mau dicueki, jangan berbicara seperti tadi di depan karyawan aku."
"Apalagi memotong pembicaraan suami kamu."
"Kesannya aku seperti suami takut istri."
Freya terkekeh pelan dan buru-buru menutup mulutnya yang berani menertawakan suaminya sendiri.
"Berani ya kamu menertawakan suami kamu, hemmm." Bryan menggelitiki Freya dan membuat istrinya itu tidak berhenti tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Mas hentikan..Nanti sakit perut aku." Bryan berhenti dan memandang wajah Freya yang memerah karena tertawa.
__ADS_1
Freya yang terus ditatap Bryan dengan sorot mata penuh rasa cinta dan sayang membuatnya tersipu malu.
Bryan yang gemas melihat wajah istrinya yang merona tidak mampu lagi untuk memarahi istrinya. Awalnya dia tadi saat melihat Freya masuk keruangan nya, ingin sekali Bryan memarahi istrinya itu. Namun dia urungkan saat mendengar Freya meminta maaf pada dirinya juga menangis. Ditambah sekarang wajah Freya yang merah merona hanya karena dia tatap membuat amarahnya lenyap seketika.
"Udab ihh jangan natap Freya seperti itu." Freya menutup mata Bryan supaya berhenti menatapnya. Freya begitu malu jika ditatap suaminya seperti itu.
Bryan terkekeh dan menyingkirkan tangan Freya yang menutupi matanya dan dikecupnya tangan itu dengan lembut.
"Apa kamu mau pulang sekarang?" tanya Bryan pada Freya yang saat ini tengah memeluknya.
Freya menggelengkan kepalanya, "Nanti saja, Freya pulang jam 4 seperti yang janji awal. Bolehkan?" tanya Freya menatap Bryan dari samping.
"Boleh, tapi janji jam 4 harus pulang meski belum selesai pekerjaannya." Freya melepaskan pelukannya dan beranjak dari pangkuan Bryan sambil tersenyum lebar.
"Siap yang Baginda Raja Abrisam Bryan Alvaro." ucap Freya sedikit menunduk dan mencium pipi Bryan singkat dan berlari kecil menjauh dari Bryan untuk segera kembali lagi ke ruangan rapat.
"Jangan lari-lari sayang."
"Kamu lagi hamil." pekik Bryan saat melihat Freya berlari kecil, dia lantas berdiri.
Freya menoleh kebelakang, "Hehehe...lupa!!"
Bryan geleng kepala melihat tingkah istrinya yang cengengesan dan merasa tidak bersalah itu.
"Bisa-bisanya dia lupa kalau lagi hamil."
"Kalau sampai dia lupa sudah punya anak dan suami bagaimana coba."
"Bisa bahaya kalau seperti itu."
"Nggak diakui dong aku nanti." gerutu Bryan melihat Freya yang sudah menghilang di balik pintu.
Bryan segera kembali mengerjakan pekerjaannya supaya cepat selesai dan membantu Freya dan yang lainnya di ruangan sebelah.
Bryan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore dan dia baru menyadarinya.
"Sudah hampir jam 5 kenapa Freya belum pamit pulang."
"Apa dia pulang dan tidak pamit?" Bryan segera membereskan meja kerjanya dan melihat ke ruangan sebelah memastikan kalau Freya benar sudah pulang.
*****
"Freya!! Kamu yakin sebesar ini totalnya." pekik Mutia melihat hasil kerja Freya yang sudah menemukan berapa jumlah penggelapan yang dilakukan Manager Keuangan.
Freya mengangguk lemah, dia tidak menyangka akan tindakan yang dilakukan oleh Manager Keuangan. "Dia benar-benar tega mengkhianati Papa." gumam Freya yang merasa kasihan akan Papa mertuanya juga suaminya.
Mendengar pekikan Mutia juga anggukan Freya, Rendy juga Julian lantas mendekati tempat dimana Freya dan Mutia tengah duduk.
"Gila, Rend..Si tua bangka itu benar-benar tikus." pekik Julian saat melihat seberapa besar nominal yang tertulis dipojok kiri bawah.
"Bukannya si tikus itu temannya Tuan Abrisam?" tanya Julian menatap Rendy.
Rendy mengambil kertas yang dipegang Mutia dan dilihatnya kembali hasil penggelapan selama 5 tahun terakhir oleh Manager Keuangan.
"Anda yakin ini, Nona Freya?"
"Kita baru kerja selama dua hari dan anda menyelesaikannya begitu cepat." tanya Rendy yang belum yakin akan hasilnya. Menurutnya ini terlalu cepat, karena dia dan Bryan saja kemarin lebih dari lima hari baru mendapatkan hasil penggelapan dalam satu tahun terakhir dan ini Freya dalam dua hari dapat menyelesaikan penggelapan dalam 5 tahun terakhir.
"Saya yakin."
"Kalau anda tidak yakin anda bisa mengeceknya kembali."
"Ini berkas-berkas lima tahun terakhir yang kita kerjakan tadi."
"Anda bisa mengecek ulang."
"Kalau perlu saya panggilkan Maura kesini supaya anda lebih yakin lagi."
"Ada apa ini?" tanya Bryan saat melihat Freya dan Rendy sepertinya sedang bersitegang. Dan mengumpul di satu titik, tempat duduk Freya.
"Kenapa kamu belum pulang sayang, ini sudah hampir jam lima?." Freya memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Bryan.
"Aku juga mau pulang sekarang karena asisten Mas Bryan tidak percaya dengan hasil kerja yang telah aku selesaikan."
"Dan aku besok sudah tidak mau lagi membantu masalah perusahaan kalau diragukan seperti ini." Freya mengambil handphone dan juga tasnya dan segera pergi.
"Sayang..ada apa sih?" Bryan menahan langkah Freya.
"Aku mau pulang."
"Bukannya Mas Bryan tadi meminta aku untuk cepat pulang."
Bryan mengerutkan keningnya mendengar nada suara Freya yang sepertinya sedang dalam kondisi marah dan kecewa pada seseorang.
"Iya, tapi tunggu sebentar."
"Aku nggak mau kamu pulang dalam keadaan marah seperti ini."
"Apa yang membuatmu marah."
"Coba cerita sama aku."
Freya menatap Bryan dalam diam. Dia sudah malas menjelaskan karena hasil kerjanya tidak dihargai. Mentang-mentang dirinya belum banyak pengalaman kerja bukan berarti cara kerjanya asal. Dia sudah banyak belajar dari orang-orang yang lebih profesional dalam bidang keuangan. Dia juga sudah banyak mengikuti berbagai jenis seminar saat kuliah maupun saat sudah bekerja.
"Freya!!" Freya memalingkan wajahnya ke sembarang arah, malas melihat Bryan maupun yang lainnya terutama Rendy.
Bryan menghembuskan nafas pelan dan menatap Rendy yang menunduk seperti melakukan kesalahan.
"Kesini kamu, Rend."
Rendy menatap Bryan sebentar dan melangkah mendekati Bryan juga Freya.
__ADS_1
"Jelaskan. Kenapa istri saya sampai marah seperti ini." pinta Bryan dengan nada rendah menatap tajam pada Rendy.
"Maaf Tuan. Saya meragukan hasil kinerja Nona Freya."
"Saya tidak yakin akan hasil yang sudah didapat Nona Freya dalam kasus ini, karena menurut saya terlalu cepat."
"Kamu sudah dapat hasilnya sayang?" tanya Bryan yang terlihat antusias dan sedikit tidak percaya, karena baru dua hari dan istrinya itu sudah menyelesaikan semuanya.
"Hmm.." Freya hanya berdehem dan masih memandang ke arah lain.
"Mana hasilnya?" Rendy memberikan kertas yang dipegangnya tadi kepada Bryan.
Bryan membulatkan matanya lebar melihat nominal yang tidak sedikit itu. 194,8 milyar, itu bukan nominal yang sedikit.
"Sayang..Ini yakin sudah benar?" tanya Bryan menunjuk hasil akhir dari total semua penggelapan yang telah dilakukan oleh Manager Keuangan.
Freya mendengkus kesal dan kembali ke tempat duduknya. Dia mengumpulkan hasil yang sudah dikerjakan dari kemarin, dari berkas lima tahun terakhir dibantu Mutia.
"Ini.." Freya memberikan lima tumpukan berkas itu pada Bryan.
"Yang ini, tahun ini yang Mas Bryan dan juga Rendy kerjakan sebelum aku datang membantu."
"Dan empat berkas ini, kami disini yang mengerjakan."
"Dan kertas yang Mas Bryan pegang itu adalah hasilnya."
"Kalau Mas Bryan tidak percaya, bisa Mas Bryan cek ulang."
"Dan ini juga Freya kasih rumusnya." Freya membuka buku catatannya dan diberikan kepada Bryan.
"Baiklah, tunggu disini dulu dan jangan pulang dulu." perintah Bryan dan dia lantas menarik kursi untuk dia duduki dan mulai mengecek ulang.
"Tadi disuruh pulang, sekarang disuruh tunggu."
"Dasar suami suka seenaknya sendiri." gerutu Freya yang kesal karena dia sudah merasa lelah.
"Ini minum dulu." Mutia memberi Freya minum. Dia tahu orang hamil itu suka marah dan emosi nggak jelas dan capek tentunya.
"Thanks." Mutia mengangguk kecil.
Bryan terlihat masih menghitung dibantu Rendy yang tadi tidak percaya dengan hasil Freya.
"Lihat tuh gebetan kamu."
"Aku yakin dia menyesal telah meragukan aku tadi." cibir Freya melihat Rendy yang garuk-garuk kepala akan hasil yang dia dapat sama seperti yang Freya dapat.
"Dia bukan gebetan aku." bantah Mutia cepat.
"Lebih baik sama dia daripada sama Tuan Alex."
"Kenapa kamu tidak memakai dia saja untuk membatalkan perjodohanmu dengan si Yudha itu?" tanya Freya.
"Apa kamu takut jatuh cinta sama Rendy?"
"Atau kamu memang sudah jatuh cinta sama Rendy, makanya takut untuk mengajaknya bekerjasama." tebak Freya yang melihat Mutia hanya diam saja melihat Rendy.
"Mata yang Rendy miliki mengingatkan ku pada seseorang." gumam Mutia.
"Siapa? si Yudha?" Mutia mengangguk mengiyakan pertanyaan Freya.
"Sayang.." Freya menoleh pada Bryan.
"Terima kasih." Bryan memeluk Freya dengan erat.
"Terima kasih sudah membantu aku."
"Terima kasih banyak, sayang."
"Aku akan memberikan apapun yang kamu minta sebagai tanda terima kasih ku."
"Mas Bryan yakin?" tanya Freya memastikan.
Bryan melepaskan pelukannya dan menatap Freya sambil mengangguk yakin.
Freya tersenyum lebar mendapat anggukan dari Bryan.
"Awas kalau Mas Bryan sampai tidak menepati janji."
"Freya akan menghukum Mas Bryan." ancam Freya dengan wajah galaknya.
"Kapan sih aku ingkar janji sama kamu."
"Aku kan selalu menepati janji aku juga selalu memberi apa yang kamu inginkan."
Freya mendengkus mendengar perkataan Bryan. Suaminya itu seakan lupa kalau dirinya pernah tidak memberikan apa yang diinginkannya. Minta bubur dikasih sereal.
"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Bryan.
Freya menyeringai, "Nanti saat dirumah aku beri tahu."
"Baiklah sayang, aku tunggu apa yang kamu minta." Freya tersenyum lebar.
Rendy dan Mutia yang melihat senyum Freya bergidik ngeri. Sepertinya Bryan dalam masalah dan kemungkinan besar entah Rendy atau Mutia atau bahkan keduanya juga akan ikut berdampak mengingat Freya juga menatap kedua orang itu dengan seringai menakutkan.
🍁🍁🍁
have a nice day
thanks for reading brother and sister
big hug 🤗🤗🤗
__ADS_1