
Sore tadi Maura sudah diperbolehkan pulang. Namun harus melakukan check up tiga hari sekali selama masa pemulihan sebulan ini. Dan sekarang Maura sudah berada di rumah, tepatnya di apartemen yang mereka tempati hampir dua bulan ini setelah pindah ke kota J.
Maura terlihat sedang duduk dipangkuan Ayahnya, mereka berdua sedang bermain Math Blaster di iPad. Math Blaster adalah salah satu game pembelajaran matematika online paling populer di dunia. Maklum, mereka berdua suka matematika. Dan mereka berdua terlihat seru dengan permainan mereka.
"Bunda!!! Maura mau jus strawberry." teriak Maura yang masih sibuk dengan permainannya bersama sang Ayah.
"Ayah mau juga?" tawar Maura.
"Tidak, cantik. Tadi Ayah sudah dibelikan Paman Rendy es kopi." Maura mengangguk saja.
Freya yang berada di dapur hanya geleng kepala mendengar teriakan putrinya itu. Dia dan Mutia saat ini sedang memasak untuk menyiapkan pesta penyambutan buat Maura. Tadi bahannya sudah disiapkan semua sama Rendy.
Mereka akan makan malam seperti biasanya namun dengan berbagai menu, karena Bryan meminta adik dan juga kedua orang tuanya datang. Awalnya Freya menolak kalau harus mengundang kedua orang tua Bryan. Pasalnya dia masih belum siap kalau diminta jawaban atas lamaran yang diajukan Papa Abri padanya beberapa hari yang lalu. Apalagi nanti kalau ketemu Mama Lea, pasti nanti bakal ada suasana tegang.
"Sayang..Ini jusnya." Freya meletakkan gelas yang berisi jus strawberry di meja dekat Maura dan Bryan duduk.
Dia sedikit menunduk dan mengusap kepala Maura pelan, "Nanti kalau minta sesuatu atau panggi Bunda langsung datangi Bunda ya, gak usah berteriak seperti tadi." ucap Freya dengan lembut menatap lekat netra biru milik Maura.
"Iya, Bun.." Maura menunduk, "maafkan Maura." Maura kembali menatap Bundanya dengan mata memerah.
Freya tersenyum dan mengambil Maura ke dalam gendongannya. Dia melangkah dan mendudukkan dirinya di sofa yang sedikit jauh dari Bryan duduk.
"Bunda nggak marah sama Maura kok."
"Bunda tadi hanya memberi pengertian saja pada Maura."
"Bukankah Bunda tidak pernah mengajari Maura untuk berteriak jika memanggil ataupun memerintah orang." kata Freya sambil mengelus kepala dan wajah putrinya.
Maura mengangguk, dia membenarkan apa yang di katakan Bundanya. Dianya aja tadi yang asyik main sama Ayahnya hingga akhirnya berteriak saat memanggil Bundanya.
Bryan menatap Freya penuh rasa kagum, Freya yang masih mudah harus hamil di luar nikah, mendapat caci maki dan hinaan dari masyarakat sekitar, ditinggal mati Ibunya dan harus hidup sendirian dengan seorang anak tanpa adanya sosok suami di sisinya. Begitu hebatnya dia membesarkan anak yang cerdas, baik, dan patuh hanya seorang diri.
Dan begitu bodohnya kamu Bryan kalau kamu sampai menyakitinya. Kamu dulu yang membuatnya hancur dan jangan membuat Freya kembali merasakan sakit atas segala sifat dan sikap buruk kamu.
"Maura boleh main lagi, Bunda mau melanjutkan masaknya." ucap Freya dan mendudukkan Maura di samping Bryan.
Maura mengangguk, "Oke, Bunda."
"Aku mau bicara sama kamu." Bryan memegang tangan Freya untuk menghentikan langkah Freya, dia juga menatap Freya dengan tatapan sendu.
Freya melihat tangannya yang dipegang Bryan beralih menatap Bryan sebentar, "Aku masih sibuk masak." jawab Freya tanpa menatap Bryan.
Bryan melihat ke arah dapur yang terlihat sibuk antara Rendy dan Mutia yang sepertinya cek cok tentang memasak.
"Ada Rendy, dia bisa segalanya dan bisa diandalkan." kata Bryan.
"Aku mohon, hanya sebentar." pinta Bryan yang masih menatap Freya dengan sendu.
Freya mengambil nafas dalam sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Bryan. Setelah berpamitan pada Maura juga Mutia dan Rendy, Bryan mengajak Freya ke cafe yang ada di seberang apartemen Freya.
"Permisi..Ini pesanannya." pelayan wanita itu meletakkan dua gelas fruit tea sour plum di depan Bryan juga Freya.
__ADS_1
"Terima kasih." ucap Freya dengan tersenyum ramah sama pelayan itu sebelum si pelayan pergi.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Freya menatap Bryan dingin.
"Aku minta maaf sama kamu juga sama Maura." Freya langsung memalingkan wajahnya dari Bryan mendengar ucapan maaf dari Bryan. Dia tahu, pasti Bryan benar akan meninggalkannya dan mengingkari janjinya pada Maura dan memilih menikah dengan Manda.
"Maaf aku terlambat menemukan kalian." Freya mengerutkan keningnya bingung. Apa maksudnya, batin Freya. Dia hanya melirik Bryan.
"Kalau seandainya dari awal aku sudah menemukanmu mungkin kita sudah menikah dan mungkin Maura sudah punya adik lagi." Bryan terkekeh pelan mendengar apa yang baru saja dia katakan.
"Tapi bukan itu yang ingin aku katakan padamu sekarang." kata Bryan yang terlihat mulai serius.
"Freya." Freya menatap Bryan saat Bryan memanggilnya dengan suara yang begitu lembut. Bryan mengambil tangan kanan Freya dan dipegangnya dengan lembut.
"will you marry me and may my genes influence your genes to be able to make a sister for Maura?"
Freya tertawa cukup nyaring mendengar pertanyaan itu keluar lagi dari mulut Bryan. Apa dia gila, pikir Freya. Mau menikah dengan perempuan lain tapi sekarang malah melamarnya untuk kedua kalinya.
"Aku serius Freya." Freya menghentikan tawanya saat Bryan menatapnya tajam dan terlihat serius.
"Dan aku juga serius tidak mau menjadi yang kedua ataupun diduakan." ucap Freya yang membalas Bryan dengan tatapan tajam juga. Namun Bryan dapat melihat kesedihan didalam mata teduh itu.
"Aku tidak akan menjadikanmu yang kedua ataupun menduakan mu." kata Bryan.
"Kamu akan aku jadikan wanita satu-satunya di hidupku." sambung Bryan semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Freya.
"Tapi kamu akan menikah dengan Manda, kalau kamu ingat."
Bryan tertawa pelan saat Freya masih saja menganggap dirinya akan menikah dengan Manda.
"Siapa yang bilang kalau aku akan menikah dengan wanita itu?" tanya Bryan menatap netra coklat milik Freya.
"Kamu...Kamu sendiri yang bilang." sewot Freya yang menarik tangannya namun ditahan sama Bryan.
"Kapan?" tanya Bryan yang heran, kapan dia mengatakan itu pada Freya.
"Kemarin..Kemarin kamu bilang kalau mau membahas pernikahanmu dengan Manda bersama kedua orang tua kalian." jawab Freya cepat dengan wajah cemberut, dia marah bercampur kesal.
Bryan menarik salah satu sudut bibirnya menahan untuk tidak tertawa. "Jadi kemarin Freya diam saja dan sekarang marah itu karena mengira kalau aku akan menikah dengan Manda." batin Bryan yang merasa senang. Bukankah kalau seperti itu tandanya Freya sudah mulai menyukainya?? Ingin rasanya Bryan berteriak kegirangan.
"Kamu salah paham. Pernikahanku dengan Manda tidak akan pernah ada bahkan tidak akan pernah terjadi. Mama sendiri yang membatalkan perjodohan itu." jelas Bryan menatap Freya lekat.
"Apa kamu tidak melihat berita viral tentang wanita itu?" tanya Bryan.
Freya mengangguk sebagai jawabannya. Walau sekilas dia tahu berita viral itu.
"So...will you marry me, Freya Almeera Shanum"
"And may my genes influence your genes to be able to make a sister for Maura?" tanya Bryan menatap Freya dengan lembut.
__ADS_1
Freya menatap cincin yang diberikan Bryan untuknya sebagai tanda kalau dia mau menerima lamarannya. Diamond Ring on White Gold yang dia tahu harganya begitu mahal untuk Freya bisa membelinya.
Freya beralih menatap Bryan, dilihat Bryan yang masih tersenyum menatapnya dengan hangat menanti jawaban yang akan dia berikan atas lamaran yang dia ajukan padanya.
"Aku....." Freya diam sejenak, dia masih ragu kalau harus bilang iya untuk sekarang ini. Masih banyak yang harus dia pikirkan untuk kedepannya.
"Boleh, nanti saja menunggu Tuan dan Nyonya Abrisam datang ke rumah." pinta Freya menatap sendu Bryan.
Bryan mengangguk dengan tersenyum kecut. Dia menyimpan kembali cincin itu di sakunya.
"Ayo kita kembali. Mungkin Mama sama Papa sudah sampai." kata Bryan dengan wajah dinginnya. Dia lantas berdiri dari duduknya dan pergi untuk membayar minuman mereka.
Bryan juga langsung keluar dari cafe tanpa menunggu Freya. Dan dapat Freya pastikan kalau Bryan kecewa padanya. Freya mengejar Bryan yang sudah jauh di depannya.
"Tunggu!!!" teriak Freya untuk menghentikan langkah Bryan, namun Bryan sepertinya memang enggan untuk menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan tanpa peduli teriakan Freya.
Freya yang melihat Bryan terus melangkah lantas dia menghentikan langkah sendiri. Dia menangis karena lebih mementingkan keegoisannya sendiri. Kalaupun dia menikah dengan orang lain, belum tentu orang itu mau menerima Maura. Kalau sama Bryan, tidak hanya Maura yang Bryan terima, tapi juga dirinya.
Freya melihat Bryan yang sudah mulai memasuki Lobby apartemen. Dengan langkah cepat dia berlari kencang untuk mengejar Bryan.
"Aku mau..Aku mau menikah dengan mu Tuan Muda Abrisam."
Tak hanya Bryan yang berhenti saat mendengar teriakan Freya. Tapi kedua orang tua Bryan juga adik Bryan yang baru datang dan baru saja keluar dari dalam mobil.
Dan juga Evan yang memang akan berkunjung menemui Freya. Karena tadi dia ke rumah sakit dan pihak rumah sakit mengatakan kalau Maura sudah pulang. Dan disinilah dia saat ini, berada di Lobby dan berdiri tidak jauh dari posisi Bryan berdiri.
Bryan membalikkan badannya melihat Freya yang berlari ke arahnya dengan deraian air mata.
"Yes, I do." ucap Freya setelah dia berdiri tepat di depan Bryan dengan nafas tak beraturan.
"I'm willing to marry you." sambung Freya dengan deraian air mata menatap Bryan.
"Are you sure?" tanya Bryan tegas.
Freya mengangguk dan tersenyum. "Yes, I'm sure."
Tanpa basa basi lagi, Bryan langsung memeluk Freya di tengah-tengah Lobby dimana dia berdiri tadi. Bryan semakin mengeratkan pelukannya saat Freya juga membalas memeluk dirinya.
"Terima kasih." ucap Bryan dan mencium bibir Freya dengan lembut.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu Freya."
🍁🍁🍁
Have a nive day
Terima kasih Like, Vote, Comment and dukungannya dari kakak-kakak reader.
Lagi baik hati nih, jangan di teror yaaaa
Big hug from far away 🤗🤗🤗
__ADS_1
dewi widya