Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Redup tanpa ada sinar


__ADS_3

Rendy menatap dua tanah gundukan yang masih basah dan terdapat begitu banyak taburan bunga mawar diatasnya. Juga beberapa ikat bunga lily dan bunga sedap malam yang masih segar juga terlihat diatas dua gundukan tanah tersebut.


Disisi atas gundukan tanah itu tertera dengan jelas nama dua orang wanita, Mutia Amalia Azmy dan satunya lagi Carissa Balqis Pratama, nama anak perempuan yang dinyatakan meninggal dalam kandungan sang istri.


Air mata Rendy sudah tidak terlihat menetes lagi. Hanya sekarang tatapannya begitu redup tanpa ada yang menyinari lagi. Istrinya yang baru dia nikahi sekitar satu tahun belakang ini telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Bahkan salah satu anak yang dikandung istrinya juga ikut pergi meninggalkan dirinya.


Dia sendiri baru tahu kalau istrinya mengandung bayi kembar bergenre sepasang, pria dan wanita. Dan itu artinya keinginan keduanya untuk memiliki anak perempuan terwujud. Tapi Tuhan berkehendak lain. Anak perempuan mereka sudah diambil terlebih dahulu sama sang pemilik kehidupan tanpa harus menghirup udara kotor di dunia yang fana ini.


Sekarang di dunia ini hanya tinggal dirinya dan putranya yang masih dalam perawatan intensif di NICU rumah sakit. Hanya tinggal mereka berdua, dua lelaki yang saat ini terlihat begitu lemah. Yang satunya lemah karena separuh jiwa dan darah dagingnya pergi untuk selamanya meninggalkan dunia. Dan satunya lagi lemah karena lahir dibawah berat badan normal meski umurnya sudah cukup.


"Kenapa kamu bisa pergi secepat itu sayang? Bagaimana nanti aku sama Candra bisa melanjutkan hidup ini?"


"Sudah tiga hari kamu didalam sana bersama putri kita. Apakah kalian kedinginan didalam sana? Haruskah Papa ikut kalian dan memberi kehangatan buat bidadari-bidadari Papa?"


Rendy terus saja mengatakan itu tiap kali mengunjungi makan istri dan anaknya yang tiga hari lalu baru saja dimakamkan setelah menginap semalam di rumah duka.


Rendy juga terlihat mengusap dan mencium nisan kayu milik istri dan anaknya. Bahkan lelaki yang biasanya terlihat kuat, dingin, kaku dan tampan itu kini terlihat begitu menyedihkan. Hampir seperti gelandangan tapi naik kelas, karena pakaiannya ber-merek semua bahkan kendaraannya mewah. Hanya penampilannya saja yang seperti gelandangan.


Semenjak dia sadar kalau istri dan anaknya meninggal, lelaki dewasa itu sudah tidak memperhatikan penampilannya lagi. Rambutnya berantakan tanpa disisir. Rambut halus sudah mulai tumbuh di jambangnya yang semakin tebal terlihat. Bahkan pakaiannya saja sudah tidak serapi seperti Rendy sebelum ditinggal pergi oleh Mutia untuk selamanya.


Apakah dia akan terus seperti itu? Tentu saja tidak. Rendy masih memilik satu peninggalan paling berharga dalam hidupnya dari Mutia. Tidak mungkin dia akan terus seperti itu. Tapi?? Kenapa dia begitu berat untuk menjalani semua ini sendirian. Pernah terlintas dibenaknya untuk ikut pergi bersama Mutia, namun bagaimana dengan putranya yang saat ini masih terbaring lemah di NICU. Haruskah dia tetap bertahan demi putranya meski hati tak kuasa untuk menyusul Mutia pergi dari dunia.


"Ekhemm!! Kami turut berduka cita."

__ADS_1


Rendy mengangkat kepalanya melihat siapa yang datang ke makam istrinya. Meski dia sudah begitu kenal dengan suara itu, namun dia hanya melihatnya sekilas dan kembali menunduk untuk menatap kosong gundukan tanah milik sang istri. Dia hanya berdehem saja tanpa menanggapi Alex yang datang bersama Anelis.


Alex menatap Anelis dan menganggukkan kepalanya, meminta Anelis meletakkan bunga yang mereka bawa tadi di atas pusaran Mutia dan Carissa, anaknya Rendy dan Mutia.


"Yang sabar ya, Rend. Ikhlaskan kepergian mereka biar mereka tenang disisi-Nya."


Ucap Anelis yang memang pernah berada di posisi Rendy. Harus kehilangan anaknya saat memperjuangkan kesembuhan atas sakit yang diderita. Apalagi yang Rendy alami saat ini jauh lebih menyakitkan daripada yang dia alami. Kehilangan istri dan anak di waktu bersamaan.


"Iya Rend. Kamu harus ikhlas dan kamu juga harus kuat. Apalagi masih ada peninggalan satu-satunya dari buah cinta kamu dengan Mutia yang saat ini tengah berjuang untuk tetap bertahan hidup. Aku yakin, Mutia meninggalkan dia untuk mu supaya kamu tidak larut dalam kesedihan. Supaya dia menemani kamu."


Imbuh Alex yang memang sudah mendapat cerita dari Bryan kalau anaknya Rendy yang masih hidup tengah di rawat di rumah sakit. Dan saat ini bayi itu tengah diberi ASI oleh Freya.


Sebelumnya Freya sudah meminta izin terlebih dahulu pada Rendy untuk menjadi Ibu susu buat Candra. Awalnya Rendy menolak keinginan Freya, tapi mengingat kondisi Candra yang sempat memburuk membuat Rendy akhirnya memberi izin juga pada istri Bosnya itu untuk menjadi Ibu susu buat Candra, anaknya.


Alex menepuk pelan pundak Rendy yang hanya tertunduk dalam diam itu. Entah apa yang dia katakan tadi didengar apa tidak sama mantan rivalnya itu. Yang pasti dia sudah memberikan semangat untuk duda baru supaya tetap menjalankan hidup kedepannya.


Melihat Rendy yang hanya diam saja tanpa merespon sedikitpun, akhirnya Alex juga Anelis pamitan untuk melihat kondisi anaknya Rendy yang ada dirumah sakit setelah tadi sudah memanjatkan doa terlebih dahulu untuk mendiang Mutia dan Carissa.


"Apa benar kamu meninggalkan Candra supaya aku tidak kesepian? Kenapa hanya Candra saja yang kamu tinggalkan untuk ku? Kenapa tidak kamu juga Carissa saja tetap tinggal bersama aku dan juga Candra? Kenapa? Kenapa secepat ini kamu pergi, sayang."


Rendy kembali mengeluh setelah dua manusia yang datang tadi sudah hilang dalam jangkauan matanya. Bahkan sekarang air matanya menetes meski tidak sederas awal-awal dia kehilangan istri dan anaknya.


*****

__ADS_1


Bryan dan baby Attar terlihat menemani Freya yang tengah memompa ASI nya di ruang laktasi yang ada di sebuah rumah sakit milik keluarga nya sendiri. Dimana saat ini baby Candra dirawat.


"Sayang!! Habis botol itu sudah jangan diperah lagi. Kalau mau diperah lagi nanti dirumah. Aku tidak mau mainan ku dilihat banyak orang."


Bryan begitu posesif pada istrinya itu yang beraninya memerah susu di tempat umum, meski sebenarnya didalam ruangan tertutup juga. Padahal dua hari yang lalu istrinya itu biasanya memerah dirumah dan hasilnya dibawa ke rumah sakit. Tapi karena semalam baby Attar terus saja minta susu, membuat Freya tidak sempat memerah susu nya untuk baby Candra.


"Ya ampun, Mas. Ini baru dapat satu botol dan yang ini setengah saja belum dapat. Dan lagi, ini Freya juga memakai kain penutup jadi tidak terlihat orang lain. Nggak usah lebay deh. Udah anak dua juga masih saja posesif."


Freya terus saja menggerutu kesal pada suaminya yang memiliki jiwa posesif yang begitu tinggi bila menyangkut dirinya. Sungguh itu membuat Freya risih, tapi disaat bersamaan dia juga begitu bahagia karena suaminya itu benar-benar sayang sama dirinya. Tidak hanya sayang, tapi cinta juga.


"Mau anak dua, mau anak lima, mau anak tujuh bahkan sebelas sekalipun aku akan tetap posesif sama kamu. Bahkan sampai tua, aku akan selalu posesif jika itu berurusan dengan kamu, apalagi tubuh kamu."


Freya mendengkus mendengar balasan dari Bryan, namun kedua sudut bibirnya tidak tahan untuk tidak membentuk senyuman. Dia tidak bisa membohongi hatinya kalau dia begitu bahagia suaminya begitu sayang dan cinta pada dirinya.


"Kalau mau senyum, senyum aja nggak usah ditahan. Aku cium kamu nanti."


Freya mendelik dan mencubit pinggang suaminya itu yang sudah ada sedikit lemaknya padahal suaminya itu juga sering melakukan olahraga.


"Mas Bryan malu ih, itu dilihatin sama perawatnya."


Freya gemas sendiri dengan suaminya yang tengah menggendong baby Attar di gendongan depan. Dia begitu malu karena dua perawat yang menemani mereka terlihat menertawakan dirinya yang dapat ancaman dari hot daddy.


"Biarkan saja. Konsekuensi mereka yang ada disini. Mereka hanya obat nyamuk. Bukan begitu jagoan?"

__ADS_1


Freya menghembuskan nafas kasar melihat baby Attar yang dengan senangnya membalas tos tangan dari Ayahnya. Bahkan baby gembul yang tampan dan putih itu terlihat tertawa dan bertepuk tangan dengan celotehannya yang begitu menggemaskan. Mengalahkan pesona sang Ayah.


__ADS_2