
Saat ini Mutia juga Alex tengah berada di roof top. Mereka duduk dengan jarak juga terjadi kecanggungan di antara keduanya. Mutia hanya diam bergeming di tempatnya, menunggu Alex berbicara. Tadi setelah selesai menandatangani surat serah terima jabatan, Alex meminta izin pada Rendy untuk berbicara sebentar dengan Mutia. Namun tidak Rendy izinkan karena hanya berbicara berdua saja tanpa dirinya ataupun adanya orang ketiga.
"Saya bilang tidak ya tidak. Kalau mau bicara disini saja." Rendy semakin mengencangkan genggaman tangannya pada Mutia.
"Hanya sebentar, tidak akan lama." kata Alex dengan menatap Mutia yang sama sekali tidak mau menatapnya itu.
"Disini atau tidak sama sekali." tegas Rendy yang tidak suka dengan tatapan Alex pada Mutia.
"Ren! Dia kan hanya minta maaf, biarkan saja." Rendy menolehkan kepalanya cepat menatap Mutia saat mendengar bisikan dari istrinya itu.
"Kamu mau kejadian tempo hari terulang kembali?"
"Aku tidak setuju dengan itu." balas Rendy dengan berbisik juga. Dirinya begitu geram dengan Mutia yang justru menyetujui untuk berbicara berdua dengan Alex.
Mutia tersenyum dan mengusap lengan Rendy yang tengah memegang tangannya dengan erat itu. "Aku dalam keadaan sadar saat ini. Dan ingat, aku sudah menguasai ilmu bela diri. Bukankah Tuan Alex itu tidak bisa bela diri?"
Rendy menatap Mutia dengan intens. Apa yang di katakan Mutia itu ada benarnya. Istrinya sudah menguasai ilmu bela diri, sedangkan Alex hanya dasar-dasarnya saja dan itu tidak pernah dilatihnya lagi.
"Tapi ingat, jangan menerima makanan atau minuman apapun yang dikasih si breng sek itu." pesan Rendy pada sang istri dan akhirnya dia menyetujui Mutia berbicara berdua saja dengan Alex. Lima belas menit, Rendy memberi waktu Alex lima belas menit untuk berbicara dengan Mutia.
Alex tertawa kecil mengingat Rendy tadi yang terlihat berat melepas Mutia berdua saja dengan dirinya. "Ternyata si kaku bisa seposesif itu. Sebelas dua belas dengan Bryan." gumam Alex.
Mutia menatap Alex sekilas dan mengalihkan pandangannya ke depan menatap kembali atap-atap gedung pencakar langit. Dia tahu siapa yang dimaksud Alex, siapa lagi kalau bukan Rendy. Rendy yang biasanya datar dan kaku juga tidak perasaan, kini terlihat seperti lelaki pada umumnya yang posesif pada pasangannya.
"Jadi, Rendy itu Yudha yang akan dijodohkan dengan kamu?"
"Pantas saja Rendy selalu menghantui tiap kali aku dekat dengan mu." ujar Alex yang sudah mengorek informasi tentang Rendy dari Bara yang orangnya memang suka kelepasan tiap kali bicara.
Mutia hanya berdehem dan mengangguk kecil menanggapi perkataan Alex. Dirinya belum berani bicara banyak pada Alex. Dirinya masih marah dan waspada pada Alex, mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang menimpanya karena Alex.
"Apa kamu akan tetap menerima perjodohan itu kalau ternyata Yudha itu bukan Rendy?" Alex menatap Mutia yang sedari tadi tidak menatapnya.
Mutia menatap Alex sekilas yang ternyata lelaki itu juga menatapnya. "Iya, aku tetap menerima perjodohan itu. Kalaupun tidak, aku akan memilih Rendy."
"Kenapa? Apa karena Rendy jauh lebih tampan?"
"Padahal aku juga jauh lebih tampan dari Rendy."
"Aku juga jauh lebih kaya dari Rendy. Meski tidak sekaya Bryan."
Kening Mutia mengkerut mendengar pertanyaan Alex yang terkesan mengejek dirinya yang pemilih dan suka sama lelaki tampan. Dan apa tadi Alex bilang? Dirinya jauh lebih tampan dari Rendy? "Iya kamu memang tampan juga, tapi kelakuan kamu yang playboy juga tukang celup membuat ketampanan mu berkurang." batin Mutia mengingat kelakuan Alex.
"Tapi Rendy jauh lebih baik dan lebih menghargai wanita daripada anda."
"Dan Rendy sudah ada di hati saya sebelum saya memutuskan meminta anda untuk berpura-pura menjadi kekasih bohongan saya." Mutia mencoba untuk tidak emosi. Dia tetap berusaha tenang. Dia tidak ingin terpancing dengan perkataan Alex.
"Kalau Rendy sudah ada di hati kamu sebelumnya, kenapa justru kamu meminta ku jadi pacar pura-pura kamu?" Alex menaikkan sebelah alisnya menatap Mutia.
Mutia melirik Alex, dia sendiri juga bingung kenapa dirinya dulu tidak langsung meminta bantuan saja pada Rendy daripada Alex yang justru membawa petaka bagi dirinya.
Tapi waktu itu dirinya masih ragu pada Rendy, dia takut kalau perhatian yang Rendy berikan pada dirinya waktu hanya sebatas karena dirinya teman juga sahabat dari Freya.
Alex menyeringai saat tak kunjung mendapat balasan dari Mutia. Dirinya juga sadar kalau Mutia dari awal hanya meminta bantuannya saja, tidak memiliki perasaan lebih pada dirinya. "Mungkin hanya aku yang terlalu berharap kalau Mutia bisa aku takluk kan dan bisa menjadi milik ku seutuhnya." batin Alex yang merasa nyaman setelah dekat dengan Mutia.
"Sudahlah. Aku tadi mengajakmu kesini bukan untuk membicarakan itu."
"Dan ini sudah lima belas menit."
"Aku takutnya nanti masuk rumah sakit lagi karena dihajar habis sama Rendy." ujar Alex dengan terkekeh mengingat tempramen Rendy saat menghajarnya beberapa hari yang lalu.
Mutia melihat jam tangannya dan benar saja dirinya sudah meninggalkan Rendy sendiri bersama Bara selama lima belas menit. Dia berdiri dari duduknya dan berniat untuk kembali sebelum Rendy datang dan membuat keributan.
"Aku minta maaf." ujar Alex lirih
Mutia menatap Alex yang menundukkan kepalanya, seperti orang yang sungguh dalam suatu penyesalan.
"Aku minta maaf karena hampir menjebak mu."
__ADS_1
"Aku waktu itu sungguh takut kehilangan kamu."
Mutia mengerutkan keningnya mendengar pengakuan dari Alex. Bukannya dia tidak paham dengan maksud dari perkataan Alex. Dia paham, hanya saja dia tidak percaya Alex bisa mengatakan itu pada seorang wanita. Apalagi dirinya yang jauh dari wanita-wanita yang pernah Alex kencani.
"Apa maksud kamu takut kehilangan?"
"Nggak mungkinkan kamu jatuh cinta sama aku yang bukan seperti wanita ideal mu?" Mutia begitu penasaran, apa yang membuat Alex bisa takut kehilangan dirinya dan jatuh cinta pada dirinya.
Alex terkekeh dan menatap Mutia yang berdiri tidak jauh darinya. Dia menatap Mutia intens.
"Aku tidak bilang kalau aku jatuh cinta sama kamu."
"Aku hanya bilang kalau aku takut kehilangan kamu."
Mutia memejamkan matanya sejenak, "Bodoh." rutuk Mutia dalam hati yang begitu kepedean kalau Alex jatuh cinta pada dirinya.
"Aku hanya penasaran saja sama kamu."
"Apa yang Rendy lihat hingga dia bertaruh untuk mendapatkan kamu."
"Karena setahu aku, Rendy tidak pernah dekat dengan wanita lagi setelah mantan kekasihnya meninggalkan dirinya demi lelaki lain."
"Dia bukan memilih kamu karena kamu wanita yang dijodohkan dengan dia sejak kecil kan?"
Mutia bergeming mendengar perkataan Alex. Gerakan bola matanya menunjukkan ketakutan. Takut apa yang dikatakan Alex itu benar, kalau Rendy memilihnya karena sudah dijodohkan dengan dirinya semenjak kecil. Dan soal Rendy yang tidak pernah dekat dengan wanita manapun, sungguh membuat hatinya tiba-tiba bimbang sendiri.
"Ck..Baru dibilang begitu saja sudah terlihat bimbang."
"Nggak tulus kamu sama Rendy."
"Nggak cinta kan kamu sama Rendy?" Alex berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat pada Mutia.
"Aku cinta sama Rendy."
"Dan aku percaya kalau Rendy juga cinta sama aku."
"Dia suka sama aku." teriak Mutia yang entah kenapa tidak suka dengan perkataan Alex yang mengatakan kalau dirinya tidak tulus mencintai Rendy.
Alex tertawa dan menepuk pelan pundak Mutia. "Aku tahu kamu suka sama Rendy, seperti Rendy yang suka sama kamu."
Alex menatap Mutia intens, "Berbahagialah dengan pernikahan kalian, dan maafkan aku atas kelakuan ku kemarin."
Mutia membalas tatapan Alex yang terlihat begitu berbeda dari biasanya yang dia lihat. Tatapannya begitu tulus dan ada luka didalam tatapan itu.
"A-Alex..." Mutia tergagap sendiri, dia bingung harus betanya apa.
Alex tersenyum tipis, "Kamu memaafkan aku kan?"
Mutia sepontan mengangguk mendengar ucapan maaf dari Alex yang begitu tulus.
Alex mencium kening Mutia membuat Mutia refleks mendorong Alex. Dirinya takut ada yang melihatnya dan itu sungguh tindakan yang salah. Padahal Alex tahu kalau dirinya dan Rendy sudah menjadi sepasang suami istri saat ini.
Alex tertawa lagi untuk menyembunyikan lukanya. Bukan luka karena bekas bogeman dari Rendy, tapi luka di hatinya.
"Biasa saja kali Nona."
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan aku."
"Tapi tidak seperti itu juga." sungut Mutia dengan menatap Alex garang.
"Iya maaf."
"Terima kasih sudah memaafkan aku."
"Semoga pernikahan kamu selalu damai dan bahagia."
"Maaf aku tidak bisa datang di acara pesta pernikahan kamu." ucap Alex dengan masih menampilkan senyum walau hanya senyuman tipis.
__ADS_1
"Kenapa tidak datang?" tanya Mutia yang begitu penasaran melihat perubahan raut wajah Alex yang tidak seperti biasanya. Saat ini Alex terlihat sedih meski bibirnya memaksakan untuk tetap tersenyum.
"Aku besok akan meninggalkan negara ini."
"Aku ingin keliling dunia untuk bersenang-senang sebelum mendapatkan wanita seperti dirimu."
"Kenapa kamu pergi?"
"Dan kenapa harus seperti aku?"
Keduanya sedari tadi masih saling menatap satu sama lain. Yang satu menatap penuh penasaran dan satunya lagi menatap penuh luka.
Alex tersenyum dan mengacak rambut Mutia untuk menghilangkan rasa canggung dan luka dihatinya. "Tidak apa, aku pergi karena ingin."
Alex melihat jam tangannya dan sudah hampir setengah jam mereka berbincang. "Sudah dulu, aku pergi. Jaga diri kamu."
Setelah berpamitan, Alex pergi begitu saja dari hadapan Mutia. Dirinya begitu sakit, saat dirinya mulai jatuh cinta, tapi wanita yang dicintainya tidak meliriknya sama sekali dan hanya menganggapnya sebagai pacar pura-pura saja dan itu sudah berakhir semenjak dirinya begitu lancang membuat tindakan diluar batas.
"Alex tunggu!!"
Bughhh
Mutia menubruk tubuh Alex dari belakang dan memeluk tubuh lelaki itu dari belakang.
"Maafkan aku."
"Maaf karena tidak bisa membalas cinta kamu."
Alex tersenyum kecut mendengar perkataan Mutia. Dilihatnya tangan Mutia yang melingkar di perutnya. Dia tahu, sampai kapanpun Mutia tidak akan bisa membalas cintanya. Hanya dirinya saja yang salah, jatuh cinta pada wanita yang sudah memiliki pria lain dihatinya.
"Tidak perlu minta maaf." Alex melepas pelukan tangan Mutia dari perutnya.
"Cepat kembali."
"Aku yakin saat ini Rendy sudah mengeluarkan taringnya kalau sampai kamu tidak kembali juga." imbuh Alex dengan tawa ciri khasnya.
"Tapi kamu..." Mutia sungguh merasa bersalah saat ini. Dia seperti sudah mempermainkan perasaannya pada Alex dan membuat Alex terluka.
"Aku tidak apa."
"Cepat turun dan kembali."
"Aku tidak mau wajah tampan ku rusak lagi karena Rendy." Alex setengah mendorong pelan Mutia untuk segera turun dari roof top.
Mutia akhirnya pergi dan turun dari roof top. Tapi sebelum kembali masuk ke gedung, Mutia menatap Alex yang terlihat masih bergeming ditempatnya dengan membelakanginya.
"Alex!!!"
Alex menoleh kebelakang mendengar teriakan Mutia.
"Terima kasih."
"Kamu juga berhak bahagia."
Alex tersenyum kecil dan mengangkat kedua jempol tangannya menanggapi perkataan Mutia.
"Sampai ketemu." Mutia melambaikan tangannya pada Alex dan bergegas turun dari roof top untuk kembali ke ruangan Rendy sebelum tempramen Rendy meledak karena sudah ditinggal lama, tidak sesuai dengan waktu yang sudah Rendy tentukan, lima belas menit.
"Kamu berhak bahagia." gumam Alex mengulangi perkataan Mutia.
"Iya..Kamu memang berhak bahagia Alexander."
Hufftttttt
"Berangkat sekarang sajalah."
"Biar aku cepat menemukan kebahagiaanku sendiri."
__ADS_1
"EROPA!!! I''m cooming!!!"