Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Cupang Merah


__ADS_3

Freya yang duduk di sofa santai yang ada di walk in closet menatap Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang.


"Tangkap!!" Bryan melempar handuk kecil yang tadi dipegangnya ke arah Freya.


Freya yang tadi tengah asyik memandangi tubuh tegap dengan dada bidang dan berbentuk kotak-kotak layaknya roti sobek yang menggiurkan untuk diraba dan dipegang langsung buyar saat handuk yang dilempar Bryan mengenai wajahnya.


Freya mendengkus kesal pada Bryan yang tengah mengganggu matanya melihat pemandangan yang begitu menggiurkan dan begitu membakar hawa panas di tubuhnya.


"Usap itu liur nya yang keluar."


Refleks Freya mengusap bibirnya yang dia kira beneran mengeluarkan air liur menggunakan handuk yang Bryan lempar tadi.


Bryan terkekeh pelan melihat ekspresi Freya yang kebingungan karena handuknya kering tidak basah sama sekali.


Freya menatap Bryan yang sudah berdiri di sampingnya. "Mas Bryan membohongi aku ya." sungut Freya mendelik tak suka dengan muka cemberut.


"Aku nggak bohong. Aku hanya bercanda." Bryan duduk di samping Freya.


"Tolong keringkan rambut ku!" pinta Bryan yang sedikit menunduk mendekatkan kepalanya pada Freya.


Meski Freya kesal pada Bryan dia tetap saja melakukan perintah Bryan, mengeringkan rambut suaminya menggunakan handuk.


"Sayang, nanti tolong tutupi bekas cu pang di leher aku ya." pinta Bryan disela rambutnya yang masih di keringkan oleh Freya.


"Kenapa harus ditutupi sih?" tanya Freya yang menahan tawa mengingat kemarin dia dengan sengaja memberi tanda merah keunguan di leher Bryan. Meski pakai kemeja dan dasi tetap saja masih kelihatan. Dan hari ini warna itu begitu matang. Benar-benar kontras dengan kulit Bryan yang putih.


"Malu sayang. Kamu kemarin bikinnya nggak yang lebih bawah tapi tepat di leher. Mana kelihatan banget lagi ini." Keluh Bryan sambil menunjuk bekas cu pang yang Freya berikan.


"Baru satu saja sudah mengeluh, terus apa kabar punya ku yang banyak ini." Freya mendongak dan sedikit menarik lengan bajunya ke bawah hingga menampakkan leher jenjangnya juga bahu kiri yang begitu putih mulus dengan titik merah yang begitu banyak yang belum sempat Freya tutupi dengan foundation.


Bryan menelan salivanya kasar saat melihat Freya yang dengan percaya drinya memperlihatkan leher dan bahunya. Bryan mendekatkan wajahnya pada leher Freya bersiap untuk menambah tanda lagi.


"Mas Bryan mau apa?" geram Freya sambil mendorong kening Bryan pelan supaya sedikit menjauh dari dirinya.


"Ini masih pagi dan hilangkan pikiran mesum yang ada di otak Mas Bryan." kata Freya sambil membenarkan kembali bajunya yang tadi dia buka sendiri.


"Mesum sama istri sendiri kan tidak apa sayang." ujar Bryan yang menarik Freya kepelukan nya, diciuminya wajah Freya dengan gemas. Apalagi pipi Freya semakin chubby juga badannya sedikit berisi membuat Bryan ingin selalu memeluk dan mencubit manja tubuh Freya.


"Iya tidak apa sih..Tapi ini sudah pagi dan juga sudah mandi semua."


"Sudah ayo pakai bajunya, habis itu aku bantu tutup itu merah yang ada di leher." ucap Freya yang pasrah dalam pelukan Bryan. Dia membiarkan Bryan memeluk dan mencium dirinya yang penting tidak melakukan hal lebih dari itu yang mengharuskan dia mandi lagi.


Kemarin saja sesampai dirumah,malamnya Bryan masih lanjut memberikan Freya hukuman hingga tengah malam. Dan Bryan melanjutkan hukumannya lagi sebelum adzan subuh berkumandang. Bryan benar-benar menghukum Freya sampai tidak bisa jalan. Tadi saat bangun pagi Bryan membantu Freya ke kamar mandi dan juga sekalian membantu Freya untuk mandi. Dan untungnya Bryan tidak bertingkah macam-macam saat di kamar mandi bersama dirinya.


"Ini hari sabtu, aku nggak ke kantor mau di rumah saja menemani kamu." kata Bryan yang semakin mengeratkan pelukannya pada Freya.


"Seenggaknya pakai baju dulu, Mas."


"Nanti kalau masuk angin bagaimana?" tanya Freya yang sudah merasa nyaman dengan pelukan yang Bryan berikan pagi ini.


"Kan ada kamu. Nanti kalau aku masuk angin tinggal minta kamu untuk ngerokin punggung aku." ujar Bryan sambil menghirup wangi shampoo yang Freya kenakan. Dia begitu suka dengan wangi kopi yang berasal dari rambut Freya.


"Sayang, shampoo yang kita pakai sama. Kenapa rambut kamu wanginya kopi banget sih?"


"Mana lembut dan wangi banget lagi." tanya Bryan dengan mengambil beberapa helai rambut Freya dan di taruhnya di antara hidung dan mulutnya.


"Aku kalau pakai kumis ganteng nggak?" tanya Bryan dengan menarik turunkan kedua alisnya.


Freya menoleh melihat Bryan yang memeluk dirinya dengan satu tangan sedang tangan satunya memegang rambut Freya yang di bikin kumis. Freya tertawa melihat kelakuan suaminya itu. Sejak kapan Bryan berubah ngelawak seperti itu??


"Kalau kumisnya lebat seperti itu cuma ganteng doang, tapi kalau kumisnya tipis seperti ini ganteng banget." kata Freya sambil menarik rambutnya dan membuat kumis tipis yang Bryan miliki terlihat ditambah rambut halus dan tipis di sekitar rahang Bryan membuat ketampanan suami Freya semakin meningkat.


"Aku suka kamu seperti ini." kata Freya sambil mengusap rahang tegas Bryan dan menatap kedua netra biru Bryan dengan senyum tipis.


"Kenapa suami aku ganteng banget, ya Allah?"


"Bagaimana aku nggak jatuh cinta sama dia?"


"Dia selalu membuat jantung ku selalu berdebar."


"Dia selalu membuatku nyaman meski terkadang dia membuat ku sakit di waktu bersamaan."


"Tapi dia yang selalu aku rindukan dan doakan setiap sujudku."

__ADS_1


"Suami ku, Abrisam Bryan Alvaro."


"Dan aku lebih suka kalau kamu selalu ada disamping aku saat susah maupun senang." balas Bryan yang langsung mencium bibir Freya dengan lembut.


Sebuah ciuman yang begitu hangat tanpa ada hasrat ataupun cumbuan yang lebih. Sekedar ciuman untuk menyalurkan rasa bahagia, rasa senang, rasa nyaman, rasa suka dan sepertinya juga rasa cinta meski keduanya belum sama-sama mengungkapkan isi hati mereka masing-masing.


Bryan melepas ciumannya dan menatap lekat kedua manik coklat milik Freya. Dia tersenyum sambil mengusap bibir Freya dengan ibu jarinya. Bryan kembali mencium Freya,namun saat ini di kening.


Freya memejamkan matanya merasakan kasih sayang yang Bryan berikan kepada dirinya yang begitu tulus. Meski Freya sendiri tidak tahu apakah Bryan mencintainya atau tidak. Tapi dilihat dari perhatian dan perilaku Bryan terhadap dirinya, Freya dapat merasakan kalau Bryan itu sebenarnya sudah mencintai dirinya namun gengsi saja untuk mengungkapkannya. Sama seperti dirinya yang malu mengakui kalau dirinya juga sudah mencintai Bryan.


"Ayah!! Bunda!! Boleh Maura masuk?" izin Maura yang sudah menongol dari balik pintu walk in closet mengintip Ayah dan Bundanya sambil tersenyum lebar.


Freya melepaskan diri dari Bryan dan memperbolehkan putrinya itu masuk ke kamar mereka.


"Kok Ayah belum pakai baju?" tanya Maura yang sudah berdiri di dekat Bundanya.


"Terus itu kenapa dengan leher Ayah?"


"Leher Bunda juga sama ada merah-merahnya dan lebih banyak." tanya Maura menunjuk leher Ayah dan Bundanya.


Freya dan Bryan saling pandang bingung mau menjelaskan seperti apa. Karena tidak hanya saat ini Maura tahu. Tapi Maura sering lihat dan kadang juga menanyakan hal yang sama seperti sekarang ini.


"Ayah!! Kenapa kita tidak tinggal di apartemen Bunda yang dulu saja supaya leher Ayah sama Bunda tidak merah-merah seperti ini." kata Maura memberi saran pada Ayahnya. Karena dia merasa kasihan pada Ayah dan Bundanya yang lehernya sampai merah-merah.


"Tapi kenapa cuma Ayah sama Bunda saja ya??"


"Bunda sih yang lebih sering."


"Itu kenapa sih, Yah?"


"Padahal yang lainnya nggak seperti Bunda." Maura terus saja bertanya kenapa dan kenapa pada sang Ayah yang nampak bingung bagaimana menjelaskannya itu.


"Yang lain jelas nggak seperti ini karena cuma Ayah kamu saja yang bringas sampai membuat kulit Bunda kamu memerah seperti ini Maura."


"Ayah kamu kalau sudah melihat Bunda seperti kucing yang di beri makan ikan asin."


"Langsung disikat sampai habis." gerutu Freya lirih mengingat dirinya saat ini kesulitan untuk berjalan, ditambah punggungnya begitu sakit juga sesekali perutnya terasa kram.


"Bunda tadi bicara apa sih?" tanya Maura yang hanya samar-samar mendengar gerutuan Bundanya. Sedangkan Bryan terkekeh pelan saat mendengar gerutuan Freya yang mengatain dirinya.


"Ngomong soal kucing, saat ini Oma di kurung di taman belakang bersama kucing yang banyak banget Bun, Yah." kata Maura dengan semangatnya.


"Oma nangis minta di keluarin sama Opa dan Opa diam saja malah asyik baca koran." imbuh Maura yang masih asyik bercerita.


"Oma tadi juga manggil-manggil nama Ayah juga loh." lanjut Maura menatap Ayahnya.


"Mas Bryan nggak menghukum Mama kan?" tanya Freya yang baru mengingat perbincangan Bryan dengan Rendy di telophon waktu Bryan baru selesai menggagahi dirinya.


Bryan hanya mengangkat bahunya acuh dan berjalan mengambil bajunya untuk bersiap melihat keadaan Mamanya yang pasti saat ini sudah nangis kejer.


Tanpa menutupi bekas kemerahan yang ada di leher, Dengan berjalan tertatih, Freya mengajak Maura untuk turun ke taman belakang melihat kondisi terkini Mama Lea.


"Astaghfirullah, Mama!!" pekik Freya yang begitu terkejut melihat kondisi Mama mertuanya yang terlihat begitu menyedihkan.


Bagaimana tidak menyedihkan, saat ini Mama Lea masih dengan memakai piyama tidurnya dengan rambut acak-acakan, mata sembab sepertinya dari tadi menangis terus berada di dalam kandang kucing.


Dan kucing yang ada di dalam kandang itu bukan sembarang kucing, bukan jenis kucing persia ataupun angora, tapi jenis kucing liar dan langka. Yaitu, kucing caracal, kucing savannah yang mirip seperti macan tutul, kucing pasir, kucing canadian lynx, black footed cat, kucing geoffroy, kucing serval dan juga bayi macan kumbang di taruh di satu tempat.


Padahal semua penghuni rumah tahu kalau Nyonya Abrisam itu takut sama kucing dan sekarang Nyonya Abrisam justru terkurung di kandang kucing liar.


"Pasti ini kerjaan Mas Bryan. Dan sejak kapan kucing-kucing liar ini berada di rumah? Kapan belinya? juga sejak kapan Mama di kurung disitu?" batin Freya bertanya-tanya.


"Freya!!! Akhirnya kamu muncul juga. Cepat panggil anak durhaka itu kesini? Cepat!!!" perintah Mama Lea dengan teriak-teriak. Air matanya juga terus menetes membuat mata Mama Lea semakin bengkak dan sembab.


Freya mendekat ke kandang dadakan itu karena baru pagi ini dia melihat kandang yang begitu besar berada di halaman belakang rumah.


"Sejak kapan Mama di kurung disini?" bukannya segera memanggil Bryan Freya justru bertanya karena penasaran.


"Mama nggak tahu dan nggak ingat. Bangun-bangun Mama sudah ada disini." jawab Mama Lea


"Sudah cepat panggil suami mu sana!! Mama sudah tidak kuat kalau lama-lama disini." geram Mama Lea pada menantunya yang tak kunjung memanggil Bryan.


"Cepat Freya!!! Mama takut ini." teriak Mama Lea saat seekor Geoffroy mendekatinya. Mama Lea berusaha naik ke pagar kandang besi itu untuk menghindar.

__ADS_1


Freya justru tertawa melihat Mama mertuanya yang ketakutan itu. Menurutnya saat melihat Mama mertuanya ketakutan itu begitu lucu dan langka. Karena biasanya Freya melihat Mama Lea dalam keadaan cuek dan dingin.


"Dosa tidak ya menertawakan mertua." batin Freya bertanya.


"Nggak usah ketawain Mama kamu Freya!! Cepat panggil suami kamu."


"Anak durhaka,beraninya menghukum Mama nya sampai seperti ini." geram Mama Lea karena mendapat hukuman di kurung dengan hewan yang dia takuti. Lebih baik cuma memberi makan saja dia masih mau, tapi kalau di kurung seperti ini siapa juga yang mau.


"Memang Mama saja yang mendapat hukuman."


"Freya juga dapat, Ma. Bahkan membuat Freya susah buat berjalan."


"Mana sakit banget lagi yang dibawah juga punggung Freya." keluh Freya sambil mengelus punggungnya. Dia sampai lupa tidak kunjung memanggil Bryan.


"Sudah dapat Mama perkirakan kalau hukuman yang kamu dapat itu justru membuat mu keenakan. Buktinya tubuhmu sudah seperti kucingnya Bryan." cibir Mama Lea yang masih nangkring di atas pagar kandang tidak bisa keluar.


Freya hanya cengar-cengir saja sambil main sama kucing yang mendekat dari luar pagar bersama Maura juga.


Papa Abri dan juga Rendy serta beberapa pengawal yang berada tidak jauh dari mereka terlihat sedang membicarakan Freya dan Mama Lea.


"Bryan benar-benar gila. Menghukum Mamanya sampai segitunya hanya karena Freya di jadikan model." Papa Abri geleng kepala mengingat semalam.


Bryan, anaknya tadi pas tengah malam mendatangi kamarnya hanya untuk memindahkan sang Mama tidur di kandang yang telah Rendy dan anak buahnya siapkan dari semalam. Kandang yang berisi hewan kucing liar, dimana hewan yang bernama kucing itu adalah hewan yang paling ditakuti oleh Mama Lea. Mau melarang tapi memang istrinya itu kelewatan tidak memberi tahu anaknya terlebih dahulu yang mempunyai sikap posesif terhadap pasangan.


"Dan itu lihat Freya!!" sontak Rendy dan beberapa pengawal menatap Freya yang tengah asyik bermain dan memberi makan kucing tanpa memperdulikan Mama Lea yang meminta tolong untuk segera dipanggilkan Bryan.


"Saya yakin kalau Freya semalam di gempur habis-habisan sama Bryan." sambung Papa Abri yang melihat tubuh Freya penuh dengan tanda merah.


"Tak hanya semalam, Tuan. Selesai acara kemarin Tuan Bryan langsung menyerang Nona Freya." imbuh Rendy saat mengingat dirinya yang sedang sibuk mengurus pemindahan hewan peliharaan Bryan ke halaman rumah diminta segera datang ke stasiun TV untuk mengantarkan baju buat dirinya. Dan Rendy langsung paham kalau Tuan Mudanya itu habis menuntaskan hasratnya dengan sang istri.


Papa Abri mengangguk membenarkan, karena dia sudah paham benar tabiat anaknya itu semenjak mengenal dan menikah dengan Freya. Padahal dulu Bryan tidak over begitu.


"Hai anak durhaka. Cepat keluarkan Mama dari sini!" teriak Mama Lea saat melihat Bryan datang mendekat ke arahnya, salah lebih tepat ke arah Freya.


Melihat Bryan datang, Papa Abri dan Rendy mendekat juga. Mereka ingin melihat kelanjutan amarah Bryan.


"Sayang!! Berdiri kamu." pinta Bryan dengan menepuk pundak Freya yang sedang berjongkok memberikan makan pada kucing.


"Sebentar..ini masih memberi makan dulu." Ujar Fteya yang masih asik dengan kucing liar.


"Berdiri sekarang atau aku masukkan juga kamu ke kandang bersama Mama juga." ancam Bryan.


Freya langsung berdiri dan meninggalkan makanan kucing begitu saja. Dia memang tidak takut kucing, tapi kalau di kurung dengan kucing liar Freya tidak mau lah.


"Pergi ke toilet dan pakai ini." perintah Bryan menatap tajam pada Freya.


"Apa ini?" tanya Freya


"Kenapa kamu memberikan aku foundation?" tanya Freya lagi setelah tahu apa yang Bryan kasih tadi.


Bryan mendengkus kesal dan melirik Papa dan Rendy serta beberapa pengawal sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat Freya langsung mengambil langkah seribu pergi dari sana menuju toilet.


"Bodoh kamu Freya..bodoh!!" Freya memukul pelan keningnya berulang kali mengingat keteledorannya.


"Kenapa kamu sampai lupa kalau memiliki bekas cu pang merah segini banyaknya." gerutu Freya menatap dirinya dari pantulan cermin.


"Pasti Papa, Rendy dan beberapa pengawal tadi melihatnya."


Aaarrgggghhhh


Jerit Freya tertahan, dia begitu malu kalau harus ketemu orang-orang itu.


"Ini semua salah Tuan Muda. Titik tidak ada koma."


"Tuan Muda yang seharusnya di salahkan."


🍁🍁🍁


Have a nice day


Thanks for like, comment, vote and gift


big hug from far away 🤗🤗🤗

__ADS_1


dewi widya


__ADS_2