
Hari minggu yang cerah di pagi hari. Bryan berencana mengajak ketiga anaknya serta istri tercintanya jalan-jalan di taman komplek sekalian piknik di tempat yang gratis mengingat di taman komplek ada danau buatan meski kecil. Dan saat ini terlihat Maura juga baby Attar di halaman rumah mewah tiga lantai tengah main berdua sambil menunggu Ayah dan Bundanya siap.
Maura bukan main bersama baby Attar, atau lebih tepatnya Maura menuntun baby Attar yang sudah mulai bisa berjalan meski baru beberapa langkah harus terjatuh dan berhenti lagi.
"Ayo adik!! Sini!!"
Maura yang saat ini berjongkok sedikit jauh di depan baby Attar meminta sang adik melangkah mendekati dirinya. Dia juga menyunggingkan senyum pada baby Attar dan memberi semangat untuk adiknya itu untuk melangkah maju mendekati dirinya.
"Ayoo!!
Maura merentangkan kedua tangannya untuk menyambut baby Attar yang berjalan pelan menuju arahnya. Dengan memekik kegirangan baby Attar melangkah perlahan ke arah sang kakak yang sudah siap menangkap dirinya.
Sesekali baby Attar juga terlihat oleng dalam langkahnya dan untung saja tidak sampai membuat tubuh baby gembul yang memiliki pipi yang begitu menggemaskan tidak sampai terjatuh ke tanah.
"Ketangkap!!" seru Maura dengan di iringi tawa kedua anak yang memiliki gen dari pria yang saat ini tengah menata sepeda miliknya juga milik Maura di dalam bagasi mobil. Tak lupa juga membawa sekuter kecil berwarna biru untuk baby Attar.
Tubuh Maura saat ini tergeletak di atas tanah yang sudah dipasang paving karena tidak kuat menopang tubuh baby Attar, sedangkan diatas tubuhnya ada baby Attar. Kedua adik kakak itu terlihat masa bodo baju mereka akan kotor padahal mereka akan pergi ke taman.
"Astaga!! Kalian berdua ngapain?"
Bryan yang baru saja selesai memasukkan dan menata sepeda begitu kaget melihat kedua anaknya yang sudah ganteng dan cantik justru berguling di tanah. Dia sampai geleng kepala melihat kedua anaknya yang justru tertawa, bukannya menangis.
"Ayah tolongin!!! Adik berat banget, Maura nggak kuat."
Maura meminta tolong pada Ayah Bryan untuk mengambil baby Attar dari atas tubuhnya karena baby Attar justru memeluk dirinya. Mau digulingkan dan berpindah posisi Maura juga tidak tega mengingat saat ini keduanya bukan diatas kasur yang empuk, melainkan di atas lantai paving.
Bryan mengambil baby Attar yang terlihat begitu nyaman tiduran diatas tubuh kakaknya. Bryan membersihkan debu yang sekiranya menempel di baju dan tubuh yang terbuka pada jagoan kecilnya itu. Dan Maura sendiri segera bangun dan menepuk-nepuk lengan kaki juga baju belakangnya.
"Bunda lama banget sih, Ayah."
Maura mengeluh karena sedari tadi sang Bunda dan baby Candra tidak kunjung keluar dari dalam rumah. Padahal saat tadi dirinya keluar rumah duluan bersama baby Attar, Bunda Freya sudah siap, begitupun baby Candra juga sudah siap.
"Maura panggil Bunda dulu!!"
Belum juga Maura melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, sudah terlihat sang Bunda yang tengah menggendong baby Candra berjalan menuju arah mereka bersama Surti yang tengah membawa dua keranjang makanan.
Hari ini Freya membawa Surti untuk membantunya. Dia memilih maid yang usianya sudah tidak muda lagi dan pastinya sudah bersuami dan suaminya juga bekerja di rumah yang sama juga. Jadi aman saja dan memiliki resiko rendah bila terjadi hal yang tidak diinginkan daripada membawa maid yang usianya masih muda dan masih single. Bisa gawat dan bisa saja kalau Freya sampai lengah suaminya bisa ditikung.
Mengingat saat ini banyak berita yang baby sister ataupun pembantu yang menikung majikan perempuannya sendiri dan menjadikan majikan lelaki menjadi suaminya. Naik kasta dengan cara menikung. Freya tidak mau itu sampai terjadi pada keluarga kecilnya atau dirinya akan mencincang habis wanita yang ingin menikung suaminya dan direbusnya menjadi sup untuk makan singa.
"Maaf ya Bunda lama. Ayo kita berangkat." Freya menggandeng tangan Maura, melangkah menuju mobil yang sudah siap sejak subuh tadi.
"Oma nggak ikut, Bunda?" tanya Maura yang memang tidak melihat Oma Lea disana.
"Tidak sayang, Oma katanya mau berkebun saja di rumah."
Maura mengangguki jawaban Bunda Freya karena saat ini Oma Lea tengah menggeluti hobi berkebun bunga dan sayur hidroponik semenjak sang suami meninggal dan tidak bekerja lagi. Oma Lea menghabiskan hari-harinya untuk berkebun sekarang. Karena menurut Oma Lea, kegiatan dan hobi nya saat ini membuat otaknya jauh lebih fresh dan suasana hatinya selalu senang dan tenang.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, mobil yang membawa Bryan sekeluarga telah melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah menuju taman komplek yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka. Sekitar kurang lebih 800 meter.
Maura segera turun dari mobil dan berlari setelah mobil berhenti dan terparkir sempurna di lahan parkir yang disediakan di taman komplek. Maura terlihat begitu bahagia akhirnya dirinya bisa menikmati weekend di tempat umum di alam terbuka. Karena biasanya dirinya hanya menikmati weekend dirumah kalau tidak ya di mall. Namun saat ini dia begitu senang karena bisa menghirup udara pagi dan berbagi udara dengan warga sekitar di tempat yang menurutnya begitu nyaman dan tentunya indah sekali pemandangan yang ada di taman. Ada berbagai jenis bunga dan tanaman hias juga rumput yang dirawat dengan rapi.
__ADS_1
Baby Attar yang melihat sang kakak sudah berlari duluan meninggalkan dirinya terlihat menangis. Dia ingin mengejar kakak perempuannya itu yang sudah terlihat bermain dengan anak-anak kecil seusia Maura. Tapi karena langkah kakinya kecil dan baru bisa berjalan, akhirnya yang bisa baby gembul itu lakukan hanya menangis sambil menunjuk ke arah sang kakak.
"Yah..Ak Ola tut..Huwaaaa!!!!"
Bryan dan juga Freya menggelengkan kepalanya gemas melihat jagoan kecilnya menangis karena ditinggal kakaknya berlari duluan. Maklum saja Maura berlari duluan, karena pastinya gadis kecilnya itu merasa bebas bisa bermain di alam. Apalagi banyak teman seumuran dengannya bermain di taman. Pasti itu membuat Maura melupakan kedua orang tuanya juga adiknya.
"Ayo kita kejar kakak kesana!"
Bryan menggandeng salah satu tangan baby Attar dan membiarkan baby gembul itu melangkahkan kakinya sendiri secara perlahan. Diikuti Freya dari belakang yang tengah menggendong baby Candra.
Sedangkan Surti dan sang sopir, mereka berdua sibuk mengeluarkan sepeda juga ranjang makanan juga minuman dan perlengkapan lainnya untuk piknik dadakan yang jarang sekali Tuan Mudanya lakukan. Karena memang seluruh anggota keluarga Bryan bahkan seluruh pekerja di rumah kediaman Abrisam itu tahu kalau Bryan tidak suka mengunjungi taman umum. Menurut pria beranak dua itu, taman umum itu tempat yang kotor dan banyak kumannya. Tapi sekarang, justru Bryan lah yang mengajak keluarga kecilnya menikmati akhir pekan di taman umum sambil piknik. Aneh, tapi itulah Bryan. Kelihatannya pria yang selalu menjaga kebersihannya itu dan memang suka kebersihan saat ini sudah mulai hidup normal seperti manusia lainnya.
Maura yang melihat sepeda miliknya sudah siap untuk diajak berkeliling taman, segera melangkah cepat mendekati sepeda miliknya.
"Maura!! Makan dulu sayang, baru naik sepeda!" pinta Freya yang melihat gadis kecilnya tidak sabaran ingin menaiki sepeda.
"Maura belum lapar, Bunda."
Maura melangkah kearah sang Bunda yang tengah duduk dibawah pohon di atas rumput beralaskan tikar kecil berwarna biru yang sudah disiapkan oleh Surti tadi.
"Maura minum susu saja."
Maura meraih gelas dan memberikan sekotak susu plain kepada Bundanya. Dia meminta Bundanya untuk membuka dan menuangkan susu plain ke dalam gelas yang tengah dia pegang.
Maura langsung meneguk habis susu itu dalam beberapa kali teguk. Dia lantas kembali menaiki sepeda miliknya setelah memakai helem berwarna pink dan mengayunkan pedal sepeda itu dengan lihainya.
Lagi-lagi baby Attar ingin melakukan apa yang kakaknya itu lakukan. Menaiki sepeda. Dia kembali menangis lagi dan itu membuat baby Candra yang tadinya tidur akhirnya terbangun dan ikut menangis.
"Ak Ola!"
Baby Attar terlihat sesenggukan menatap Bundanya. Dia ingin mengejar dan mengikuti sang kakak yang tengah naik sepeda. Dia juga ingin ikut naik sepeda.
"Mas itu anaknya. Aku lagi nyusu in baby Candra."
Freya meminta Bryan untuk mengajak baby Attar bersepeda, karena dirinya tengah sibuk memberi ASI untuk baby Candra yang terbangun dari tidurnya dan menangis karena mendengar suara tangisan baby Attar.
"Tapi aku lapar sayang, butuh energi buat menjaga anak-anak kamu." Bryan memelas pada sang istri kalau dia lapar.
Ya?! Memang Bryan lapar saat ini. Karena tadi pagi dirinya tidak mengganjal sedikit perutnya dengan biskuit ataupun buah. Jadi saat ini cacing di perutnya sudah meronta untuk minta diisi amunisi.
"Ya sudah makan dulu. Ajak sekalian anaknya makan!" seru Freya yang gemas dengan suaminya itu.
Bryan menelisik dua keranjang ada di dekat Freya. Dia melihat beberapa makanan juga minuman di dua keranjang itu. Akhirnya dia mengambil sekotak jus jambu merah dan dituangkannya kedalam gelas. Lebih baik minum jus buah dulu baru makan setelah membakar keringat.
"Hai, jagoan! Minta tidak?"
Bryan menunjukkan gelas yang berisi jus buah jambu merah pada baby Attar yang masih saja mengeluarkan air matanya meski sudah tidak ada suara tangisan. Dia tahu jagoan kecilnya itu paling suka minum jus jambu merah seperti dirinya semenjak usia delapan bulan.
Sontak saja baby Attar langsung berdiri dari duduknya dan berjalan pelan mendekati sang Ayah yang tengah memegang gelas yang berisi jus jambu merah kesukaannya.
Sepertinya anak kecil itu kelaparan karena sudah menangis dua kali dalam waktu dekat pagi ini. Buktinya dia sudah menghabiskan setengah gelas jus jambu merah yang seharusnya Ayah Bryan minum, justru baby Attar yang minum. Kelihatannya juga baby Attar sudah melupakan tentang keinginannya yang ingin naik sepeda seperti Maura.
__ADS_1
"Yah! ik da, Yah"
Ternyata salah, bayi gembul nan menggemaskan itu lagi-lagi merengek pada sang Ayah ingin naik sepeda setelah perutnya diisi amunisi.
Bryan akhirnya mengajak jagoan kecilnya itu naik sekuter mini setelah menuangkan lagi jus jambu kedalam gelas yang tadi isinya sudah habis setengah karena diminum baby Attar.
Baby Attar terlihat begitu senang menaiki sekuter mini berwarna biru miliknya. Bukan dinaiki sih tepatnya, tapi dipakainya untuk tumpuan dirinya biar bisa berjalan sedikit cepat meski terlihat kesusahan. Sesekali Bryan juga menaikkan tubuh baby Attar keatas sekuter dan dipeganginya jagoannya itu supaya tidak terjatuh.
Kenapa tidak bawa mobil-mobilan saja untuk dinaiki baby Attar biar mempermudah Ayah dan Bundanya? Kan tinggal dipencet pakai remot?
Bukannya Bryan tidak mau membawa mobil-mobilan yang sudah dia beli untuk baby Attar, tapi ini tempat umum dan Bryan tidak ingin nanti membuat ada salah satu anak kecil yang iri karena tidak bisa menaiki bahkan memilikinya.
"Jangan lama-lama mainnya. Jam sepuluh kita harus pulang, menyambut Papa dari baby Candra yang katanya pulang hari ini."
Bryan dan Maura hanya menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jari jempolnya mendengar seruan dari Bunda Freya.
*****
Tepat pukul sepuluh Bryan beserta anak dan istrinya langsung kembali ke rumah setelah puas main di taman dan juga piknik dadakan di taman untuk sekedar sarapan pagi.
Bryan dan Maura memilih pulang menaiki sepeda mereka masing-masing mengingat jaraknya yang tidak begitu jauh. Sedangkan Freya dan kedua bayi yang memiliki selisih usia delapan bulan itu naik mobil beserta Surti.
Baby Attar, jangan ditanya. Sepanjang jalan pulang, bayi gembul itu menangis lagi melihat Ayah dan kakak nya lebih memilih naik sepeda daripada naik mobil. Kelihatan sekali kalau jagoan Bryan dan Freya itu ingin bersepeda juga. Padahal tadi sudah puas naik sepedanya waktu di taman komplek.
Sepeda yang Maura dan Bryan kendarai masuk melewati gerbang rumah bersamaan dengan sebuah mobil yang sangat Bryan kenal. Siapa lagi kalau bukan mobil milik Bara, asistennya yang slengekkan dan pastinya kompor mleduk.
"PAPA!!!!"
Teriak Maura kencang saat melihat siapa orang yang baru saja turun dari mobil yang masuk kedalam bersamaan dengan dirinya tadi. Gadis kecil itu langsung turun dari sepeda miliknya dan menjatuhkan sepeda itu layaknya seorang kekasih yang mencampakkan kekasihnya karena melihat yang lebih dari segalanya.
Maura berlari ke arah Rendy yang menyunggingkan senyum tipis sambil merentangkan kedua tangannya. Bersiap menyambut Maura yang terlihat ingin menangis itu.
GREPP
Maura langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Rendy dengan erat setelah tubuhnya masuk kedalam pelukan sosok Papa yang kaku seperti robot. Dua bulan lebih pergi tanpa kabar sungguh membuat Maura sangat merindukan suami dari mendiang Mama Mutia.
"Maura kangen sama Papa. Kenapa Papa baru pulang? Padahal kan Mama baru pergi, kenapa Papa ikut pergi juga kemarin dan baru pulang?"
Muara menangis dalam pelukan Rendy. Gadis kecil itu melesakkan wajahnya pada dada sosok Papa satu orang anak itu. Dia begitu merindukan Paman Robotnya yang sekarang sering dia panggil Papa semenjak Paman Robotnya menikah dengan Mama Mutia.
Rendy memejamkan matanya sambil mengusap rambut kepala Maura juga punggung Maura dengan lembut. Sesekali dia juga mencium puncak kepala Maura dengan penuh kasih sayang. Dia tidak pernah berpikir kalau Maura begitu sangat merindukan dirinya saat ditinggal pergi tanpa kabar seperti kemarin.
"Maafkan Papa. Papa juga kangen sama Maura." Rendy kembali mencium puncak kepala Maura. Dia berusaha untuk tidak menangis lagi untuk saat ini. Dia sudah belajar ikhlas untuk menerima semua yang terjadi dalam hidupnya dimasa lalu bahkan di masa yang akan datang pun Rendy sudah belajar ikhlas menerima.
Freya yang akan masuk kedalam rumah langsung menghentikan langkahnya dan mendekati mobil yang terparkir tepat dibelakang mobil yang tadi ditumpanginya. Dia mengerutkan keningnya melihat anak laki-laki yang usianya sekitar sepuluh tahun baru saja turun dari mobil yang sama dengan mobil yang Rendy tumpangi.
"Dia siapa??"
__ADS_1