
Mama Lea menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang keluarga setelah seharian penat dengan jadwal pertemuan yang padat dengan beberapa koleganya. Diambilnya nafas panjang dan dihembuskannya perlahan untuk me-rileks kan tubuhnya. Nyaman, itu yang Mama Lea rasakan saat ini. Tapi lebih nyaman lagi kalau dirinya merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya.
"Tumben Mama baru pulang."
Mama Lea membuka matanya saat mendengar suara Papa Abri yang sudah duduk di sebelah.
"Hmmm." Mama Lea kembali memejamkan matanya.
"Padat banget jadwal hari ini."
"Ingin rasanya Mama mengurangi kegiatan Mama, tapi Caca tidak mau mengambil alih kalau belum lulus."
"Dan Freya, dia tidak diizinkan Bryan untuk bekerja selama hamil ini." Mama Lea menghembuskan nafas kasar.
"Papa yang enak, Bryan sudah bisa diandalkan."
"Ada Rendy dan Bara juga yang siap membantu kapan saja."
"Kalau Mama, boro-boro ada yang membantu."
"Nengokin aja tidak." keluh Mama Lea yang memang semenjak Bryan menikah sudah jarang memegang BRATA tv. Sudah jarang membantu dirinya di BRATA tv.
"Bryan kan memang harus mengurus perusahaannya dia sendiri."
"Mama tahu kan Alex sekarang sudah mengundurkan diri dari ABA Corp."
"Bryan sekarang fokusnya tidak hanya di BRATA Grup juga BRATA tv saja, tapi di ABA Corp juga."
"Jadi wajar saja kalau Bryan mengurangi kegiatannya di BRATA tv." Mama Lea mendengkus kesal mendengar perkataan suaminya yang secara tidak langsung membela Bryan.
"Kan di ABA Corp sudah ada Rendy."
"Bukannya Rendy sudah ditetapkan sebagai CEO di sana kemarin setelah rapat."
"Seharusnya Bryan sudah tidak memikirkan perusahaannya itu."
"Tangan kanannya sendiri sekarang yang memegang ABA Corp." Mama Lea terlihat tidak terima kalau Bryan tidak mau membantunya lagi di BRATA tv dan memilih mengurusi perusahaannya yang didirikan sendiri oleh Bryan.
"Rendy memang sudah ditetapkan sebagai CEO di ABA, tapi belum resmi karena Alex belum tanda tangan pengalihan jabatan."
"Dan Bryan juga meminta Rendy untuk men-training Bara yang akan dijadikan pengganti Rendy."
"Mama tahu sendiri Bryan tidak mau sembarangan mempekerjakan karyawan apalagi ini bekerja sebagai tangan kanannya, asisten pribadinya." jelas Papa Abri mengingat Bryan yang selektif dalam memilih karyawan yang bekerja langsung dengannya.
"Bryan terlalu selektif, padahal dari remaja mereka selalu bersama." dengus Mama Lea.
Papa Abri hanya mengangkat kedua bahunya. Karena menurutnya apa yang dilakukan Bryan itu sudah benar. Sudah sesuai dengan standar operasional prosedur atau biasa disebut SOP.
"Freya kemana, Ma?"
"Papa pulang tadi tidak melihat dia juga Maura, Caca juga tidak ada dikamar nya." tanya Papa Abri yang memang tidak melihat anak menantu dan cucu juga anaknya sendiri.
"Papa tidak salah tanya sama Mama?" Mama Lea menatap Papa Abri yang terlihat menyerngit bingung.
"Bukannya Papa sudah pulang dari tadi?" Papa Abri menganggukkan kepalanya.
"Terus kenapa Papa tanya sama Mama yang baru pulang?"
"Jelas-jelas Mama tidak tahu."
"Kenapa juga tanya sama Mama." sungut Mama Lea dan meringkuk di sofa. Dirinya benar-benar capek hari ini. Dirinya juga tidak mau berantem.
"Apa dia di rumah Mama lagi?" gumam Papa Abri mengingat sudah dua hari ini Freya selalu ke rumah Oma Ami setelah Bryan berangkat kerja.
"Mungkin..kelihatannya anak Papa sudah membuat menantu Mama marah lagi." tebak Mama Lea karena melihat perubahan sikap Freya saat melayani Bryan di meja makan dan selalu berada di rumah Oma Ami selama dua hari terakhir ini.
"Freya tak hanya menantu Mama saja, tapi juga menantu Papa."
"Ingat, dulu Mama tidak merestui dan menerima Freya seperti sekarang ini." Papa Abri tak terima dengan perkataan istrinya. Karena dirinyalah yang dulu menerima dan mengakui Freya sebagai menantunya.
Mama Lea cuek saja, karena apa yang dikatakan suaminya itu benar adanya. Mama Lea memilih diam dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"Kalau mau istirahat di kamar, jangan disini." tegur Papa Abri yang melihat istrinya justru tidur di sofa.
"Mama capek, kaki Mama sudah tidak sanggup untuk menaiki tangga."
"Dan kenapa juga itu liftnya tidak kunjung diperbaiki."
"Bikin malas saja naik-turun tangga." kesal Mama Lea yang kemarin liftnya tiba-tiba mati dan tidak bisa digunakan.
"Memang tidak Papa perbaiki, tapi akan Papa ganti."
"Papa sudah pesan lift baru."
"Mungkin dua tiga hari lagi baru sampai dan dikerjakan." ujar Papa Abri tanpa beban.
"Buang duit aja terus." gumam Mama Lea yang kesal tiap kali melihat suaminya mengeluarkan uang tanpa persetujuannya.
"Keluar uang kan bukan buat pribadi tapi buat keluarga juga."
"Sudah ayo bangun!! Ini masih sore."
"Pindah ke kamar." Papa Abri geram dan menarik kaki Mama Lea.
"Yang benar saja Papa."
"Sakit kaki Mama." pekik Mama Lea memegangi kakinya yang ditarik Papa Abri.
"Makanya cepat bangun."
__ADS_1
"Kalau mau istirahat, kalau mau tidur dikamar, jangan disini."
Bughhh
Papa Abri sontak melepaskan tangannya yang tadi memegangi kaki istrinya.
Mama Lea menghembuskan nafas perlahan dan menatap suaminya dengan tajam. Dilepasnya sepatu hak tinggi yang dikenakannya dan dilemparkannya ke sembarang arah.
"Habis kau Abrisam!!" pekik Mama Lea dan berdiri dari posisi jatuhnya tadinya.
Belum juga ada selangkah, Mama Lea jatuh lagi karena kakinya tersandung karpet juga sepatu yang dilemparnya tadi.
Papa Abri tertawa melihat istrinya yang jatuh lagi dan tidak jadi membalasnya.
"Papa kenapa tertawa?" tanya Bryan yang baru saja kembali dari kantor dan mendapati Papa Abri tertawa begitu puasnya. Karena jarang sekali Bryan mendapati Papanya tertawa seperti itu, biasanya hanya tersenyum saja.
"Mama kenapa duduk dibawah seperti itu?" Bryan begitu penasaran kenapa Mamanya sampai duduk dibawah sofa dengan rambut berantakan dan karpet yang menyingkap.
"Apa Papa tertawa karena Mama" batin Bryan karena hanya Mama Lea yang bisa membuat Papa Abri tertawa begitu puasnya.
"Mama kamu tidur di sofa dan jatuh." kata Papa Abri dengan masih menertawakan istrinya.
"Enak tidak Ma?"
"Bisa di replay lagi tidak?" ejek Bryan dengan menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Anak tidak tahu diri."
"Bisa-bisa meminta Mama kamu sendiri untuk mengulangi adegan jatuh."
"Pantas saja istrimu selalu marah sama kamu."
"Anak durhaka." sungut Mama Lea dengan melempar bantal sofa ke arah Bryan.
"Apa hubungannya coba dengan istri marah dengan anak durhaka."
"Tak ada kaitannya sama sekali." ucap Bryan dan berlalu menuju kamarnya.
"Terus kenapa Freya marah?" tanya Papa Abri yang penasaran kenapa menantunya itu marah.
Bryan menoleh dan menatap Papa juga Mamanya bergantian. "Freya bukan marah, dia hanya kesal karena keinginannya tidak aku turuti."
"Memang apa yang dia inginkan?" tanya Mama Lea yang sudah kembali berdiri, menatap penasaran keinginan apa yang Freya inginkan sampai Bryan tidak mau menurutinya.
"Freya ingin makan bakso mercon dan tidak aku izinkan."
"Aku tidak mau nantinya terjadi hal buruk kepada mereka berdua."
"Aku tidak mau nanti mercon nya meletus saat sudah dimakan." kata Bryan dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Papa Abri juga Mama Lea menatap tak percaya dengan apa yang baru saja Bryan katakan. Hanya karena bakso mercon dan dikiranya bakso mercon itu bisa meletus.
"Mama kira tadi Freya meminta sesuatu yang mahal dan sulit untuk didapat."
"Ternyata hanya ingin makan bakso mercon."
"Anak Papa sungguh keterlaluan." ucap Mama Lea.
Mama Lea mengambil handphonenya dan segera menghubungi kenalannya yang membuka kedai bakso.
"Sudah Mama pesankan."
"Mama tidak mau nanti cucu Mama ngeces terus karena apa yang diinginkan Bundanya saat ngidam tidak pernah dituruti sama Ayahnya." Papa Abri mengangguk setuju. Dirinya juga tidak mau nanti cucunya ngeces terus.
**********
"Mama!!!" Freya memeluk Mama Lea erat dengan air matanya yang menggenang dipelupuk matanya. Dirinya begitu senang karena Mama Lea begitu perhatian pada dirinya.
"Terima kasih Mama sudah membelikan Freya bakso mercon." ucap Freya yang sudah tidak mampu lagu untuk menahan air matanya yang kini sudah jatuh perlahan membasahi pipinya.
"Iya..Sudah ayo dimakan bakso nya." Mama Lea melepas pelukan Freya.
"Lain kali kalau ingin makan sesuatu atau beli sesuatu bilang sama Mama juga Papa."
"Nanti akan langsung kami belikan."
"Jangan minta suami kamu yang pelit itu." ujar Mama Lea yang kesal dengan Bryan yang tidak pernah menuruti keinginan ngidam Freya.
"Ini buat Maura yang mana Oma?" tanya Maura yang sudah duduk di meja makan, mendahului yang lainnya. Dilihatnya semua bungkus bakso bertuliskan bakso mercon semua dan dia tahu bakso mercon itu pedas dan dia lebih baik bertanya saja daripada salah ambil.
"Memangnya Maura dibelikan?"
"Ini semua loh bakso mercon semua."
"Semuanya pedas." goda Caca yang menyusul Maura di meja makan diikuti yang lainnya.
Maura mencebikkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca juga hidung yang sudah memerah bersiap untuk menangis. Dirinya tidak terima karena tidak dibelikan bakso juga. Karena sudah lama dirinya tidak makan bakso semenjak Bunda dan Ayahnya menikah.
"Omaaaaa!!!" Maura menangis pada akhirnya, mengira dirinya benar tidak dibelikan bakso juga.
"Caca kamu ini ya,suka sekali goda keponakan kamu." geram Mama Lea pada putrinya yang suka menggoda dan mengajari cucunya aneh-aneh.
"Ini buat Maura, Oma tadi memesankan bakso beranak khusus buat cucu Oma yang paling cantik dan pintar." Mama Lea membuka paper bag berukuran kecil yang berisi bakso beranak.
"Yeee....Maura juga dibelikan."
"Terima kasih Oma." ucap Maura dengan senangnya.
"Oma belikan khusus buat Maura. Wlekkkk!!" ejek Maura pada Caca dengan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Freya hanya geleng kepala melihat tingkah putrinya. Dirinya sendiri masih ragu untuk memakan bakso mercon, takut kalau suaminya nanti tahu dan memarahinya.
"Kenapa dilihat saja Freya? Ayo dimakan!" kata Papa Abri yang melihat Freya hanya mengaduk-aduk baksonya.
"Kamu takut sama Alvaro?" tebak Oma Ami dan Freya hanya mengangguk dengan tampang sedih karena takut kalau harus makan bakso mercon.
"Kalau kamu takut, sebaiknya cepat dihabiskan."
"Bryan sudah pulang soalnya." saran Mama Lea.
"Iya Freya, cepat dimakan."
"Bukannya kamu tadi senang saat Mama membelikan bakso mercon khusus buat kamu." Freya mengangguk, mengiyakan apa yang Papa Abri katakan.
"Ya sudah kak, cepat dimakan!" seru Caca yang sudah menghabiskan setengah bakso nya.
"Atau aku habiskan sekalian itu bakso punya Kak Freya." goda Caca dengan menarik turunkan kedua alisnya juga seringai jahatnya.
Freya yang memang sangat ingin makan bakso mercon sontak saja langsung melahap bakso mercon sebelum diambil Caca juga ketahuan Bryan, suaminya. Dirinya tidak ingin mensia-siakan kesempatan ini untuk kedua kalinya. Dilahapnya dengan rakus bakso mercon yang sudah sejak kemarin lusa dia inginkan.
Uhukkk Uhukkk
"Pelan-pelan Freya." tegur Oma Ami dan mendekatkan air putih hangat pada Freya.
Freya hanya mengangguk dan segera minun untuk melegakan tenggorokannya yang tersedak sambal karena makan begitu tergesa takut Bryan datang ke rumah Oma.
"Terima kasih Oma." ucap Freya setelah merasakan lega pada tenggorokannya.
Freya melanjutkan makan bakso nya, ini bakso yang kedua. Dia sudah menghabiskan satu porsi dan sekarang sudah membuka lagi, karena Mama mertuanya membelikan bakso mercon untuk dirinya tidak hanya satu porsi, tapi tiga porsi khusus untuk dia makan sendiri.
"Ayah sini!!!"
"Ayo kita makan bakso."
Teriakan Maura membuat sendok garpu yang sudah mau masuk ke mulut Freya sontak saja terjatuh karena kaget dan takut kalau sampai Bryan tahu dirinya makan bakso mercon.
"Sayang!! Kamu makan bakso." bentak Bryan dengan nada tinggi yang membuat Freya sontak ketakutan.
"Ayah!!" pekik Maura dan berdiri di atas kursi yang didudukinya tadi.
"Kenapa Ayah membentak Bunda?"
"Tak hanya Bunda yang makan bakso."
"Maura juga makan bakso dan yang lainnya juga makan bakso."
"Kenapa hanya Bunda yang Ayah bentak." sungut Maura yang tidak terima Bundanya dibentak oleh Ayahnya hanya karena makan bakso. Memang salahnya dimana makan bakso itu, pikir Maura.
"A_mmpphhh." Bryan tidak melanjutkan ucapannya karena Caca menjejali mulutnya dengan potongan bakso mercon yang banyak cabe nya. Dia tahu, kakak laki-lakinya ini paling tidak bisa makan pedas. Dengan menjejali mulut kakaknya dengan bakso mercon sudah pasti akan membuat kakaknya itu diam.
Uhukk Uhukkk Uhukkk
Bryan yang kepedasan langsung saja menyambar susu di depan mejanya Maura. Karena susu bisa menghilangkan rasa pedas di dalam mulut dan tenggorokan.
"Ayah!!! Itu susunya Maura kenapa diminum." pekik Maura yang melihat Ayahnya menghabiskan susu yang baru diminumnya sedikit, habis tanpa tersisa.
"Kau!!!!"
"Akan aku kirim kau besok ke London." Bryan begitu geram dengan adiknya yang dengan sengaja memberinya makanan pedas.
"Caca tidak akan kuliah di London."
"Caca akan tetap disini." ucap Papa Abri tegas yang tidak menginginkan jauh dari putri satu-satunya. Karena putrinya tinggal Caca dan harus selalu ada disisinya.
"Sudahlah Bryan nggak usah marah seperti itu." sahut Opa Surya menyela saat melihat Bryan yang akan membalas ucapan Papa Abri.
"Dan nggak usah membentak Freya."
"Freya hanya ingin makan bakso dan kamu melarangnya."
"Freya sedang mengandung anak kamu, dan setiap kali Freya menginginkan sesuatu yang layak dan bisa kamu beli sebaiknya kamu belikan."
"Apa kamu tidak pernah berfikir bagaimana dulu saat Freya mengandung Maura."
"Freya menjalani fase kehamilannya sendiri tanpa kamu dan sekarang saat Freya hamil lagi tapi justru kamu tidak pernah menuruti keinginan Freya."
"Suami macam apa kamu itu."
"Memiliki segalanya tapi tidak bisa membuat istri bahagia." ujar Opa Surya panjang lebar dan berlalu pergi begitu saja diikuti yang lainnya.
Maura digendong Papa Abri pergi dari sana dan hanya menyisakan Freya yang masih duduk dengan wajah menunduk dan Bryan yang berdiri diam dan mematung. Apa yang katakan oleh Opa Surya tadi sungguh membuat Bryan berpikir keras. "Apa benar dirinya tidak bisa membuat membuat Freya bahagia" batin Bryan menerka-nerka apa yang sudah dia lakukan selama ini sampai membuat Freya tidak bahagia.
Bryan memejamkan matanya, memencet pangkal hidungnya saat mengingat sesuatu saat dulu dirinya ingin mendapatkan Freya. Dirinya mengingat janji yang diucapkannya dulu pada dirinya sendiri.
"Suami macam apa kamu Bryan???"
"Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji ku sendiri."
🍁🍁🍁
have a nice day
big hug 🤗🤗🤗
Disempetin menghalu ditengah jadwal yang begitu padat, meski harus menyelesaikan satu bab dalam dua hari.
Maaf bisa baru up lagi 🙏🙏
Jaga kesehatan selalu 😉
__ADS_1