
Bryan berhenti sejenak di depan pintu yang terbuka sebelum masuk ke dalam rumah. Dipandanginya suasana di dalam rumah yang nampak sepi dan hanya terdengar suara Maura yang bernyanyi.
Bryan memejamkan matanya sebentar dan mengambil nafas dalam kemudian dia hembuskan perlahan. Dia benar-benar marah sama Papa Abri yang telah tega menyembunyikan masalah besar dari dirinya, padahal sudah tahu sejak awal sebelum dirinya memutuskan menikah dengan Freya. Masalah yang bisa saja membuat rumah tangganya retak kembali.
Bryan melanjutkan langkahnya dan mencoba tersenyum saat melihat anak dan istrinya di ruang keluarga sambil memutar lagu anak-anak.
"Ayah!!" Maura berlari dan merentangkan tangannya minta di gendong sama Ayahnya.
"Uchh..Kelihatannya cantiknya Ayah berat badannya sudah naik ini."
"Sudah makan berapa kali tadi?"
"Kenapa semakin berat?"
"Ayah sampai nggak kuat." goda Bryan dan menjatuhkan dirinya di sofa, di samping Freya yang duduk sambil tersenyum menatapnya.
"Kenapa lihatin suamimu terus?"
"Sudah kangen ya sama suamimu ini?" Freya mencibir bisikan suaminya yang pedenya selangit itu.
"Maura sudah makan berkali-kali tadi sama Bunda Ayah."
"Maura tadi juga menghabiskan rujak buah sama manisan yang dibeli sama Bun_,"
Cup.
"Ihhh...Kok Ayah nyium Bunda saja, Maura nya tidak dicium." protes Maura karena tidak mendapat ciuman dari sang Ayah, padahal dia tadi yang menyambut Ayah Bryan saat pulang. Ayahnya juga tidak terlihat mendengarkan cerita kegiatannya hari ini.
"Belum cantik, bukannya tidak."
"Sekarang cantiknya Ayah mau dicium dimana nih??"
"Di hidung, di kening, apa di pipi?" tanya Bryan dengan menunjuk apa yang di sebutkan nya tadi.
"Maura maunya dicium di tangan kanan Maura, terus kening, kedua pipi dan terakhir di hidung Maura." kata Maura dengan gaya imut nan manja.
Bryan melakukan apa yang diminta Maura. Diciumnya tangan kanan Maura, kemudian lanjut ke kening, kedua pipi dan terakhir hidung Maura.
"Ayah ihh..Nanti kalau hidung Maura tidak mancung lagi bagaimana?"
"Kenapa harus digigit segala sih." sungut Maura dengan wajah cemberut sambil mengusap hidungnya yang tadi di gigit sama Ayah Bryan namun tidak benar-benar digigit.
"Justru kalau di gigit itu nanti makin mancung."
"Bukan makin pesek seperti Bunda." ejek Bryan sambil melirik Freya yang makin berisi saja.
"Ayah ya...Bunda bukannya pesek, tapi pipinya Bunda saja yang semakin maju." bantah Freya yang tidak terima dibilang pesek karena nyatanya dirinya memang tidak pesek hanya pipinya saja yang semakin bulat membuat hidungnya tertutup pipi kalau sedang tersenyum maupun tertawa.
Bryan dan Maura tertawa mendengar bantahan dari Freya yang tidak mau dibilang pesek, padahal memang hidung Freya tidak pesek
"Lebih baik kita ke kamar dan bersihkan badan Mas Bryan dulu, ini sudah malam."
"Bukannya Maura tadi juga mau tidur setelah menunggu Ayah pulang kerja?" Maura menganggukkan kepalanya membenarkan sang Bunda.
"Kamu sudah tidak mual lagi sayang? Tumben aku diperbolehkan mandi." tanya Bryan yang tidak biasanya Freya mengizinkan dirinya mandi padahal Freya belum tidur.
"Masih mual, tapi tidak separah biasanya."
"Mungkin karena sudah masuk tiga bulan akhir, makanya mual nya berkurang." Bryan mengangguk saja padahal dia tidak paham soal kehamilan.
"Ayah bau, biasanya kalau pulang kerja nggak mandi."
"Ihhh bau acem.." Maura menutup hidung juga mulutnya mengejek sang Ayah.
"Kalau Ayah bau acem, Maura turun gih dari pangkuan Ayah."
"Jangan minta Ayah gendong atau pangku lagi." Bryan pura-pura merajuk pada Maura. Bryan melirik Maura dengan wajah dinginnya.
"Ayah...jangan marah lagi."
"Maura hanya bercanda." mata Maura berkaca-kaca dan memeluk Ayah Bryan dengan erat.
"Maafin Maura!!"
Freya juga Bryan tertawa kecil melihat Maura yang merasa bersalah.
"Nggak..Ayah nggak marah kok."
__ADS_1
"Sudah yuk kita ke kamar."
"Ayah mau mandi biar wangi seperti Maura yang cantik ini." Bryan mencium rambut kepala Maura.
"Mas Bryan tadi sudah makan belum?"
"Biar sekalian Freya siapkan." tanya Freya yang akan menuju dapur.
"Sudah sayang, tadi sudah makan bersama client."
"Ayo kita ke kamar saja." Bryan berdiri dari duduknya dengan masih menggendong Maura.
"Maura jalan sendiri ya."
"Kasihan Ayah capek baru pulang kerja."
"Kalian duluan saja, Bunda mau ambil minum dulu." ujar Freya yang berlalu ke dapur untuk mengambil botol minum untuk di taruh di kamarnya juga kamar Maura.
Maura tidak memperdulikan peringatan Bunda Freya, dia tetap berada digendongan Ayah Bryan. Dia ingin bermanja dengan sang Ayah sebelum lusa pergi ke Singapura.
Dan Bryan membiarkannya saja, dia juga sudah lama tidak bermain dan memanjakan sang putri mengingat akhir-akhir ini pekerjaannya begitu banyak dan lusa dia harus melepas putrinya pergi sendiri ke Singapura selama seminggu meski nantinya ditemani Caca, Mutia juga Rendy.
"Maura tidur disini?"
"Pantas saja Bunda tadi tidak melihat Maura ada di kamar." ujar Freya saat melihat Maura menonton coco melon di handphone Ayah Bryan di atas ranjang sambil rebahan.
"Iya Bunda. Bolehkan Maura tidur sama Ayah Bunda."
"Ayah tadi sudah memberi izin kok."
"Bunda memberi Maura izin tidur disini kan?" Maura menatap Bunda Freya yang duduk di sebelahnya dengan tatapan memohon.
Freya tersenyum dan mengacak rambut Maura gemas.
"Ya boleh dong sayang."
"Maura boleh tidur disini kapanpun Maura mau."
"Tapi nanti kalau sudah besar dan baligh, Maura harus tidur di kamar Maura sendiri."
"Oke Bunda!!" Maura mengedipkan sebelah matanya dan kembali menonton coco melon.
"Sudah sini handphone nya, tadi katanya sudah ngantuk." Freya meminta handphone Bryan yang dipakai Maura.
"Sebentar lagi Bunda, nanggung ini." ujar Maura yang masih asyik menonton.
"Kembalikan handphone nya sekarang atau tidur di kamar Maura sendiri." ancam Freya yang beranjak dari ranjang dan menuju walk-in closet untuk menyiapkan baju tidur Bryan juga dirinya yang mau berganti baju tidur.
Maura mendengkus kesal melihat Bundanya yang berlalu masuk ke walk-in closet. Dia lantas mengakhiri acara menonton coco melon dan bersiap untuk tidur.
"Bunda!!! Maura tidak ganti baju tidur yaaa." teriak Maura yang sudah menarik selimut.
"Bolehkan Bunda?" tanya Maura yang melihat Bundanya sudah kembali.
"Maura pakai ini saja buat tidur." Freya menunjukkan piyama hello kitty berukuran kecil kepada Maura.
"Itu punya siapa Bunda?"
"Maura tidak punya piyama hello kitty." karena seingat Maura dia memang tidak mempunyai piyama hello kitty, hampir semua piyama miliknya bergambar teddy bear juga keroppi.
"Ini punya Bunda dan masih baru."
"Piyamanya kekecilan kalau Bunda yang pakai."
"Sini ayo ganti dulu." Freya menarik pelan tangan Maura supaya bangun.
Maura cekikikan saat piyama itu sudah melekat ditubuhnya. "Seperti yang sering Oma pakai, Bunda." seru Maura dengan memutar-mutar tubuhnya. Padahal baru memakai atasannya saja namun sudah menutupi tubuhnya sampai lutut.
"Ayah lihat!! Maura sudah seperti Oma belum?" tanya Maura yang melihat Ayahnya sudah selesai mandi juga sudah memakai baju tidur.
Bryan tertawa kecil melihat piyama yang Maura pakai sekilas memang mirip seperti yang biasa Mama Lea pakai. Bedanya kalau yang Mama Lea pakai panjang sampai mata kaki.
"Bajunya siapa yang Maura pakai ini?"
"Maura pinjam bajunya Oma? hemmm.." tanya Bryan yang sudah naik ke atas ranjang dan dengan gemas membawa Maura di dekapannya.
"Bukan punya Oma ini Ayah, tapi punya Bunda." kata Maura yang diam saja di dekapan sang Ayah. Dia sudah mengantuk, jadi sudah tidak ada lagi tenaga untuk memberontak.
__ADS_1
"Ini punya kamu sayang? Kenapa aku nggak pernah lihatnya." tanya Bryan yang memang tidak pernah melihat Freya memakai piyama hello kitty yang saat ini tengah dipakai Maura.
"Itu kemarin aku beli di olshop waktu ada diskon."
"Aku kira besar, ternyata kecil." jelas Freya yang bersandar di kepala ranjang sambil membaca novel online di handphone.
Bryan mengerutkan keningnya, "Kamu beli di online shop dan diskon sayang?"
"Iya, kenapa memangnya?" Freya menatap Bryan. Dia merasa bingung dengan pertanyaan suaminya.
Bryan menggelengkan kepalanya menatap Freya. Bisa-bisa istri seorang billionaire belanja barang diskon dan pasti kualistasnya tidak bagus.
"Lain kali jangan belanja diskonan."
"Suami kamu ini masih mampu dan sanggup kalau kamu belanja dengan harga jutaan bahkan milyaran."
"Aku tidak suka kamu belanja barang diskonan yang pasti kualitasnya tidak bagus dan panas."
"Dan aku akan menambah uang bulanan khusus buat kamu belanja menjadi 2 milyar yang awalnya hanya 1 milyar." ujar Bryan tegas dan tanpa beban, seakan apa yang Freya lakukan itu sesuatu yang sangat merugikan bagi dirinya dan membuatnya malu.
Freya menghembuskan nafas lelah, suaminya itu selalu saja menghambur-hamburkan uang. Padahal uang yang tiap bulan Freya dapat dari suaminya itu habisnya tidak sampai 100 juta perbulan. Itupun untuk kebutuhan dirinya sendiri, Maura, dan suaminya juga kebutuhan yang lain, 100 juta sudah cukup, bahkan lebih. Dan dirinya juga bukan tipikal wanita yang suka shopping barang-barang branded.
Dan terkadang Freya menggunakan sisa uang pemberian Bryan untuk dia sumbangkan ke beberapa yayasan panti asuhan dengan izin Bryan tentunya.
"Terserah Mas Bryan saja." Freya meletakkan handphone nya.
"Sudah itu Maura sudah tidur."
"Taruh sini Mas, pelan-pelan." Freya menatap tempat di tengah antara dirinya juga Bryan.
"Maafkan aku ya, sayang."
Freya yang tengah menenangkan Maura karena terusik tidurnya saat Bryan pindahkan tadi, mengangkat kepalanya menatap manik biru Bryan. Freya dapat melihat, tatapan suaminya itu begitu penuh rasa bersalah dan ucapan yang baru saja keluar dari mulut suaminya itu begitu tulus.
Freya tersenyum, "Freya sudah memaafkan Mas Bryan. Mas Bryan juga sudah tidak punya salah sama Freya."
Bryan tersenyum kecut mendengar perkataan Freya. "Terima kasih, sayang." Bryan beranjak dari rebahannya dan turun.
"Mas Bryan mau kemana?" tanya Freya saat melihat Bryan turun dari ranjang.
Freya melihat suaminya yang berjalan dan berpindah ke sisinya dan merebahkan tubuh tegap itu disisinya dan memeluknya begitu erat.
"Mas Bryan kenapa?"
"Freya merasa kalau sikap Mas Bryan sedikit aneh." kata Freya yang merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Apa Mas Bryan masih memikirkan masalah Bibi Arta yang telah mengambil uang perusahaan?" tanya Freya yang mengira suaminya itu memikirkan masalah yang dihadapi Papa Abri juga Bibi Arta.
"Hmm.." Bryan hanya berdehem saja. Dia memejamkan matanya sambil memeluk Freya begitu erat. Dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya itu juga pada Mama Marisa juga Anelis.
"Bukannya Papa sudah memaafkan Bibi Arta meski untuk sementara waktu semua fasilitas yang Bibi Arta miliki saat ini sudah dicabut sama Papa juga Paman Samuel."
"Papa juga tidak jadi membawa kasus ini ke jalur hukum dan Papa hanya menghukum Bibi Arta untuk tidak bisa memakai fasilitas lagi seperti biasanya."
"Dan sekarang tinggal Bibi Arta nya saja untuk bisa berdamai dengan keadaan."
"Mungkin dengan Bibi Raya juga Oma dan Opa kesini nantinya Bibi Arta mau berdamai dengan semuanya."
Bryan hanya diam saja mendengar Freya bicara. Saat ini dipikirannya bukan masalah Bibi Arta dan juga Papanya. Karena menurutnya itu semua sudah berakhir sejak Papa Abri memutuskan untuk tidak membawa masalah Bibi Arta ke jalur hukum dan memberi hukuman sendiri kepada Bibi Arta.
Saat ini yang Bryan pikirkan adalah kesalahannya sepuluh tahun yang lalu. Kesalahannya yang menabrak pemotor saat balapan liar dan mengakibatkan kecelakaan hingga menewaskan pemotor yang ditumpangi dua orang.
Bryan meneteskan air matanya mengingat cerita yang Paman Gani ceritakan padanya tadi sepulang kerja. Cerita tentang kejadian kecelakaan sepuluh tahun lalu.
"Maafkan aku, sayang."
Freya mengerutkan keningnya saat mendengar suara lirik Bryan yang seperti bisikan yang terdengar sedikit parau. Freya merasakan kalau saat ini Bryan benar-benar berada di titik terendahnya, dan entah karena apa Freya sendiri tidak tahu. Seingat Freya tadi pagi suaminya masih terlihat baik-baik saja dan saat ini suaminya seperti menyesali sebuah kesalahan besar.
Dan kesalahan apa yang Bryan perbuat hingga dia merasa bersalah seperti itu, pikiran Freya menerka-nerka masalah yang tengah suaminya hadapi saat ini.
🍁🍁🍁
have a nice day
thanks for reading brother and sister
big hug 🤗🤗🤗
__ADS_1