Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Dasar Matre!!


__ADS_3

Setelah pergulatan panas di bawah guyuran air shower yang berlanjut di ranjang panas milik Tuan Muda Abrisam. Kini hubungan Bryan dan Freya kembali membaik.


Bryan sudah tidak menuntut Freya untuk segera melakukan program bayi kembar. Dia ingin Freya mengurus baby Attar terlebih dahulu daripada membuat baby lagi dan akan membuat baby Attar kurang perhatian dan kasih sayang dari Bundanya.


Bryan juga sudah menerima akan kekalahannya dari Rendy untuk saat ini yang belum memiliki anak kembar. Tapi perkataan Freya setelah pergulatan panas beberapa hari yang lalu membuat Bryan merasa berbangga diri.


Bagaimana tidak bangga?


Freya memberi tahunya kalau Bryan lebih hebat dari Rendy. Bryan yang sekali tembak langsung mendapatkan satu mangsa, Maura dan sekarang dapat satu mangsa, baby Attar.


Sangat berbeda dari Rendy yang harus melakukan ini itu dulu dan beberapa kali tembak selama beberapa bulan baru mendapatkan mangsa dua.


"Jadi pelurunya 'si rosi' hebat dong sayang. Sekali cus langsung dapat." Bryan menggerakkan jarinya ke udara seraya meragakan bagaimana pelurunya meluncur dengan tepat sasaran.


"Hmm..Pelurunya 'si rosi' memang bibit unggul semua hingga sekali meluncur langsung dapat yang berkualitas." Bryan yang mendengar istrinya membanggakan keunggulan bibit dari 'si rosi' langsung saja memberi beberapa kecupan di wajah istrinya.


Mama Lea yang tengah menggendong baby Attar begitu heran melihat Freya yang senyum-senyum saat mengupas buah. Bagaimana nanti kalau tidak sengaja bukan kulit buahnya yang dikupas, melainkan kulitnya sendiri. Bisa berabe nanti Bryan sampai tahu. Akan banyak ceramah yang semua penghuni rumah dapatkan nantinya kalau pemilih tahta tertinggi di hati Bryan terluka.


"Fokus Freya! Jangan senyum-senyum sendiri seperti itu. Bisa salah kupas nanti kamu. Panjang dah nanti urusannya." tegur Mama Lea sebelum sesuatu yang diinginkan terjadi. Apalagi saat ini Bryan dan Freya sudah berbaikan karena masalah sepele.


Freya hanya menyengir kuda menatap Mama Lea yang tengah menggendong baby Attar yang terlihat sekarang suka sekali memasukkan jarinya kedalam mulut sampai air liurnya keluar semua.


Freya tadi tidak melamun, dia hanya teringat perkataannya yang membuat Bryan berbangga hati sampai mengakui kekalahannya pada Rendy meski tetap merasa menang karena sekali tembak langsung dapat.


"Bryan mana? Katanya tadi nggak ke kantor karena tidak ada kerjaan. Tapi Mama kok tidak lihat batang hidungnya."


Mama Lea menanyakan keberadaan Bryan yang dimana dirinya ingin meminta tolong pada anak lelakinya itu. Tapi tidak nampak sekali terlihat sosok lelaki dua anak itu.


"Mas Bryan pergi ke kantor Rendy, Ma. Katanya mau membuat surat pernyataan gitu. Katanya sih surat pernyataan kalau Mas Bryan kalah, Mas Bryan bersedia menjadi besannya Rendy untuk baby Attar."


Freya menyeka air liur yang berada di dagu baby Attar. Entah kenapa air liurnya keluar terus, perasaan semua yang dia inginkan saat ngidam kemarin keturutan semua. Ya..Meski tidak langsung dia dapat, tapi selalu dibelikan kok sama Bryan.

__ADS_1


"Apa? Mau berbesan sama Rendy?"


Freya mengangguki rasa keterkejutan dari Mama Lea. Karena Bryan sendiri yang bilang tadi sebelum pergi ke kantor Rendy. Padahal dia tidak meminta bahkan tidak memaksa suaminya untuk berbesan dengan Rendy dan Mutia. Tapi suaminya sendiri yang mengatakan begitu kalau dia kalah dari Rendy.


"Memang kalian sudah tahu anak yang dikandung Mutia itu perempuan? Bagaimana kalau laki-laki semua?"


Dengan polosnya Freya menggelengkan kepalanya dengan memakan buah yang tadi dikupasnya. Mereka semua memang belum tahu janis genre apa anak yang dikandung Mutia. Karena sampai saat ini sang calon orang tua itu sendiri juga belum mengetahuinya.


Mama Lea menghembuskan nafas lelah melihat anak jaman sekarang yang anaknya belum lahir tapi sudah dijodoh-jodohkan. Bagaimana coba nanti kalau anaknya tidak suka dan punya pilihan sendiri. Contohnya Bryan dulu yang selalu menolak jika dijodohkan.


"Terserah kalian saja. Yang terpenting nanti salah satu dari mereka tidak merasakan sakit hati dan menyebabkan persahabatan kalian pecah."


*****


Rendy menyunggingkan senyum kemenangan saat Bryan yang tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan datang ke kantornya. Biasanya dirinya yang diminta sang Tuan Muda, mantan atasannya untuk dirinya yang datang ke kantor Bryan.


Sudah bisa ditebak apa maksud kedatangan sang Tuan Muda yang angkuh dan sombong itu. Apalagi kalau bukan mengakui kekalahan karena belum bisa mendapatkan dua mangsa dalam satu kali tembak.


Calon besan?


Ya...Otak Rendy sudah terkontaminasi dengan semua perkataan Mutia yang menginginkan baby Attar kelak menjadi menantunya. Hanya menantu dari keluarga Pratama seorang.


Kalaupun nanti baby twins yang dikandung Mutia saat ini semuanya laki-laki. Mereka akan mencetak lagi sampai mendapatkan anak perempuan untuk dijadikan jodohnya baby Attar, sang Tuan Muda penerus tahta dari Tuan Abrisam Bryan Alvaro.


Sungguh membayangkan saja membuat Rendy berbangga hati. Apalagi kalau nanti baby Attar sudah tumbuh dewasa dan begitu bucin dan tergila-gila pada anak gadisnya. Dia akan menertawakan Bryan sampai puas karena anaknya tergila-gila dengan putrinya.


Tapi kalau sebaliknya, Attar kelak akan menyakiti putrinya. Rendy tak segan untuk memberi peringatan pada Bryan untuk mendidik putranya lebih baik lagi supaya tidak menyakiti hati anak gadisnya.


"Ada angin apa gerangan membuat Tuan Bryan yang terhormat mau datang ke kantor saya. Bukannya tidak ada pekerjaan yang perlu dibahas hari ini?"


Pertanyaan penuh sindiran Rendy lontarkan setelah melihat Bryan duduk di sofa sebelum dia mempersilahkan tamunya itu untuk duduk terlebih dahulu. Bahkan tadi Bryan masuk tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam sama sekali.

__ADS_1


Sungguh perbuatan yang tidak boleh dicontoh maupun ditiru. Rendy berharap kelak Attar tidak memiliki sifat angkuh seperti Ayahnya, Bryan.


Bryan melirik Rendy yang mendekat kearahnya dan duduk di sofa sebelahnya. Bryan menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum sinis pada Rendy yang baru saja menyindirinya.


"Saat ini aku mengaku kalah."


Rendy yang mendengar Bryan baru saja mengakui kekalahannya, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum kemenangan.


"Tapi tidak untuk dua tiga tahun kemudian."


Senyum Rendy langsung lenyap berubah menjadi kerutan di keningnya saat mendengar lanjutan perkataan Bryan yang membuatnya bingung.


Bryan terkekeh pelan melihat Rendy yang terlihat bingung dengan perkataannya. Bahkan senyum kemenangan yang mantan asistennya itu tunjukkan tadi lenyap entah kemana perginya.


"Nih!!" Bryan mengambil selembar kertas yang tadi dia simpan di dalam saku jasnya dan sekarang dia letakkan di atas meja.


"Surat pernyataan sekaligus surat perjanjian." Bryan kembali menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.


"Surat perjanjian?" ulang Rendy dengan kening semakin mengkerut menatap selembar kertas yang ada di atas meja.


"Perjanjian apa ini?" tanya Rendy menatap bergantian antara Bryan dan kertas yang saat ini sudah ada digenggaman tangannya.


"Baca aja." perintah Bryan dengan santainya memejamkan mata untuk menghilangkan pening karena semalam kurang tidur karena semalam baby Attar sedikit rewel.


Rendy menarik kedua sudut bibirnya setelah membaca isi perjanjian yang ditulis oleh Bryan. Dia tidak menyangka Bryan mau berbesan dengannya dengan catatan kalau dalam dua sampai tiga tahun nanti Freya tidak hamil bayi kembar, maka baby Attar akan menjadi menantu di keluarga Pratama dengan syarat keluarga Pratama harus memiliki keturunan anak perempuan dengan jarak usia antara baby Attar harus lima tahun.


"Saya setuju dengan isi perjanjian ini Tuan Bryan Alvaro."


Dengan semangat Rendy langsung membubuhkan tantangan di surat perjanjian sebagai pihak ke-II


Bryan hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Rendy yang terdengar begitu semangatnya menyetujui perjanjian yang dia buat.

__ADS_1


"Dasar matre!"


__ADS_2