Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Menambah Stamina


__ADS_3

Tepat setengah dua belas Freya sudah sampai di perusahaan BRATA Grup. Dia langsung saja naik lift untuk menuju ruangan dimana suaminya berada. Dia segera keluar dari dalam lift setelah sampai di lantai yang dituju. Langkahnya berhenti di depan meja sekertaris Bryan yang disana terlihat Julian dan juga Rendy yang terlihat sibuk dan sepertinya tidak menyadari kehadirannya.


"Ehemm.." Freya berdehem


Rendy dan Julian yang tadinya membahas sesuatu lantas menoleh saat ada seseorang yang berdehem di dekat mereka.


Julian yang tadinya duduk lantas berdiri dari duduknya, sedangkan Rendy tetap dalam posisi awal, berdiri.


"Nona, Freya!!"


"Siang Nona." ucap Rendy juga Julian bersamaan.


"Siang, Mas Bryan ada didalam?" tanya Freya menatap asisten pribadi juga sekertaris utama suaminya itu bergantian.


"Tuan Bryan ada didalam."


"Anda bisa langsung masuk seperti biasanya Nona." kata Rendy yang memang sudah paham dengan kebiasaan Freya yang keluar masuk ruangan Bryan tanpa bertanya ataupun izin terlebih dahulu seperti sekarang ini.


Freya tersenyum kecut mendengar perkataan Rendy, Rendy seperti sedang menyindir dirinya yang memang tidak pernah basa basi seperti yang dia lakukan saat ini. Biasanya dia akan cuek saja saat melihat Rendy ataupun Julian, Freya biasanya hanya menyapa atau tersenyum saja, selebihnya tidak.


"Terima kasih ya, selamat bekerja."


"Saya masuk dulu." Freya lantas melangkahkan kakinya menuju ruangan Bryan meninggalkan dua orang pria dewasa yang sepertinya sedang mengghibah dirinya, karena Freya mendengar suara Julian yang menyebut-nyebut nama dirinya dan Freya membiarkan itu karena sekarang dia hanya ingin menemui suaminya.


Freya tersenyum saat masuk ke ruangan Bryan dan ternyata suaminya itu tengah berdiri bersandar pada meja kerjanya dengan merentangkan kedua tangannya menyambut kehadiran dirinya dengan senyum di wajah lelahnya.


Tadi Bryan iseng melihat CCTV di luar ruangannya dan melihat Freya sudah datang dan sedang berbicara dengan asisten pribadinya juga sekertaris nya. Akhirnya dia segera berdiri dari duduknya untuk menyambut sang istri yang memang tadi sudah memberi kabar kalau sudah dalam perjalanan menuju kantor.


Freya lantas melangkahkan kakinya dengan cepat dan memeluk suaminya itu. Freya merasakan kalau Bryan begitu erat memeluk dirinya tidak seperti biasanya. Apalagi Bryan tidak mengucapkan apapun, suaminya itu hanya diam saja dan Freya membiarkan itu.


Freya tahu apa yang Bryan rasakan saat ini. Freya juga tahu masalah yang terjadi di kantor saat ini yang membuat suaminya itu terlihat lelah dan sering membawa pekerjaannya ke rumah. Freya juga tahu suaminya itu akan pergi ke ruang kerja setelah menemani dirinya sampai tertidur. Awalnya dia ingin protes namun dia urungkan niatnya itu. Dan sekarang dia ingin membantu masalah yang tengah suaminya hadapi saat ini.


"Tadi aku sudah bikin Sup Ayam, ayo makan dulu." Freya mengurai pelukannya dan menarik tangan Bryan untuk duduk di sofa.


"Apa Maura tadi jadi pergi ke kampus bertemu dosen yang katanya ganteng itu?" tanya Bryan setelah mendaratkan pantatnya di sofa.


"Iya, tadi pergi bersama Caca sekalian yang katanya ada mata kuliah."


"Dan Pak Kevin kan Mas Bryan sendiri yang minta menjadi pendamping Maura selama menjalani kompetisi matematika di Singapura."


"Dan minggu depan Maura sudah harus berangkat ke Singapura."


"Mas Bryan jadi menemani Maura ke Singapura, minggu depan?" tanya Freya mengingat suaminya yang sudah berjanji pada Maura untuk menemani anaknya itu selama mengikuti kompetisi.


"Aku tidak tahu. Lihat saja minggu depan seperti apa." jawab Bryan dengan lesu.


"Kalau Mas Bryan tidak bisa, biar Mutia sama Kak Ane saja yang menemani Maura."


"Kan ada Pak Kevin juga nantinya."


"Kevin, dia hanya mendampingi Maura kompetisi bukan menjaga Maura."


"Kalau hanya Mutia sama Anelis, aku tidak yakin mereka bisa menjaga Maura."


"Harus cari pria satu lagi yang bisa menjaga Maura." Bryan terlihat sedang berpikir, mencari pengawal untuk Maura. Padahal tinggal pilih satu saja kelihatannya ribet dan pusing.


"Kenapa tidak Rendy saja." saran Freya sambil membuka tas bekalnya dan dikeluarkan isinya.


"Nanti aku pikirkan lagi." Freya mengangguk saja, dia lantas mengambil gelas yang ada di dekat lemari pendingin.


"Ambil gelas kenapa tidak sekalian airnya." protes Bryan saat Freya meletakkan gelas kosong di atas meja.


Freya tersenyum, dan mengeluarkan botol minum ukuran medium dari dalam tad bekal.


"Tadaaaa...."


"Aku tadi buat minuman untuk menambah stamina."


"Khusus Freya buatkan untuk Mas Bryan." ujar Freya sambil menuang susu yang dia campur dengan jahe merah, serai, kayu manis, daun pandang juga cengkeh, tidak lupa dia tambahkan gula merah sedikit.


"Maksud kamu stamina aku tidak kuat begitu." Freya terkekeh mendengar protes dari Bryan. Padahal tadi dia bilangnya untuk menambah stamina bukannya staminanya biar kuat.


"Mau aku buktikan sekarang juga!!"


"Aishhh...tumpahkan jadinya." Freya mendelik dengan wajah cemberut menatap Bryan. Susu rempah yang baru saja dia tuang di dalam gelas tumpah saat Bryan tiba-tiba menarik pinggangnya.


"Biarkan saja. Aku akan buktikan ke kamu kalau stamina suamimu ini masih kuat untuk beberapa ronde tanpa harus minum minuman yang kamu buat itu." Freya memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya di siang bolong seperti ini suaminya itu pikirannya sudah menjurus kearah olahraga ranjang melulu gara-gara stamina.


"Mas Bryan cari kesempatan dalam kesempitan."

__ADS_1


"Sudah ihhh...lepas dulu tangannya."


"Aku lapar, mau makan."


"Keburu dingin nanti sup ayamnya." Bryan justru mengeratkan pelukannya pada pinggang Freya dan menghirup aroma tubuh Freya yang membuatnya tenang. Sejenak Bryan lupa akan masalah yang tengah dihadapinya.


"Biarkan seperti ini untuk sebentar saja." Freya membiarkan Bryan memeluknya kembali, dia mengusap kepala Bryan dengan lembut.


"Freya sudah tahu semuanya. Ada masalah penggelapan uang di kantor."


"Tadi pagi Freya tidak sengaja mendengar pembicaraan Mama dengan Papa sebelum Papa pergi ke kantor."


"Biarkan Freya membantu Mas Bryan."


"Freya janji Freya tidak akan kelelahan."


"Asal Mas Bryan memanggil Mutia juga untuk datang kesini."


Freya menatap Bryan yang juga tengah menatapnya. Freya tersenyum, dipegangnya dan dielusnya rahang tegas suaminya itu yang ditumbuhi bulu halus. "Izinkan Freya membantu masalah yang tengah Mas Bryan hadapi."


Bryan menatap Freya dengan ragu walau dirinya yakin istrinya itu bisa membantunya, tapi Bryan takut istrinya nanti kelelahan mengingat Freya saat ini tengah berbadan dua.


"Mas Bryan tenang saja."


"Freya juga dedek bayinya akan baik-baik saja."


"Tapi Mas Bryan harus panggil Mutia sekarang juga kesini."


"Minta Rendy untuk menjemputnya."


"Please!!!" Bryan tersenyum tipis melihat Freya yang memohon kepadanya seperti anak kecil. Mirip seperti Maura atau lebih tepatnya seperti boneka barbie.


Bryan mengangguk, "Baiklah, kamu boleh membantu dan akan aku suruh Rendy untuk menjemput Mutia."


"Terima kasih suamiku." Freya yang begitu senang tanpa segan mencium bibir Bryan terlebih dahulu.


"Sudah berani cium dulu ya sekarang kamu." Freya tersenyum dengan mengangkat kedua bahunya.


"Agghhh!!!" pekik Freya saat Bryan tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk duduk dipangkuan nya.


"Mas Bryan mau apa?"


"Aku mau minta hidangan pembuka terlebih dahulu." Freya mengerutkan keningnya mendengar penuturan Bryan. Pasalnya dia tadi lupa membawa buah dan mungkin sekarang suaminya ini minta buah, pikir Freya.


"Mas Bryan ma-mpphhh." Bryan menyambar bibir Freya yang terus bicara itu. Dia mencium bibir Freya dengan rakus, dilu matnya dan disesapnya bergantian benda kenyal yang berbelah dua itu bergantian. Bahkan tangannya tak tinggal diam. Tangannya sudah berada diatas salah satu gundukan Freya yang masih terbungkus rapi dan meremasnya pelan dari luar.


"Eghh.." mendengar suara lenguhan keluar dari bibir Freya ditengah cumbuannya, Bryan lantas menghentikan kegiatan itu.


Kening keduanya saling menyatu, mata keduanya pun masih terpejam dengan mengatur nafas yang masih memburu.


"Kenapa berhenti?" tanya Freya dengan suara parau.


"Apa kamu mau lebih?" tanya Bryan balik, matanya terbuka menatap Freya yang masih memejamkan matanya itu.


"Tapi aku lapar..Dedeknya sudah minta makan dari tadi." Kruukkkkk. Bryan tertawa mendengar suara bunyi perut Freya yang tandanya memang sang istri dan anaknya tengah lapar berat.


"Ihhh jangan diketawain begitu." protes Freya dan turun dari pangkuan Bryan dengan muka cemberut.


"Lebih baik Mas Bryan cepat minta Rendy untuk menjemput Mutia sekarang juga biar cepat selesai masalahnya dan tahu siapa orang yang telah mengambil uang itu." ucap Freya panjang lebar sambil mengambil nasi juga lauk dan dipindahnya ke piring.


Bryan mengangguk dan segera keluar untuk meminta tolong pada Rendy untuk menjemput Mutia sekarang juga. Bryan juga sudah menghubungi Alex kalau dia meminjam beberapa hari saja salah satu karyawan Alex di bagian keuangan tanpa memberi tahu siapa yang dia pinjam.


"Bagaimana?" tanya Freya dan memberikan suapan pada Bryan.


Bryan mengangguk dan mengacungkan jempolnya karena mulutnya tengah mengunyah, "Beres, Rendy tadi langsung cus pergi dan kelihatannya dia semangat banget diminta jemput Mutia." ujar Bryan yang tadi melihat raut wajah Rendy yang tak percaya juga senang saat diminta untuk menjemput Mutia.


"Apa Rendy benar-benar suka sama Mutia?"


"Kalau iya kenapa tidak di ungkapkan saja."


"Toh aku lihat keduanya sama-sama suka meski sekarang Mutia dekat dengan Tuan Alex."


"Tapi Mutia dan Tuan Alex belum jadian kan, Mas?" tanya Freya mengingat Mutia yang akhir-akhir ini dekat dengan Alex juga sering cerita kepadanya tentang Alex.


"Aku nggak tahu. Aku tidak mengurusi percintaan mereka. Aaaa." Freya yang awalnya ingin memasukkan suapan ke mulutnya dia belokkan dan masuk ke mulut Bryan.


"Aku takut saja kalau Mutia benaran jadian sama Tuan Alex mengingat kelakuan CEO ABA corp. itu seorang playboy dan sering main celup sana sini." Bryan mengerutkan keningnya menatap Freya dari samping.


"Kamu tahu dari mana sayang kalau Alex suka celap celup?" Karena setahu Bryan berita itu tidak ada yang tahu kecuali teman-temannya saja yang sering main ke club.

__ADS_1


"Aku kan dulu kerja disana Mas..Dan banyak kok yang bilang seperti itu."


"Bahkan ada hampir semua karyawan baru dan terlihat cantik dicobanya." Bryan melotot tak percaya. Dia menatap Freya memastikan apa yang ada diotaknya saat ini salah, tidak benar.


"Kamu tidak dicoba Alex kan?" Freya sontak menoleh dan mendelik pada Bryan.


"Maksud Mas Bryan, Freya cewek gampangan begitu."


"Amit-amit jabang bayi."


"Maafkan Bunda ya sayang."


"Ayah kamu bikin Bunda emosi saja." Freya menunduk dan mengelus perutnya pelan.


"Bukan seperti itu maksudnya sayang."


"Kamu kan tadi bilang kalau hampir semua karyawan baru yang cantik dicoba sama Alex."


"Dan kamu itu cantik. Cantik banget malah dan juga sek si."


"Makanya aku tanya seperti itu." jelas Bryan dengan pelan supaya istrinya itu tidak salah pahan dengan ucapannya.


"Tuan Alex sebelum mendekati aku sudah dihadang dulu sama Mutia."


"Jadi aku aman."


"Dan hampir ada karyawan laki-laki dulu yang mencoba menggoda aku, Mutia selalu yang terdepan mengusir mereka."


"Karena Mutia tahu aku masih memiliki trauma berhubungan dengan laki-laki."


"Ya..meski dulu aku sempat menyukai seseorang." Freya tersenyum mengingat dulu dia diam-diam menyukai Evan kakak tingkatnya sewaktu kuliah. Freya menyukai perhatian-perhatian kecil yang Evan berikan kepadanya.


"Siapa maksud kamu?"


"Laki-laki jadi-jadian itu."


"Laki-laki setengah perempuan itu." sungut Bryan mengingat kedekatan Freya dengan Evan yang memiliki wajah seperti artis-artis Korea saat menjenguk Maura dirawat di rumah sakit dulu.


Freya tertawa melihat suaminya yang bersungut-sungut marah karena cemburu. Dia tahu Bryan paling tidak suka kalau dirinya membahas ataupun menyebut nama Evan di depan ataupun belakang Bryan. Bryan pasti akan marah-marah nggak jelas dan Freya menyukai kecemburuan Bryan akan dirinya.


"Kan itu dulu, Mas. Dulu aku suka sama di_"


"Nggak usah bahas-bahas dia lagi." sarkas Bryan dan berlalu duduk di kursi kebesarannya dan menyibukkan diri dengan beberapa berkas yang tadi sempat dia tinggalkan saat mengetahui Freya datang.


Freya mendekati Bryan, dia tahu Bryan saat ini tengah cemburu dengan orang yang sekarang entah dimana Freya sendiri tidak tahu. Pasalnya setengah menikah Freya sudah lost contact dengan Evan. Freya melingkarkan tangannya di leher Bryan dari belakang.


"Freya minta maaf ya Mas."


"Freya nggak bermaksud membuat Mas Bryan marah."


"Tadi aku hanya bercerita saja."


Bryan diam saja, dia pura-pura sibuk dan membolak-balikkan berkas tanpa dibacanya. Hatinya sudah panas saat Freya membahas Evan, laki-laki setengah perempuan. Dia takut kalau Freya pergi darinya dan lebih memilih bersama Evan itu. Apalagi jaman sekarang hampir semua perempuan menyukai pria berkebangsaan Korea yang memiliki wajah putih, mulus dan glowing tanpa ada cacat sedikitpun. Tidak ada yang memiliki kumis ataupun jambang seperti dirinya.


"Freya dulu memang suka sama dia dan itu hanya sebatas suka tidak lebih dan Freya juga tidak cinta sama dia."


"Karena sekarang yang Freya suka dan Freya cinta adalah Ayahnya Maura Hanin Azzahra juga dedek bayi yang masih didalam perut aku."


Freya melirik Bryan dari samping yang nampak menahan senyumnya. Freya tertawa puas dalam hatinya melihat suaminya yang sepertinya saat ini tengah malu-malu meong itu. Apalagi wajahnya sekarang memerah.


"Ehem.."


"Lepas dulu, aku tadi belum minum ramuan penambah stamina."


Freya berpindah duduk di kursi kebesaran Bryan memandang suaminya yang tengah menghabiskan susu rempahnya langsung dari botol minun yang tadi dia bawa. Dan yang digelaspun tak luput Bryan habiskan.


"Bersiaplah sebelum mereka datang dan membahas masalah perusahaan."


"Aku akan menggunakan stamina yang baru saja aku dapat untuk memberimu pelajaran karena sudah berani membahas laki-laki lain didepan suami kamu sendiri."


Akkhhhh...Bryan mengangkat Freya dan dibawanya ke kamar pribadi miliknya yang ada di ruangan kerjanya. Bryan benar-benar menggunakan staminanya untuk memberi pelajaran pada istrinya itu.


Freya merutuki kecerobohannya yang kenapa harus membahas orang di masa lalu di hadapan Bryan dan membuat Bryan marah. Beginilah jadinya, dia harus melayani napsu birahi suaminya yang tadi sudah menghabiskan sebotol susu rempah seorang diri tanpa menawari dirinya dan mengakibatkan stamina Bryan semakin bertambah.


🍁🍁🍁


have a nice day


thanks for reading, brothers and sisters

__ADS_1


big hug 🤗🤗🤗


__ADS_2