Maura : Tragedi Tahun Baru

Maura : Tragedi Tahun Baru
Bermimpi lah


__ADS_3

Rendy kembali masuk kedalam restoran setelah berbicara panjang lebar dengan Bryan yang entah mendengarkan atau tidak, dia tidak peduli. Entah dia nantinya bakal di cap sebagai asisten tidak tahu diri ataupun tak ada akhlak dia tidak peduli. Atau nanti dia bakal kena marah sama Taun Abrisam (Papa Abri) dia juga tidak peduli. Dia hanya meminta waktunya yang tidak libur selama seminggu ini sebentar saja tidak sampai sehari untuk memberi peringatan pada gadisnya untuk berhati-hati.


Gadisnya??? Ya..Rendy sudah menganggap Mutia itu gadisnya sejak dapat kabar dari sang Mama saat pernikahan Bryan dan Freya beberapa bulan yang lalu. Kabar yang awalnya membuat dia syok dan tidak percaya. Tapi setelah tahu seperti apa yang dimaksud Mamanya dia langsung memberi stampel pada Mutia kalau perempuan itu adalah gadisnya. Dan akan menjadikan Mutia, wanitanya.


Rendy ingin segera menyelesaikan masalahnya sendiri, menjauhkan gadisnya dari jeratan playboy. Dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dua sejoli yang membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.


"Dimana mereka?" geram Rendy yang tidak melihat keberadaan Mutia dan Alex di lantai satu.


"Awas saja kalau sampai memesan ruang privat."


"Tak akan aku ampuni kau, Mutia." gerutu Rendy dengan terus melangkah dan menaiki tangga menuju lantai dua.


Rendy sesekali mengedarkan pandangannya di lantai satu, siapa tahu dia tadi kelewatan melihat pengunjung restoran yang sedang menikmati makanan ataupun hanya bersenda gurau.


Rahang Rendy mengeras dengan mengeratkan giginya juga tangan kirinya mencengkram pegangan tangga dengan erat. Darah yang awalnya mendidih sampai ke ubun-ubun rasanya siap untuk diledakkan. Dia menatap tajam pada salah satu meja yang ada di lantai dua.


Rendy melihat Mutia yang terlihat tertawa lepas mendengar Alex bercerita. Darahnya semakin mendidih, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Rendy cemburu. Dia cemburu melihat gadisnya tertawa dengan lelaki lain. Dan sialnya dia tidak bisa membuat gadisnya itu tertawa seperti sekarang ini, dia hanya bisa membuat gadisnya kesal juga marah dan beradu pendapat. Dan sekarang gadisnya itu tertawa begitu lepasnya dengan seorang lelaki, yaitu Alex, sahabat dari Bos nya. CEO di tempat Mutia bekerja.


Rendy berdehem mencoba bersikap tenang juga biasa saja dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju meja dimana Mutia dan Alex duduk di sana. Dia tidak akan membiarkan gadisnya itu berduaan saja dengan Alex yang memiliki predikat playboy, selain itu Alex juga sering di sebut casanova oleh beberapa pengunjung Last Night. Dia tidak mau Mutia nanti sakit hati. Lebih baik sama dirinya saja walau dirinya dengan Mutia tidak bisa akur karena kebanyakan debat dan bertengkar.


Dengan sikap tenang dan wajah datar, Rendy langsung duduk di samping Mutia berhadapan dengan Alex. Meja yang ditempati Mutia meja bundar dengan empat kursi. Rendy berada di sisi kanan Mutia sedangkan Alex disisi kiri Mutia.


Mutia sontak menghentikan tawanya saat tiba-tiba Rendy duduk di sampingnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu. Dia menatap tak suka pada Rendy, pasalnya setelah kejadian di apartemen waktu itu dia sudah tidak lagi mengangkat telephone ataupun membalas chat dari Rendy. Dia tidak ingin terlalu terbawa perasaan dengan apa yang Rendy lakukan padanya walau hatinya senang menerima setiap perlakuan yang Rendy berikan.


Mutia tidak bisa memungkiri kalau dia sebenarnya merindukan sosok yang baru saja duduk di sebelah kanannya. Sosok yang seminggu ini tidak dia lihat karena kesibukannya menemani Bryan dan mencari Freya. Tapi anehnya dia tidak berani mengangkat panggilan atau membalas pesan dari Rendy.


"Siapa yang mengizinkan anda duduk disitu?" tanya Mutia dengan nada ketus menatap tajam pada Rendy untuk menghilangkan rasa gugup dan senangnya karena bisa melihat wajah lagi wajah datar dan dingin itu.


"Tidak ada."


"Disini semuanya penuh dan hanya anda yang saya kenal."


"Jadi tidak salah kalau saya duduk di sini." jawab Rendy dengan menatap Alex.


"Kamu tidak salah, Ren. Tapi keberadaan mu di sini membuat jantung ku rasanya ingin lepas." jerit Mutia dalam hati. Dia menahan bibirnya untuk tidak tersenyum .


"Bolehkan Tuan Alex." kata Rendy dengan nada rendah.


Rendy tahu Alex kesal karena kehadirannya. Bisa dilihat dari raut wajah Alex yang langsung mengeras saat melihat Rendy datang tiba-tiba diantara dirinya dan Mutia.


"Tak akan aku biarkan anda merebut Mutia dari saya, Tuan Alexander."


"Karena hanya Rendy Yudha Pratama seorang yang boleh memiliki Mutia Amalia Azmy." batin Rendy yang masih menatap tajam pada Alex.


Alex menyeringai, dia sendiri juga tahu kalau Rendy itu suka sama Mutia. Maka dari itu dia akan mengejar Mutia untuk mendapatkan hati Mutia selagi Rendy dan Mutia belum bersama. Dia tidak mau kalah sama an jing peliharaan Bryan.


"Selama janur kuning belum melengkung Mutia masih milik umum."


"Dan saya yakin Mutia akan memilih saya."


"Lelaki humoris dan romantis."


"Tidak seperti anda yang kaku seperti robot." batin Alex seperti membalas isi hati Rendy yang dia baca dari sorot mata hanzel nya.


"Boleh saja,saya tidak melarang."


"Tapi semua tergantung dengan subyek nya."


"Dan mari bermain dengan sehat dan jantan." kata Alex dengan mengulurkan tangannya kearah Rendy dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Saya khawatir anda yang justru tidak bisa bermain dengan sehat."


"Tapi saya terima tantangan dari anda." Rendy menyambut uluran tangan Alex dan mereka sepakat untuk bersaing mendapatkan Mutia.


Mutia menatap Rendy dan Alex bergantian. Dia bingung dan tidak mengerti apa sebenarnya yang dua lelaki di sampingnya ini bicarakan. "Omongan lelaki memang tidak mudah dipahami." batin Mutia. Dia lebih memilih segera makan karena perutnya sudah meronta sedari tadi dan mengalihkan rasa gugupnya karena ada Rendy di sisinya.


"Itu punya saya, kenapa diambil!" seru Mutia saat minuman yang dia pesan tiba-tiba diambil dan diminum Rendy.


"Maaf, saya haus." kata Rendy dengan tampang tidak berdosa yang sudah menghabiskan setengah dari isi minuman milik Mutia, padahal Mutia baru meminumnya sedikit.


"Ambillah punya ku. Belum aku minum tadi." Alex menggeser minumannya ke arah Mutia dengan senyum khasnya yang biasa dia gunakan untuk merayu wanita di luaran sana.


"Terima kasih, Tuan. Biar saya pesan lagi saja." tolak Mutia secara halus dan dia akhirnya memanggil pelayan untuk memesan minum diikuti Rendy yang memesan makanan.

__ADS_1


Rendy menyeringai, dia senang Mutia menolak minuman yang diberikan Alex. Itu tandanya Mutia hanya menganggap Alex sebagai atasannya saja. Bos di tempat Mutia bekerja.


"Berusahalah sekuat tenaga anda, Tuan Alexander."


"Karena hanya Rendy Yudha Pratama yang mampu meluluhkan hati Mutia Amalia Azmy."


Mutia mengambil handphone nya yang terdapat notifikasi. Di lihatnya ada pesan masuk dari "Kanebo kering.". Mutia melirik tajam pada Rendy yang terlihat tenang dan biasa saja itu. Dia letakkan kembali handphone nya tanpa membaca isi pesan dari Rendy. Pasti isinya ancaman terus, dan Mutia sudah bosan mendengar ancaman-ancaman yang Rendy berikan untuknya.


Mutia mendengkus kesal karena handphone nya terus saja berbunyi padahal dia lagi menikmati makanannya. Dia tahu ini pasti kerjaannya Rendy. Karena Rendy sering mengirim spam chat pada dirinya dan sekarang pun Rendy sibuk dengan ponselnya. Dengan kesal, Mutia menendang kaki Rendy yang ada di bawah meja.


Auwwhhh


Pekik Rendy yang mendapat serangan tiba-tiba dari Mutia. Dia melirik Mutia dengan senyum tipis. Seenggaknya Mutia merespon dirinya walau tidak mau membaca pesan darinya.


Sedangkan Mutia tersenyum puas dalam hatinya setelah menendang kaki Rendy. Dia kangen berantem dan beradu mulut dengan Rendy. Beradu mulut debat maksudnya, bukan beradu mulut saling sesap dan me *****. Dia bersikap biasa saja seolah bukan dirinya yang melakukan tadi.


"Kenapa Ren?" tanya Alex yang melihat Rendy seperti menahan sakit.


"Nothing." jawab Rendy padat singkat dan jelas.


"Saya permisi ke toilet sebentar." pamit Rendy.


Rendy segera berdiri dari duduknya setelah mengusap lembut paha Mutia yang membuat si empunya paha langsung tersedak minuman yang baru saja mendarat di tenggorokannya.


Mutia melirik Rendy dengan amarah yang memuncak. Ingin rasanya dia memukul, menendang ataupun membogem wajah songong Rendy.


"Awas kau, Rendy.!!"


"Tunggu saja pembalasan dari Mutia." batin Mutia geram dengan apa yang baru saja Rendy lakukan pada dirinya. Dan anehnya, Mutia tidak langsung marah ataupun menghajar orang itu seperti apa yang sering dia lakukan kalau ada orang yang berniat jahat pada dirinya. Mutia justru merasakan darahnya berdesir begitu hebat hingga tubuhnya meremang.


"Kamu nggak apa?"


"Pelan-pelan kalau minum."


"Lihat!! Wajah kamu sampai memerah." kata Alex dengan memberikan tisu pada Mutia.


Mutia menerima tisu pemberian dari Alex dan segera mengusap bibirnya.


"Terima kasih Tuan Alex. Saya tidak apa."


"Nggak mungkin kan aku suka sama Kanebo kering itu." batin Mutia menyangkal perasaan yang dia rasakan saat ini.


Alex mengangguk saja dan melanjutkan makannya.


Mutia menatap arah menuju toilet saat mendapati panggilan dari "Kanebo kering". Rendy berdiri di dekat pohon hias memberi kode pada Mutia untuk mengangkat telephon darinya.


Mutia hanya memberi wajah meledek pada Rendy. Dia tidak mau mengangkat telephon dari Rendy.


"Kenapa tidak diangkat? Angkat saja, kelihatannya penting." kata Alex saat mendengar handphone Mutia yang terus saja berbunyi.


"Kalau begitu saya izin ke toilet sebentar."


"Nggak enak bicara disini." ucap Mutia dan bergegas menuju toilet, atau lebih tepatnya menemui Rendy yang terlihat puas saat Mutia mendatanginya.


Mutia berjalan melewati Rendy begitu saja,masuk lebih kedalam lagi mendekati tempat penyimpanan alat kebersihan biar Alex ataupun pengunjung restoran tidak melihat saat mereka berdebat. Bisa dikira nantinya adalah pasangan yang sedang bertengkar karena salah satu diantara mereka berdua ada yang selingkuh.


Rendy mengikuti Mutia dari belakang dengan tenang dan santai. Tampangnya seperti biasa, dingin dan datar meski hatinya senang Mutia mengikuti keinginannya.


"Mau apa kamu sebenarnya?"


"Bisa tidak_"


"Tidak." sahut Rendy memotong perkataan Mutia.


"Aku belum selesai bicara." sentak Mutia yang kesal sama Rendy.


Rendy lantas diam dan bersandar di dinding dengan posisi miring menghadap Mutia. Tangannya bersedakep dan juga sebelah kakinya di tekuk. Matanya fokus menatap wajah Mutia yang memerah karena kesal pada dirinya.


"Aduh!!!! Kenapa justru Rendy menatapku seperti itu sih? Aku jadi grogikan." keluh Mutia dalam benaknya yang tidak bisa konsentrasi untuk memarahi Rendy.


Mutia menatap bibir tipis milik Rendy yang membuatnya menelan salivanya susah payah. "Bolehkah aku merasakan bibir itu lagi?" geram Mutia yang terhipnotis oleh bibir Rendy yang tertarik membentuk senyum tipis.


"Manis." gumam Mutia tanpa sadar keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Apa yang manis?" tanya Rendy yang melihat Mutia melamun itu.


"Pasti dia sedang membayangkan hal yang jorok." cibir Rendy dalam hati. Namun dia justru semakin melebarkan senyumnya.


Mutia berdehem, dan sudah siap untuk mengatakan semuanya pada Rendy. Dia ingin mengatakan semuanya supaya jantungnya aman. Dia tidak ingin mati konyol hanya karena jantungnya tidak tenang saat mengingat Rendy ataupun melihat Rendy.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Kenapa kamu selalu mengganggu ketenangan hidup aku."


"Apa pekerjaan yang Tuan Bryan berikan kepadamu kurang?"


"Kau seminggu ini tidak menemui ku tapi selalu mengganggu lewat panggilan telephone juga spam pesan."


"Dan mulai detik ini nggak usah selalu mengirim pesan karena nggak bakal aku baca ataupun aku balas."


"Berarti boleh kalau aku menelephone mu." kata Rendy setelah mendengar kalimat yang panjang yang keluar dari bibir mungil Mutia.


"Nggak!!"


"Dan tolong jangan ganggu saya lagi."


"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa."


Mutia lantas pergi dari hadapan Rendy. Dia malas dan takut terbawa perasaan kalau harus terus berdekatan dengan Rendy. Saat ini dipikirannya hanya mencari lelaki yang bersedia untuk menjadi pacar bohongan nya untuk di kenalkan pada Paman dan juga Bibinya supaya dia tidak dijodohkan dengan anak teman Bibinya yang tidak dia kenal.


Mau minta tolong sama Rendy, Mutia terlalu gengsi dan nanti pastinya Rendy akan memanfaatkannya dan mencuri kesempatan untuk berbuat mesum.


"Aku akan selalu mengganggumu sampai kita bertemu Paman Wahyu dan juga Bibi Puji."


"Dan aku pastikan kita sebentar lagi akan memiliki hubungan." kata Rendy penuh percaya diri menatap punggung Mutia.


Mutia menghentikan langkah kakinya saat Rendy menyebut nama Paman dan Bibinya. Darimana Rendy tahu nama Paman dan Bibi, pikir Mutia. Dia menoleh kebelakang menatap Rendy yang ternyata juga sedang menatapnya.


"Bermimpi lah." ucap Mutia dengan nada remeh. Dia sebenarnya senang mendengar perkataan Rendy yang terakhir tadi. Tapi dia tidak mau berharap lebih. Rendy terlalu kaku orangnya.


Mutia bergegas pergi karena sudah terlalu lama meninggalkan Alex sendirian. Ya..target Mutia saat ini Alex, dia akan menjadikan Alex pacar bohongan nya. Awalnya dia meminta tolong pada Evan, tapi Evan menolak permintaan Mutia bukan karena tidak mau, tapi karena saat ini dia sedang menjalani pendekatan dengan seorang mahasiswi.


"Tanpa bermimpi ataupun paksaan, kita pasti akan bertemu dengan Paman dan Bibi mu juga Mama ku."


"Dan akan aku pastikan rencana mu akan gagal, Mutia." ucap Rendy dalam hati.


Dia menatap punggung Mutia yang sudah semakin menjauh dari jangkauan matanya dan kemudian menghilang setelah berbelok.


"Aku tak akan membiarkanmu jatuh di lubang yang salah."


🍁🍁🍁


Have a nice day


Thanks for like, vote, comment and gift


Big hug from far away 🤗🤗🤗


dewi widya


🍁🍁🍁


Lagi kangen sama visualnya. Jadi Author tampilkan lagi visualnya. Biar semakin semangat menghalunya.



Abrisam Bryan Alvaro 33 th


Freya Almeera Shanum 25 th



Maura Hanin Azzahra 5 th



Rendy Yudha Pratama 30 th

__ADS_1


Mutia Amalia Azmy 24 th


__ADS_2