Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 100. Danuja Pradipta


__ADS_3

Bab 100. Danuja Pradipta


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Sejak saat itu, Yanti memutuskan untuk membiarkan Lintang tinggal di kontrakannya yang ala kadarnya itu. Yanti merasa, Lintang merupakan wanita baik. Lagipula, kisah hidup yang nyaris sama menjadi titik balik sikap Yanti yang kini murni iba kepada Lintang.


Apalagi, sepeninggal ibunya akan kemana lagi wanita yang tengah berbadan dua itu akan menyeret langkahnya?


Meski penuh keterbatasan, namun sesama manusia, sudah barang tentu Yanti tak akan membiarkan Lintang pergi.


Lintang juga sudah memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya secara baik-baik. Ia tahu, cepat atau lambat semua orang akan mengetahui jika dia hamil. Ia kini tak malu, dan menyadari jika apa yang terjadi dalam hidupnya, merupakan sebuah takdir yang harus di jalani.


Lintang juga sedikit sungkan sebenarnya di awal-awal tinggal bersama Yanti. Namun yang itu memudar, seiring ramahnya tetangga kontrakan dimana Yanti tinggal.


Kontrakan kumuh yang penghuninya bervariasi dalam menjalani pekerjaan. Mulai dari pekerjaan halal, hingga pekerjaan yang dianggap sebagai orang tidak halal.


Ada saudara yang mendatangkan kecelakaan, namun ada juga orang lain yang lebih karib dari pada seorang saudara.


Kata-kata emas itu kini ia percayai. Bukti konkret jika dalam hari yang berjalan, selalu ada kemungkinan baik yang bisa saja membersamai.


" Tolong Ibuk terima ini!" Suatu malam lintang menyerahkan sejumlah uang sisa tabungan yang dia miliki untuk Yanti dan biaya hidup mereka.


" Apa ini Lin?" Tanya Yanti yang terkejut.


" Ini untuk belanja Buk!" Ucap Lintang penuh kesungkanan sebab baru memberi uang.


Sejurus kemudian Yanti tersenyum, ia lalu melipat tangan Lintang yang menggenggam uang itu. " Simpan saja buat lahiran kamu nanti. Kalau untuk makan kita, aku masih ada. Tolong kamu jangan sungkan Lin. Saya pernah ada di posisi kamu. Saya memberi bukan berarti saya berkecukupan. Tapi saya tahu gimana rasanya enggak punya apa-apa. Saya juga minta maaf karena belum bisa belikan popok baru buat anak kamu nanti. Tapi saya tadi dapat satu keresek pakaian bayi yang masih bagus-bagus!"


Raut gembira terpancar dari wajah Yanti. Wanita berkulit gelap itu baru saja mendapatkan harta karun berupa pakaian bekas untuk anak Lintang, dari orang paling kaya di area tempat tinggalnya.


Nyatanya, wanita miskin yang sempat ia ragukan itu kini menjelma menjadi orang yang selalu pasang badan akan keadaannya. Semenjak hamil besar, Yanti tak mengijinkan Lintang untuk bantu-bantu dirinya.


Hari yang berjalan semakin membuat keduanya mengerti dan memahami satu sama lain. Lintang yang selalu membantu Yanti usai memulung, juga Yanti yang kini senang karena ada teman berbicara.

__ADS_1


Hingga suatu malam, Lintang yang merasa perutnya mulas akibat kontraksi, benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tak membangunkan Yanti yang tertidur di atas kasur tipis, dan rela bertukar tempat dengan Lintang.


" Buk..Buk Yanti!"


Yanti terkesiap dari tidurnya. Menatap Lintang dengan wajah terkantuk-kantuk.


" Buk, maaf aku ngompol dan perutku sakit banget!"


Yanti mendelik dan berjingkat seketika. " Astaga, kamu pecah ketuban Lin!"


Kepanikan seketika melanda rumah sempit itu. Lintang Yanti dudukan di kasurnya, dan kini ia kalang kabut mencari bantuan. Ia takut jika air ketuban itu terus merembes, maka di khawatirkan akan berpengaruh pada kondisi bayi. Mengingat selama ini Lintang sama sekali tidak memeriksakan kandungannya ke bidan maupun klinik.


Yanti akhirnya menggedor pintu tetangga kontrakannya yang memiliki motor. Seorang wanita tuna susila yang bekerja di sebuah kawasan prostitusi yang cukup terkenal di daerah sana.


" Den! Denok! Buka pintunya Den!" Yanti terus menggedor pintu wanita berusia 30 tahun itu. Ia tahu jika Denok libur sebab wanita itu baru saja kena bisul di bagian bokongnya.


" Ada apa sih Yu? Malam malam begini ngagetin orang aja!"


" Si Lintang mau lahiran itu, tolong antar dia ke bidan Den!"


" Hah? Lintang mau brojol? Kok enggak ngomong dari tadi. Sek sek aduh ini bokongku masih linu lagi!" Denok seketika turut kebakaran jenggot.


Mereka berdua akhirnya riweh sebab panik dan kalang kabut. Ya, selama beberapa bulan Lintang tinggal ikut Yanti, Denok merupakan sosok yang sering membantunya. Lintang tak pernah mempermasalahkan latar belakang sosial orang lain, yang jelas siapa yang baik kepadanya saat ini, maka ia juga akan baik kepadanya.


Sementara Yanti berniat akan menyusul mereka setelah ini, ia terlebih dahulu menyiapkan beberapa perlengkapan bayi dan juga pakaian ganti, Jarit dan juga tempat untuk ari-ari yang sudah ia persiapkan beberapa hari ini.


Sementara itu di sebuah klinik bersalin, Lintang merasakan sakit yang luar biasa. Perutnya benar-benar sakit se sakit- sakitnya.


" Mbak sakit banget mbak!" Lintang bahkan meremas tangan Denok dengan erat saat gelombang kontraksi itu kembali menghampirinya.


Denok yang belum pernah merasakan bagiamana melahirkan, kini meringis seraya bingung. " Sabar ya Lin, semoga kamu sama anak kamu selamet!"


" Duh, yu Yanti mana sih lama amat!" Denok resah, ia juga tidak lihai dalam menenangkan orang yang kesakitan karena kontraksi, sebab yang ia bisa selama ini hanyalah menggoyang burung milik pria berkantong tebal yang bisa ia raup.


" Tarik napas lagi Lin. Ayok, seperti kata bu bidan tadi... aduh aku jadi bingung ini!"


Lintang dengan perlahan mengikuti saran Denok yang kini berwajah panik.


Dan tak berselang lama, Yanti datang dengan tergopoh-gopoh. " Udah bukaan berapa Den?"

__ADS_1


" Hah? Bukaan apanya?" Jawab Denok dengan wajah bodohnya.


" CK, ya jalan lahirnya lah!" Dengus Yanti kesal kepada wanita berambut bagai nyala api itu.


" Belum kesini lagi bidannya! Jadi aku engga tahu"


Lintang menitikkan air matanya. Ia kini tahu rasanya berjuang melahirkan itu seperti apa. Ia kini teringat semua sikapnya semasa sekolah dulu, yang mana sering menolak jika dimintai tolong ibunya.


" Maafin Lintang Buk, doain Lintang dan anak Lintang selamat Buk!" Ia membatin dalam hati.


" Tarik napas terus Lin , keluarkan lewat mulut ya!" Yanti dengan telaten mengelus pinggang lintang. Sedikit banyak ia tahu rasanya kontraksi.


Beberapa saat kemudian, datang bidan yang menangani lintang. Wanita berjilbab itu terlihat memasukkan jarinya ke organ vital Lintang. Membuat Denok meringis.


" Sudah pembukaan ke delapan, sebentar lagi ya? Ini suaminya dimana Bu?" Tanya bidan penuh kesopanan.


" Sedang di luar kota Bu, saya saudaranya. Ada apa ya?" Jawab Yanti cepat.


" Oh, silahkan salah satu mengisi data dan tanda tangan dulu sambil menunggu pembukaan sempurna ya?"


" Biar aku aja Yu, kamu jagain Lintang. Aku ikut mules rasanya disini!" Denok menyahut demi melihat serangakaian prosedur yang wajib Lintang jalani untuk menunggu pembukaan jalan lahir. Termasuk pengecekan pembukaan.


Lintang bersyukur. Ia masih ada yang menemani disaat - saat seperti ini. Dan setelah melalui proses menyakitkan yang baru ia rasakan, perjuangan seorang ibu yang bertaruh nyawa di tengah-tengah keterbatasan.


Lahirlah bayi laki-laki yang kini menangis kencang. Bayi yang kini membuat hati Lintang menghangat.


"Lin, anak kamu laki-laki Lin!" Yanti bahkan sampai menangis. Teringat akan apa yang dilalui oleh Lintang selama lima bulan ini bersamanya.


Lintang seketika menangis haru. Janjinya untuk membiarkan bayi itu hidup kepada mendiang ibunya, tertunaikan sudah.


" Dia sudah lahir buk. Dia cucu ibuk!"


Bayi malang, bayi tak berdosa , bayi nestapa yang lahir dari rahim wanita kurang beruntung, bayi yang sebenarnya merupakan darah daging dari pria kaya raya itu, kini diberi nama Danuja Pradipta.


Lintang berharap, bayi itu tumbuh sesuai nama yang ia berikan. Menjadi sosok pria yang baik, dengan sikap yang memiliki kepribadian baik serta menjadi cahaya penerang bagi orang-orang terdekatnya.


...Flashback end...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2