
Bab 96. Wanita berwajah kuyu
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Jodhistira
Lima bulan pasca perbincangan serius antara dirinya saja Ayah Abi, kini pria dengan hidung bangir itu terlihat lebih produktif di kantornya. Pria dengan wajah oriental itu kini tak lagi melibatkan mamanya dalam urusan perusahaan.
Jodhi semakin sibuk kala ia sudah berani mengepakkan sayap perusahaannya, untuk mendirikan pabrik di kota lain yang target pasarnya benar-benar sesuai harapan.
Asisten baru Jodhi yang bernama Jonathan juga terlihat cocok. Pria yang kini bekerja sebagai tangan kanan Jodhi itu bisa mengimbangi sikap atasnya yang acuh dan dingin.
Jonathan merupakan pria yang direkomendasikan oleh Devan. Pria dengan tinggi yang sama dengan Jodhi itu, merupakan anak dari rekan Devan yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya.
Ya, semenjak fakta yang ia ketahui dari Zaky tempo hari, fakta yang terang saja membuatnya dirundung rasa bersalah itu, membuat dirinya lebih sering berdiam diri dan jarang pulang kerumahnya karena mumet saat melihat Dafa dan Gita yang selalu ribut.
Jodhi lebih memilih pulang ke apartemennya dan menyibukkan diri dengan urusan kantor yang makin beraneka ragam.
" Pabrik yang ada di Kota S udah beres bos. Jika sesuai rencana, awal bulan bisa di operasikan!" Ucap Jonathan dengan penuh kesopanan.
Jodhi hanya mengangguk usai membaca laporan yang diberikan oleh sekretarisnya itu. Entahlah, jika harta dan kekayaan bisa membuatnya bahagia, mustinya dari dulu ia sudah merasakannya.
Namun kenyataannya yang ada?
...🌺🌺🌺...
Di tengah teriknya matahari yang menjilati kulit para manusia yang memecah keberuntungan hari itu, seorang wanita yang berwajah kuyu dan sibuk menenangkan seorang balita laki-laki yang menangis , kala ia mengaduk sebuah kaleng biskuit karena berusaha mencari kembalian untuk di berikan kepada seseorang yang sudah bermurah hati membeli dagangannya.
" Sssst cup nak!" Ucap wanita manis itu dengan terus menggoyangkan tubuhnya, agar bayi laki-laki itu mau menghentikan tangisnya.
__ADS_1
" Udah mbak enggak sudah kembalian, buat embaknya aja!" Ucap pasangan muda mudi yang terlihat menatap iba wanita itu. Kasihan demi melihat apa yang tersaji di depan mereka.
Lintang tersenyum, ia kerap mendapat belas kasih manakala berdagang" Terimakasih banyak ya!" Lintang yang kini sibuk menenangkan Danu, anaknya yang lahir tanpa seorang bapak.
Danuja Pradipta ( Anak sederhana yang memiliki kepribadian baik, dan sikap yang bercahaya).
Anak yang nestapa, anak yang menjadi satu-satunya alasan untuk dia bertahan hidup , setelah ibunya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya, karena ketidakmampuan mereka untuk berobat, di tengah perjuangan kerasa melawan ganasnya kanker payudara.
...Flash back...
Usai pulang dari tempat Zaky, ia yang terharu sebab pria yang menjadi bosnya itu telah berbaik hati memberikan dia uang yang sangat banyak, memutuskan untuk segera menemui ibunya.
Lintang memutuskan untuk mengajak pergi ibunya karena takut dengan Jodhi. Pria kasar yang membuat dirinya kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya itu.
Lintang benci dengan pria hidung belang seperti itu. Pria kaya yang sama sekali tak memiliki hati nurani, sekalipun ia memohon untuk di lepaskan.
Ia tak mengenal cinta dan tak percaya akan cinta. Sejak ia mengetahui jika Raka telah menikah dengan orang lain yang sederajat, ia menjadi sadar jika ia hanyalah anak miskin yang kini musti berkawan dengan kenyataan.
"Cinta hanya untuk mereka yang sekasta!" Lirihnya dengan rasa pilu yang teramat dalam.
Sepeninggal papanya, Hidup Lintang dan ibunya menjadi amburadul. Semua itu makin di perparah manakala ibunya di vonis mengidap kanker payudara dan stroke beberapa bulan kemudian.
Jika benar ini merupakan jalan hidupnya, maka kini ia akan menutup mata dari pandangan dunia yang mendakwanya bengis, manakala ia bekerja di cafe plus-plus itu, demi membiayai dirinya dan Ibu.
" Buk, kita pindah ya. Lintang cari kerja lain..Soalnya..."
Lintang tak menceritakan jika ia mengalami pelecehan oleh Jodhi. Ia hanya berkata kepada ibunya jika tempat kerjanya yang lama bangkrut. Ia menunjukkan uang yang ia dapat dari Zaky tempo hari, merupakan uang pesangon.
" Kenapa jauh sekali?" Ibu sempat pasal saat ia mengajak pergi. Namun dengan dalih yang kuat, Lintang akhirnya bisa memaksa ibunya.
Uang sebesar lima juta rupiah, yang menjadi cikal bakalnya, dalam meniti kehidupan di kota lain, nyatanya tak cukup untuk biaya pengobatan ibunya.
Lintang yang tiba di kota S saat malam hari, mendapatkan info kontrakan dari supir taksi tua yang berbaik hati memberikan info terkait rumah kontrakan murah yang bisa ia tempati sementara.
Namun kata sementara rupanya mampu membawa mereka bertahan hingga dua bulan lamanya. Awalnya, Lintang bekerja di sebuah swalayan toko dan bisa membayar uang kontrakan selama dua bulan di kota itu.
Namun, suatu hari ia yang sering mual tiap pagi hari membuat ibunya panik, membuat semua tabir gelap yang terselubung akhirnya tersingkap.
__ADS_1
" Huek Huek!"
Ibunya curiga demi melihat perubahan sikap dan kebiasaan anaknya. Pun dengan ukuran perut serta pinggul anaknya yang berubah.
" Mungkin masuk angin kamu Lin!"
" Apa sebaiknya tidak ke dokter?"
" Lin, kok kamu agak gemukan ya sekarang?"
Suara-suara penuh kecemasan di awal ketidaktahuan ibunya itu sebenarnya makin membuat Lintang dilanda keresahan. Entah sampai kapan ia akan bisa menyembunyikan hal itu dari ibunya.
Lintang tidak mau membuat ibunya bersedih. Hidup mereka sudah cukup susah selama ini. Bagiamana jika ibunya tahu? Ia berniat akan menggugurkan kandungannya, sebelum Ibu mengetahuinya.
Hingga suatu malam, ibunya yang tak tahan lagi akhirnya menanyakan sesuatu yang beberapa hari ini membuatnya curiga manakala ia yang tak lagi pernah melihat pembalut di kamar anaknya.
Hal itu semakin di perjelas, manakala tanpa sengaja Ibu Lintang menemukan bungkus tespeck di dalam tempat sampah di kamar anaknya, yang tertinggal karena Lintang terburu-buru manakala meraup sisa bungkusan itu.
" Lin? Sekarang kamu jujur sama Ibuk. Sebenarnya apa yang tejadi?" Cairan bening yang sudah mengumpul di kelopak mata wanita yang kini sudah botak itu, kini membasahi wajahnya yang pucat.
" Jawab Lin!" Teriak Ibu Lintang saat ia mulai merasa curiga. Itu merupakan suara terkeras ibu sejak beliau di landa sakit.
Tentang Lintang yang mendadak di cari oleh seorang pria, tentang mengapa anaknya yang mengajaknya pindah, serta tentang sikap Lintang yang sering tertutup dan kerap menangis. Dan tentang bungkus alat penguji kehamilan yang tertinggal di tempat sampah kamar anaknya yang akan ia buang.
Lintang mengetahui jika dirinya hamil saat ia yang sadar, bila selama dua bulan ini ia tak mengalami menstruasi. Awalnya ia tak percaya, jika hanya dengan melakukannya sekali, langsung bisa jadi. Namun sebuah alat test yang menunjukkan dua garis merah yang terang benderang itu, sukses membuat tubuh sekujur Lintang bergetar.
" Lintang hamil buk!" Ucap Lintang dengan deraian air mata yang tiada bisa ia tahan lagi.
" Lintang di perkosa orang Buk!"
Bagai tersambar petir yang menggelegar kencang, tubuh Ibu Lintang seketika limbung tatkala mendengar kenyataan mengejutkan itu.
Benarkah jika Tuhan masih untuk siapa saja?
.
.
__ADS_1
.