Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 23. Kemustahilan


__ADS_3

Bab 23. Kemustahilan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka terlihat menunggu Citra yang pagi ini akan ia antar ke sekolahnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya demi memburu waktu.


" Ayah!" Ucap bocah cilik itu dengan wajah tersenyum saat di gandeng oleh pengasuhnya. Citra sudah terlihat rapih pagi ini.


" Siap?" Tanya Raka yang kini berjongkok lantaran ingin mensejajari tinggi anaknya.


Citra mengangguk " Aku pakai bando dari Bu guru. Lihat, cantik kan yah?"


" Bu guru kan udah jadi temen aku. Jadi dia kasih hadiah buat Citra. Citra suka, warnanya cantik!" Citra berbicara memamerkan sebuah bando peach pemberian Galuh beberapa waktu yang lalu.


Raka tertegun. Tak menyangka jika anak dan gurunya itu sudah memiliki jalinan yang cukup dekat.


" Iya, bagus. Ya udah kita berangkat yuk!" Ia mengusap pipi bersih Citra seraya tersenyum. Melihat Citra semangat seperti itu, sangat membuat mood Raka baik.


Nining terlihat duduk di depan bersebelahan dengan Niko. Sementara dirinya duduk di belakang bersama Citra.


" Kamu jadwal kuliah jam berapa Ko?" Tanya Raka saat ia sudah berada dalam perjalanan.


" Saya daring hari ini Pak, ada apa?"


" Baguslah,nanti saya minta kamu jemput Citra bisa?"


Mendengar Ayahnya tak bisa menjemputnya nanti, membuat bocah lima tahun itu seketika menoleh.


" Ayah mau kemana?" Tanya Citra dengan tatapan berengut.


" Nanti papa ada meeting. Sama Om Niko dulu nanti pulangnya ya. Papa nanti malam mau ajak Citra jalan-jalan, oke?"

__ADS_1


Mendengar kata jalan-jalan membuat bocah itu tersugesti dengan baik dan melupakan kekesalan yang baru saja tersaji di depan mata. Anak-anak dan jalan-jalan sudah seperti satu kesatuan yang jelas terdengar menyenangkan.


Yeayy!!!!


Namun sayang seribu sayang, malam yang di nantikan oleh Citra rupanya tak sesuai dengan harapannya. Ayah rupanya mengajak Tante rambut pirang. Dan ia tak suka.


" Citra kayaknya enggak mau sama aku Ka!" Bisik Dewi saat ia akan masuk kedalam mobil Raka malam itu, dan melihat Citra yang berengut sembari menoleh ke arah lain.


" Enggak, santai aja. Dia selalu perlu penyesuaian dengan orang-orang baru. Aku...mau kamu bisa dekat dengan Citra, kalau kamu enggak keberatan." Ucap Raka terlihat malu-malu. Dan sedikit melirihkan intonasi suaranya di akhir kalimat.


Membuat Dewi seketika menyunggingkan senyum.


" Really?" Tanya Dewi memastikan.


Raka mengangguk seraya tersenyum. Dewi menatap Raka dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Rupanya lebih mudah dari yang aku sangka!"


.


.


Seharian ini Galuh rupanya telah membuang waktunya percuma. Pak Hendra dan Bu sefi yang notabene merupakan mertuanya itu, rupanya datang saat malam hari.


Tahu gitu dia bisa sekolah dulu tadi. Entah mengapa ia kepikiran dengan Citra. Bocah yang memerlukan pendampingan khusus itu benar-benar menyita perhatiannya.


Ya.. namanya juga mertua. Entah apapun alasannya, ia harus tetap menghormati bukan. Untung ia masih menyimpan lauk dan masakannya di tempat khusus.


Seharian ini mas Adi juga lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan kerjanya yang berada di sebelah kamar. Pria itu sama sekali tak turun bahkan tak berminat untuk membantunya membereskan rumah.


Dan saat ia kini sudah berada di meja makan bersama mertuanya. Adipati benar-benar bisa berakting dengan baik. Membuat Galuh benar-benar heran dengan kepiawaian suaminya itu.


" Anak itu ibarat rejeki Ma. Kita enggak tahu kapan datangnya. Iya kan sayang?"


Galuh bahkan hampir saja tersedak demi mendengar kata sayang yang diucapkan oleh Adipati. Astaga, pria itu bahkan terlihat biasa-biasa saja. Jelas sangatlah berbeda dengan dirinya yang benar-benar terkejut.


" I-Iya ma!" Jawabnya gugup dan langsung mendapat tatapan tajam dari Adi.

__ADS_1


" Mama beruntung punya menantu kamu Luh. Udah cantik, masakan kamu selalu enak, iya enggak Pah?" Tanya Bu Sefi kepada suaminya seraya tersenyum.


" Iya..bener. Kamu harus bersyukur Di, istrimu ini paket komplit. Kayak mama kamu!" Dua orang tua itu saling melempar tatapan senyum dengan tanpa curiga.


Oh astaga!


Adi tersenyum tanpa dosa dan terlihat sangat mudah berbaur. Sangat berbeda dengan Galuh yang bingung untuk bersikap. Berbohong jelas bukan diri Galuh yang sebenarnya.


Acara makan malam itu terpungkasi dengan wajar. Galuh kini terlihat mencuci piring bekas pakai keluarganya, sementara Bu Sefi terlihat menyimpan sisa lauk ke tempatnya.


" Adi selama ini selalu baik kan ke kamu Luh?" Tanya Bu Sefi yang benar-benar membuatnya terkejut.


" Enggak ada bicara kasar ke kamu kan?" Wanita itu semakin mendekatkan tubuhnya ke sisi Galuh. Sepertinya hendak berbicara intens.


Galuh tertegun. Ingin rasanya ia menangis detik itu juga, sewaktu di berondong pertanyaan seperti itu. Namun, wajah manusia baik di depannya itu benar-benar membuatnya tak tega.


" Baik kok ma. Mama jangan khawatir!" Sahutnya sembari tekun mengusap lemak rendang yang menempel pada piring putih itu. Berusaha menghindari tatapan mamanya.


Bu Sefi kini terlihat mendekat lalu mengusap punggungnya, " Syukur kalau gitu. Sebenarnya kami khawatir nak. Mengingat jika Adi dulu sempat menolak. Sekarang pasti dia merasa beruntung karena punya istri kamu. Semua-muanya bisa!" Ucap Bu Sefi merasa bangga dengan Galuh.


" Mama senang, karena Adi akhirnya mau mengerti jika kami tidak salah memilih kamu untuk dia!"


Hati Galuh bak terhujam oleh benda berat saat itu juga. Ia tahu ia telah berdosa karena telah berbohong. Bahkan membohongi dirinya sendiri.


" Masalah anak, kamu jangan ambil pikiran terlalu dalam Luh. Adi orang sibuk, mungkin Kalian harus memikirkan waktu untuk liburan berdua. Quality time itu penting!"


Ia masih tekun membilas piring yang penuh dengan busa itu, saat Bu Sefi berbicara semakin jauh. Membuat relung hatinya makin teriris.


" Itu tidak akan pernah terjadi Ma!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2