
Bab 151. Arti sebuah kesabaran
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Denok
Ia sudah bersahabat lama dengan yang namanya kegetiran hidup. Membuatnya tak lagi menelan kekecewaan, sekalipun entah mengapa ia mendadak menjadi resah kala melihat pria yang kerap ia ajak berdebat itu.
Hidup adalah hidup. Meski tak seperti nampaknya, namun ia mencoba menjadi setegar batu karang.
Tersenyum kecut sepanjang ia kembali menuju gedung pesta. Sempat menyesali diri, sebab mengizinkan perasaan lain menyusup ke relung hatinya.
Tidak, ia adalah manifestasi dari keteguhan dan kekuatan. Tak selayaknya ia merasa kecewa, atas apa yang seharusnya tidak libatkan itu.
Memangnya apa yang mau dia harapkan lagi ? Apa yang mau ia dapatkan dengan kenyataan seorang wanita malam seperti dirinya? Yang hidupnya bahkan selalu di pandang sebelah mata oleh orang lain.
Tidak. Ia tidak peduli soal itu. Ada hal yang harus ia jalani hingga akhir hayat nanti. Yang tak seorang pun ketahui, bahkan Lintang dan Bu Yanti sekalipun.
Ya, meskipun manusia itu tak sama dalam menilainya juga sih. Seperti keluarga Bu Rania contohnya .
Hah, ya sudahlah. Baginya hidup adalah hari ini dan untuk berjuang versi dirinya. Dari kejauhan, ia menatap angkasa dengan kepala mendongak.
" Kau yang mengerti siapa aku, Tuhan!"
.
.
Jonathan
Andai wanita itu seperti wanita lain yang mudah di pahami, ia akan lebih mudah untuk bernegosiasi. Tapi, Jonathan selalunya kalah tiap Denok mendebatnya dengan perkataan yang apa adanya.
Membuatnya kehilangan cara bahkan untuk sekedar ingin menjelaskan sesuatu, yang mendadak membuatnya resah bagai tersangka.
" Tadi itu siapa sih, enggak sopan banget orangnya. Kok bisa sih kamu kenal deng..."
" Fel, udah!" Sergah Jonathan jengah. Tak rela jika wanita yang di banggakan mamanya itu, memberikan penilaian secara kasar mata terhadap wanita luar biasa itu.
" Kita kembali kedalam!" Ucap pria yang entah mengapa hatinya menjadi resah, gundah meski ia tutupi dengan tampilannya yang begitu tenang.
Feli ikut berjalan dengan wajah tak suka. Jonathan sempat menghentikan langkahnya demi melihat sosok yang rupanya masih berada di area luar itu.
" Apa dia menangis?" Batin Jonathan saat melihat Denok mengusap wajahnya berkali-kali, sembari menarik napasnya.
" Kenapa kau begitu sulit di selami?"
Ia membatin. Dan tanpa Jonathan ketahui, jika di hari itu merupakan hari terkahir baginya bertemu dengan Denok, sebelum wanita itu pergi sebab kekecewaan yang mendadak tercipta.
...🌺🌺🌺...
Jodhistira
Pesta berakhir jelang sore hari. Danuja di rebut oleh Rania dan di boyong oleh kedua remaja, Dita dan Dafa yang begitu menyayangi keponakannya itu.
__ADS_1
Danuja yang justru kerasan dengan Dafa itu bahkan kini menolak Jodhi. Sepertinya pesona calon playboy itu membuat Danuja betah kala diajak bercanda bersama.
Keluarga besar Aryasatya sengaja meninggalkan pengantin baru itu, karena mereka tahu baik Jodhi maupun di pasti lelah.
" Aku pamit! Yang penting aku sudah datang kemari dan tunai sudah janjiku. Bahagia selalu Lin. Jangan lupakan orang kotor sepertiku!"
Dan kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Lintang bahkan saat ia sudah membersihkan diri seperti saat ini.
Membuat Jodhi yang baru selesai membersihkan dirinya, tertegun demi melihat istrinya yang melamun.
Lintang yang kaget melihat Jodhi yang kini bertelanjang dada seketika menjadi gugup dan malu. Membuat Jodhi yang menyadari kegelisahan Lintang, seketika mengenakan pakaiannya cepat-cepat.
" Sepertinya, kamu masih sedikit trauma Lin!"
Dan demi melihat hal itu, Jodhi menjadi berpikir untuk tak akan memaksa Lintang untuk meladeni geloranya malam ini.
Ia benar-benar yakin, jika wanita itu masih sedikit takut dan canggung. Ia paham dan tak ingin merusak apa yang selama ini telah ia perjuangkan.
Lintang berpura-pura menggosok rambut menggunakan handuk yang ia bebatkan ke atas kepalanya. Menghindari tatapan mata suaminya, yang mungkin menuntut haknya malam ini.
" Kenapa makanannya belum dimakan?" Ucapnya memecah kecanggungan yang menyeruak.
Lintang terkesiap dari kegiatannya demi mendengar Jodhi yang berjalan ke arahnya.
" Maaf, aku nunggu kamu selesai!"
Lintang yang kini telah melepas handuk dari atas kepalanya itu, terlihat menuju ke arah meja di kamarnya, lalu dengan sigap menata makanan yang telah disiapkan untuk mereka.
" Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Jodhi dari samping lemari.
Lintang menggeleng, " Cuman kepikiran mbak Denok. Dari dulu misterius banget. Aku tawarin kerja disini juga enggak mau. Aku..."
Jodhi yang baru selesai menyisir rambutnya itu kini berjalan menuju meja, lalu menatap Lintang yang duduk layu.
"Aku sudah pernah bilang juga sebenarnya tanpa sepengetahuan kamu buat ajak dia kemari beberapa waktu lalu. Tapi..."
" Ya begitulah mbak Denok, selalunya misterius. Aku enggak tau, apa yang memberatkan dirinya untuk keluar dari kota itu!"
mereka berdua sama-sama tertegun, dan menciptakan suasana yang begitu hening.
" Dah lah, kita makan dulu. Keburu dingin nanti. Kita kembali besok. Kamu istirahat aja dulu! Masalah Denok, kita bisa kunjungi dia kapan-kapan. Aku sama Jonathan pasti juga sering bolak-balik ke sana, lawong perusahaanku buka cabang di sana!"
Lintang mengangguk sebab Danuja telah aman bersama Bu Yanti dan Rania. Jodhi benar, mereka masih bisa berkunjung nanti.
Dan benar apa yang di katakan oleh Jodhi soal dirinya yang pasti lelah. Terbukti, Lintang kini terlihat tertidur berbantalkan dua tapak tangan yang ia katupkan menjadi satu, lalu tidur miring menghadap ke barat, sesaat setelah ia di tinggal sendiri oleh Jodhi yang pamit untuk menemui seseorang.
Jodhi yang baru keluar dengan agenda menemui Jonathan selaku koordinator dan juga penanggung jawab acara itu, kini menatap Lintang dengan senyum yang merekah, sesaat setelah ia kembali ke kamarnya.
Wanita yang pernah ia sakiti, wanita yang selama ini ia perjuangkan dengan susah payah, bahkan hingga membuatnya mengerahkan segenap personel senior dalam keluarganya itu, kini resmi menjadi miliknya.
Ya, Lintang kini adalah istrinya.
Namun, ada satu hal yang Jodhi rasa saat ini. Ia tak akan menuntut haknya lebih cepat. Ia hanya akan melakukannya jika Lintang sudah siap dan mau sukarela membersamai dirinya merengkuh kama sutra bersama.
Jodhi tak mau terburu-buru dan takut Lintang akan merasakan hal lain seperti dulu. Tidak, Jodhi telah banyak belajar dari pengalaman hidup.
.
.
__ADS_1
Lintang
Ia terjaga saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Petir yang menyambar diluar menjadi penegas jika cuaca tengah tak bersahabat.
"Astaga, aku ketiduran. Tapi, dimana Ayahnya Danuja?" Gumamnya dengan suara parau.
Dilihatnya jam digital di dinding yang menunjukkan angka 21.03 waktu setempat. Tertegun demi memikirkan dimana Jodhi berada?
Sejurus kemudian, ia berjalan keluar menuju pintu connector yang menampilkan ruangan, dengan pemandangan luas dinding lebar yang terbuat dari kaca, yang agak buram sebab sapuan air hujan yang lumayan.
Ia tertegun demi melihat Jodhi yang tak menyentuhnya malam ini. Ia pikir, pria itu akan...
" Ah Lin, kau terbangun? Ada apa?"
Jodhi yang kaget dengan kehadiran Lintang seketika menggerus rokoknya kedalam asbak , dengan wajah penuh kekhawatiran.
Lintang menggeleng. " Maaf aku tadi ketiduran!"
" Ayo, kita istirahat. Kamu pasti capek, atau kamu lapar, biar aku ambil..."
" Jo?"
Membuat suasana seketika menjadi hening, dan dua manusia itu menatap satu sama lain.
" Aku akan melakukannya kalau kau siap" Ucap Jodhi yang tahu arti tatapan mata sendu Lintang.
" Maaf!"
" Tidak ada yang perlu di maafkan. Ayo, istirahatlah. Besok kita lihat rumah baru buat kamu!"
Lintang terdiam saat lengan berotot Jodhi menarik tangannya menuju pembaringan.
Jodhi menepuk bantal lalu turut membaringkan tubuhnya. Lintang yang sebenarnya agak canggung itu, mendadak teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu yang memang memperlihatkan perbedaan yang nyata soal sikap Jodhi.
" Apa aku boleh memelukmu?" Tanya Jodhi menatap penuh harap dua netra Lintang.
Lintang mengangguk lalu mengalihkan posisi dengan membelakangi Jodhi. Mungkin, ia akan memulai membiaskan diri dengan sentuhan pria yang kini menjadi suaminya itu.
Lintang menelan ludahnya manakala tangan kekar itu mulai melingkar ke atas perutnya. Meski sisa bau asap rokok itu masih ada, namun agaknya parfum yang di kenakan oleh Jodhi lebih mengusiknya.
Membuat gelenyar aneh turut timbul seketika.
" Selamat tidur istriku. Aku mencintaimu!"
CUP
Lintang kembali menelan ludahnya kala Jodhi mengecup mesra pipinya dengan kalimat mendayu yang membuatnya merona, dan seketika membuat dirinya merasa begitu di cintai.
Ia tertegun.
Kini, entah mengapa ia menjadi merasa bersalah. Apa iya, jika malam ini harus ia lewati dengan tidur saja?
.
.
.
.
__ADS_1
.