
Bab 24.Isi Kalbu
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Berdamai dengan masa lalu rupanya sangat sulit dia lakukan. Terbukti selama ini ia memang sulit membuka hati pada perempuan manapun, bahan saat Mamanya memintanya berkali-kali untuk menikah, ia masih sama sekali tak tertarik.
Namun, dengan hadirnya Dewi saat ini, agaknya hatinya lekas terbuka dan mau menerima hal itu. Lebih lagi, ia sudah lama mengenal Dewi dengan sangat baik.
" Nah, sama Tante Dewi kita jalan-jalannya ya sayang. Citra mau kemana dulu, hm?" Dewi menyapa bocah kecil itu dan terlihat mengusap rambut Citra, namun dengan gerakan cepat bocah itu menolak.
Seolah-olah menegaskan jika bocah itu tidak mau dengan tawaran Dewi.
" Citra!" Ucap Raka memberikan peringatan lembut kepada anaknya. Merasa tak enak hati kepada Dewi atas perlakuan Citra.
Dewi menarik napasnya dalam-dalam dan sejurus kemudian menata senyuman. Agaknya ia masih memiliki satu kesulitan.
" Biarin aja Ka. Seperti katamu. Kita perlu waktu!" Ucap Dewi terdengar begitu lembut.
Hati Raka menghangat demi melihat Dewi yang selalu bisa meredam suasana canggung akibat ulah Citra. Sepertinya, ia sudah tahu kemana arah hidupnya setelah ini.
Ia terlihat membelokkan mobilnya ke sebuah mall besar yang lengkap dengan arena permainan. Berjalan beriringan bak keluarga bahagia.
Sayangnya, itu hanya sebatas pandangan saja. Bukan realitanya.
" Bu Guru?" Dengan wajah sumringah, Citra berlari menuju ke arah seorang wanita yang berdiri mengantre di loket pembayaran kartu untuk permainan itu.
Membuat Dewi dan Raka saling menatap.
__ADS_1
" Ada apa dek?" Ucap wanita yang merasa pakaiannya di tarik. Bahkan suara wanita itu langsung membuat Citra hopeless.
" Bukan Bu Guru ternyata!"
" Maaf ya Mbak, anak saya salah orang!" Raka bahkan harus meminta maaf kepada orang yang merasa terganggu itu.
Wajah Citra kembali muram demi mengetahui jika ia telah salah orang. " Bu Guru dimana? Tadi enggak masuk. Apa Bu Guru udah enggak mau berteman lagi sama Citra?"
Citra berjalan dengan tatapan kosong. Sama sekali tak menikmati acara jalan-jalan bersama Tante rambut pirang itu.
" Wah Cit, itu ada badut. Kita kesana yuk?" Dewi menunjukkan badut dengan karakter gadis cilik nakal yang hidup dengan beruang, berbaju ungu dan memakai tudung di kepalanya.
Namun Citra sama sekali tak menanggapi. Ia benar-benar tak mood malam ini.
" Aku bosan!"
.
.
Galuh
" Tadi mama ngomong apa sama kamu?"
Ucap mas Adi seraya melipat kedua tangannya ke depan dada. Dua alis matanya terlihat saling bertaut. Menandakan jika pria itu tengah gusar.
" Enggak ngomong apa-apa!" Ucap Galuh melanjutkan kegiatannya. Ia tahu Adi hanya ingin tahu soal namanya. Bukan dirinya.
" Jangan bohong kamu!" Adi menaikkan intonasi suaranya. Membuat Galuh seketika meletakkan sisir yang itu ke atas meja dengan keras.
Cukup!
Galuh mengeraskan rahangnya lalu bangkit seraya memutar tubuhnya. Menatap Adi dengan tatapan jengah.
" Mas tenang aja. Aku udah berakting seperti yang mas mau kok!" Ucap Galuh menahan sesak di dadanya. Mati-matian menahan bendungan air matanya yang nyaris jebol.
__ADS_1
Adipati melihat wajah Galuh yang hampir menangis. Membuat pria itu sedikit kasihan.
" Aku cuman pingin tahu, apa yang mama sampaikan ke kamu!" Adi menurunkan suaranya lebih pelan. Berharap Galuh mau menjawabnya jujur setelah ini.
" Mama ingin kita pergi bulan madu!"
Membuat mata Adi terbelalak, " Terus kamu jawab apa?"
" Aku enggak jawab!"
Kini, mereka berdua saling menatap dengan perasaan campur aduk. Galuh sudah lelah sebenarnya. Ia ingin menyerah. Tapi bayangan kedua orangtuanya seolah menjadi hal yang membuatnya selalu mengurungkan niatnya.
.
.
Galuh duduk diatas balkon kamarnya karena matanya sama sekali tidak mau terpejam. Wanita itu menatap nanar ke arah langit yang menunjukkan rona gelap sejauh mata memandang.
Tak ada bintang, bulan atau benda langit lainnya. Persis dengan rasa di hatinya yang saat ini mendung. Gelap dan tak tersuluh cahaya apapun.
Di awal-awal menikah, ia percaya jika Adipati kelak akan menerimanya. Banyak juga kok pernikahan yang awalnya karena terpaksa, lalu berubah menjadi saling cinta.
Tapi sepertinya, hal itu tak berlaku pada biduk pernikahannya. Lantas, siapakah yang patut disalahkan jika sudah begini?
Ketika ia masih memerlukan waktu untuk menyelami pikiranya sendiri, sebuah pesan masuk dan mengalihkan atensinya.
" Luh, besok elu masuk enggak? Gue pingin ketemu. Ada hal penting yang mau gue kasih tau ke elu!"
Ia tertegun usai membaca pesan singkat itu. Untuk apa Resti mengajaknya bertemu?
.
.
.
__ADS_1
.
to be continued...