
Bab 147. Saya terima nikah dan kawinnya...
.
.
.
...πΊπΊπΊ...
Raka
Malam ini kota J di guyur hujan dengan intensitas sedang. Ia yang beberapa waktu lalu bertemu dengan mantan suami dari istrinya itu, terlihat masih sedikit kesal hingga detik ini.
Sebab , insiden tak sengaja kemarin dimana Galuh bersua dengan keluarga mantan suaminya itu membuat mantan mertua perempuan Galuh lebih sering berbalas pesan dengan ibu dari Angga itu.
Tak ayal, hal itu membuat Raka sedikit tak suka. Raka yang teringat akan kebiadaban Adipati, tentu tak rela dan masih meninggalkan sejumput luka di hati pria itu.
" Citra mana mas?" Tanya Galuh malam itu yang baru saja menyikat giginya dari kamar mandi. Tengah bersiap untuk beristirahat malam.
" Barusan tidur dia. Udah aku pindah ke kamarnya. Kecapek'an dia. Tadi ikut mama dan Tante Rania spa sama Angga sama Danuja!"
Raka terlihat sibuk mengetik sesuatu dalam laptopnya, saat ia menjawab pertanyaan istrinya. Sementara Galuh terlihat membetulkan selimut baby Angga yang telah memejamkan matanya di dalam box bayi.
" Mas masih marah? Ini udah lama banget loh!" Ucap Galuh melirik suami yang ekspresinya benar-benar muda di tebak jika masih merajuk.
Pria itu terlihat menghela napas lalu sejurus kemudian, " Aku enggak suka kamu sering chat sama mamanya Adipati. Aku tahu beliau orang baik. Tapi..."
"Mas!"
Galuh mendudukkan tubuhnya pada paha kekar suaminya. Membuat ucapan Raka menguap tak berguna.
Raka memangku istrinya diatas sofa di kamarnya, pria itu terlihat menatap istrinya dengan tatapan lekat.
" Aku seneng kamu cemburu. Itu artinya aku ini amat penting buat kamu. Tapi, Mama Sevi hanya sebatas ingin berbagi hal soal cucunya yang keadaannya seperti itu!"
Raka menikmati usapan lembut tangan lentik Galuh pada punggung kekarnya. Berbicara lemah lembut dalam memberikan pengertian.
" Tapi kalau mas tidak suka, pelan-pelan aku akan kurangi!"
Komunikasi, itu merupakan salah satu indikator penting dalam kita membina rumah tangga. Sebagai pasang, hendaknya kita memang perlu membicarakan ganjalan secara terbuka, guna kebaikan hubungan yang sehat.
" Mas, kadang walau berceritakan ke orang lain itu tak selalu menemukan jalan keluar. Tapi ada rasa kelegaan yang hadir, manakala kita telah bercerita!"
" Dan mungkin, Mama Sevi selama ini hanya butuh seseorang yang mau menjadi pendengar!"
Raka tertegun. Apakah kecemburuan berlebihan dan buta? Silahkan jika ia takut dan insecure dengan apa yang ia lihat?
" Mas jangan khawatir. Setelah ini Galuh akan pelan-pelan kurangi dengan cara Galuh!"
Raka memeluk pinggang istrinya lalu mengecup perut Galuh yang berisi buah cinta mereka itu dengan penuh kasih sayang, manakala harum napas Galuh kian mengusiknya.
Membangkitkan kembali benteng pertahanan jiwa kelelakiannya, yang tiada pernah puas saat bersama istrinya.
" Aku cuma takut kehilangan kamu Luh. Aku cuma memproteksi keluarga kita dari potensi - potensi seperti itu!"
Galuh tersenyum. Mengusap lembut rambut suaminya yang hitam wangi. Meraba pipi yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu dengan jari lentiknya.
" Mana mungkin aku berani berbuat macam-macam mas setelah apa yang kita lewati. Bahkan andai kita diberikan keabadian, aku mau hidup selamanya sama kamu!"
Raka mendongak manakala Galuh mengucapkan hal itu. Benar-benar tak tahan lagi.
Kini, dengan posisi yang masih sama, Raka menarik tengkuk istrinya lalu melahap bibir lezat yang telah menjadi candu baginya itu dalam sekali *******.
Di temani rintik hujan yang deras, di malam dingin yang syandu. Dua manusia itu kembali menyatukan diri, di tengah gelora kehamilan yang justru kian memanggil.
Menepikan Angga yang tertidur pulas sebab kelelahan usai diajak ngalor- ngidul oleh neneknya yang rempong.
Bersyukur dalam hati. Sebab nyatanya, semua yang tejadi telah berada dalam jalurnya masing-masing.
Mari kita mereguk nikmatnya cinta suci kita bersama sayang. Sebab dahaga ini, hanya kau yang bisa memuaskannya.
__ADS_1
...πΊπΊπΊ...
Lintang
Sepekan yang terasa bergulir lama, akhirnya berlalu juga. Kini, untuk pertama kali sepanjang sejarah sepak terjangnya dalam carut marut meniti naik turunnya kehidupan, Lintang merasa kagum akan dirinya sendiri.
Ya, di depan cermin besar di sebuah kamar hotel, ia mematut penampilan dirinya yang begitu cantik. Sebuah kebaya putih dengan detail cantik , hasil rancangan desainer terkemuka di kota itu telah ia kenakan.
Apa yang seolah-olah jauh dari jangkauannya dulu, kini nyata terpampang jelas di depan matanya.
Menjadi seorang pengantin.
Matanya bahkan mulai memanas kala Bu Yanti tiba-tiba muncul di belakangnya. Walau tanpa pendampingan kedua orangtuanya kandungnya, namun ia merasakan kebahagiaan, yang dulunya sempat ia ragukan.
" Anak Ibuk cantik!" Ucap Bu Yanti yang kini membetulkan bawahan kebaya putih yang membebat tubuh langsing Lintang.
Riasan seorang make up artist ternama, nampak membuat aura Lintang kian bersinar. Lintang cantik dan mempesona.
" Buk!" Ucap Lintang yang kini memeluk Bu Yanti dengan hati terharu.
" Jangan nangis. Nanti make up kamu luntur!" Bu Yanti membingkai wajah Lintang.
" Ibuk sama Ayah kamu disana pasti saat ini bahagia!"
Dua wanita itu terlihat saling berbicara sembari menguatkan hati agar tak kembali larut dalam tangis.
" Jadilah istri yang baik. Sebab istri adalah ladang bagi suami mereka. Ibuk selalu mendoakan supaya kamu selalu di berikan kebahagiaan nak. Ibu beruntung bisa di pertemukan dengan kamu!"
Keduanya saling memeluk. Untuk sejenak meluapkan rasa bahagia yang membuncah. Setelah beberapa tahun yang lalu , mereka kerap menghabiskannya kesedihan dan kesulitan bersama.
Hidup memang laksana lembaran kertas. Yang jika kita tidak mau membukanya, maka kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi.
.
.
Riuh rendah para tamu undangan telah memadati ballroom hotel, yang di dalam ruangan itu telah di tata beberapa kursi putih berhiaskan bunga hidup yang melingkari meja persegi panjang.
Beberapa anggota Event Organizer yang telah sibuk sejak hari kemarin, kini terlihat riwa-riwi guna memastikan kelancaran acara itu. Baik dari sisi keamanan, kuliner, maupun operasional lainnya.
Lintang dan Jodhi sepakat untuk melangsungkan resepsi pasca acara ijab kabul selesai. Sengaja seperti itu sebab keduanya rupanya memiliki satu kesamaan.
Tidak suka hal ribet dan bertele-tele.
Resepsi adalah pertemuan (perjamuan) resmi, yang diadakan untuk menerima tamu pada pesta perkawinan. Kegiatan menjamu tamu dalam skala besar ini sengaja di langsungkan, sebab Jodhi tak ingin Lintang terlalu lelah.
Dan saat Jodhi kini telah duduk diatas kursi besi yang di yakini mampu menahan bobot tubuhnya dalam beberapa waktu kedepan itu, ia yang kini di dampingi Rania juga Bastian terlihat agak tegang.
Bu Kartika nampak di dampingi oleh menantu dan anak sulungnya, Abimanyu dan Andhira di barisan depan, Bersama Citra dan Angga yang kini turut mengenakan pakaian formal.
Sementara Jonathan, pria itu terlihat sibuk guna memastikan kelancaran acara bersama ketua team dari Event Organizer yang mereka sewa.
" Harus sekali tarikan napas Jo. Kata orang tua dulu, kelancaran saat pengucapan ijab itu, di percaya melambangkan kehidupan yang juga akan lancar sesudahnya!" Tutur Bastian menepuk pundak kokoh anaknya.
Jodhi yang sebenarnya sedikit grogi itu mengangguk dengan penuh kemantapan. Bagiamana tidak grogi, ia tak menyangka jika mama dan papanya telah mengundang hadirkan kerabat, keluarga, sanak saudara, handai taulan, bahkan para kolega bisnis dari hulu hingga hilir dengan jumlah yang sangat banyak.
Membuatnya harus bisa menguasai keadaan dan jangan sampai membuat kesalahan sebisa mungkin.
" Pengantin wanitanya sudah datang!" Kalyna yang kini heboh berbisik di belakang Jodhi yang kini melongo, manakala melihat kecantikan Lintang yang tak pernah ia sangka akan sebegini bagusnya.
You're so beautiful!
" Pssst!! Pssst!!!! Iler tolong kondisikan Iler!" Danan terkikik-kikik saat membisikkan kata-kata di depan telinga Jodhi.
Membuat Jodhi mendengus karena kaget.
" Alah, kayak dia dulu enggak grogi aja. Fokus Jo! Ingat, harus sekali tarikan napas!" Timpal Wisang usai menyikut lengan sahabatnya itu.
Rania tersenyum senang demi melihat calon menantunya yang cantik dan begitu membuatnya pangling.
Wanita yang kini menggendong Danuja yang menggunakan tuxedo mini itu, terlihat tak hentinya menotolkan tissue ke sudut matanya sebab merasa terlalu bahagia.
__ADS_1
" Kamu cantik banget!" Bisik Jodhi sesaat setelah Lintang mendudukkan tubuhnya dan mengeluarkan aroma bunga wangi yang memantik kejantanannya.
Membuat dunia seolah-olah hanya milik mereka berdua saja.
" Kamu...juga ganteng!" Ucap Lintang lirih seraya tersipu malu yang membuat hati Jodhi berbunga-bunga. Ahay!
Jodhi mengenakan stelan jas putih gading yang warnanya senada dengan warna kebaya Lintang, yang membungkus tuxedo fit yang ia kenakan.
Membuat tampilan Jodhi terlihat awesome.
Petugas yang hadir terlihat jeli memeriksa beberapa dokumen. Membuat pengantin pria dan pengantin wanita itu tak hentinya merasakan hatinya yang terus berdebar.
Jilatan kamera fotografer profesional terus tercipta silih berganti. Membidik gambar-gambar terbaik, sebagi dokumentasi momentun bersejarah ini.
Pria itu terlihat memberikan wejangan- wejangan dan beberapa pesan singkat yang musti dijalani kedua mempelai sebagai pasangan suami istri.
Membuat Jodhi dan Lintang seketika fokus cenderung tegang seraya mengangguk menyetujui , manakala pria itu bertutur dengan lugasnya.
Dan akhirnya.
" Baik, kita mulai saja. Semua persyaratannya sudah lengkap...."
Jantung Jodhi serasa di tarik dalam waktu mendadak, kala pria berpeci hitam itu mulai membenarkan posisi duduknya.
" Saudara Jodhistira Mavendra bin Chandra Mavendra almarhum..."
Semua tamu yang mendengarkan secara saksama itu, terlihat fokus dan tegang dalam waktu bersamaan manakala mendengar petugas catatan sipil, yang memulai prosesi ijab kabul itu.
Dan saat tangan kekar Jodhi terhentak oleh jabatan tangan pria berpeci itu,
" Saya terima nikah dan kawinnya Lintang Kamala Shivani binti Panjisana Erlangga almarhum, dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai!!!"
Di lantai dasar tempat dimana ijab kabul itu telah di gelar. Seorang wanita heboh kini terlihat kebingungan , manakala kesusahan dalam membelah lautan manusia yang berdiri sebab antusias menyaksikan prosesi sakral itu.
Ya, manusia yang duduk di baris belakang itu agaknya sedikit kesulitan dalam melihat langsung, prosesi ijab kabul kedua mempelai. Membuat beberapa manusia di belakang itu berdiri dan menyumbat jalan yang ada.
Membikin wanita heboh itu mendengus kesal.
" Aduh ini gimana ceritanya orang elit di dalam gedung begini, malah jadi kayak orang antri sembako yang ngambil beras dari pemerintah!"
" Permisi! Permisi! Tolong beri jalan!!! Maaf pawang hujan mau lewat!"
.
.
.
.
.
.
Siapakah orang rempong itu??
π€£π€£π€£π€£
Mari kita bertanya kepada rumput yang bergoyang πππ
.
.
Keterangan:
Apakah wali nikah bisa digantikan?
Dalam menikahkan seorang perempuan, sang ayah akan bertindak sebagai wali nikah. Namun, jika ayah sudah meninggal atau tidak mampu menjadi wali nikah, maka bisa diganti dengan wali yang lain. Salah satu pilihannya adalah dengan wali hakim.
Sumber : Google.
__ADS_1