Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 152. Oh God!


__ADS_3

Bab 152. Oh God!


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Rasa lelah menjadi sebaik-baiknya pendukung untuk terbang jauh bersama mimpi, dua insan yang resmi menjadi pasutri itu.


Seberkas sinar mentari yang menembus dinding kaca itu, mengusik tidur keduanya. Membawa serta kenyataan baru, sebagai manusia yang kini berteman dengan keramahan takdir.


Dalam posisi yang masih memeluk, Jodhi menciumi kening Lintang penuh kasih. Membuat wanita itu dilanda kecanggungan dan rasa segan.


" Aku...mandi dulu!" Ucap Lintang yang mendadak insecure sebab nyaris saja terlupa jika ia telah menjadi Nyonya Lintang Jodhistira.


Jodhi mengangguk, " Mandilah!"


Ia senang, walau mereka tak melakukan apa-apa, lebih tepatnya belum, namun melihat Lintang kala membuka mata berada dalam dekapannya, jelas menjadi sumber kebahagiaan tersendiri.


Jodhi tersenyum-senyum sendiri manakala pintu itu terayun dan kini telah tertutup sempurna. Pria itu melempar tubuhnya kembali dengan tangan yang ia rentangkan.


" Hah, terimakasih Tuhan!"


Benar juga kata orang bijak. Kebahagiaan akan terasa nyata, jika kita memperjuangannya betul-betul.


Dan, semakin susah kita ketika mendapatkan sesuatu, maka akan semakin besar pula rasa menghargai kita kala memilikinya.


Beberapa saat kemudian, Lintang bingung karena tak mendapati suaminya di dalam kamar saat ia baru keluar dari kamar mandi.


" Nanti saja, setelah ini aku akan langsung pulang!"


Suara Jodhi terdengar di ruangan depan sisi jendela. Rupanya Jodhi sedang melakukan sebuah panggilan bersama seseorang.


Ia juga mendengar Jodhi tergelak manakala menjawab panggilan telepon, yang entah berasal dari siapa itu.


" Aman, iya dia sedang mandi!"


" Brengsek kau!" Disertai gelak tawa yang makin menjadi.


" Tidak perlu, nanti aku tanya istriku dulu. Danuja sedang apa?"


"Oke oke. Siap!"


Lintang menarik senyuman kala Jodhi menyebutnya degan kata Istriku. Terasa hangat di dalam hati.


" Sayang, kamu sudah selesai?"


Lintang yang larut dalam lamunan terkejut saat Jodhi memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia bahkan tak menyadari jika Jodhi telah memungkasi panggilannya.


Ibu Danuja itu mengangguk sembari tersenyum, " Siapa?"

__ADS_1


" Ayahnya Citra. Dia sama Galuh udah dirumah Mama. Sengaja ngerjain kita nih dia. Dia pikir kita..."


Jodhi yang menyadari jika ucapannya menjurus ke hal yang mungkin membuat Lintang tak nyaman, seketika menghentikannya.


" Lupakan, sebaiknya aku mandi dulu!"


Jodhi mengusap pipi Lintang yang masih dingin sembari tersenyum. Membuat wajah Lintang merona akan sikap jantan yang kini penuh kelembutan itu.


" Handuknya mana?"


" Jangan yang ini, ini bekas..."


" Ini aja!"


Lintang terdiam saat Jodhi memaksa mengambil handuk putih yang di bawa Lintang untuk di jemur. Wanita itu termangu dalam diam. Menatap punggung Jodhi yang hilang di balik pintu kamar mandi.


Merasa penasaran, Lintang akhirnya memberanikan diri meraih ponsel Jodhi. Ia terkejut demi melihat wallpaper potonya bersama Danuja saat ia berada di rumah sakit di kota S.


" Astaga, foto ini!" Batinnya lirih dengan mata yang mendadak mengkristal. Lintang mengusap foto dirinya dan Danuja dengan hati terharu.


Lintang mendadak merasa bersalah demi melihat ketulusan Jodhi yang rupanya sudah lama dilakukan. Tak pernah menduga jika Jodhi menganggap dirinya begitu berharga.


" Selamat bro, akhirnya enak-enak dengan yang beneran enak 🀣🀣!"


" Gimana? Lancar enggak? Awas aja elu keluar dulu ya! Sebagai lelaki sejati, ladies first itu wajib kita perhatikan!"


" Semua udah ngumpul dirumah. Citra bahkan sampai minta mandi dirumahmu Jo. Jangan bilang elu kesiangan karena ngelembur banyak ronde!"


Lintang sempat mendecah tak percaya demi melihat isi pesan dari saudara sepupu suaminya, yang membuatnya malu itu. Bagiamana bisa golongan dari ras pejantan perkasa itu membicarakan hal seronok di dalam pesannya.


Lintang merasa bersalah. Jodhi suaminya, dan itu sudah jelas dan tiada terbantahkan lagi.


Namun, mengapa ia tak menjalankan tugasnya sebagai istri di malam pertamanya menikah hanya atas dasar rasa takutnya yang belum tentu terbukti.


" Apa aku sudah egois?"


.


.


Jodhistira


Meskipun sepanjang malam ia mati-matian menahan serta menghalau diri dari rasa sialan yang mulai menyiksanya itu, namun Jodhi senang karena nyatanya logikanya masih dapat diajak bekerjasama.


Ya, itulah definisi cinta yang sesungguhnya. Selain pengertian, kesabaran juga merupakan indikator penting dalam menjalin hubungan.


Lintang semakin cantik dan makin membuatnya belingsatan saja di tiap momen kebersamaan. Tapi, track record yang ada jelas membuat Jodhi harus bisa membawa diri. Bahwa ia menikahi Lintang, bukan hanya untuk urusan begituan semata.


Ada Danuja, juga ada perasaannya yang masih sama, seperti saat ia bertemu pertama kali dengan Lintang.


Rasa ingin memiliki, ingin mencintai dan mengasihi, ingin melindungi, juga rasa indah yang terus ingin menemani.


Terlebih, ia sudah berjanji dalam hatinya akan membahagiakan wanita itu, sebisa, sekuat, dan semampunya, demi menyadari jika Lintang telah sebatang kara.

__ADS_1


Jodhi menggosok otot lengannya yang kekar dan liat dengan perasaan yang bahagia, membersihkan tiap inci bagian tubuhnya dengan tak sabar sebab akan memulai langkah barunya, sebagai suami dari Lintang.


Kini, ia berjanji ingin menjalani hidup barunya dengan sebaik mungkin. Menjadi Ayah, dan menjadi suami yang bisa diandalkan.


Ia terlihat menyambar handuk putih lalu membebatkannya ke bagian tubuh bawahnya. Membalikkan tubuh menggiurkan, yang mengundang gairah siapapun yang melihatnya.


CEKLEK


Jodhi terkejut demi melihat aura kamar yang redup. Melihat gorden kamar yang kini kembali tertutup rapat. Ada apa ini? Bukankah tadi kamarnya terang benderang? Dimana istrinya?


" Sayang?" Ucapnya panik demi melihat keadaan yang tadi benderang, kini menjadi temaram sebab dinding kaca lebar itu telah tertutup kembali oleh gorden tebal itu.


Membuat sinar horizon fajar tak dapat menembus ruangan redup itu.


" Sayang!" Ia makin panik kala tak mendengar sahutan atau jawaban apapun dari Lintang di kamarnya.


" Astaga, kau membuatku kaget. Kenapa belum ganti baj...."


DEG


Jodhi mendadak mematung sembari menekan ludahnya menuju ke dalam faring, demi melihat Lintang yang mendadak muncul dan tiba-tiba menanggalkan jubah mandinya.


Menampilkan sosok wanita cantik, dalam balutan lingerie seksi hitam. Dengan tonjolan dada yang membuat jiwa kelelakiannya bangkit seketika.


" Sayang kau..." Jodhi bahkan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bukankah Lintang masih terlihat tak nyaman dengan situasi intim?


Pria yang masih bertelanjang dada itu, benar-benar dibuat mati kutu dengan tampilan out of the box yang di suguhkan oleh Lintang.


" Apa mereka bisa menunggu sebentar?"


"Aku mau menjamu suamiku!" Ucap Lintang dengan suara parau seraya meraba enam cetakan perut Jodhi dengan penuh gairah.


Membuat jakun Jodhi seketika naik turun demi merasakan sentuhan yang membuat sekujur tubuhnya menegang.


Oh God!


.


.


.


.


.


.


Dilanjut nanti malam ya sayangkuh. 😁😁😁 Mommy lagi rempong, karena mengetuai team gerak jalan ibu-ibu pecicilan di dunia nyata. 🀣🀣🀣


Readers ada kegiatan apa saja akhir-akhir ini dalam memeriahkan hari kemerdekaan negara tercinta kita ini?


Apapun kegiatannya, tetap semangat ya dalam membersamai ya. Bersyukur karena pelonggaran sudah banyak di sana sini.

__ADS_1


Total semangat buebo 🀟


Love you so much all 😘😘😘


__ADS_2