
Bab 56. Kekhawatiran itu
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Adipati
Senjata api genggam jenis revolver kaliber 25 merupakan senjata legal yang menemani perjalanannya selama beberapa tahun ini. Ia mulai melindungi dirinya dengan senjata tersebut lantaran saran dari rekannya yang mengingatkan jika bahaya bisa datang kapan saja, tanpa kita sadari.
Pria itu benar-benar naik pitam sewaktu merasa terlalu diikutcampuri terlalu dalam oleh Raka, membuatnya salah mengunakan senjata dan melukai orang yang tak bersalah.
Damn!!!
Naas, peluru yang harusnya melesat ke arah Raka, justru mengenai Galuh. Ia memaki pada dirinya sendiri. Geram karena kenapa Galuh malah melindungi pria itu.
Ia kabur bukan tanpa alasan, ia tentu saja tidak mau menjadi bulan-bulanan masa disana. Meski ia masih memiliki kekhawatiran kepada Galuh, namun sepertinya kabur merupakan jalan terbaik yang bisa ia tempuh saat ini.
.
.
Raka
Tatapan terkejut para warga sipil yang mendengar suara tembakan, tak menyurutkan niatnya membopong tubuh Galuh yang lengannya saat ini telah bersimbah darah.
Rasa cemas dan penuh kepanikan mendadak melingkupi diri Raka.
Leni yang merupakan guru julid di TK itu, seketika keluar dan mendelik demi melihat Galuh yang di bopong oleh pria tampan yang ia ketahui merupakan orang tua dari muridnya.
" Astaga, apa yang terjadi?"
Bu Bening yang melihat anak-anak TK mulai berhamburan hendak keluar, segera menghalau sebelum Citra melihat hal itu. Suara letusan peluru terang saja membuat siapapun yang bertelinga normal mendengar hal itu.
" Bertahanlah, aku akan membawamu kerumah saki!" Raka dengan keringat yang kini membasahi keningnya memasukkan Galuh dengan perlahan.
Pria itu dengan langkah setengah berlari kini memutari mobilnya dan tak menghiraukan gerumbulan manusia-manusia penuh rasa ingin tahu itu.
Ia menekan Handfree yang sudah tersinkronisasi dengan teleponnya itu, dan menghubungi Niko.
" Ya Pak?"
" Niko minta rumah sakit milik Om Richard menyiapkan timnya, aku memerlukan dokter bedah sekarang juga. Cepat!"
" Pak, siapa yang akan operasi pak, apa anda baik-baik saja?"
" Jangan banyak tanya Niko, lakukan saja!"
Maki Raka dengan suara yang panik sebab Galuh kini terdiam dengan wajah yang sudah mulai pucat.
Membuat Raka menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi.
.
.
__ADS_1
Niko
Jika mengidentifikasi suara yang ia tangkap barusan, bosnya itu tidak apa-apa. Tapi mengapa bisa sampai semarah itu?
" Ada apa?" Tanya Dewi yang curiga ada sesuatu yang terjadi.
" Emmm maaf, sepertinya Pak Raka masih ada urusan mendadak. Saya harus segera kerumah sakit!" Ucap Niko yang mulai panik. Jangan sampai bosnya itu marah sebab ia lelet dalam menjalankan tugas.
" Pokonya kamu harus sat set sat set Ko!" Titah papa Devan mendadak menari-nari di atas kepalanya yang selalu tersurai rapih itu.
" Rumah sakit?" Mata Dewi membulat. " Memangnya Raka kenapa?" Ia semakin panik.
" Saya juga tidak tahu,. maaf saya harus pergi!" Ucap Niko menunduk hormat.
" Tunggu! Aku ikut!"
.
.
Galuh
Ia sedang dalam kondisi yang tidak fit. Seminggu ini ia bahkan sering telat makan akibat selera makannya yang lenyap bersama rasa percayanya terhadap Adi.
Ia masih tersadar dan bisa melihat wajah tegang Raka sewaktu membopongnya menuju lobi. Dalam kesadaran yang tinggal separuh, ia bisa merasakan degup jantung Raka yang tak normal. Jelas pria itu panik bukan kepalang.
Galuh bisa melihat wajah tegang Raka dari dekat, bahkan bisa menghirup napas dengan kemarahan yang masih tersisa.
Memang hanya lengannya yang terkena, tapi banyaknya darah yang keluar, di tambah kondisinya yang lemah, jelas memperparah keadaannya kali ini.
" Dengan Pak Raka ?" Ucap dokter wanita yang rupanya sudah standby dengan dua perawat pria yang berdiri siaga di dekat brankar.
" Cepat pindahkan pasien!" Ucap seorang wanita yang mengenakan name tag dengan nama Helen itu, kepada dua perawat berseragam putih dengan aksen biru di dua kantongnya.
" Saya dokter Helen, mohon izin untuk membawa pasien!"
Raka mengangguk dengan perasaan yang campur aduk. Marah, kesal, terkejut, panik. Semua bergabung setangkup senada.
Mereka berlari bergegas menuju ruang tindakan. Baju Raka sudah bersimbah darah dan perasaannya benar-benar cemas.
" Mohon di tunggu ya Pak, kami akan tangani dengan segera!" Ucap dokter wanita itu.
" Tolong tangani dengan baik dok!" Titah Raka kepada dokter wanita itu.
Dokter itu mengangguk sopan. Ia tahu pria yang kini berwajah pias itu merupakan anak dari Abimanyu Aryasatya, rekan dari dokter Richard sang pemilik rumah sakit.
Raka duduk sembari memijat keningnya yang terasa berat. Ia teringat akan Galuh yang justru bertingkah impulsif, demi menyelamatkan dirinya. Astaga wanita itu!
" Raka!" Dari kejauhan, ia mendengar suara wanita yang familiar memanggil namanya. Berlari dengan wajah panik bersama Niko.
" Dewi?" Raka membulatkan matanya. Astaga, ia bahkan sampai lupa jika Dewi menunggunya di kantor. Oh sial!
" Astaga, baju kamu?" Dewi terkaget demi melihat pakaian Raka yang terkena noda darah Galuh.
" It's Ok enggak apa-apa!" Raka tersenyum mengusap lengan terbuka Dewi yang benar-benar kaget.
" Maaf Pak, tadi Bu Dewi...!"
" Tidak apa-apa, terimakasih Ko. Kerja bagus karena sudah menghubungi tim medis tepat waktu!" Raka menepuk pundak Niko tersenyum simpul.
__ADS_1
" Siapa yang dirawat Ka? Apa orangtuamu?" Tanya Dewi memicingkan matanya.
" Bukan, Bu Galuh!" Sahut Raka yang kini terlihat sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
" Galuh? Ada apa Raka membawa wanita itu kerumah sakit?"
" Bu Galuh? Ada apa Pak? Apa semua baik-baik saja?" Niko kini menatap Raka yang berwajah cemas dengan penuh selidik.
" Nanti aku ceritakan, sekarang tolong kamu hubungi pihak sekolah Citra dan minta rekaman CCTV di dekat jalan trotoar satu jam terkahir!" Titah Raka kepada Niko. Membuat Dewi semakin penasaran.
Jelas sesuatu telah terjadi. Mengapa Raka begitu terlihat sepanik itu?
Lebih dari satu jam menunggu, kini pintu dengan aksen kaca tertutup gorden abu-abu itu, terlihat terayun. Menampilkan dua orang dokter yang keluar dari dalam ruangan operasi itu.
" Gimana dok?" Raka seketika menyongsong kedatangan dokter spesialis bedah itu dengan langkah tak sabar.
Lagi-lagi, Dewi begitu terkejut akan reaksi penuh kekhawatiran yang di tunjukkan oleh Raka.
" Pasien belum siuman, sebuah proyektil telah berhasil kami keluarkan. Pasien demam sebab dehidrasi dan sepertinya kondisinya memang sedang tidak sehat sebelum tertembak tadi!" Terang dokter itu dengan wajah ramah.
" Tertembak?" Dewi melirik Raka yang sibuk berbincang dengan dua dokter itu. Membuat dia makin penasaran.
Kenapa Raka bisa bersama Galuh padahal beberapa saat lalu, mereka masih saling berhubungan melalui sambungan telepon.
" Saya boleh masuk dok?" Tanya Raka tak sabar.
" Silahkan, kami permisi dulu!"
Sejurus kemudian Raka bahkan meninggalkan Dewi demi melesat menuju tempat Galuh dirawat. Galuh mengangguk seraya tersenyum kepada dua dokter yang saat ini mengangguk sopan kepadanya.
" Sepertinya wanita itu akan menghalangi jalanku. Bedebah!"
.
.
Maya
" Apa? Kamu ini gila ya mas? Kalau mereka lapor polis gimana?" Maya seketika mendudukkan dirinya demi rasa pening di kepala yang mendadak menyerangnya.
Adi masih terdiam seraya mengigit kukunya Pria itu bahkan sudah bolos ke kantor hari ini. Semua yang ia rencanakan berantakan gara-gara insiden tadi.
" Pokoknya mas harus cari cara, jangan sampai kamu masuk penjara mas! Aku enggak mau kalau kamu sampek masuk penja..."
" Kamu bisa diam enggak sih? Ini juga karena kau yang minta aku nemui Galuh buat bicarain masalah rumah itu!" Adi membentak Maya karena merasa istrinya itu makin membuat kepalanya serasa mau pecah.
Maya menatap lekat suaminya, " Gara-gara aku mas?" Mata Maya mulai mengembun. Perasaan sensitif seorang ibu hamil agaknya dilupakan oleh Adipati.
" Aku cuma ngasih tahu kamu loh mas, bukannya nyuruh seperti yang kamu tuduhkan! Aku enggak ngerti sama kamu!"
Maya seketika enyah dari hadapan Adipati saat merasa percuma saja berbagai.
" Maya!" Panggil Adipati pada istrinya yang jelas telah merajuk itu.
" Maya!"
.
.
__ADS_1