
Bab 124. Inspeksi mendadak
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Jodhistira
Mungkin bisa dikatakan malam itu merupakan malam indah yang sempurna bagi Jodhi. Walau Lintang masih bersikap dingin, namun ledakan kebahagiaan itu benar-benar ia rasakan.
Andai ia bisa seatap dan sepenanggungan bersama Lintang dan Danuja setiap hari, jelas ia akan merasa menjadi manusia yang paling bahagia di jagad raya ini.
Diciuminya wajah Danuja yang asik mengenyot botol susu itu. Seolah tiada jemu, walau bagi itu hampir saja menangis sebab di sosor terus saja.
" Doain Ayah ya, biar besok bisa boyong kamu pulang ke rumah Ayah!" Bisik Jodhi cekikikan sendiri saat kantuk tak juga menyerangnya.
Dan benar, Jodhi dan Danuja akhirnya tertidur jelang subuh. Euforia itu ternyata bisa membuat orang terjaga lebih lama ya?
Dan ngomong-ngomong soal terjaga, Jodhi yang sebenarnya masih sangat mengantuk, kini harus kembali terbangun sebab ketukan dari luar membuatnya terusik.
Astaga!
Ia agak terkejut sebab Lintang rupanya juga masih berada di sofa dengan posisi yang sama. Dilihatnya jam di nakas itu dan ternyata sudah menunjukkan pukul setengah sembilan lebih.
Jodhi tidak tahu jika perawat tadi sudah ada yang datang, namun kembali sebab tak enak hati saat hendak membangunkan. Bagaimanapun juga, Jodhi itu bukan orang biasa.
TOK TOK TOK
" Iya sebentar!"
Jodhi heran, siapa yang datang dan mengetuk pintu? Jika Bu Yanti ataupun wanita nyil- nyilan itu, sudah pasti langsung masuk.
" Apa anak buah Novan?" Gumam Jodhi seraya menurunkan kakinya. Masuk akal jika para perawat itu yang mengetuk, karena selain sungkan, sebenarnya ini sudah agak siang kan? Batin Jodhi mengira-ngira.
CEKLEK
Namun apa yang ia terka dalam hatinya, rupanya tak berbanding lurus dengan kenyataan yang tersaji di depannya.
Bagai tersambar petir di siang bolong, tak ada hujan apalagi angin, Jodhi seketika merasa tegang dan kaku demi melihat dua sosok yang ada di hadapannya saat ini.
Mata Jodhi melebar saat menatap Mama Rania dan Papa Bastian, yang sudah berdiri bersama dua orang asing yang tidak Jodhi kenal?
Tunggu dulu, apa ia terkena inspeksi mendadak?
.
.
__ADS_1
Rania
Selepas dia mendapatkan info kemarin, rencananya ia akan menemui Raka untuk menitipkan Dafa dan Gita dirumah keponakannya itu hari itu juga.
Namun, hal yang mengejutkan lagi-lagi ia temui dirumah keponakannya itu, saat tahu jika Raka tak berada di rumah. Benar-benar terorganisir.
Galuh terpaksa mengaku karena ia tak mampu untuk berbohong lebih lama lagi, demi melihat cerita Rania yang resah merasakan sikap Jodhi yang membuatnya cemas setiap saat itu.
" Maaf Om, Tante. Sebenarnya, mas Raka ada di..."
Lagi-lagi, ia kini harus mengelus dadanya berulang kali demi mendengar cerita mengejutkan soal kenyataan yang di lakukan oleh putranya.
Ya, Galuh terpaksa menceritakan apa yang ia ketahui dari suaminya. Mulai dari soal Jodhi yang menyukai seorang perempuan bernama Lintang, soal Jodhi yang meniduri wanita itu karena salah paham, hingga Jodhi yang beberapa tahun ini resah sebab sebenarnya pria itu telah melakukan suatu hal yang kini membuat Rania bersedih.
" Mas Raka kesana sebab wanita bernama Lintang itu rupanya mengandung anak dari Jodhi Tan, dan..." Galuh menatap muram wajah Rania yang kini sudah berurai air mata.
Bastian terlihat tekun mengusap punggung istrinya yang pasti saat ini kecewa. Anak-nya telah merusak dan menyakiti seorang perempuan.
" Jadi anak itu adalah....?"
Galuh mengangguk muram, " Benar Tan, mas Raka bilang mereka ada di rumah sakit sebab anak Jodhi, maksud saya anak wanita itu tengah dirawat di rumah sakit!" Ucap Galuh meralat agar Rania tidak salah paham.
" Astaga!" Rania kini memijat keningnya yang terasa sakit.
" Jangan beritahu Raka ya jika kami akan kesana!" Ucap Bastian kepada Galuh.
" Baik Om!" Galuh bahkan bingung, ngomong salah, tidak ngomong tambah salah.
Usai menghubungi Andhira dan juga kakaknya Abimanyu untuk memberitahukan apa yang terjadi, ia yang pagi itu meminta bantuan Niko untuk mereservasikan penerbangan paling pagi, akhirnya memutuskan untuk terbang pagi itu juga.
Bagiamanapun juga, Rania dan Bastian harus menyelesaikan masalah ini. Anaknya telah salah, wajib hukumnya bagi mereka untuk bertanggungjawab akan hal itu.
Beruntung, Dafa dan Gita mau mengerti akan hal itu. Membuat dua anak beranjak gede itu mau untuk di tinggal di kediaman Kalyna.
" Si Jonathan juga enggak ada mau balas, Jodhi benar-benar sudah mengkoordinir hal ini dengan baik!" Gumam Bastian saat berada didalam mobil menuju ke bandara.
Mereka berdua kini resah. Jodhi benar-benar sudah kelewatan.
Setibanya di kita S, mereka yang sudah di jemput oleh orang kepercayaan mereka disana di jam delapan lebih itu, tanpa menunggu lagi segera melesat menuju rumah sakit, tempat sinyo menginformasikan keberadaan Jodhi.
" Sepertinya semalam mas Jodhi menginap disana bos. Saya mengawasi dari luar. Yang sakit memang bayinya, dari informasi yang saya dapat dari resepsionis. " Terang Sinyo panjang lebar.
" Lebih cepat, Nyo! Anak itu benar-benar!"
.
.
Lintang
Sebenarnya sejak semalam ia merasa sekujur tubuhnya nyeri. Badannya juga demam, serta tenggorokannya terasa sakit kala digunakan menelan. Tapi, tidak ada yang tahu akn hal itu sebab masih sanggup ia tahankan.
__ADS_1
Namun, suara berisik dari depan pintu lambat laun membuatnya terusik.
" Mama?"
Ia bisa menangkap dengan jelas suara yang sarat akan keterkejutan dari Jodhi disana. Membuatnya bangun dengan tubuh yang rupanya semakin menjadi.
" Ada apa ini? Siapa mereka?"
Dari tempatnya kini duduk, ia bisa melihat wajah Jodhi yang mendadak pias, " Mengapa Jodhi terkejut seperti itu?"
Baik Rania maupun Lintang belum pernah saling bertemu. Maklum, saat sekolah dulu, Abimanyu lah yang sering mewakili Jodhi.
PLAK!
Mata Lintang membulat saat melihat Jodhi di tampar oleh wanita itu.
" Kurang ajar kamu Jo! Bagiamana bisa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari mama sama papa hah!"
" Keterlaluan kamu!" Ia bisa menangkap kilatan penuh emosi dari dua bola mata wanita itu.
" Tahan ma, ini dirumah sakit!" Ucap pria dewasa tampan yang kini mencoba melerai keduanya.
Ia juga sempat melihat ke arah Jodhi yang mununduk muram. Sama sekali tak ada perlawanan.
" Mama kecewa sama kamu Jo, kecewa!"
DEG
Lintang seketika merasa deg-degan. Apakah dia juga akan dimarahi oleh wanita itu? Apakah wanita itu juga akan memaki dirinya, sebab keluarga mereka yang terhormat namanya tercoreng karena Jodhi menghamilinya?
Lintang menatap Danuja yang masih lelap. Bagaimana ini? Mengapa suasananya berubah begitu mencekam? Kenapa Bu Yanti belum juga datang?
Lintang benar-benar ketakutan.
" Minggir kamu!" Ia kaget saat wanita itu mendorong Jodhi dengan wajah kesal dan marah. Membuat Jodhi kebingungan dan seketika wajah piasnya semakin menjadi pucat.
" Kamu Lintang?" Tanya seorang wanita paruh baya yang cantik dengan , dengan rambut sebahu yang wajahnya mirip dengan Jodhi. Membuat Lintang kaget.
" Lintang?" Ia mematung saat wanita itu tiba-tiba memeluknya dengan erat seraya menangis pilu.
" Ada apa ini?"
.
.
.
.
.
__ADS_1