
Bab 130. Keadaan selalu punya kenyataan
.
.
.
Lintang
" Benarkah?" Ucapnya senang, kala Jodhi datang membawa kabar jika Danuja sudah bisa dibawa pulang siang jelang sore nanti.
Dia yang diminta untuk beristirahat, justru tak bisa memejamkan matanya barang sejenak karena rasa yang berkecamuk dalam hatinya, soal tawaran Jodhi. Membawanya kepada ujung kebimbangan.
Padahal, keluarga yang lain taunya Lintang tengah beristirahat. Astaga wanita itu!
Jodhi mengangguk, " Kondisi Danuja sudah bagus, dari hasil lab juga tidak di temukan indikasi penyakit lain." Ini gila, untuk pertama kalinya mereka berbicara dalam intonasi normal.
" Syukurlah!" Entah mengapa, mendengar kata pulang benar-benar membuatnya merasa ringan.
"Bagaimana keadaanmu, apa kamu sudah lebih baik?" Jodhi berucap sambil mendekat ke arah Lintang yang baru saja meneguk segelas air putih.
Sulit dipercaya, atmosfer yang biasanya panas, kini sudah tidak terlalu membakar.
Lintang mengangguk. Masih tak bisa bersikap biasa terhadap Jodhi. Ya, walau dia kini juga sudah tidak terlalu antipati sih.
" Danuja ak...."
BLAK!
Pintu lagi-lagi terjeblak keras.
" Helloooo!!! Lin!!!! "
Jodhi seketika menghela napas saat mendengar suara keras itu. Siapa lagi kalau bukan si ratu pembuat huru- hara.
" Duh, kok aku jadi ngerasa yang jadi perawat disini ya, bolak balik ngasih inpormasi!" Denok terkekeh tanpa mempedulikan Jodhi yang kini berengut.
" Ehemmm! Roman- romannya, bapak sama emaknya Danuja udah baikan nih! Cie- cie!"
Jodhi tersenyum penuh arti saat wanita binal itu menggodai dua insan, yang menjadi asal muasal hadirnya Danuja di muka bumi ini.
Sedangkan Lintang, wanita kuyu itu terlihat diam namun juga tak menyangkal. Ia hanya ingin me-manage emosinya agar tidak merepotkan banyak orang lagi.
" Ada apa mbak?" Tanya Lintang yang kini hendak turun dari ranjangnya. Sama sekali tak menghiraukan celetukan Denok soal keduanya. Lintang ta menggubris hal itu.
Lintang tidak di infus, wanita itu hanya membutuhkan istirahat yang berkualitas saja sebenarnya usai diberikan obat. Membuat mobilitasnya lebih mudah.
"Elu udah boleh pulang apa belum? Soalnya Danuja katanya udah boleh pulang sore ini!"
Lintang menatap seneng ke arah Denok.
" Yang bener mbak? Tapi, bukannya kemarin katanya nunggu hasil nanti malam?"
" Ya enggak tahu, kata mamanya Jodhi sebelum elu semaput, dokter udah ngasih hasil lab dan hasilnya bagus!"
Denok menatap dua anak Adam itu secara bergantian, terlihat penuh maksud.
"Elu mau pulang apa masih mau sama itu orang? Kalau masih mau disini sih, aku bisa atur! Cincailah kalau soal orang-orang tua itu." Denok terkikik-kikik. Wanita berotak kotor itu kini menaik-turunkan alisnya kehadapan Jodhi.
"Pie wani piro?
" Kalau aku sih..."
" Kalau gitu, ayo mbak kita ke kamarnya Danuja!"
Ucapan Jodhi seketika menguap kala Lintang menyambar lengan Denok.
__ADS_1
Ya, Lintang menarik lengan Denok dengan gerakan cepat dan tak terbaca . Dan tanpa di duga , wanita gemar urusan perburungan itu kini menjulurkan lidahnya ke arah Jodhi yang terbengong seraya mengejek.
" Nyengir - nyengir lu!" Cekikikan dalam hati.
.
.
Bagai lampu kehabisan minyak. Peribahasa itu mengibaratkan kehidupan seseorang yang miskin, makin bertambah kesengsaraanya sebab pencobaan yang tiada habis menerpa.
Begitulah kehidupan Lintang sejak sepuluh tahun terakhir. Dan hal itu semakin patah seja dua tahun terakhir.
Ia yang kini riang , dalam sekejap kembali dibuat mematung kala melihat dua orang asing lain, yang duduk di sofa seraya berhimpitan dengan Rania dan Danuja.
" Itu kan?"
" Lintang! Kamu sudah baikan nak?" Bu Yanti lebih dulu menyapanya dengan wajah senang. Membuat Lintang tersentak dari lamunannya soal Abimanyu.
" Sudah Buk, Lintang sudah enggak pusing lagi!"
Sejurus kemudian ia hanya mengangguk canggung kepada pria yang pernah ia lihat dulu sekali itu. Pria berwibawa yang tak hentinya menggenggam tangan sang istri.
Ia juga sempat melirik Raka yang kini lebih diam dibanding kemarin-kemarin. Jelas mengindikasikan jika sesuatu telah terjadi.
Lintang tidak tahu, jika selama ia pingsan tadi, Raka melesat menuju bandara demi menjemput kedua orangtuanya. Raka pasti malu jika Dhira memarahinya seperti Jodhi yang kena damprat mama Rania.
" Kenapa semua keluarga Jodhi datang kemari?"
" Apa yang mereka rencanakan?"
" Mama dan papanya Raka. Mereka bahkan masih cantik dan gagah sekali! Andai Ibu masih hidup." Lintang membatin dengan resah.
Ya, Abimanyu memang lebih sering ia lihat di sekolahnya dulu ketimbang Rania.
" Sebaiknya kita pulang sekarang saja. Nanti kita bicara dirumah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan!" Ucap Rania dengan wajah serius.
Membuat Lintang tertegun.
" Ayah?"
.
.
Danuja rewel saat melihat Jodhi yang muncul dengan kagetnya, manakala melihat Abimanyu yang ada di tengah-tengah mereka.
Balita itu meronta-ronta minta di gendong. Dan pemandangan itu, sukses membuat Dhira dan Abimanyu trenyuh. Bocah itu akhirnya ikut serta dalam mobil yang membawa rombongan manusia pembuat onar itu.
" Aku heran Ran. Kenapa dia bisa mirip sekali dengan Jodhi?" Ucap Abimanyu yang kini duduk di sebelah adik iparnya yang tekun mengemudi.
" Kak Abi aja heran apalagi aku. Pokonya mereka harus segera menikah kak. Aku enggak tega sama Lintang sama Danuja. Jodhi benar-benar keterlaluan!"
Andhira mengangguk. " Bener, mbak juga setuju. Jodhi sangat mencintai Lintang kan? Kita harus membicarakan hal ini secepatnya Ran."
" Tapi Lintang?" Wajah Rania kembali muram.
" Itulah tugas kita sebagai orang tua Ma!" Sahut Bastian yang masih fokus di kemudinya . Mengekor di belakang mobil hitam yang di lajukan oleh Jonathan di depan mereka, " Kita harus beri mereka pengertian!"
Kesemuanya mengangguk menyetujui ucapan Bastian. Itulah mengapa pentingnya orang tua tetap harus dilibatkan dalam urusan apapun. Sebab mereka masih memiliki tanggung jawab.
" Bas, belokkan dulu mobil kita ke minimarket itu biar enggak lama. Mbak mau belanja sesuatu dulu!"
" Tapi nanti kita kehila...."
" Kalau hilang jejak telpon Raka!"
Membuat Bastian seketika menekan indikator penyala lampu sen mobilnya.
__ADS_1
Sementara itu di mobil lain.
" Emang bener Lin, elu cuma kebagian ngeden ama nggembol ( ngandung) doang deh kayaknya!"
" Tuh lihat! Bisa-bisanya si Danuja plek ketiplek sama si Jodhi!" Bisik Denok yang mencari-cari sumber pergunjingan dari jok belakang yang bisa di dengar jelas oleh Jodhi yang memangku Danuja.
Belum juga rasa herannya sirna soal biaya rumah sakit yang sama sekali tak memberatkannya, kini perkataan Denok tanpa sengaja mensugesti Lintang untuk menoleh.
Lintang menghela nafasnya, Danuja memang fotokopian Jodhi dalam arti sebenarnya.
" Bibit unggul ya begini kan?" Ucap Jodhi menyahuti Denok.
Membuat wanita itu mencibir. " Percaya deh percaya kalau soal itu! Bokongmu emang bulet, pasti selain anu mu gede, kualitas itumu juga jos! Nih buktinya, croooot sekali aja langsung jadi biji kepala Danuja, apalagi kalau..."
" Mmmmmmpphhhh!" Denok menggumam dan tak bisa meneruskan ucapannya, kala tangan kasar Yanti membekap mulutnya yang mulai kurang ajar.
Membuat Raka seperti biasa, tergelak lalu sakit perut akibat mulut ngeslong Denok. Jonathan pasti sudah berastaga berulang kali, saat wanita itu kembali berulah.
Oh Gosh!
" Cangkemu Nok!"
" Sakjane koe ki lahir metu teko opo to Nok! Nok! Bocah kok koyok celeng!" Bisik Yanti kesal kepada Denok, sekaligus merasa tak enak hati kepada dua sumber keberadaan Danuja itu.
.
.
Di kediaman Yanti
Setelah sempat bingung, sebab sedan mewah di belakang mereka sempat hilang entah kemana, kini mereka bernapas lega saat Raka dan Jonathan memutuskan untuk menghubungi para orangtua yang entah nyasar kemana itu.
Ya, Dhira dan Rania sengaja membelanjakan beberapa kebutuhan untuk Danuja dan Bu Yanti dalam jumlah banyak.
Namun, mereka belum bisa membawa masuk, sebab mobil mereka tak bisa dibawa masuk ke gang sempit rumah kontrakan Yanti.
Hati Jodhi nyeri saat melihat bangunan semi permanen yang dikatakan oleh Yanti sebagi ' rumah' itu. Bangunan yang kusennya sudah miring dan cat yang mengelupas disana- sini itu, membuat Rania dan Dhira merasa hatinya sakit.
" Pak, Buk! Mari, silahkan masuk! Ya... beginilah keadaan kami selama ini!" Ucap Yanti usai membuka pintu rumah kontrakannya.
Lintang tak terlihat malu ataupun rikuh saat tiba di rumahnya. Ia sudah menjadi pribadi yang apa adanya sejak ibunya meninggal. Baginya, hidup hanyalah sebatas mencari di hari ini, dan habis di hari ini.
" Yok masok yok! Ahh, lega banget bisa balik ke habibat. Yan! Belikan aku rokok meh, cangekmku rasane kecut!" Teriak Denok kepada Yanto yang keluar sebab melihat keramaian itu.
Jonathan menggeleng melihat tingkah Denok yang lebih dari bar-bar itu. Apa sebutannya?
Namun sejurus kemudian, hal yang tak di sangka kini terdengar begitu menyakitkan hati siapapun yang mendengarnya.
" Eh Yanti! Lintang! Kemana aja lu? Kontrakan nunggak dua bulan kagak dibayar - bayar! Ini siapa lagi nih, pasti yang nagih utang ke elu juga ya?"
Denok kini mendelik dan hendak menyerang wanita itu namun di cegah oleh Yanti yang menggelengkan kepalanya. Membiarkan wanita itu untuk terus berbicara.
" Emang nih Buk, mereka itu hobinya nyusahin orang terus", Ucap wanita itu menatap Rania dan Andhira sekilas.
" Alasan aja anak-nya sakit. Anak-nya enggak enak badan. Kenapa enggak sekalian mati aja! Anak haram elu itu emang pembawa sial!" Udah sekarang mana cepet bayar uangnya! Elu pikir listrik sama air datang begitu aja dari kerak bumi?"
Dan demi apapun yang ada di dunia ini, Lima laki-laki serta dua wanita itu seketika merasa geram dan meradang, demi mendengar kalimat menyakitkan dari mulut ibu-ibu berdaster, yang mendadak muncul dari arah belakang itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.