Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 30. Kalah telak


__ADS_3

Bab 30. Kalah telak


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Kediaman Rio


"Citra!!" Seorang anak perempuan sebayanya melambaikan tangan.


Citra begitu percaya diri sekali sore ini, ada Bu guru yang menjadi temannya, dan juga Ayah yang rupanya ikut meski sebenarnya malah mengganggu. Begitu pikir Citra.


" Wah kamu datang sama siapa?" Tanya Fany. Temannya di perumahan dulu, yang sudah pindah ke TK lain, yang juga di undang ke acara Rio.


" Sama Bu Guru sama Ayah!" Ia berjumawa. Menunjukkan ke arah belakang dimana Bu Guru cantik tengah berjalan sambil menyapa para ibu-ibu lain yang sebenarnya tak saling mengenal itu.


" Ayo anak-anak masuk dulu ya!!!" Untuk para orangtua bisa menempati tempat yang sudah di sediakan!" Tutur MC kawakan yang sudah di sewa oleh keluarga Rio.


Citra melambaikan tangannya ke arah Galuh, sebagai tanda izin untuk masuk lalu melesat ke dalam, sambil membawa kado untuk Rio pastinya. Wah senangnya!


.


.


Galuh tadi masuk terlebih dahulu bersama Citra yang sudah tidak sabar, demi melihat badut-badut lucu dan riuh rendah suara anak-anak dari dalam. Meniggalkan Raka yang masih memarkirkan mobilnya seorang diri.


Rio bukanlah teman satu sekolah Citra. Bocah laki-laki yang kini sudah duduk di TK B itu merupakan anak orang yang dulu sempat bertetangga dengan mereka, sewaktu mereka masih menempati rumah yang lama.

__ADS_1


Galuh hanya mengangguk seraya tersenyum, saat para orang tua yang lain tengah menatapnya dan menyapa dengan anggukan.


" Siapa itu?"


" Tadi datang sama Citra, apa calon ibunya?"


" Nah itu Ayahnya di depan!"


" Beneran calonnya kayaknya, itu bajunya aja samaan!"


Kasak-kusuk rempong itu terdengar membuatnya menjadi tak nyaman. Sungguh, jika bukan karena kasihan dengan Citra, ia ogah dipaksa datang kesana. Apalagi dengan pria culas macam Raka. Hih, never ever!


" Pak Raka, apa kabar?" Sapa salah seorang ibu-ibu yang bergaya rempong dan terlihat sudah akrab dengan Raka.


" Eh Bu Setyo, saya baik. Ibu apa kabar?" Raka menjawab seraya menjabat tangan wanita gembul itu.


" Saya baik, wah..lama enggak ada kabar tahu-tahu Citra sudah mau punya ibu baru ya?" Ucap Bu Setyo melirik Galuh yang terlihat terkejut.


" Ah bisa aja Bu Setyo ini. Pak Setyo apa kabar? Masih berdinas di sini kan?" Sahut Raka yang membuat ucapan Galuh menguap. Pria itu benar-benar sialan!


Apa-apaan pria itu, kenapa dia malah tidak menyergah ucapan wanita gembul itu sih? Bagiamana nanti kalau orang lain salah paham?


Melihat ia sama sekali tidak di gubris, membuat Galuh lebih memilih beranjak dan menuju toilet. Ia tentu tak mau mendengar kelakaran Raka bersama para ibu-ibu rempong yang menurutnya garing itu.


Teman Citra rupanya anak orang kaya, tapi Galuh sedikit heran. Mengapa pestanya di gelar di rumah? Kenapa tidak di gedung? Ah entahlah, Galuh tidak mau ambil pusing. Kini ia lebih memilih untuk menepi saja, sebab keadaan disana sangat kurang nyaman.


Ia kini telah berada di dalam kamar mandi tamu, yang sudah di tunjukkan oleh seorang ART yang standby di samping tangga.


Galuh menatap pantulan dirinya di cermin. ia terlihat tidak buruk, tapi mengapa mas Adi sama sekali tak pernah melihatnya? Bayangan mas Adi mendadak muncul di pikirannya. Tentang dia yang senyam-senyum sendiri, saat membaca suatu pesan.


Juga ucapan Resti beberapa waktu lalu, makin membuat dirinya gusar, resah dan tak tenang.

__ADS_1


" Kenapa pergi?" Ia membulatkan matanya demi mengetahui jika Raka rupanya membuntutinya ke toilet.


Astaga pria ini!


" Kenapa mengukutiku?" Tanya Galuh tak kalah sebal. Menatap sengit ke arah Raka yang berwajah kaku.


" Ponselmu terus bergetar, jadi aku terpaksa mencarimu. Dari siapa? Pacar?" Tanya Raka seraya menyerahkan ponsel Galuh dengan alis terangkat sebelah.


Galuh menyaut ponsel itu dengan wajah tak suka. Untuk apa pria ketus itu kepo dengan urusannya. Lagipula, Galuh masih kesal saat dengan tanpa merasa bersalah, Raka main ngeloyor masuk kamar Citra saat ia berpakaian ketat seperti itu.


Dasar kurang ajar!


" CK, selain kurang ajar anda ini juga tidak beretika ya rupanya. Apa begitu etika seorang guru? Ada orang yang bertanya, tapi di acuhkan!"


Cibir Raka seraya melipat kedua tangannya ke dada. Menatap Galuh seraya mengangkat alisnya sebelah.


Membuat Galuh jengah.


" Apa begitu etika seorang CEO Delta Group? Sesudah berani melihat yang bukan seharusnya, namun tidak merasa bersalah sama sekali?"


Galuh melesat pergi usai mengucapkan perkataan yang membuat Raka kalah telak itu.


Double Damned!


Raka seketika dibuat mingkem demi mendengar ucapan Galuh yang selalu menohok.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2