Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 65. Di titik rendah kehidupan


__ADS_3

Bab 65. Di titik rendah kehidupan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Ucapan Raka yang beberapa waktu lalu mengingatkannya soal Dewi nyatanya tak lain hanya sebuah hardikan untuknya. " Kurang ajar kau Jodhi!" Gumamnya nyaris tak terdengar.


Di saat yang bersamaan, ia terlihat melesat dengan berdiam diri saat Dewi duduk dengan menatap nanar lurus. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.


" Aku antar kamu pulang!" Ucap Raka yang masih menahan amarahnya.


" Aku mau dekat sama Jodhi karena dia adik kamu, aku pingin dekat dengan semua keluarga kamu, tapi...."


Raka semakin mengeraskan rahangnya demi mendengar apa yang di ucapkan Dewi. " Udah jangan di bahas lagi!" Raka masih belum terima atas apa yang ia alami. Orang yang hendak ia jadikan ibu dari Citra baru saja dilecehkan oleh sepupunya sendiri, begitu pikir Raka.


Raka segera pamit sesaat setelah mengantar Dewi. Banyak sekali hal yang mendadak memenuhi otaknya saat ini, pasca mengetahui kekurangajaran Jodhi kepada dirinya , terlebih kepada wanita yang selama ini sudah ia kenalkan kepada Jodhi, sebagai orang yang dekat dengan.


Pria itu terlihat menghubungi Niko dengan wajah yang keruh." Tarik saham kita dari perusahaannya Jodhi!"


" Batalkan semua perjanjian apapun yang akan kita laksanakan besok!"


Raka benar-benar naik pitam. Ia ingin memberikan efek jera kepada Jodhi yang selama ini hanya menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang itu.


.


.


Abimanyu


Ia yang mendapat kabar dari bursa efek terkait merosotnya saham yang berada di perusahan adiknya, sebab likuiditasnya menurun drastis itu, kini turut panik.


Setelah di telusuri, semua itu terjadi karena Delta utama group melakukan suspensi terhadap semua sahamnya yang ada di perusahaan Jodhi.


" Apa yang terjadi?" Gumam Abimanyu kini bingung manakala Rania menelponnya dah benar-benar panik.


" Kenapa mas?" Tanya Dhira yang kini turut penasaran mengapa suaminya berwajah panik.


" Sesuatu telah terjadi!" Ucap Abimanyu panik. " Kenapa Raka menarik saham dari perusahaan Jodhi?"


Dhira turut panik, jelas masalah besar telah terjadi antara Raka dan Jodhi.


" Mah.. mamah" Kalyna yang siang itu baru pulang sekolah sebab ia ujian berteriak memanggil Andhira yang masih sibuk membahas persoalan kepada papanya.


" Mah!!" Gadis yang beberapa bulan lagi akan lulus SMA itu terlihat berlari dengan wajah pias.


" Ada apa Kay, kenapa kamu teriak-teriak!" Dhira kesal sebab suara Kalyna makin membuat kerunyaman semakin bertambah.


" Mbak Las barusan telepon, Pak Jan di serang orang dan Citra sama Bu Galuh di culik!"


Sebuah batu besar serasa menghantam kepalanya tanpa ampun, membuatnya tak bisa berkutik untuk beberapa saat demi mendengar berita mengejutkan yang nyaris membuatnya limbung.


" Pah!!" Kalyna dan Andhira turut berteriak seraya memegangi Abimanyu yang merasa tekanan darahnya telah naik. Membuat dadanya nyeri. Cucunya dalam bahaya.


" Hubungi Om Bastian!" Ucapnya dengan wajah meringis seraya memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.


.


.


Raka


Ia baru saja tiba di rumahnya namun sambutan yang di dapat justru membuatnya bagai tersambar petir meski tidak ada hujan apalagi mendung.


" Den! Den Raka!!" Mbak Sulas berlari dengan tergopoh-gopoh bahkan saat Raka belum turun dari mobilnya. Terlihat panik dan tubuhnya bergetar hebat.


" Kenapa Mbak?" Tanya Raka dengan wajah mengeruh.

__ADS_1


" Pak Jan di serang orang Den, Non Citra sama Bu Galuh di culik!"


Demi seluruh isi alam raya ini, Raka bagai terhantam oleh palu godam yang besar. Membuat ia kini mematung dengan lutut yang mendadak lemas.


.


.


Galuh


Ia mengabaikan Raka yang terburu-buru, sebulan membersamai keluarga itu membuatnya sedikit tahu akan sifat Raka yang memang sulit di tebak. Seperti siang ini misalnya, pria itu terlihat buru-buru dan entah apa penyebabnya.


Ia sudah bersama Pak Jan siang ini, hendak menjemput Citra. Meski tak turun dari mobil, Bocah kecil itu nampak senang manakala melihat dirinya yang berada di dalam mobil.


" Bu Guru jemput Citra?" Tanya Citra riang saat mereka kini telah duduk berdua di jok belakang. Pak Jan terlihat senang akan hal itu. Ia merasa anak majikannya itu menang lebih ceria saat di tunggui oleh wanita ramah itu.


" Kita mampir beli jajan dulu ya Bu, Citra pingin es krim ih, hihihi!"


Namun lagi-lagi malang tak dapat di tolak dan untuk tak dapat di raih. Saat mobil yang di kemudikan Pak Jan melintas di area yang sepi, dua sepeda motor yang di kendarai empat orang pria, bersama sebuah mobil mendadak mengkudeta laju mobil mereka.


Membuat Pak Jan menginjak pedal rem secara mendadak dan menghasilkan cetakan ban yang membekas kuat.


" Buka!" Ia seketika memeluk tubuh Citra saat seorang pria yang membawa senjata api menodongkan senjata itu ke arah Pak Jan yang sudah berwajah pias.


" Turun!" Bentak pria itu lagi.


" Bu Guru, ada apa ini? Citra takut!"


Dua pria lain yang membawa sepucuk senjata juga, kini terlihat mengintimidasi dirinya yang benar-benar ketakutan. " Siapa kalian, jangan sentuh aku!" Galuh dengan lutut yang sudah bergetar kini mengiba menggendong Citra yang kini menangis.


BUG


" Pak Jan!" Ia menjerit manakala melihat Pak Jan yang di pukul karena berusaha melawan dan seketika tak sadarkan diri.


" Paka Jan!!" Teriak Galuh yang kini benar-benar sangat bingung dan ketakutan.


" Masuk!" Titah pria berserobong hitam dan mendorong tubuhnya secara kasar untuk masuk kedalam mobil dengan posisi menggendong Citra. Galuh menangis karena jelas ia kini sangat ketakutan.


.


.


Ia tertawa bahagia sebab rencananya berhasil. Ia tak mengira apa yang ia rencanakan selama ini ternyata kabul juga.


Usai mengganti pakaiannya, wanita itu terlihat hendak menemui ibunya, namun mendadak ia mendelik demi melihat kamar ibunya yang kosong melompong.


" Kemana Ibu?" Ucapnya dengan raut yang mendadak pias.


" Anom!!"


" Anom!!"


Teriak wanita itu berjalan mengitari ruangan namun sama sekali tak mendapat sahutan apalagi jawaban. Ia terlihat menghubungi Anom namun tak berhasil.


" Brengsek, dimana mereka!" Dewi terlihat berfikir, jika sesuai rencana yang ia buat, Anom harusnya turut bersama anak buahnya yang ia tugaskan untuk menculik Citra.


" Halo dimana kamu?" Tanya Dewi kepada Oemar anak buahnya.


" Saya sudah bersama anak itu bos, tapi...!"


" Tapi apa?"


" Tapi kami... terpaksa membawa pengasuhnya juga karena wanita itu bersamanya!"


" Ya, dia ada bersama saya Bos!"


.


.


Anom


Ia melirik Oemar yang kini tengah berkomunikasi dengan Dewi. Ia bernapas lega karena Oemar nyatanya menjalankan apa yang ia perintahkan yakni mengatakan keberadaan Ibu Gwen, yang kini telah berada di suatu tempat yang aman.

__ADS_1


Sembari mendengar Oemar berbincang, ia terlihat melirik bocah perempuan yang menangis dalam dekapan wanita yang kini terlihat sangat ketakutan.


" Diam!!" Bentak Oemar kepada Citra karena bocah itu sedari tadi menangis. Pria itu sepertinya tak menyukai anak-anak.


Ia masih terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu.


" Citra mau pulang, Citra mau ketemu Ayah! Huuuhuuu!" Bocah itu terus menangis. Membuat Oemar makin berang.


" Astaga, kepalaku bisa pecah jika kau terus menangis bocah sialan!" Hardik Oemar yang benar-benar stres.


Anom terlihat memikirkan sesuatu, antara ragu dan yakin. Ia berperang melawan nuraninya saat ini. Dan saat mobil yang di kendarai Oemar melaju melewati hutan jati yang sepi, Anom terlihat menarik senjata yang berada di balik punggungnya dan mengarahkan senjata itu kepada Oemar.


KLAK KLEK


Suara kokangan senjata sukses membuat Galuh dan Oemar membulatkan matanya.


" Berhentikan mobilnya!" Ucap Anom datar seraya mengancam Oemar dengan senjata yang telah tertempel di pelipis pria itu.


" Apa yang kau katakan, apa kau gila?" Oemar mendadak terkejut, apakah sekutunya itu berkhianat? Atau memiliki rencana lain.


" Turun kubilang!" Anom berteriak dan membuat Citra yang tadi menangis seketika terdiam karena ketakutan. Pun dengan Galuh yang saat ini benar-benar berwajah pias.


" Shiiit!!!!" Oemar mengumpat dengan pandangan terus lurus kedepan. " Berikan ponselmu!" Ucap Anom meminta benda pipih yang di kantongi oleh pria brewok itu sesaat setelah Oemar menarik tuas hand rem.


" Turun!" Titah Anom yang mendorong paksa Oemar untuk keluar dari mobil itu.


" Hey!! Apa kau sudah tidak waras!" Maki Oemar yang kini benar-benar tak mengerti dengan sikap Anom.


Dan sejurus kemudian,


DOR


DOR


DOR


Galuh seketika menjerit manakala mendengar suara letusan sebanyak tiga kali itu. Suara tembakan Anom yang melesatkan timah panas tepat ke arah jantung Oemar.


BRUK


Oemar seketika limbung dan ambruk manakala jantungnya meledak oleh misil yang kini bersarang di tubuhnya itu.


" Maafkan aku!" Ucap Anom seraya menangis karena telah melenyapkan Oemar yang telah berdiri di tengah jalan itu.


Sejurus kemudian Anom menutup pintu mobil itu dengan keras dan meletakkan senjata yang ia bawa ke dasbor mobilnya dengan wajah putus asa. Galuh yang masih memeluk Citra dengan tubuh bergetar itu, kini sangat ketakutan saat menatap Anom yang menunduk.


Pria itu bahkan baru saja melenyapkan orang dengan begitu mudahnya. Ya Tuhan!


Anom terlihat menyusut air matanya dengan ibu jarinya, ia manusia yang juga memiliki rasa sedih. Entahlah, semoga ia tak salah jalan.


sejurus kemudian ia menatap Galuh yang kini bermandikan keringat walau AC mobil itu tiada pernah padam. Membuat Galuh menelan ludahnya karena semakin takut.


" Kau bisa menolongku?" Ucap Anom menatap datar wajah pias Galuh.


.


.


.


.


.


.


.


Banyak yang nggak kuat dengan konflik yang mommy suguhkan ya ternyata πŸ€£πŸ€£πŸ€—πŸ€£But ini free ya, mommy Buat outline ini sudah jauh-jauh hari, jalan cerita seperti apa dan bagaimana tentu sudah sesuai dengan tracknya.


Buat yang sudah pernah baca karya Mommy, pasti tahu karakteristik cerita seperti apa ya g mommy suguhkan.


Terimakasih sebelumnya readers πŸ€ŸπŸ€ŸπŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2