
Bab 82. Akulah pelindungmu
...Akulah penjagamu...
...Akulah pelindungmu...
...Akulah pendampingmu...
...Di setiap langkah-langkahmu...
...Kau bawa diriku ke dalam hidupmu...
...Kau basuh diriku dengan rasa sayang...
...Senyummu juga sedihmu adalah hidupku...
...Kau sentuh cintaku dengan lembut...
...Dengan sejuta warna...
...( Gigi ~ 11 Januari)...
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Galuh
Pagi ini, sesuai rencana sebelumnya, ia diajak Raka untuk pergi ke toko perhiasan besar milik Om Danan. Raka sengaja ingin mengajak Galuh mencari cincin yang sesuai dengan keinginan calon istrinya itu. Ia ingin segala sesuatunya musti sempurna dan menyenangkan hati Galuh.
" Mas? Ini enggak kemahalan?" Galuh bertanya tanpa menatap Raka, saat mengetahui harga sebentuk cincin berlian yang memang indah itu.
Raka tersentak bukan karena pertanyaan yang diajukan oleh Galuh, namun dengan sebutan yang baru didengarnya. Ihiir!!
" Kamu bilang apa tadi?" Ucap Raka mesam- mesen menatap Galuh. Melipat kedua tangannya dan menatap wajah calon istrinya itu penuh arti. Yes!
" Ini..enggak kemahalan?" Ucap Galuh ragu dengan menatap ke arah Raka.
" Bukan...bukan itu!" Ucap Raka lagi. Makin membuat Galuh mengerutkan keningnya.
" Yang mana?" Ucap Galuh kesal. Pria itu rewel sekali pikirnya.
" Yang awal tadi!" Jawab Raka dengan tersenyum. Membuat penjaga tempat perhiasan itu baper demi melihat dua dan janda yang tengah di mabuk oleh asmara itu.
Oh ya ampun!
" Mas?" Ucap Galuh ragu dengan malu-malu. Ia juga sadar jika baru baru kali ini memanggil Raka dengan sebutan 'Mas'. Ya gimana lagi, ini di toko, sebisa mungkin ia menjunjung praja calon suaminya bukan ?
Raka mengangguk dengan senyum tak lekang. Akhirnya wanita itu mau memanggilnya mas. Terasa lega sekali.
Keduanya sama-sama senyam-senyum. Membuat wanita penjaga etalase berkilau itu bak kambing congek. Damned!
" Ehem...maaf jadi yang mana Pak, Buk?" ucap karyawan Danan yang membuat dua manusia itu kini klejingan ( malu).
"Oh iya, yang ukuran jari nomer 7 aja ya mbak!" Ucap Galuh yang merasa bersalah karena mengabaikan pegawai manis itu.
" Gara-gara kamu sih mas!" Galuh terkekeh sambil menepuk lengan kekar Raka yang juga kini tekrikik-kikik.
Dasar Jandes and Dudes!
Sepasang cincin keluaran terbaru yang limited edition telah berada dalam genggaman, Raka tak hentinya memegangi tangan Galuh selama di dalam mobil, bahkan sesekali menciumi tangan lembut itu penuh cinta. Membuat Galuh merasa bahagia.
" Laper, makan dulu ya?" Ucapan itu lebih terdengar seperti perintah ketimbang tawaran. Raka bahkan sudah menepikan mobilnya sebelum Galuh menjawab. " Nanti sekalian kita jemput Citra habis dari sini!"
Mereka memasuki restoran masakan Indonesia yang lebih familiar di mulut.
__ADS_1
" Sepagi ini makan rawon?" Tanya Galuh sesaat setelah pelayan melenggang pergi, usia mencatat pesanan mereka.
Raka mengangguk tanpa dosa. " Kenapa, rawon disini enak. Kayak buatan mama dan mama Anggi. Aku dari kecil seneng banget makan rawon Luh. Kenapa kamu heran ya?"
Galuh mengangguk, sama sekali tak menyangka jika Raka gemar akan makanan berkuah pekat dengan rasa otentik yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal itu.
Dan benar saja, pria yang mengenakan kemeja dengan lengan tergulung itu makan dengan lahapnya. Cepat dan tak bersuara apapun.
Mereka memang belum sarapan sedari pagi tadi, karena sudah janjian untuk membeli perintilan yang akan mereka gunakan untuk menikah nanti.
" Nih coba!" Raka menyuapkan muffin blueberry kepada Galuh. Sebuah pesanan lain yang menjadi kesukaan Raka.
Wanita itu membuka mulutnya lalu terlihat menganalisis rasa yang saat ini ia kecap. Tidak terlalu suka sebab sangat manis. " Aku kurang suka, ini manis banget!"
" CK, ini enak tahu. Makanan kesukaan aku setelah rawon." Ucap Raka terkekeh.
" Mas jangan makan yang manis-manis, di kurangi. Diabetes jaman sekarang kayaknya nggak nyerang yang tua aja loh!"
Raka terkekeh. " Siap nyonya. Kan habis ini ada yang atur jadwal makananku!" Raka menaikturunkan kedua alisnya dan membuat Galuh tergelak.
Perasaan bahagia yang mereka harapkan tiada pernah berakhir.
Interaksi mereka berdua rupanya tak sengaja dilihat oleh Adipati yang pagi itu bersama Maya juga sarapan di sana.
Ya, Maya dan Adipati yang lebih dulu datang terkejut manakala melihat Galuh yang datang bersama seorang pria yang Adipati kenali. Dan entah mengapa, dada Adi seketika merasa bergemuruh melihat hal itu.
" Kau lihat, bahkan kalian bercerai belum genap setahun tapi mere...."
" Tutup mulutmu May! Lanjutkan saja makanmu!" Sergah Adipati yang sebenarnya cemburu melihat hal itu. Membuat Maya mendengus kesal sebab di hardik oleh suaminya.
Adipati masih menatap lekat dua sejoli yang kini saling bercengkrama mesra itu.
Melihat Galuh yang sepertinya hendak menuju ke toilet, Adipati berinisiatif untuk mencari alasan kepada Maya.
" Aku jawab telepon dari Yusak dulu!" Ucap Adipati yang hanya di balas anggukan oleh Maya. Wanita hamil itu sama sekali tak curiga sebab ia tahu bukti kesungguhan Adi yang lebih memilih dirinya ketimbang Galuh.
.
.
Adipati memindai situasi di sekeliling darah itu dan merasa cukup aman. Saat melihat pintu mulai terayun, Adi menarik tangan Galuh dan membuat wanita itu sangat terkejut.
" Mas Adi?"
" Sini kamu!" Ucap Adipati yang menyeret paksa Galuh. Membuat wanita itu ketakutan.
" Lepas! Apa yang mas Adi lakuin?'' Galuh menarik dengan keras tangannya. Membuat ketegangan kini menyeruak.
" Jadi kalian selama ini ada main di belakangku ya?" Adi tersenyum sumbang. " Wanita munafik! Kau menuduhku yang tidak-tidak tapi kau sendiri main di belakangku!"
PLAK!
Galuh melayangkan tamparan sebagai imbalan bagi mulut lancang Adi yang kurang ajar itu.
Bermain di belakang? Siapa yang bermain di belakang? Apa pria itu sudah tidak waras?
Napas Galuh memburu demi menahan diri dari serangan kemarahan yang dipantik oleh Adi.
" Asal kamu tahu ya mas, aku udah enggak peduli mau kamu mikir gimanapun ke aku, terserah! Aku enggak peduli !" Galuh mengucapkan hal itu dengan kalimat intonasi penuh penekanan. Ia terlalu muak dengan pria itu.
" Wanita sundal!" Adipati menarik tangan Galuh dengan kasar dan hendak melecehkan Galuh karena kegeraman yang mendadak timbul di hatinya, manakala Galuh berani menamparnya.
" Mas!" Galuh berteriak ketakutan.
BUG
" Mas?" Galuh terkejut saat tiba-tiba Adipati terjengkang ke lantai, saat seseorang menjotos wajah pria kurang ajar itu dengan kerasnya.
.
__ADS_1
.
Raka
Merasa ingin mengurangi isi kandung kemihnya, pria itu juga kini menyeret langkahnya menuju toilet. Toilet pria dan wanita hanya berada di jarak beberapa langkah.
Namun, sebuah suara teriakan kecil yang ia dengar, membuat Raka mempercepat langkahnya karena merasa familiar dengan suara itu.
Dan betapa terkejutnya ia, manakala melihat Adipati yang sudah menciumi leher Galuh. Kejadian menjijikkan itu sontak membuat laju darah darahnya mendidih.
BUG
" Bajingan lu ya!"
BUG
BUG
BUG
Raka kalap manakala melihat Adipati mengasari Galuh. Belum hilang dari ingatannya cerita tentang Galuh yang di selingkuhi, bahkan di perlakukan tidak baik, belum juga hilang dari ingatannya saat wanita itu pingsan manakala hujan dengan derasnya turun.
Adipati bahkan tak memiliki kesempatan untuk membalas, membuat suasana menjadi tengang dan mencekam. Beberapa orang yang tak sengaja melihat itu seketika melaporkan kejadian itu kepada security yang berada di depan.
Galuh diam dan kini tubuhnya menegang. Ia bisa melihat pancaran api kemarahan dari sorot mata tajam Raka, yang lengannya mengetat saat tekun menghadiahi bogem mentah ke wajah Adipati.
" Berhenti Pak!" Lerai seorang petugas keamanan yang nampak terkejut saat wajah Adipati sudah babak belur.
" Mas Adi!" Teriak Maya histeris kala melihat wajah suaminya hancur. Wanita yang perutnya sudah membuncit itu kini menangis dan tak mempedulikan Galuh yang sangat terkejut akan kedatangannya.
" Jadi mereka datang berdua?" Batin Galuh tak menyangka.
Maya sejurus kemudian terkejut manakala melihat pria tampan yang masih menyuguhkan raut kemarahan itu menatapnya tajam.
" Aku laporkan kalian ke polisi!" Ancam Maya yang tentu tak terima melihat suaminya babak belur. Wanita itu berteriak menatap Raka yang masih di pegangi oleh dia security itu.
" Laporkan saja! Aku juga bisa melaporkan suamimu yang bajingan itu ke polisi karena sudah mau melecehkan calon istriku!"
DUAR
Tubuh Maya bergetar, apa-apaan ini? Melecehkan?
" Mas?" Tanya Maya menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh selidik.
" Lepas!" Raka menarik dua lengannya secara bersamaan dengan kasar, dari cekalan dua petugas keamanan itu. Menepikan tatapan pengunjung lain yang tegang manakala menyaksikan kejadian itu.
" Ayo Luh kita pergi dari sini!" Raka menarik lengan Galuh yang masih bertubuh tegang saat itu. Galuh bisa melihat dengan jelas kekuatan seorang Raka manakala menghajar mantan suaminya itu.
.
.
Sesampainya di mobil Galuh hanya bisa terdiam dengan perasaan yang takut. Raka sangat mengerikan jika sudah marah seperti tadi.
Napas dari mulut yang terdengar memburu juga masih bisa ia dengarkan. Membuatnya ciut nyali. Ia takut jika Raka berpikir yang tidak-tidak soal keberadaan Adipati.
" Tadi itu aku benar-benar tidak tahu jika mas Adi..."
" Udah jangan bahas lagi Luh. Aku enggak mau dengar. Yang penting kamu enggak apa-apa!" Sahut Raka yang kini mulai menarik perseneling dan berniat meninggalkan tempat itu sebab kejadian barusan benar-benar membuatnya muak.
Galuh tertunduk. Dalam hati ia lega sekaligus senang. Nyatanya, Raka benar-benar melindungi harga dirinya dari ancaman pria mengerikan macam Adipati.
"Thanks Mas!"
.
.
.
__ADS_1