Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 148. Perusuh


__ADS_3

Bab 148. Perusah


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Denok


Ia sengaja ingin membuat kejutan pada Lintang dalam pernikahan temannya itu. Ia memang berbohong soal ketidakhadirannya pada acara Lintang pagi ini.


" Aku enggak janji Lin. Tapi, aku usahakan besoknya pasti kesana!"


Begitu kata Denok dalam satu pesannya yang di tulis beberapa waktu lalu.


Denok terpaksa melakukan semua itu sebab takut membuat repot keluarga Lintang. Lagipula, ia sudah terbiasa mandiri. Setali tiga uang dengan hal itu, Denok juga ingin menikmati perjalanan panjang menggunakan kereta api, sembari menggodai para POLSUSKA ( Polisi khusus kereta) yang katanya cakep-cakep.


Benar-benar tidak mau rugi.


Wanita ceplas-ceplos itu sengaja datang jauh-jauh dari timur menuju barat menggunakan kereta api supaya irit ongkos.


Namun, alih-alih agar hidupnya lebih hemat bersahaja, yang di dapat Denok justru tulang ekor yang serasa menebal, sebab berpuluh-puluh jam duduk di kereta.


Benar-benar sialan.


Sebulan yang lalu setelah kepergian Lintang dia sempat jatuh sakit. Penyebabnya tak lain karena ia terlalu sering marah-marah kepada tetangga kost barunya dan membuat wanita yang usianya kepala tiga itu terkena darah tinggi.


" Permisi! Permisi!! Pawang hujan mau lewat!" Ia terus berkata sambil menerobos maju, membelah gerumbulan manusia yang berjejalan tak teratur, usai Jodhi mengucap kata penuh khidmat itu.


Membuat orang-orang disana terheran-heran sebab merasa aneh. Apa hubungannya pawang hujan dengan acara yang digelar dalam suasana indoor?


Ngaco!


" Haduh buset, masuk ke acara nikahanya si Lintang aja udah berasa kayak menembus pertahanan barikade demo hari buruh!"


" Calon orang gedongan emang beda!"


Denok menggerutu tiada habis, sembari mulai merapikan rambutnya yang sedikit semrawut, akibat gesekan antar tubuh manusia disanalah.


Ia memindai sekeliling dan mendapati Jonathan yang tengah berbicara serius dengan seseorang yang terlihat seperti seorang petugas keamanan.


Pria itu bahkan masih terlihat tegas dan serius, bahkan di acara membahagiakan seperti saat ini.


" Si Jojon ganteng juga kalau gitu. Abis cukur kayaknya dia!" Terkikik geli manakala mulutnya mengakui ketampanan Jonathan dengan slebor ( rambut ) barunya.


"CK, kok jadi ngomongin si Jojon aku ya? Hah, mending aku ke meja makan dulu lah. Pasti masih lama acaranya! Laper banget!"


Ia bergumam demi melihat rombongan Andhira dan Danuja yang terlihat berada baris paling depan, dan terlihat sibuk menengadahkan tangan sewaktu berdoa.

__ADS_1


Denok sempat penasaran kala melihat Jonathan yang kini pergi sembari menautkan kedua alisnya manakala menjawab sebuah panggilan telepon.


" Makan sekarang boleh kan mas? Masa harus nunggu itu selesai. Kelamaan, ini saya ambil dulu ya! Kan enggak lucu ada musafir mati kelaparan di acara pernikahan!" Terkikik-kikik sendiri.


Petugas catering yang berdiri di samping stand sate lilit itu hanya bisa terbengong-bengong manakala melihat wanita manis yang terlihat bar-bar dalam menunjukkan interaksi sosial itu.


Segunung nasi dengan lauk yang menyelimuti, membuat Denok bagai membawa nasi tumpeng ekstra besar dalam cakupannya.


Membuat pria itu bergidik ngeri.


" Mas, ada kursi enggak. Pinjam maeh, saya baru dari stasiun langsung kesini tadi. Laper banget. duluan ya!"


Pria berseragam hitam putih itu mengangguk dengan wajah keheranan. Baru kali ini ia melihat wanita yang tak malu makan banyak, kala berada di pesta.


.


.


Lintang


Cincin yang telah tersemat di jari manis dua manusia itu, menjadi penegas jika satu sama lain kini telah saling memiliki.


Sebentuk cincin berlian indah, hasil produksi Dananjaya's Jewellery.


Ia kini terlihat sibuk menunjukkan buku berlogo Garuda dengan warna merah bata dan warna hijau ke arah fotografer bersama suaminya. Nampak serasi dan sangat membuat iri.


Dua sejoli yang kini sah menjadi suami istri itu, nampak malu-malu dalam menunjukkan interaksi manakala fotografer tengah menjalankan bagiannya dalam mendokumentasikan tiap momen berharga.


Kini, dua sejoli itu terlihat menemui satu persatu orang tua dari keluarga mereka, yang berada persis di sisi kiri Jodhi dan Lintang.


" Selamat Nak!" Bastian membekuk tubuh tegap Jodhi sambil menepuk penuh kebanggaan.


" Selamat sayang ya. Kamu udah jadi istrinya Jodhi. Mama bahagia!" Rania kini juga terlihat memeluk Lintang penuh rasa sayang.


Danuja yang melihat induknya berbeda rupa kini hanya terbengong dan tak mau diajak Lintang. Bocah yang kini nyaman dalam gendongan Yanti itu bahkan juga tak mengenali Jodhi yang memakai pakaian berbeda.


Membuat para tetua disana kembali dibuat tergelak oleh tingkah lucu Danuja.


MUA meminta kedua mempelai untuk berganti pakaian, saat seluruh tamu undangan kini di persilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia.


Acara yang masih berjalan di sela ramah tamah itu, kini di isi oleh sambutan dari keluarga Bastian juga Abimanyu. Membuat Jodhi memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Lintang.


" Kamu cantik banget!" Ucap Jodhi memuji Lintang, yang kini tengah berada di ruang ganti saat seorang MUA sedang mengambil gaun yang akan di kenakan oleh istrinya itu.


Ya, Jodhi terlihat ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Lintang hanya tersenyum canggung dan malu. Jantung Lintang bahkan berdebar lebih kencang , manakala pria yang telah menjadi suami sahnya itu mendekatkan wajahnya ke arahnya.


Berniat mengecup.


"Astaga, maaf- maaf saya..."

__ADS_1


Team MUA yang terkejut manakala melihat Jodhi hendak mengecup bibir Lintang itu, seketika menelan ludahnya dengan keresahan yang mendera saat membalikkan badannya.


Benar-benar ketakutan.


Membuat Jodhi seketika menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


" Saya ganti dimana ini?" Tanya Jodhi yang telah merasa konyol dalam waktu sekejap. Bersikap biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu.


" Dasar Jodhi, bagaimana bisa dia sebiasa itu bahkan setelah kepergok!" Gerutu Lintang dalam hati yang juga telah malu.


" Em di di sebelah si sini tuan, Sa- saya batu Nyonya pakai baju dulu!" Jawab wanita itu tergagap demi merasai situasi yang benar-benar mencekam.


Membuat Jodhi ingin tertawa begitu keras. Apa aku semenakutkan itu?


"Bu mari saya bantu!" Ucap wanita itu kala menemui Lintang yang berada di sisi yang agak dalam, ruang ganti itu. Terasa lebih tenang dari pada berhadapan dengan Jodhi yang terlihat begitu mengintimidasi.


Beberapa menit kemudian, Lintang dan Jodhi yang sudah berganti pakaian itu terlihat tertawa demi mengingat rasa mali akibat terpergok tadi.


Mereka bahkan berhasil membuat team MUA itu tak betah berlama-lama di ruang khusus itu.


" Udah sepi. Sekarang boleh ya? Aku kangen banget sama kamu. Kemarin seharian enggak ketemu!"


Jodhi menatap Lintang tak lekang. Seolah menyiratkan kerinduan yang mendalam.


Lintang mengangguk pelan menyetujui. Ia yakin lipstik waterproof mahal yang ia kenakan itu, tidak akan membuat bibir Jodhi berada dalam masalah.


Kini, dalam kesempatan yang singkat itu, Jodhi memiringkan wajahnya lalu mengecup mesra bibir menggoda Lintang.


Terasa manis dan membahagiakan dalam waktu bersamaan.


Namun tiba-tiba.


BRAK!!!


"Lintang, aem Koming ! ( I'm coming/ aku datang)!"


Sebuah suara milik perusuh keramat dan terdengar mengerikan itu, sontak membuat Jodhi mendelik dengan rasa lebih konyol yang kini menderanya.


" Astaga, kenapa selalu ada gangguan!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2