Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 79. Insan dalam amuk asmara


__ADS_3

Bab 79. Insan dalam amuk asmara


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Anom


Hari berlalu dengan cepat. Di hari ketiga pasca kejadian beberapa waktu lalu, ia kini tak percaya jika Dewi telah berubah. Wanita itu kini tengah ada bersamanya dengan tidur lelap usai mengobati lukanya yang masih sudah setengah kering.


Di tatapnya wajah lelah yang beberapa hari ini merawatnya penuh cinta itu. Dewi tak sengaja tidur disana, wanita itu kelelahan manakala menunggu Anom makan malam itu.


Anom menyusuri wajah bersih Dewi yang kini tanpa riasan itu. Ia kasihan, bagiamanapun juga Dewi juga manusia. Dan mengetahui kenyataan jika wanita itu sudah ditinggalkan bapak kandungnya sejak dalam kandungan, membuat hatinya miris dan nyeri.


" Nasibmu bahkan lebih buruk dariku!" Batin Anom menjerit.


Dewi yang merasa terusik dengan sebuah sentuhan, kini mengerjapkan matanya perlahan. Ia tersentak manakala melihat Anom yang tersenyum dengan posisi bertelanjang dada di depannya.


Anom ganteng.


" Kau sudah selesai? Astaga, maaf aku ketiduran!" Ucap Dewi dengan suara parau. Terlihat mencemaskan Anom." Biar aku sia..."


" Jangan pergi!"


Anom menahan Dewi yang hendak beranjak. Membuat wanita itu tercenung. " Temani aku malam ini!" Ucap Anom menatap sendu mata Dewi. Ya, mereka kedua kini beradu pandang selama beberapa detik.


Sorot mata yang terasa hangat.


Diluar sedang hujan, namun hati Anom kini sedang bermusim cerah. Sebab kesabarannya selama ini, kini berbuah. Dewi menjadi pribadi yang lebih baik. Dendam dan kebencian, nyatanya sirna sudah bersama penuturan Ibu Gwen beberapa waktu lalu.


" Tolong istirahatlah, kau sudah merawatku melebihi dirimu sendiri!"

__ADS_1


" Jangan pergi!"


Bagai terhipnotis, Dewi tertegun menatap raut pucat Anom yang bertelanjang dada itu.


Dan ucapan Anom barusaja, sukses membuat Dewi mengangguk. " Naiklah!" Ia kini merebahkan tubuhnya kembali dengan posisi miring menghadap ke arah Anom.


Tangannya dengan cat kuku merah itu terlihat menelusuri dada telanjang Anom dan mengusap luka bekas tembakan yang kini menganga. Kasihan dan merasa berhutang nyawa.


" Apa sakit?" Tanya Dewi seraya meraba luka itu perlahan. Dan berhasil membuat Anom merasakan gejolak manakala tangan lentik Dewi menyentuh tubuhnya.


" Lebih sakit saat aku melihatmu dengan pria itu. Luka ini sama sekali tidak ada artinya!" Ucap Anom lirih sembari melirik Dewi sebab ia belum bisa memiringkan tubuhnya.


Membuat Dewi terkejut akan pengakuan pria itu.


" Aku mencintaimu Wi. Sangat mencintaimu!" Anom kini menggenggam tangan Dewi dengan posisi berbaring. Membuat mata wanita itu berkaca-kaca.


" Jangan pergi dariku Wi, aku mohon!"


Ia kini sadar, jika selama ini telah membenci orang yang salah. Dan menyakiti orang yang tulus dan selalu ada di sampingnya. Mengabaikan perasaan suci yang nyatanya tulus dari seorang Anom.


Dewi mendekatkan tubuhnya dan kini memeluk dengan posisi miring dan kepalanya yang ia sandarkan ke dada telanjang Anom. Terasa hangat dan menentramkan sekali.


...🌺🌺🌺...


Galuh


Hari yang berlalu makin terasa ringan saja bagi dirinya. Walau ia masih meminta Dinda untuk menyimpan rahasia soal dirinya dan Raka yang dekat rapat-rapat.


Ia sadar, ia masih menunggu putusan dari pengadilan. Walau pada kenyataannya, ia memang sudah gak memiliki rasa kepada Adipati. Ia terlalu lelah dengan semua yang terjadi. Pria itu sama sekali tak memiliki tempat lagi di hati Galuh, semua sirna bersama dengan kejadian mengerikan waktu itu.


Galuh tengah sibuk menyisir rambut lurus Citra sore itu, manakala Raka datang di jam yang lebih cepat dari biasanya. Sama sekali tak mengira akan dengan apa yang ia lihat.


" Ayah!" Citra terkaget senang dan langsung berteriak manakala pria itu datang dan langsung menubruk Citra.


" Kok ayah pulang sore, tumben!" Tanya Citra saat Galuh menyelesaikan ikatan terakhir kuncirannya.

__ADS_1


Raka tersenyum senang seraya mengusap puncak kepala Citra, lalu melirik Galuh yang pura-pura sibuk membereskan perlengkapan Citra.


" Kita siap-siap. Besok kan Minggu terus Senin tanggal merah. Kita liburan ke puncak mau? Kita berangkat habis ini!" Ucap Raka yang kini duduk di tepi ranjang anaknya.


Citra berjingkrak kegirangan. Membaut kasur pegas itu terpantul - pantul" Mau banget! Bu Galuh diajak kan Yah?" Tanya Citra tak sabar.


" Pasti dong, nanti siapa yang jaga Citra kalau Bu Galuh enggak ikut!" Ucap Raka melirik Galuh yang nampak malu-malu.


" Yeey, pokoknya baju renang aku harus sama dengan Bu Galuh.. Yey!! Aku mau berenang!" Citra saking senangnya kini turun dari kasur, lalu melesat keluar. Menyisakan dua manusia dewasa yang kini berteman dengan kecanggungan.


" Aku udah bilang sama Dinda soal kepergian kita. Dia memang calon adik ipar yang baik!" Ucap Raka dengan senyum penuh arti.


Galuh tersentak." Memangnya apa yang Pak Raka katakan?" Tanya Galuh dengan wajah curiga.


" Ada deh, yang jelas dia jawab ' aman'!"


" Tapi nanti Bap..."


CUP


Raka mengecup pipi Galuh yang masih melamun dengan cepat. Membuat Galuh mendelik.


" Nanti kalau Citra lihat gimana?' Galuh memukul lengan kekar Raka.


" Biarin, biar dia tahu kalau sebentar lagi kamu jadi ibunya. Udah kamu siap-siap sekarang, kita berangkat habis ini. Kamu tahu jalan ke puncak selalu macet!" Jawab Raka terkekeh. Ia suka Galuh saat terkejut seperti itu.


Galuh mematung setelah Raka pergi, astaga apa itu berarti mereka akan menginap?


Oh tidak!


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2