Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 110. Api kecemburuan


__ADS_3

Bab 110. Api kecemburuan


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Lintang


Ia kini tengah membasuh wajahnya, saat Denok meninabobokan Danuja dan terlihat berhasil membuat bayi itu telah tertidur pulas di pangkuannya. Wanita itu membiarkan Lintang menumpahkan kesedihannya lewat tangis.


Bagi Denok, baik Lintang maupun Danuja adalah orang yang amat penting dalam hidupnya, sebab selain mereka mau memanusiakan Denok, ia juga merasa Lintang itu seperti dirinya. Sebatang kara dan juga bergulat dengan keterpaksaan, walau dengan cara yang tak sama.


" Danuja udah aku tidurin di kamar. Sekarang gimana?" Denok kini melempar tubuhnya ke kasur tipis itu kembali. Meraih rokok dan kini memantiknya dengan korek bensol. Ia sudah menjeblak jendela di atasnya, dan juga sudah menutup pintu kamar Danuja. Memastikan paparan asap itu aman.


" Sory Lin, ikutan gusar aku. Enggak bisa kalau enggak ngudud ( merokok)."


Lintang diam. " Mbak, apa aku pindah kontrakan aja ya? Aku takut kalau ia ngambil anakku mbak!" Ucap Lintang resah dengan menyuguhkan wajah muram.


Denok tersedak asap rokok yang ia hisap, demi mendengar ucapan Lintang yang ngawur itu.


" Lin! Ngomong apa lu? Mau pergi kemana? Enggak usah! Mau sampai kapan terus menghindar? Kalau emang elu enggak suka sama tuh orang, biarin aja! Nanti biar aku yang ngadepin tuh orang. Orang miskin seperti kita itu yah Lin, cuma punya keberanian. Kalau kita enggak punya hal itu, orang-orang macam kita ini bakal abis digilas kesombongan orang kaya Lin!"


" Udah, jangan ngada- ngada. Sama aku urusannya kalau orang itu masih aja gangguin kamu!"


Denok bahkan sampai tidak konsisten kala menyebutkan Lintang demi kegupuhan yang mendera.


" Udah, sekarang aku minta sama kamu, kamu yang tenang. Yang selooo! Aku cuma kasian sama Danuja kalau kamu terus begitu!"


" Kamu gak kasihan apa lihat tuh bayik nangis mulu. Aku aja gak tega Lin!" Ucap Denok seraya mengetuk rokoknya ke asbak, guna menghilangkan abu bakaran tembakau itu.


Lintang tercenung. Denok benar. Jika dia stres, maka Danuja pasti ikut rewel.


Denok menghisap rokoknya dalam-dalam. Bagiamanapun juga, bayi itu bahkan sudah bersama mereka sejak dalam kandungan. Mustahil rasanya bagi Denok untuk menutup mata dari masalah ini.


" Ngomong-ngomong, kayak apa sih rupanya Bapaknya si Danu? Jelek?" Tanya Denok menatap Lintang yang kini berwajah kosong.

__ADS_1


Lintang menggeleng lemah.


" Nah terus? "


Lintang tak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Sebab sejak ia tahu jika pria yang menyetubuhi dirinya itu adalah Jodhi. Entah mengapa hatinya bercampur aduk sekali rasanya.


Marah, kecewa, tak percaya. Dan kenapa pria itu tega melakukan semua ini?


Atas dasar apa?


" Gini deh Lin. Aku rasa yang kita butuhkan sekarang ini, sebenarnya cuma ketenangan. Elu bisa menghindar, tapi gimanapun juga, dia itu tetap bapaknya. Oke ketika kecil, bisa kita halau dia ( Danuja) biar enggak ketemu Bapaknya, tapi tuh anak juga bakal gede Lin!"


" Pikirin deh ini. Manusia hidup itu banyak kejutan Lin. Mulai enak sampai enggak enak. Kalau menurut aku. Sekarang saatnya elu hadepin. Kalau perlu, elu buat kesepakatan!"


" Kalau elu takut sendiri, nanti aku temenin. Laki modelan kayak apapun udah pernah aku libas Lin. Mau yang jujur sampai yang tukang ngibul sekalipun, aku tahu. Gimana?"


Lintang tertegun. Apakah ia harus menghadapi orang itu agar ia bebas dan tak perlu merasa dikejar lagi. Denok benar, ia kini memiliki Denok dan Yanti. Dua perempuan tangguh yang pasti akan menolong.


.


.


Jodhistira


Padahal, semua pekerjaannya telah rampung.


Mana mungkin ia membiarkan tabir yang kini terbuka itu tertutup kembali. Bagiamanapun juga, ia sangat yakin jika bayi yang di gendong Lintang itu, merupakan hasil perbuatannya beberapa tahun yang lalu.


Rencananya, Raka akan touch down di kota S nanti malam. Pria itu akan menggunakan penerbangan terakhir malam nanti. Itu sangat baik, sebab Jodhi tak bisa lagi menunda niatnya untuk mencari kediaman Lintang.


Namun, sebuah berita duka datang dari Jonathan sore itu.


" Bos, anak buah kita yang tempo hari dirawat, meninggal dunia bos! Yogi barusan menghubungi saya" Ucap Jonathan dengan wajah pias.


" Apa? " Jodhi tersentak dari lamunannya kala mendengar berita mengejutkan itu.


"Bukankah sudah kuminta untuk dilakukan penanganan yang terbaik?" Jodhi kini berdiri dengan wajah pucat.


Jonathan tertegun. Sekalipun segala prosedur optimal telah di laksanakan, namun agaknya Jodhi lupa jika yang kuasa selalu tak kurang cara dalam menarik kembali miliknya.

__ADS_1


Jodhi seketika dirundung kesedihan. Ia merasa bersalah sekali. Terlebih, ia tahu bila pria yang meninggal itu merupakan tulang punggung.


" Kita kesana sekarang!"


Jonathan terlihat mengangguk dan kini menelpon seseorang. " Bawa pengacara kita dan juga beberapa kemanan. Kita menuju lokasi!" Ucap Jonathan kepada seseorang di ujung teleponnya.


Bukan apa-apa, Jonathan hanya takut jika keluarga mereka menuntut atas kematian yang awalnya di sebabkan oleh kecelakaan kerja itu.


Namun, sungguh diluar prediksi. Rupanya orang yang kemarin di amputasi beberapa jarinya itu, meninggal sebab terjatuh di kamar mandi. Sungguh, Tuhan tak pernah kekurangan cara dalam mematikan ciptaannya.


Menurut penuturan sang istri, suaminya usai operasi menjadi orang yang kehilangan kepercayaan diri sebab dua ruas jari kanannya telah hilang. Membuat pria itu sering melamun dua hari belakangan ini.


" Saya ikhlas Pak. Saya sudah rela. Mungkin nasib saya memang di takdirkan begini!"


Tangis istri orang itu kian pecah, kala Jodhi yang mereka ketahui sebagai direktur utama dari perusahaan dimana suaminya bekerja itu datang menghaturkan dukacita.


Jodhi merasa iba. Ia bahkan kini tercekat demi melihat tiga orang anak berusia rancak, yang menangis di samping jenazah bapaknya yang sudah terbujur kaku. Hati Jodhi juga makin nyeri, kala menatap seorang bayi yang berusia sama dengan Danuja, yang diam dengan wajah polos saat ibunya masih menangis.


" Jo, pastikan mereka mendapat santunan yang layak. Setelah ini, beri modal ibunya untuk membuka usaha. Anak mereka banyak dan sepertinya ibunya tidak bekerja!" Bisik Jodhi kepada Jonathan yang standby di sampingnya.


" Siap Pak!" Angguk Jonathan yang paham akan tugasnya.


Namun, saat Jodhi tengah larut dalam duka, sesosok wanita yang ia cari selama ini, muncul diantara riuh rendah kerumunan para pelayat dengan di rangkul oleh seorang pria muda sebayanya.


Dan pemandangan tak sengaja itu, sukses membuat hati Jodhi bagai terbakar bara api. Panas dan menyakitkan.


" Lintang? Siapa pria itu?"


Jodhi mengeraskan rahangnya kala menatap Lintang yang di papah secara dekat, oleh seorang pria tampan yang sepertinya juga dikenali oleh para pelayat disana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2