
Bab 109. Sesal menggelayut
.
.
.
...Aku berhenti berharap...
...Dan menunggu datang gelap...
...sampai nanti suatu saat, tak ada cinta kudapat...
.......
...Kenapa ada derita...
...Bila bahagia tercipta...
...Kenapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan?...
...( Sheila on 7)...
...🌺🌺🌺...
Lintang
Setibanya ia dikontrakkannya, Lintang yang bermandikan peluh kini meletakkan Danuja keatas kasur kapuk yang sering menyiksa punggung itu.
Dengan perasaan yang campur aduk, ia berusaha mewaraskan diri, demi melihat keadaan Danuja.
" Duh nak, cup ya, kamu jangan nangis terus to..Ibu buatkan susu dulu ini, sebentar ya!"
Lintang terpaksa meninggalkan Danuja seorang diri di depan kasur tipis yang ada di depan TV usang. Wanita itu sejurus kemudian menuju dapur untuk membutakan susu bagi anaknya.
Dan siang itu, Denok yang mendengar tangis Danuja kini tergopoh-gopoh dan menjeblak pintu reot itu dengan tergesa. Sedikit lagi, rumah dengan kusen yang tak kokoh itu, pasti akan ambruk jika di perlakukan ugal-ugalan kembali oleh wanita berambut api itu.
" Loh Lin, kok tumben udah balik? Ini kenapa Danu kok nangis sampek begini?"
Denok panik manakala melihat Danuja yang kepier ( menangis histeris) diatas kasur kuno, yang lebih layak disebut sebuah tilam dari pada sebuah kasur. Saking tipisnya kasur itu.
Wanita tuna susila berhati malaikat yang sebenarnya hari itu masih hibernasi, sangat sensitif jika mendengar suara Danuja. Makhluk yang lebih sering hidup di malam hari ketimbang siang hari itu, sangat peduli terhadap Lintang dan Danuja.
Namun Lintang tak menjawab, ia malah menangis dan tak k bisa lagi menyembunyikan kesedihannya.
" Lah! Elu kenapa Lin? Kenapa elu nangis jugak? Waduh, runyam amat ini urusannya. Ada yang malak elu? Atau si Komang mau jadiin elu istri kedua?" Tanya Denok dengan raut muram.
Lintang menggeleng lemah seraya memberikan botol susu kepada Danuja. Wanita itu benar-benar terlihat menyedihkan.
" Elu kenapa sih, aduh jangan diem begini dong? Ngomong, siapa yang jahatin elu?" Tanya Denok muram dan makin tak sabar.
" Pria itu mbak!" Lintang kini menangis dan membuat suaranya bergetar. " Pria itu nemuin aku disini mbak?"
DEG
__ADS_1
Denok tercengang. Sudah pasti yang di maksud oleh Lintang adalah ayah biologis dari Danuja. Denok seketika diam, ia tak tahu musti berkomentar apa. Sebab hal ini sangat krusial.
" Sini biar aku aja yang nyusuin Danu!" Denok meraih botol susu dan membuat Lintang kini memeluk lututnya seraya menangis.
" Nangis aja Lin, biar elu lega. Tapi jangan lama-lama. Kata orang, kalau ibunya stres, bayinya ikut rewel. Ini buktinya!" Denok takut salah bicara. Ia tahu, Lintang sangat trauma dengan pria itu.
Denok tidak tahu saja, jika pria yang di maksud oleh Lintang, merupakan pria yang bahkan sudah dua kali ia jumpai.
Lintang menutup matanya sejenak menggunakan kedua tangannya. Menangis sejadi-jadinya demi meluapkan rasa emosi yang membuncah.
" Lin, please dengar aku dulu, aku Jodhi. Jodhistira Mavendra teman sekelas kamu waktu SMP, adiknya Raka!"
Ia makin terisak kala mendengar kalimat itu. Kalimat yang justru merasa menjadikan keadaan makin ironis.
"Jodhi? Lalu mengapa kamu tega berbuat ini padaku Jo?" Hatinya sakit bukan main. Entah hal itu bisa ia percayai atau tidak. Tapi siapapun yang melakukannya, hal itu jelas-jelas telah merugikan Lintang dan hidupnya selama ini.
Sekelebat bayangan masa lalu kala mereka masih SMP kini melintas dalam pikirannya. Tentang Jodhi dingin, yang akhirnya berteman dengan Raka, pria yang pernah ia sukai diam-diam.
" Kenapa Jo? Kenapa?" Teriak Lintang yang membuat Denok seketika menoleh dengan wajah terkejut. Baru kali ini ia mendengar Lintang berteriak.
" Kenapa Tuhan ngasih hidup aku kayak gini mbak?" Ucap Lintang putus asa dengan deraian air mata yang membuat siapa yang melihatnya merasa iba.
" Lin!" Ucap Denok kini serius dan terlihat khawatir.
" Dia ternyata teman aku Mbak! Teman aku! Tapi kenapa dia tega sama aku mbak, apa salahku sama dia mbak?" Lintang terus bergumam dengan kekecewaan yang seolah tiada bertepi.
Denok menatap Lintang dengan tatapan muram. Membuat bulu mata palsu itu, kini basah karena kristal bening yang tak mau berhenti mengalir.
.
.
" Apa?" Jodhi kini benar-benar dilanda keterkejutan, demi mendengar penuturan Yogi yang sedikit tahu cerita soal Lintang.
Ya, Yogi menceritakan jika Lintang sudah berjualan di akhir-akhir masa finishing pabrik mereka selama kurang lebih empat bulan terakhir. Para mandor bahkan Yogi sendiri, kadang menyempatkan diri untuk membeli dagangan Lintang sebab mereka kasihan.
Bahkan, Yogi juga menceritakan jika wanita itu sangat sulit di rayu bahkan di goda.
" Beraninya kalian menggoda! Jangan lakukan itu lagi, atau kupecat kalian!" Jodhi terlihat murka kepada Yogi yang jujur itu. Membuat kepala keamanan yang bersifat sumrambah dengan warga itu, kini terkaget.
" Maaf bos, tapi...siapa sebenarnya Lintang? Kenapa bos...?"
Jodhi tak menjawab. Ia tak mungkin menjatuhkan harga diri Lintang dengan berkata jujur soal ini. Ia masih menunggu Raka dan akan mendiskusikan hal ini secara gamblang. Sama sekali tak mau grusa- grusu dan salah bertidak.
" Jangan banyak tanya. Yang jelas, bilang sama anak buahmu, jika melihat Lintang jangan macam-macam kalian!"
" Ini perintah, kau dengar Yog?"
Yogi mengangguk cepat. Meski hati dan pikirannya tengah di serang berbagai pertanyaan, tentang mengapa Jodhi yang over protective kepada wanita yang tak jelas asal-usulnya itu.
" Kamu tahu dimana rumah Lintang?" Tanya Jodhi dari atas sofa dan kini menatap tajam Yogi yang penuh rasa keterkejutan.
" Saya tidak tahu bos! Saya juga belum lama disini!" Jawab Yogi jujur. Ia memang tidak tahu soal wanita itu. Yang dia tahu dari para kang becak, Lintang merupakan orang tua tunggal.
" Ya sudah, pergi kamu! Ingat pesan saya, himbau anak buahmu untuk menjaga sikap kepada Lintang, mengerti?"
__ADS_1
" Mengerti bos!"
Sepeninggal Yogi, kini Jonathan menatap lekat-lekat Jodhi yang memijat keningnya. Ia juga sama penasarannya dengan Yogi sebenarnya.
" Pak...?"
" Dia anakku Jo. Aku yakin dia anakku!" Jawab Jodhi yang tahu kalimat apa yang akan di pertanyakan okeh assistenya itu , terhadap dirinya.
DEG
Jonathan mendadak terkejut dan tak mengerti maksud dari ucapan pria di depannya itu. " Anak?"
" Aku tahu kau pasti penasaran kan?" Jodhi kini berdiri lalu menatap Jonathan yang terlihat mematung.
" Anak yang aku temui tempo hari di rumah sakit adalah anak yang sama dengan yang di gendong Lintang tadi Jo! Mereka terlihat tidak baik-baik saja! Astaga!" Jodhi meraup wajahnya sendiri dengan air mata yang tertiti perlahan.
" Dirumah sakit? Anak itu?" Jonathan bahkan kini merangkai kepingan ingatannya, akan kejadian yang ia lalui dirumah sakit bersama bosnya itu.
" Aku telah berdosa Jo! Aku telah menyakiti orang yang aku cintai!"" Teriak Jodhi yang benar-benar menangis penuh sesal. Apalagi, ia kini teringat akan pakaian yang di kenakan oleh Lintang tadi, sebuah kaos dengan warna pudar yang telah mengendur, dan sebuah jarit usang yang digunakan Lintang untuk menggendong anaknya.
Benar-benar membuat hatinya nyeri.
" Danuja!" Gumam Jodhi di sela tangisnya. " Tukang becak tadi menyebut namanya Danuja!"
Jonathan bahkan turut menggigit bibirnya demi menahan kesesakan yang melanda hatinya saat ini. Ia belum pernah melihat Jodhi sehancur ini.
" Kau tahu Jo, wajah anak itu bahkan sangat mirip denganku!" Jodhi tertawa kecut di sela tangis. Benar-benar terlihat ironi.
" Apa mereka akan memaafkan aku Jo? Bagaimana bisa aku telah membiarkan mereka susah selama ini? Lihatlah Jo! Bahkan anakku harus berpanas-panasan di depan pabrik megah miliknya sendiri!"
" Argggggghhh!!!"
PRYANG!!
Jonathan seketika terlonjak dengan mata mendelik, kala Jodhi meninju sebuah kaca etalase di ruangannya, demi meluapkan kekecewaan pada dirinya sendiri.
" Pak Jodhi!" Ucap Jonathan panik demi melihat darah segar yang kini terlihat di buku-buku tangannya.
" Bagaimana caranya agar mereka mau memaafkan aku Jo? Bagaimana Jo?"
Jodhi kini beringsut ke lantai dengan wajah kacau dan hati yang nelangsa. Ia benar-benar takut saat ini. Di titik nadir hidupnya yang kejam saat ini, Jodhi merasa dirinya begitu kosong.
Ia kini takut. Takut jika Lintang tak mau memaafkan dirinya. Ia mencintai Lintang bahkan sangat. Apalagi, sesosok bayi berwajah kuyu tadi, membuat hatinya makin teriris.
" Maafkan Ayah Nak! Maafkan Ayah!" Batin Jodhi demi mengingat seraut wajah kusam mirip dirinya, yang tadi menangis dengan kencangnya.
" Danuja!"
.
.
.
.
__ADS_1
.