Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 113. Pencabut hatiku


__ADS_3

Bab 113. Pencabut hatiku


.


.


.


...🌺🌺🌺...


( Flashback ke waktu saat Jodhi baru saja pulang dari melayat )


Raka


" Kalau Tante Rania tanya bagaimana mas?"


Galuh yang kini berada dikamar berdua, menatap resah suaminya yang kini sudah bersiap menuju bandara bersama Niko.


" Pokoknya istriku harus bisa bantu adiknya kali ini. Doakan, biar aku bisa meyakinkan Lintang kalau selama ini Jodhi juga kesusahan buat nemuin dia!" Jawab Raka seraya memasukkan barang terkahir kedalam koper hardcase nya.


Usai mengunci koper hitam merk ternama itu, Raka kini melumaat bibir Galuh dengan penuh kelembutan. Angga dan Citra sudah tertidur di kamar mereka.


Raka sengaja mengambil penerbangan terkahir malam itu sebab ia sebenarnya tak bisa berjauhan dengan Galuh. Lagipula, ia ingin lebih menghindari delay, yang berpotensi terjadi kala siang hari.


Namun , begitu Galuh mengetahui jika Jodhi saat ini tengah memerlukan bantuan mereka, Galuh akhirnya meminta Raka untuk segera terbang menuju kota S.


Keduanya kini melepas pagutan mereka, saat keduanya sudah mulai kehabisan napas.


" Baik-baik ya, jangan bikin Mama capek. Dirumah dulu sama kak Citra sama kak Angga, Ayah janji bakal pulang cepat " Raka berjongkok dan kini mengelus serta mengecup perut berisi janin itu dengan kecupan hangat.


Membuat Galuh tersenyum seraya mengusap lembut surai hitam Raka penuh cinta.


" Udah sana, tadi udah pamit anak-anak kan?" Ucap Galuh yang kasihan kepada Niko sebab telah menunggunya di bawah.


"Udah dong. Citra sama Angga udah aku pamitin tadi. Aman! Cium bentar dong! Duh, belum berangkat tapi kok udah kangen ya Luh aku sama kamu!" Raka memeluk kembali tubuh Galuh yang kini semakin berisi sejak kehamilannya yang ke-dua itu.


.


.


Niko


Ia sudah membinasakan nyamuk hampir genap sepuluh ekor, sejak ia menjadi tukang tunggu di dalam mobil beberapa menit yang lalu.


Berulang kali pula, ia telah menghela napasnya dengan panjang, sebab durasi menunggu bosnya rupanya lebih lama dari durasi perjalanannya menuju rumah Raka.


Benar-benar sial!


[" Pasti nyamuk betina yang ngeroyok kamu tuh! Kelihatan banget kalau elu itu enggak laku!"]


Pesan dari Dinda membuat dirinya makin sebal saja. Bagaimana bisa, wanita yang selama dua tahun terkahir menjadi partner kerjanya itu, terus-menerus membuatnya kesal.


[" Gua bukan dagangan. Kayak elu udah laku aja!"]


Namun anehnya, Niko selaku menunggu balasan dari Dinda dengan keresahan yang kian kentara.


" Kenapa enggak masuk?" Ucap Galuh saat berjalan dan kini menatap Niko muram kala mengantar suaminya keluar.


Niko tersentak. Ia dengan cepat meletakkan ponselnya ke dasbor mobil, dan sejurus kemudian turun dari mobilnya menyongsong kedatangan bos kurang ajar itu.

__ADS_1


" Maaf Bu, tadi Bapak bilang kalau cuma sebentar, jadi saya nunggu disini!" Niko mengangguk sopan. Melirik ke yang terlihat kelabakan.


Raka seketika pura-pura bersiul saat Galuh kini menatapnya seraya menggelengkan kepalanya. Dasar orang ini!


" Sabar ya Ko. Bapak-bapak jaman sekarang memang selalu rewel!"


" Niko harus di tatar kalau mau jadi adik ipar kita. Harus terbiasa dengan sikap menyebalkan!" Sahut Raka berdalih seraya terkekeh.


" Bu Galuh, sebenarnya yang asli kakaknya Dinda itu, anda atau Pak Raka?" Tanya Niko dengan cuping hidung melebar.


Dinda seketika tergelak demi mendengar pertanyaan Niko yang mengandung kadar sindiran itu.


Bandara Internasional Kota J.


Raka kini berada terminal tiga keberangkatan domestik bandara kota J. Bersiap masuk kedalam sebab Niko sudah mempersiapkan boarding pass lewat orang-orangnya.


" Besok kamu pastikan apa yang diminta Ibu kamu siapkan. Kalau perlu jemput Dinda biar nemenin istri saya dirumah. Ingat, jangan kayaknya ini sama Mama, papa lebih-lebih sama Tante Rania!"


Bukan apa-apa. Ia tentu tak mau membuat semua orang kalang kabut soal berita mengejutkan ini. Jodhi rupanya memiliki seorang anak secara diam-diam.


...( Flashback end)...


.


.


...🌺🌺🌺...


Lintang


Ia kini terlihat menunggu anaknya yang tengah di tangani oleh dokter . Ia kini duduk di luar ruangan bersama Denok yang sibuk bersenam jari, dengan ponselnya. Bu Yanti belum datang sebab tengah membereskan sisa muntahan Danuja yang banyak tadi, wanita itu juga berniat membawa beberapa peralatan termasuk pakaian ganti. Kemungkinan besar Danuja akan rawat inap si rumah sakit itu.


" Tapi mbak, uangnya..."


" Udah tenang aja. Kayaknya emang rejekinya Danuja. Aku habis dapat bonus dari aki- aki bau tanah. Lumayan, cuma buka nen sambil ngelus- ngelus itu burung loyo, udah dapat banyak!"


Denok seketika menutup mulutnya sendiri sebab tak sadar ia akan tekrikik-kikik. Mulut sialan!


"Sory Lin, aku enggak ada maksud buat..." Tidak pas sekali pikirnya jika ia harus ngakak di tempat sunyi seperti itu.


Lintang tersenyum. Lintang sudah sangat terbiasa dengan sikap Denok. Baginya, mau seperti apapun Denok, toh wanita itu yang selalu ada untuknya selama ini.


Sepeninggal Denok, Lintang kini memilih melempar punggungnya ke kursi panjang dari baja ringan itu, dan kini terlihat mengaduk isi tasnya. Ia membuka dompet yang hanya berisikan beberapa lembar uang yang tiada berarti.


" Apa aku pinjam uang ke mas Reyhan saja ya. Kasihan banget mbak Denok kalau uangnya aku pinjam terus!" Gumamnya resah.


Seringkali keterdesakan membuat rasa malu kita sirna.


Lintang tahu, sekalipun pekerjaan Denok dibayangkan enak oleh beberapa orang, namun sebenarnya rasa lelah yang di dapat juga sama. Ia tak sampai hati jika terus menerus melibatkan wanita bermulut slong itu, untuk menutupi biaya rumah sakit yang kemungkinan tak sedikit.


.


.


Denok


Deni Novita. Itulah nama aslinya.


Ia pagi itu sebenarnya ngantuk sekali. Semalam, usai melayani aki aki bau tanah, ia menjadi gempor sebab tamunya yang ke-tiga meminta gaya woman on top. Haish!

__ADS_1


Tentu saja ia harus melakoni gaya yang membuat pinggangnya kini bagai terkena encok itu. Semua demi uang untuk dirinya bertahan hidup.


Usia Denok di KTP 35 tahun. Namun, fakta sebenarnya ialah wanita berusia 30 tahun akhir bulan ini. Ia dulu sempat melalui proses menuakan umur, sebab ia terkena syarat usia minimal waktu itu.


Menjadi pahlawan devisa rupanya tak seindah yang selama ini beredar di tiktok. Ia yang dulu saat masih muda percaya dengan laki-laki dan di tipu daya pria itu, tanpa pikir panjang terus mengirimkan uang gajinya kepada pria itu. Pria itu berdalih jika usai membuat rumah, Denok akan dinikahi oleh pria itu. Namun alih-alih hidup indah yang di dapat, Denok malah harus menelan pil pahit kehidupan, kala mengetahui jika pria yang selama ini ia pacari itu, merupakan penipu.


Apa mau dikata. Ia sudah menjadi korban penipuan. Mau di tangisi seperti apapun, tak akan mengubahnya keadaan terlebih kenyataan yang ada.


Uang hasil kerjanya tiga tahun itu raib tak bersisa , karena di habiskan pria kenalannya di kampung itu untuk berfoya-foya. Denok yang waktu itu benar-benar bodoh, sampai nyaris gila karena seluruh hasil jerih lelahnya selama menjadi TKW, muspra ( sirna) tak bersisa.


Manusiawi.


Sejak saat itu. Ia yang memang yatim piatu sejak kecil, memutuskan merantau ke kota dan enggan kembali ke tempat asalnya, sebab terlalu lama mengecap kekecewaan. Ia lebih memilih menerima nasib dan menerjunkan dirinya ke bisnis lendir, sebab hatinya telah mati kepada pria manapun.


Lagipula, pekerjaan itu tak memerlukan ijasah apapun. Bagi Denok, keterpaksaan itu sering membuat orang tak mempedulikan apapun kecuali hidup manusia itu sendiri. Persetan dengan omongan orang.


Sejak saat itu, Denok benar-benar menjadi orang yang egepe ( emang gue pekeren). Ia merasa, mau menjadi apapun juga, yang jelas baginya hidup adalah hari ini dan untuk bertahan. Toh , menjadi baik itu bisa dilakukan dalam versi apapun kan. Pun dengan dirinya.


" Atas nama Danuja!"


" Atas nama Danuja!"


Denok mendelik kala mendengar sebuah suara dengan kalimat yang sama seperti yang ia lontarkan.


" Siapa juga yang berani menyela!" Gumamnya merasa orang di belakang punggungnya itu menirukan ucapanya.


Sejurus kemudian, Denok menoleh dan melihat seorang pria cakep dengan wajah datar dan bau harum yang mengganggu bulu hidungnya. Pria yang memiliki dagu terbelah itu terlihat ketus sekali.


Membuat petugas di depannya itu, kini kebingungan.


Jonathan diam karena ia juga ditugaskan Jodhi untuk menanyakan soal Danuja. Dan saat mendengar Denok juga melontarkan pertanyaan yang sama, membaut pria itu sebenarnya juga terkaget.


" Maaf Pak, Buk... anda siapanya?" Tanya resepsionis itu dengan hati-hati. Sebab wanita ayu yang mengenakan daster dengan kain rayon putih di rumah sakit itu, terlihat mengerikan.


" Saya Budenya!"


" Saya Ayahnya!"


Lagi, terdengar suara lain yang menyahuti dirinya. " Siapa lagi, yang berani menyelaku sialan?


Denok kini memutar tubuhnya ke posisi arah jam dua, demi memupus rasa penasarannya akan siapa pemilik suara berjenis bass itu.


Dan saat Denok telah berada segaris lurus dengan terduga itu, tak di nyana mata Denok justru benar-benar purnama detik itu juga, kala ia melihat sosok malaikat pencabut hatinya , yang saat ini jelas-jelas berdiri dengan tatapan mengintimidasi dirinya.


DEG


Oh Shiit!


" Apa aku sekarang telah berada di surga? Kenapa ada banyak sekali bidadara disini?"


Denok seketika lemas dan nyaris pingsan, demi menatap wajah tampan Jodhi, Raka dan Jonathan secara bergantian.


Malaikat pencabut hatiku!


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2