Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 83. Resmi milikku


__ADS_3

Bab 83. Resmi milikku


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Adipati


Kendati ia kini telah sah bercerai dengan Galuh secara hukum, namun entah mengapa perasaan yang dulu kusam dalam sekejap menjadi aneh manakala melihat Galuh tertawa renyah bersama pria lain.


Jika ada pepatah yang mengatakan bila rumput tetangga selalu lebih hijau, itu karena mereka rajin menyirami rumput mereka. Sedangkan Adi? Coba tanya saat Galuh dulu bersamamu? Tak pernah kau sirami kan? ya kuninglah dia! Begitu kata malaikat yang berada di pundak kanannya. Membisikkan kata-kata menohok ke dalam kalbunya.


" Kamu tadj ngapain nemuin mbak Galuh mas, hah?" Maya naik pitam detik itu juga. Tak mempedulikan tatapan para pengunjung lain yang kini mendakwa mereka dengan tatapan penuh selidik.


Apa yang di ucapkan Raka tadi berhasil membuatnya resah dan gelisah.


Adipati yang merasa risih dengan tatapan manusia-manusia kepo disana itu, kini menarik tangan Maya dan menjauh dari tempat itu. Berniat pergi sebab ia tak tahan.


Adi tak menjawab dan tak mengucapkan sepatah katapun saat tangannya tekun menggeret lengan istrinya. Pria itu usai membayar bill makan mereka, kini dengan perasaan campur maruk, berjalan menuju mobilnya. Sama sekali tak merasakan kenyamanan lagi walau makanan disana terkenal lezat.


Wajahnya masih pedih bekas tinjuan Raka yang benar-benar sialan itu. " CK, sakit banget lagi!" Gumamnya seraya mengaca di cermin tengah mobilnya itu. Meraba sudut bibirnya yang kini berwarna ungu kebiruan.


Sialan!


" Mas, kamu ini denger aku nggak sih? " Maya kesal karena sedari tadi pria itu tak menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Membuatnya benar-benar murka.


" Udahlah May, intinya aku enggak akan balik ke Galuh, cuma kamu yang aku cinta!" Adipati mengucap hal itu seraya menyalakan mesin mobilnya, membaut Maya makin kesal dan membuang pandangannya ke luar jendela.


" Awas aja kalau kamu berani macem-macem sama aku mas!" Batin Maya seraya menahan laju air matanya yang sebenarnya sudah tak tertahankan.


.


.


Raka


" Kamu enggak apa-apa kan?" Ucap Raka yang memecahkan keheningan yang tercipta sedari mereka bertolak dari tempat makan tadi. Merasa bersalah karena mendiamkan Galuh lebih dari sepuluh menit.


Ya, Galuh tak berani bertanya mengingat mungkin Raka masih marah. Dan dia paham akan itu.


Galuh menggeleng. " Tangan mas merah itu! Apa enggak sakit" Ucap Galuh yang akhirnya berani mengatakan apa yang ia batin sedari tadi. Ia cemas sebab buku-buku tangan Raka terlihat sangat memerah.


" Jangan khawatir, ini enggak ada apa-apanya dibanding ini!" Tunjuk Raka ke arah dadanya. " Lain kali kita harus hati-hati Luh. Mantan suami kamu itu kayaknya sakit!" Ucap Raka geram manakala mengingat sikap Adi yang kerap di luar nalar.


Ya, Galuh juga merasakan hal itu.


" Mas!" Ucap Galuh seraya mengusap lengan liat Raka. " Udah jangan marah-marah terus. Masih banyak yang perlu kita pikirkan. Aku takut ngelihat mas marah kayak gini!"


Raka menatap Galuh muram. Terselip rasa bersalah, apalagi ia dulu juga pernah marah kepada Galuh di awal-awal kasus Citra.


Oh astaga. This my bad!


"Maaf sayang, maafkan aku!" Raka meremas tangan Galuh lalu menciumnya dalam. Entah mengapa ia merasa tak bisa mentolerir siapapun jika menyangkut keselamatan Galuh. Apalagi dengan si brengsek Adi.


Galuh tersenyum manakala melihat Raka yang juga tersenyum ke arahnya. "Jangan lagi memasukkan amarah, biarlah hati kita diisi dengan kebahagiaan saja mas!"


Raka mengangguk dengan luapan hati yang bahagia. Jika banyak yang mengatakan badai pasti berlalu, maka saat berlalu itu adalah saat ini.


Thanks God for everything!


.

__ADS_1


.


...🌺🌺🌺...


Citra


Ia heran, kenapa beberapa malam ini Oma Dhira, Opa Abi, Kakek Indra, Nenek Anggi, onty Kalyna, Om Jatayu, Nenek Rania, Kakek Bastian, Om Jodhi, Om Raga, Tante Gita serta nenek buyutnya ada dirumah ayahnya bersama-sama, namun selalu pulang setiap malamnya.


Urusan orang dewasa kadang memang tak tergapai oleh pikirannya yang masih amatir itu.


Ia tak tahu, tapi yang ia tahu papanya akan menikah dengan Bu Galuh, Bu gurunya yang luar biasa. Dan berita itu, sukses membuat Citra bahagia setiap hari.


Bahkan, gadis cilik itu berkoar-koar ke seantero TK Pertiwi dan membuat Bu Leni mendadak marah-marah kepadanya tanpa sebab.


Ia merasa beruntung, hari-hari yang berjalan semakin berwarna saja manakala ingat dengan ucapan para teman-temannya di sekolah.


" Wah seneng banget, bisa minta adik dong!"


" Iya punya adik itu seru Lo, gemes banget!"


" Beneran loh, kayak si Dimas itu punya adik kembar, lucu-lucu banget deh!"


Dan dari kesemua kalimat yang terserap ke dalam otaknya itu, membuat Citra curhat kepada Kalyna dan juga Oma Dhira beberapa hari lalu.


Ia malam ini minta dibuatkan susu oleh ayahnya jelang tidur. Membuat Raka meninggalkan keluarganya yang asik bercengkrama di lantai dasar rumahnya.


" Citra?" Ucap Raka kala mereka kini ada berdua di kamar anak-nya itu. Meninabobokan Citra yang sudah berkata 'ngantuk' sedari tadi.


" Ya ayah?" Citra kini menatap wajah pria nomer satu dalam hidupnya itu sedikit mendongak.


" Papa akan menikah dengan Bu Galuh!" Ucap Raka menghela napas, ia bingung bagaimana mengatakan jika Galuh ada disini, Galuh akan berada satu kamar dengan dirinya, bukan dengan Citra. " Jadi...besok..."


" Bu Galuh tidurnya sama Ayah kan?" Tebak Citra dengan tersenyum penuh arti.


"Kemaren Oma Dhira udah bilang ke Citra ih, hihihi!" Bocah itu menutup mulutnya saat tertawa. Membuat Raka mengerutkan keningnya. " Mama? Apa yang mama katakan?"


" Kapan? kenapa bisa begitu? Kok Ayah enggak tahu" Tanya Raka pura-pura memanyunkan bibirnya.


" Ada deh..kata Oma, biar Citra cepet punya adik. Yeee...kalau punya adik yang cewek kayak aku ya Yah, biar aku ajak main Barbie,kalau cowo ...nanti kayak Om Jata, nakal ih!" Ucap Citra memanyunkan bibirnya.


Raka tergelak, bagiamana bisa anaknya itu menjawab panjang dan lebar seperti itu.


" Yah?" Tanya Citra lagi.


" Ya sayang?" Balas Raka mengusap lembut rambut Citra.


" Buat adiknya itu dimana sih? Kata Oma yang buat harus Ayah sama Bu Galuh! Emang.... Citra enggak boleh buat?"


" Besok kalau buat adik, Citra ikut ya? Biar bisa milih. Nanti ayah sama Bu Galuh lupa lagi kalau musti buat cewek lagi !" Ucap Citra semakin mengerucutkan bibirnya.


Hah?


Mata Raka seketika mendelik demi mendengar ucapan polos anaknya." Astaga mama!"


.


.


Kediaman Galuh


Dua pekan kemudian,


Kondisi pak Noer yang sudah tak senormal orang lain, membuat Galuh meminta ijab kabul kali ini dilaksanakan di kediamannya saja. Pak Noer juga memiliki tingkat keminderan tersendiri, sebab lajur pencernaan pria itu membutuhkan kesigapan dari keluarganya.


Ia ingin bapaknya menyaksikan prosesi sakral

__ADS_1


antara dirinya dan Raka pagi ini, tanpa takut malu ataupun minder saat bersitatap dengan orang banyak. Biarlah sederhana, toh ini bukan kali pertamanya bagi kedua mempelai, meski cara perpisahan mereka dengan pasangan masing-masing terbilang berbeda.


Sebab yang paling penting adalah adalah keabsahan mereka sebagai suami isteri.


Dinda tampil elegan pagi itu dengan dress selutut dan rambut yang digerai indah, Pak Noer dan Bu Halimah juga sudah mengenakan pakaian terbaik mereka, bersiap menunggu rombongan keluarga Raka.


Sementara Galuh, wanita itu terlihat memukau dengan balutan kebaya modern yang membuat lekuk tubuhnya makin terlihat. Tak banyak yang di undang, kerabat dekat dan juga sahabatnya Resti, telah hadir demi menyaksikan acara membahagiakan Galuh dan Raka.


Tak besar memang, namun segala persiapan benar-benar menegaskan bila acara khidmat nanti, telah di upayakan dengan baik oleh keluarga Pak Noer.


Abimanyu dan Dhira, serta Indra dan Anggi sama sekali tak keberatan dengan permintaan keluarga besan mereka. Mereka paham jika kondisi besan pria mereka sedang sakit.


Raka yang di dampingi Jodhi benar-benar terpesona dengan tampilan Galuh saat ini. Wanita yang jarang bermake-up tebal itu, kini terlihat membuatnya pangling.


" Bibir di kondisikan bibir! Ces ( liur) mu itu!" Bisik Jodhi menyenggol lengan Raka yang sudah mengenakan beskap senada.


" Sialan lu!" Balas Raka menyikut Jodhi yang terkekeh-kekeh.


Sesederhana apapun acara, yang namanya keluarga konglo tetaplah terlihat berkilau. Sebab prosesi foto memfoto harus tetap ado, begitu kata orang Minangkabao, hihihi.


" Kamu cantik banget Luh!" Bisik Raka yang menunggu petugas dari catatan sipil memeriksa kelengkapan dokumen serta administrasi penunjang.


" Mas Raka, juga ganteng!" Ucap Galuh malu - malu dengan suara lirih. Membuat keduanya kini sama-sama belingsatan.


Ya Tuhan, rasa bahagia ini sungguh membuat mereka berdua bagai melayang.


" Saudara Raka Chandrakanta bin Indra Tanaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan seorang wanita bernama Galuh Adya Laksmi Binti Noer Rohman dengan maskawin emas seberat dua ribu dua puluh dua gram di bayar tunai!"


Para tamu dari pihak Galuh seketika mendelik manakala mendengar jumlah maskawin yang di sebutkan barusan. Pun dengan kedua orang tua Galuh yang sama sekali tak menyangka besaran mahar yang diterima oleh anak sulungnya itu.


Bahkan mantan mertua Galuh yang baru tiba itu, sempat syok manakala mendengar hal itu. Jelas suami Galuh bukankah orang biasa-biasa saja.


" Saya terima nikah dan kawinnya Galuh Adya Laksmi binti Noer Rohman dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"


" Bagiamana saksi?"


" Sahhh!!!" Dinda seketika berteriak manakala mengucap hal itu, membaut Niko yang bersiap membidik kamera di sampingnya seketika menutup telinga, demi menghalau lengkingan suara stereo yang memekakkan telinganya.


" Buset!"


.


.


.


To be continued....


.


.


.


.


Keterangan :


Kalau di konversikan duit, maskawin Galuh sekitar 1 M ya. 😁😁😁


dua ribu gram kali berapa emas sekarang, ibu ibu pasti pada tahu 😁😁.


Ya..masa CEO duitnya dikit, cincailah.


mommy tunggu di stand makanan ya, jangan sungkan dengar-dengar sovenirnya eau de toilete yang mehong. Hayuk kita serbu....πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ

__ADS_1


__ADS_2