Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 98. Pertolongan dari wanita dekil


__ADS_3

Bab 98. Pertolongan dari wanita dekil


( masih di scene flashback)


.


.


.


..."Karena kau tak lihat, terkadang malaikat. Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.."...


...( Dewi Lestari ~ Malaikat juga tahu)...


...🌺🌺🌺...


Kendati pikirannya benar-benar buntu, namun Lintang musti bisa menguasai keadaan sebisa mungkin. Ia juga mengucap syukur, sebab pria tua berkumis itu mampu mengendalikan keadaan dan kondisi menegangkan yang ada.


Ketua rukun tetangga yang hadir sebagai penengah disana memang sudah mengantongi nama-nama yang di setorkan oleh pemilik kontrakan itu. Tamu 1x 24 jam saja wajib lapor, apalagi yang menghuni hingga berbulan - bukan lamanya.


" Kenalkan saya Ketut!" Ucap pria itu usai mendudukkan tubuhnya ke kursi kayu yang ada di kontrakan Lintang. " Mbak, mohon maaf sebelumnya apabila perkataan saya menyinggung perasaan anda. Tapi, apa benar jika anda saat ini mengandung?"


Ketut to the poin demi memangkas waktu yang ada.


Ibu kontrakan yang turut duduk di sebelah pria itu, kini syok dan sejurus kemudian menatap iba Lintang dan Ibunya.


Ibu Lintang sudah menangis dengan keadaan yang ada. Tak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Orang pasti sudah memikirkan jika dia cemar, lacur dan meresahkan masyarakat. Dugaan-dugaan tidak benar lainnya juga pasti akan muncul jika masalah ini tidak di tengahi.


Lintang mengangguk seraya menangis, tidak ada gunanya lagi ia menutupi semuanya. Sekalipun ia berdalih, toh janin dalam perutnya juga akan membesar seiring berjalannya waktu.


Ketut menarik napas panjang lalu menghelanya. Ketut merasa kasihan.


Pria itu tak mau berspekulasi lebih mengenai lintang. Tentang mengapa ia yang di dalam KTP masih berstatus single dan belum menikah, namun memiliki bayi dalam kandungannya.


Sebagai sesama insan, Ketut harus bisa memutuskan jalan terbaik bagi semua warganya. Lintang juga manusia, namun tuntutan warga lain juga musti ia upayakan.


" Begini saja mbak, warga disini sudah terlanjur tahu berita ini. Sebaiknya mbak Lintang bersama Ibu pindah saja mbak. Saya mohon maaf sekali tidak bisa membantu banyak. Saya juga khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada mbak Lintang kalau nanti mbak masih bertahan disini!"


Lintang paham. Meski kini ia bingung harus kemana lagi menyeret langkahnya bersama Ibu, namun ia berlega hati lantaran pria bernama Ketut itu benar-benar bijaksana.


.


.

__ADS_1


" Whuuu!!!! Perempuan enggak benar kau!"


" Bagus dah udah pergi, penyakit masyarakat nih!"


Ia yang terus menguatkan hati manakala suara-suara sumbang itu menjadi pengiring langkahnya pergi dari kontrakan itu bersama Ibu. Tidak ada yang mereka bawa kecuali beberapa potong pakaian lusuh yang mereka bawa dari kota J dulu.


Dengan pikiran kosong, Lintang mengajak ibunya yang kurus dan pucat menaiki taksi menuju tempat yang tak tentu arah. Ongkosnya masih cukup untuk membayar angkutan yang lebih nyaman, sebab kondisi ibunya benar-benar lemah.


" Turun dimana ini mbak? Kita udah muter-muter dari tadi!" Ucap sang supir yang merasa aneh.


Lintang benar-benar bingung dan tak tahu harus bagaimana. Sama sekali tak pernah tersirat dalam benaknya, jika ia akan di masa oleh banyak orang, atas keadaannya yang di anggap melenceng dari norma kesusilaan.


" Berhenti di depan aja Pak!"


Malam itu cukup dingin. Dari hawa yang mereka rasakan , sepertinya hujan akan mengguyur kawasan itu. Kawasan perkotaan yang dengan kepadatan penduduk yang tak diragukan lagi.


" Ibuk capek nak, kita istirahat dulu ya?" Ucap Ibu dengan suara lemas yang membuat Lintang benar-benar dirundung kesedihan.


Seorang yang sakit kronis harusnya beristirahat dengan tenang dan mendapatkan pengobatan yang cukup. Namun semua itu tidak berlaku untuk Ibu Lintang.


Ya Tuhan!


Dari tempat mereka beristirahat, tepatnya di bawah pohon trembesi di dekat trotoar itu, nampak seorang pemulung wanita, yang menepikan gerobaknya.


Lintang tertegun, pekerjaan yang selama ini ia jalani ia rasa susah dan membuatnya kerap mengeluh karena tak cukup untuk biaya hidup dan pengobatan ibunya. Namun, melihat pemulung berwajah sayu itu, membuat sejumput rasa syukur hadir, walau dirinya dirundung kenestapaan.


" Mau kemana Ibu Bu?" Tanya pemulung itu lagi.


Lintang menggeleng tak menjawab. Ia malah menangis. Seharian ini ia sangat lelah sebab apa yang dialaminya, cukup menguras emosi dan fisiknya. Membuat pemulung itu Mengehentikan kegiatannya.


Pemulung itu memindai tampilan Lintang dan ibunya yang terlihat mirip orang minggat.


" Ini kota besar, lalu untuk apa datang kemari jika tidak memiliki tujuan?"


Pemulung itu melanjutkan kegiatannya mengaduk tempat sampah yang berbau menyengat itu.


Lintang hanya diam tak menjawab. Ibu juga sudah lemas dan memilih untuk memejamkan matanya sejenak.


Merasa iba, pemulung itu kini mendudukkan tubuhnya ke atas trotoar, dengan jarak yang agak jauh. " Saya baru kali ini lihat orang enggak tahu tujuan mau kemana. Memangnya anda dari mana?"


" Saya ..."


Lintang menceritakan jika berasal dari kota J dan mereka tersesat. Ia tak berani menceritakan soal masalah yang ia hadapi

__ADS_1


" Apa anda tahu penginapan atau kontrakan yang murah di sekitar sini? Ibu saya sakit dan...!"


Lintang bahkan menunjukkan kondisi ibunya yang parah.


Pemulung itu seketika membulatkan matanya. " Kenapa bisa sampai begitu? Astaga mbak..."


Pemulung itu merasa kasihan dengan keadaan mereka berdua. Ia tidak mengenal dua perempuan asing itu, namun melihat wajah kurus pucat Ibu Lintang, serta luka benyek di area payu daranya, membuat wanita itu iba.


" Kalau mau sementara ke kontrakan saya saja dulu mbak. Tempatnya dekat dari sini!"


" Itu kasihan ibunya sampean. Besok aja nyari kontrakan!"


Begitulah kehidupan, tak peduli sesulit apapun keadaan, pasti ada pertolongan yang Tuhan sediakan. Seperti saat ini misalnya.


Dengan langkah tertatih-tatih, mereka tekun mengikuti wanita paruh baya berkulit dekil itu, melewati bantaran kali dengan bau yang luar biasa menyengat, menapaki jalan sempit hingga mereka tiba disebuah rumah semi permanen yang atapnya terbuat dari esbes.


" Kalian masuk saja dulu. Saya mau beresin ini!"


Lintang mengangguk. Sungguh pengalaman pertamanya ikut orang asing dan hanya bermodalkan rasa pasrah sebab tak memiliki pilihan.


Beberapa waktu kemudian, wanita itu kembali dengan keadaan yang lebih bersih meski rupanya masih sama kucelnya dengan tadi. Sudah dari sananya, meskipun telah mandi wanita masih saja terlihat dekil.


" Loh kok pada diluar, ayo masuk aja mbak!"


" Saya Yanti. Silahkan masuk mbak. Tapi, ya....begini keadaannya!"


Rumah itu hanya seluas lima kali enam meter. Tak ada sofa maupun kursi yang menghiasi ruang tamu dengan lantai cor semen itu. Hanya ada sebuah karpet merah yang menjadi alas duduk, dengan kelambu kuno yang warnanya sudah pudar.


Di dalam sana ada bufet usang, yang menjadi sekat ruang tamu dan juga ruang televisi berbetuk tabung keluaran tahun bahulak.


" Terimakasih banyak Bu Yanti. Saya berhutang budi sama Ibuk!" Lintang berucap usai menselanjarkan kakinya yang legal keatas karpet merah itu.


Yanti mengangguk. " Sama-sama mbak, saya enggak ada uang lebih buat sedekah. Yang saya bisa lakukan ya begini ini. Besok saya antar sampean cari kost, itu diluar udah hujan soalnya. Sekarang sementara nginep di gubuk saya aja dulu !"


Yanti merasa iba. Ia susah, namun melihat dua orang itu, ia merasa hidupnya lebih baik. Karena sejatinya kebahagiaan adalah milik orang-orang yang mau bersyukur.


" Saya ambilkan bantal dulu, saya cuma ada kasur satu disini. Maklum saya tinggal sendiri soalnya. Sek bentar ya saya ada mi instan, kita makan itu dulu, pasti belum pada makan kan?"


Lintang bersyukur, di tengah kesulitan yang ia alami, nyatanya Tuhan masih berbaik hati untuk memberikan pertolongan. Biarlah malam ini ia membersamai wanita dekil asing namun ramah itu. Setidaknya, malam ini ia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bersama ibunya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2