Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 34. Petunjuk dari nirwana


__ADS_3

Bab 34. Petunjuk dari nirwana


.


.


.


...🌺🌺🌺...


Raka


Dari dalam hatinya yang paling dalam, kini muncul rasa bercabang yang aneh. Sejak ia melihat Galuh yang memakai pakaian mendiang istrinya. Entah mengapa selain hatinya yang merasa berdebar, semalam ia juga bermimpi di datangi Visya.


Dalam mimpinya, Ibu kandung Citra itu terlihat tersenyum. Ia merasa mendiang istrinya itu mengajaknya berjalan untuk mengantar anak mereka menuju sekolah, tanpa berbicara sepatah katapun. Dan saat mereka berada di ujung sekolah Citra, wanita itu melambaikan tangannya dengan tersenyum dan menghilang.


Ia sudah lama sekali tidak dikunjungi mendiang istrinya itu. Dan dari kesemua hal yang ia alami, membalutnya benar-benar bingung.


" Ayah!" Suara lembut membuatnya tersentak dari lamunan.


" Kok Bu Guru belum datang ya?"


Bocah itu bahkan meminta Raka untuk mengantarkannya pagi-pagi agar bisa bertemu dengan Galuh. Citra sempat kecewa, karena kemarin wanita itu meninggalkan dirinya terlebih dahulu.


" Citra masuk kelas dulu ya? Ayah mau berangkat dulu. Kasihan Om Niko nungguin Ayah disana!"


" Bu guru pasti datang setelah ini!"


Bujuk Raka yang melihat Citra sudah memanyunkan bibirnya. Ia juga bingung, mantra apa sebenarnya yang di ucapkan Galuh sampai anaknya itu lengket sekali dengannya.


Nining hari ini tidak bisa mengantar Citra, sebab sakit. Raka tak mengijinkan pengasuh Citra itu untuk bekerja dalam kondisi yang tidak fit.


Citra murung. Mungkin nanti saja lah dia akan bertemu di dalam kelas. Walau ia merasa sedih, karena jika di dalam kelas, Bu guru tidak akan memiliki waktu banyak untungnya. Sebab waktunya untuk semua murid.

__ADS_1


Citra paham akan hal itu.


Ia mengantar Citra hingga ke dalam kelas. Pagi itu belum ada siapapun yang datang. Hanya ada satu orang guru yang terlihat memasuki kantor dan sempat bertegur sapa dengannya tadi.


" Saya berangkat, anak saya ada di kelas. Minta tolong ya Bu!" Ucapnya memasrahkan Citra.


Mereka akan melakukan sidak di perusahaan pagi ini. Selain banyak yang korup, Jodhi menginformasikan jika ada beberapa pegawai yang kerap mangkir. Membuatnya harus dengan tegas mengupayakan pernormalan kembali, segala lini di perusahaannya seperti di rezim Abimanyu.


Di kantor,


" Gimana Ko?" Tanya Raka kepada pria muda yang begitu berwawasan itu.


" Absen ini rupanya bisa mereka edit Pak" Niko menggelengkan kepalanya tak percaya." Lihat! Sekalipun mereka datang siang, mereka bisa mengganti finger print ini sesuai keinginan mereka."


" Benar-benar brengsek!"


" Cari masalah mereka!"


Niko justru terlihat paling geram disana. Pria itu benar-benar tak menyangka ada oknum pegawai di bawah naungan Delta Group, yang berani menyalahgunakan kebaikan Direkturnya saat ini.


Dan benar saja. Seorang pegawai dari divisi percetakan terlihat terkejut demi melihat Direktur bersama asistennya berada di ruangan itu, di jam sepagi ini.


" P-Pak?" Ucap pria itu gelagapan. Sama sekali tak menyangka, jika dua sosok tegas di depannya itu sudah datang.


" Masuk!" Ucap Raka datar. Baru tujuh orang yang datang di jam ini.


" Sejak kapan kondisi ini berlangsung? Panggil semua manager dari masing-masing divisi untuk menghadap saya nanti! Saya tidak mau tahu!"


Raka seketika melesat pergi usai mengatakan hal itu dengan penuh kemarahan. Niko yang memasang wajah datar kini mendekat ke arah pegawai yang ketakutan itu.


" Jangan katakan pada yang lain. Biar mereka tahu dengan sendirinya .Masuklah! Kau aman!"


Niko merasa perlu mengingatkan satu orang itu agar tidak koar-koar kepada yang belum datang. Astaga, pagi-pagi sudah dibuat runyam oleh kelakukan karyawan.

__ADS_1


.


.


Raka memijat keningnya yang terasa pusing. Sebenarnya sebisa mungkin ia tak ingin marah-marah. Namun, saat merasa perusahan yang mati-matian di pertahankan oleh Papa Abimanyu kini terlihat di curangi, tentu membuatnya berang bukan main.


TOK TOK TOK


" Kopi Pak!" Suara ketukan dari Yudi yang merupakan OB ( Office Boy) di perusahaannya itu membuat Raka membetulkan posisi duduknya.


Pas sekali pikirnya.


" Silahkan Pak kopinya.... Biar lebih semangat!" Ucap pria yang setiap hari tekun menggunakan blangkon itu, sembari menyajikan kopi hitam terbaik dengan aroma yang mantap.


Bujangan tua yang tidak laku itu, benar-benar terlihat bersemangat di segala situasi.


" Makasih Yud!" Ucapnya lesu namun tidak seburuk tadi


" Bapak lagi kenapa? Mau saya pijit? Kok kayaknya auranya mendung begitu!"


Yudi tak pernah takut berbicara begitu kepada Raka. Meski usianya jauh diatas Raka, tapi sedari pertama Raka memperkerjakan dirinya, pria itu selalu merasa senang dengan perlakuan Raka yang lebih memanusiakan dirinya ketimbang cecunguk lintas sektor, yang ada di perusahaan besar itu.


Raka terkekeh. " Makasih tawarannya. Saya sebenarnya cukup dapat kopi dari kamu aja udah aman kok!"


Mereka berdua kini terkekeh. Secangkir kopi pelepas penat itu nyata adanya.


TOK TOK TOK


Suara ketukan dari ujung membuat dua laki-laki itu menoleh.


" Dewi?"


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2