
Bab 57. Satu perhatian
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Raka
Ia berjalan dengan hati-hati manakala manik matanya menangkap seraut pucat, dengan mata yang terpejam. Ia sungguh merasa tak sampai hati demi melihat wajah layu Galuh yang kini berbaring lemah di atas brankar.
" Ka?" Apa yang sebenarnya terjadi?" Dewi yang mengekor di belakang Raka terlihat penasaran terkait alasan dibalik insiden itu.
Raka menarik napasnya panjang, sesaat sebelum menjawab pertanyaan Dewi.
" Harusnya aku yang terkena tembakan itu!" Jawab Raka tanpa mengalihkan pandangannya ke arah wajah pucat Galuh. " Tapi Galuh mengorbankan dirinya!"
Membuat Dewi terperanjat. " Kamu?" Ucapnya dengan wajah yang mendongak ke arah Raka. "Jangan sampai kamu mati sebelum aku membalaskan dendamku!"
Pria itu mengangguk pelan, " Aku berhutang nyawa kepada Galuh!"
Dalam hati Dewi mengumpat, wanita itu menjadi resah dalam sekejap demi melihat pancaran sorot yang teduh dari manik mata Raka, manakala pria itu menatap Galuh.
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan.
__ADS_1
" Oh iya Wi, Niko bisa ngantar kamu kalau kamu terburu-buru, maaf sepertinya hari ini aku masih ngurus Galuh dulu. Keluarganya belum ada yang tahu dan..."
" It's OK, aku ngerti!" Dewi mengusap lembut lengan Raka dengan tatapan penuh misteri. Mundur satu langkah demi ancang-ancang itu perlu. Begitu pikirnya.
.
.
Dinda berjalan tergopoh-gopoh mencari kakaknya, sebab sebuah nomor asing baru saja menghubunginya beberapa waktu yang lalu, dan menginformasikan jika Galuh mengalami insiden.
Benar-benar membuatnya resah.
Galuh yang sudah siuman meminta Raka menghubungi adiknya. Wanita itu kini membawa note book kecil di dalam tasnya, yang berisikan nomor-nomor penting keluarganya, guna mengantisipaasi kejadian tak terduga. Seperti hari ini misalnya.
Ia belajar dari kejadian beberapa waktu lalu yang membuat ponselnya mati.
"Kok bisa sih mbak? Sekarang mana si anjing itu?" Dinda tanpa tedeng aling- aling langsung meluapkan emosinya.
" Astaga!" Suara syok seorang pemuda membuat Dinda seketika menoleh. Niko yang terkejut demi mendengar wanita yang dengan entengnya mengumpat itu, seketika mengelus dadanya.
" Apa lu?" Ucap Dinda seraya mendengus kesal. Pria itu lebay sekali pikirnya.
" Ah, kau sudah datang?" Ia menyipitkan matanya demi melihat sosok jangkung berwajah tampan yang asing dan baru sekali ini ia lihat.
" Saya Raka..tadi saya yang menelpon kamu. Saya... Ayah dari..." Raka merasa perlu memperkenalkan dirinya, demi memupus kebingungan yang tergambar di wajah Dinda.
" Terimakasih Pak, sudah menolong kakak saya?" Potong Dinda cepat dengan wajah resah.
__ADS_1
Raka tersenyum, gadis manis itu terlihat mirip dengan Galuh, hanya saja kulitnya lebih coklat dan perangainya lebih mungil, namun terlihat lebih berani.
Tapi ..apakah gadis itu masih akan bersikap sama jika ia tahu bila Galuh melakukan semua ini karena ingin menolong dirinya?
" Din..mbak minta sama kamu tolong jangan beritahu Ibu soal ini!" Ucap Galuh dengan suara lemah , yang masih berbaring dengan tangan terbebat perban.
Wajah Dinda risau, ia benar-benar geram kepada Adi. " Tapi mbak...kalau kita enggak bilang sama Ibuk, si anjing itu pas..."
" Din... tolong, kita boleh marah. Tapi kali ini kesehatan Ibu sama bapak lebih penting!"
Raka tertegun demi melihat Galuh yang rupanya memikirkan kondisi orangtuanya. Membuat hatinya terenyuh saja.
" Pria itu pasti sengaja ngikutin mbak Galuh. Kemarin aku cari si brengsek itu enggak ada dirumahnya!" Ucap Dinda dengan kemarahan yang menggebu-gebu.
Membaut Galuh melebarkan matanya, " Jadi kamu kemarin kesana?" Galuh benar-benar terkaget.
" Si anjing itu harus di kasih pelajaran mbak, aku penasaran sama wajah lon*te yang udah ngerusak rumah tangga kamu mbak!"
" Astaga!" Niko kembali ber-astaga demi mendengar Dinda yang benar-benar out of the box.
Benar-benar!
.
.
.
__ADS_1
.