
Bab 41. Arti sebuah kecemburuan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Galuh
Sore itu ia cukup terkejut demi melihat Mas Adi yang sudah duduk berbincang-bincang dengan ibunya, manakala ia baru pulang dari mengambil pakaian ganti kerumah orangtuanya bersama Dinda.
" Tumben!" Ketus Dinda mengomentari kakak iparnya saat mereka masih berjalan beriringan. Membuat Galuh melirik wajah bersungut-sungut milik sang adik.
Dalam hati, Galuh sebenarnya mengiyakan ucapan adiknya itu. Ini masih sore, dan kenapa mas Adi sudah pulang?
" Nah itu Galuh!" Ia mendengar suara Ibu saat mereka sudah hampir dekat dengan keduanya. Ia melihat tatapan tak biasa dari Mas Adi.
Dinda langsung ngeloyor menuju ke ruang perawatan Bapaknya, sementara ia berhenti terlebih dahulu. " Kok...tumben udah pulang mas?" Sapanya biasa saja.
Mas Adi menatapnya tajam, namun tanpa sepengetahuan Ibu. O
__ADS_1
" Ibuk tak masuk kedalam dulu ya, mau bantu adikmu dulu !" Ucap Ibu yang entah mengapa kini beranjak. Membuat mereka berdua kini terdiam penuh kecanggungan.
" Sini kamu!" Ia terperanjat saat tangan mas Adi dengan kasarnya menarik lengannya menuju ke tempat lain, saat ibu sudah menghilang dari balik pintu. Astaga!
" Mas! Apa-apaan sih ini?" Ia sedikit kesakitan manakala tangan besar yang tak sebanding itu, mencengkeramnya kuat. Meninggalkan rasa sakit yang membuatnya kesal.
" Siapa pria tadi, hah?" Ucap Mas Adi yang membuatnya bingung setengah mati. Pria itu bahkan sudah melotot dengan mata yang purnama sempurna.
" Pria? Pria siapa?" Ucapnya dengan kebingungan yang semakin kentara.
Belum usai ia menelaah alasan di balik kepulangan mas Adi yang cepat, ia kini justru makin dibuat tak habis pikir dengan pertanyaan kedua suaminya itu.
" Pria berjas hitam di depan sekolahmu!"
Ucap Mas Adi mengandung kadar kemarahan yang benar-benar tak bisa lagi di sembunyikan. Membuat Galuh terperanjat tiada mengira.
" Dia orangtuanya muridku mas, cuma ngobrol biasa aja tadi!" Sergahnya dengan suara yang mulai terpancing. Mulai merasa muak.
" Cuma ornagtua murid tapi pegangan tangan?" Jawab Mas Adi semakin naik pitam.
Entah mengapa untuk pertama kalinya, ia melihat mas Adi semarah itu. Bahkan untuk kesalahan yang tidak dia perbuat. Oh Shiit!
Ia menatap seraut berang dengan mata merah yang seakan menerkamnya hidup-hidup.
__ADS_1
" Terserah mas mau mikir apa. Aku capek mas. Aku aja yang selama ini sering kamu abaikan enggak ada pernah ngangkat suara ke kamu loh mas. Terserah kamu mau mikir aku gimana-gimana!" Ucap Galuh dengan wajah lelah dan langsung melesat pergi. Ia benar-benar tak mau membuang energinya dengan cuma-cuma.
Stok kesabarannya masih harus ia awetkan guna menghadapi hari-harinya yang masih belum jelas itu.
Adi menatap punggung wanita yang kini mulai menjauh dari pandangannya itu dengan masygul. Entah mengapa ia menjadi secemburu itu, padahal bisa saja apa yang di sangkakan dirinya itu tidak benar.
Dan terlebih, ia harusnya bisa memposisikan dirinya sendiri. Jika saja dia bisa secemburu itu, lalu bagaimana dengan Galuh?
Pasca berdebat, baik Galuh maupun Adi sama-sama diam. Pria itu bahkan mengabaikan pesan dari Maya dan memfokuskan diri kepada mertuanya. Sebab kedua orangtuanya juga turut berada di sana.
Galuh benar-benar tak habis pikir. Tapi..tunggu dulu, kenapa mas Adi bisa tahu? Apa pria itu membuntutinya? Dan kenapa bisa lewat jalan sana? Bukankah arah ke kantornya lurus saja. Berarti, kuat dugaan, suaminya itu memang membuntuti dirinya.
" Ya semoga setelah ini anak-anak bisa pergi liburan. Biar kita ini bisa cepet nimang cucu!" Tukas Pak Hendra kepada Pak Noer yang kini berbaring dengan brankar yang di naikkan sedikit.
" Makanya..Mas Noer harus semangat sembuh. Biar kita bisa sama-sama ngemong cucu ya...!" Imbuh Bu Sevi yang semakin membuat diri Galuh merasa bersalah.
Ia sempat melirik Mas Adi yang wajahnya bahkan tak menyuguhkan ekspresi apapun. Benar-benar pemain drama.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued...