
Bab 54. Jurang yang dalam
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Kediaman Hendra Prasetya
Hendra terlihat kesulitan menenangkan istrinya yang sedari tadi terus saja menangis dan terlihat frustasi. Wanita itu benar-benar tak bisa menerima apa yang telah terjadi dalam hidupnya.
Putranya telah mencoreng nama baik mereka. Adipati yang selama ini mereka gadang-gadang menjadi kebanggaan, nyatanya tak lebih dari pria brengsek yang beraninya bermain wanita.
" Mah, makan dulu!" Bujuk Pak Hendra dengan wajah muram." Nanti mama sakit!"
Bu Sevi hanya diam dengan tatapan kosong. Sebagi wanita, ia tentu memahami isi hati Galuh yang pasti saat ini tengah tercabik-cabik perasaannya.
Bu Sevi kembali menangis, " Mas Noer sedang sakit keras, dan anak kita malah membuat masalah seperti ini Pah?" Seraut penuh linangan air mata itu kini makin membuat hati Pak Hendra dilingkupi rasa bersalah.
Pak Hendra kini meletakkan piring berisikan nasi tersebut. Pria itu benar-benar mumet saat ini. Bagaimana ia bisa masih memiliki muka sebab persahabatannya dengan Pak Noer ternodai oleh kelakukan bejat putranya.
Dua manusia tua itu, kini hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Tap Tap Tap!!
Saat mereka berdua masih larut dengan kesedihan, suara langkah tapak sepatu terdengar menuju ke arah mereka. Adi terlihat datang dengan wajah panik.
" Mah? Apa Galuh ada disini?" Tanya Adi dengan wajah cemas yang kini berdiri tepat di depan meja ruang keluarga itu.
PLAK!!!
Bu Sevi seketika beranjak dari duduknya dan langsung menghadiahkan tamparan keras ke wajah putranya.
" Kurang ajar kamu Adi!!! Kurang ajar!!" Bu Sevi menampar wajah anaknya dengan impulsif dan kini terlihat histeris. Wanita itu mengeluarkan bentuk emosi yang sedari tadi tertahan.
Adipati mematung dengan rasa pipi yang kebas. Tak percaya jika mamanya yang selama ini tidak pernah mengasari dirinya, barusaja menampar wajahnya dengan murkanya yang kentara.
" Pergi kami dari sini!!!" Bu Sevi benar-benar tak bisa menahan dirinya." Pergi!!!!" Tangis wanita itu kian pecah saat mengucapkan hal itu.
" Mama malu punya anak kayak kau Di!!!" Bu Sevi merasa sangat kecewa terhadap kelakuan Adi.
Mata Adi berkaca-kaca, dadanya sesak. Seperti inikah rasanya diusir oleh orang tua sendiri?." Semua ini salah papa sama mama." Ia kini dengan lantang mengutarakan unek-unek yang selama ini tersimpan di dalam hatinya. " Adi dulu pernah bilang kalau Adi enggak suka sama perempuan itu, tapi apa?...Papa sama Mama malah maksa Adi buat nerima perjodohan sialan itu!"
" Mama sama Papa sudah eg...!"
PLAK!!
Sebuah tangan besar dengan rasa tamparan yang lebih keras ,kini membuat pipinya terlempar ke arah lain dengan rasa yang dua kali lipat pedih.
Dengan dada bergemuruh, dan napas yang terengah-engah, Pak Hendra menampar mulut kurang ajar Adi yang menyulut emosinya. Sudah cukup!
" Asal kamu tahu!!! Papa melakukan semua itu tidak mungkin tanpa perhitungan Adi!!" Pak Hendra menunjuk wajah Adi yang masih terkaget-kaget itu. " Galuh wanita baik-baik, dan papa tahu itu karena papa sudah mengenalnya lama!" Dengan mata melotot dan diiringi Isak tangis Bu Sevi, Pak Hendra melampiaskan amarahnya detik itu juga.
" Sekarang terserah kamu! Papa tidak akan ikut campur lagi urusan kamu. Tapi jika suatu saat kamu menyesal.... jangan pernah temui kami lagi! Pergi kamu!!!"
__ADS_1
Hati yang juga tengah diliputi emosi dan amarah itu tanpa pikir panjang seketika enyah dari hadapan Pak Hendra, yang juga masih kalut dengan emosi yang membuncah.
Adi seketika enyah dari pandangan mata kedua orangtuanya, dengan membawa serat emosi yang bersarang di dadanya.
Pak Hendra kini mendudukkan tubuhnya dengan tatapan yang kosong seraya menangis usai bertengkar hebat dengan putranya. Membuat Rayi yang notabene merupakan adik dari Adipati yang selama ini menjadi bad boys, tertegun.
Pria berusia seperempat abad itu kini kembali ke kamarnya, usai menyaksikan pertengkaran hebat keluarganya. Hah! Menghela napas pasrah.
Dari perdebatan yang ia tangkap, jelas persoalan ini menyangkut kehidupan rumah tangga kakaknya.
.
.
Galuh
Usai menyuapi Bapak, ia membawa serta piring bekas pakai yang baru saja ia gunakan sebagai wadah makanan Bapak. Galuh mencuci piring itu seraya melamun. Pikirannya berkelana kemana-mana. Tentang bagiamana jika bapaknya tahu, juga tentang dia yang hari ini tak masuk mengajar tanpa pemberitahuan.
Tanpa sengaja piring itu pecah dan tangannya terkena pecahan beling.
" Auhww!!!" Ia dengan segera membasuh darah itu dengan air kran yang mengalir. Terasa perih dan berkedut.
" Kenapa Luh?"
Ibu yang mendengar suara barang pecah, seketika menyibak tirai penutup jalan menuju dapur. Menatap Galuh dengan wajah cemas.
Ibu dengan telaten membungkus luka akibat pecahan beling itu dengan lembut, menggunakan perban. Bisa ia rasakan jika cinta kasih pemilik tapak surga itu masih sama hangatnya sewaktu ia belia itu.
Galuh menelengkan kepalanya lalu merebahkannya ke pangkuan sang Ibu. Ia rapuh saat ini, bukan maksudnya lari dari masalah. Tapi sebaik-baiknya orang yang tengah di dera masalah adalah ia yang menenangkan diri terlebih dahulu.
" Yang sabar...yang kuat...manusia di beri ujian tak lain hanya karena dia mampu!"
" Pikirkan baik-baik, jangan mengambil keputusan apapun saat hati sedang di kuasai emosi!"
Ia makin terisak meski suaranya tak terdengar. Sungguh, ia merasa takdir kini melemparnya ke dasar jurang kesunyian.
" Semua ibu percayakan sama kamu. Baik tidak baik, kamu yang menjalani. Tuhan masih sebaik-baiknya penolong dan penyembuh!"
.
.
Raka
Mendapat pesan dari Dewi, yang menginformasikan jika ia sudah ada di depan rumahnya, membuat Raka turun dengan tergesa malam itu.
Ia terperanjat demi melihat Dewi yang membawa banyak sekali cake lezat dengan warna yang di sukai anak-anak.
" Kok enggak bilang dulu kalau mau kesini?" Raka tersenyum saat Dewi meringis dengan wajah cantiknya ke arah Raka.
" Kalau ngasih tahu enggak surprise dong!"
Mereka berdua sama terkekehnya. " Citra mana? Sepi banget!" Ucap Dewi yang celingak-celinguk mencari sosok bocah ceriwis itu.
" Lagi dirumah mama, gak tahu kok agak lama disana, tadi mau aku jemput tapi papa nelpon kalau Citra masih mau disana!"
Dewi tertegun, keluarga yang masih hangat itu sangat kontras sekali dengan dirinya. Dewi melirik Raka yang tengah sibuk membalas chat dari orang lain. " Sebentar lagi kalian akan merasakan rasa yang selama ini aku rasakan!"
__ADS_1
" Oh ya, mau minum apa? Biar mbak Las buatin minum.
" Oh enggak usah, aku...diet!" Ucap Dewi tersenyum. Wanita itu sejurus kemudian mendekatkan dirinya ke samping Raka.
" Citra gimana? Aku..."
Raka seketika meletakkan ponselnya lalu kini menatap Dewi dari jarak yang dekat. Entah mengapa, saat bersama Dewi ia justru kepikiran dengan Galuh.
DRRTT
DRRTT
Getaran panjang dari ponsel berwarna silver miliknya membuat Raka urung untuk menjawab pertanyaan dari Dewi. Membuat wanita itu menggertakkan giginya. Sial!
" Aku angkat telepon sebentar ya?" Pamit Raka mengusap lembut lengan Dewi.
" Halo Ko gimana?"
[........]
" Oh udah kamu email?? Oke oke, makasih ya?"
[......]
" Terus Galuh sekarang dimana?"
Dewi tertegun demi menguping percakapan Raka barusan, untuk apa Raka menanyakan Galuh? Wanita itu bukannya guru dari Citra?
" Sory tadi asistenku nelpon!" Ucap Raka yang kini mendudukkan tubuhnya ke samping Dewi , usai memungkasi sambungan teleponnya.
" Iya enggak apa-apa!" Dewi tiba-tiba menyenderkan kepalanya ke dada Raka dan membuat pria itu terperanjat.
" Ka? Aku tahu ini terlalu cepat, tapi....!" Dewi kembali mengangkat kepalanya dan tangannya meraba dada bidang Raka yang kini mati-matian menahan dirinya.
" Apa yang terjadi diantara kita, tidakkah membuat kamu ingin menjalin hal yang lebih?" Dewi meraba bibir Raka yang kini mulai terbuai dengan sentuhan lembut wanita yang menurutnya sempurna itu.
Raka menelan ludahnya saat wajah Dewi sudah berada beberapa inchi saja dari wajahnya. Raka memejamkan matanya dan kini mulai terbuai dengan sentuhan lembut Dewi.
" Den! Den Raka!"
Suara cempreng Nining membuat Dewi menarik napasnya dalam-dalam, seraya mengeraskan rahangnya. Sialan!
Raka seketika membuang napasnya panjang. Astaga apa yang barusaja akan ia lakukan?
" Ya mbak?"
" Ibuk nelpon non Citra minta di jemput!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...