
Bab 70. Perasaan yang berubah
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Abimanyu
Ia tengah di kuatkan oleh istri dan anak perempuannya saat ini. Bastian bersama Jodhi telah melesat terlebih dahulu, dan berusaha mengejar Raka apapun yang terjadi. Definisi dari darah selaku lebih kental dari pada air.
Devan bersama anaknya masih setia berada di sana. Berniat mengatur strategi untuk mencari keberadaan Citra tanpa melibatkan polisi. Birokrasi rumit yang hadir dalam lini penegak hukum itu, membuat mereka berpikir dua kali.
Dan saat ponsel milik Abimanyu begetar, membuat kesemuanya yang ada disana kini mengalihkan fokusnya kepada pria berumur yang aura ketampanannya masih melekat itu.
" Halo siapa ini?" Ucapnya sesaat setelah menggeser tombol hijau, sebab nomer itu merupakan nomor asing yang sama sekali tidak ia kenali.
Abimanyu sengaja menekan tombol loudspeaker, agar kesemua yang ada di sana turut mendengar.
" Siapkan kepemilikan seluruh perusahaan Delta Group jika kau ingin anak dan cucumu selamat... Ayah!"
Abimanyu membulatkan matanya. Jelas itu merupakan penculik cucunya. Tapi, kenapa suaranya seorang perempuan?
" Mas, siapa itu? Kenapa memanggilmu Ayah?" Dhira kini menatap penuh rasa ingin tahu kearahnya. Padahal, ia juga sama bingungnya dengan istrinya itu.
TRING
Belum sempat menjawab kebingungan yang melanda, sebuah notifikasi di ponselnya membuat dirinya kembali mengarahkan perhatiannya ke layar pipih yang masih ia genggam itu.
Terlihat foto Citra yang kini menangis dengan keadaan kacau, kemudian foto Raka dan Galuh yang tengah terikat. Membuat Dhira seketika lemas demi melihat jika anak dan cucunya tengah dalam bahaya.
" Mama!"
" Mbak Dhira!"
Rania dan Kalyna secara bersamaan kini terlihat histeris, manakala melihat Dhira yang sudah hendak pingsan. " Mas... bagaimana ini mas?" Dhira bahkan tak sanggup lagi untuk sekedar menegakkan kepalanya. Pikirannya mendadak menjadi kalut dan keruh.
Abimanyu mengeraskan rahangnya dan seketika menelpon nomor itu.
" Kurang ajar, jangan main-main kamu, siapa kau sebenarnya!?" Abimanyu naik pitam, pria itu terlihat tak sabaran manakala wanita itu mengancam dirinya saat ini.
" Jaga bicara anda, jika ingin mereka selamat! Opa..tolong Citra Opa!!!" Dadanya bergetar hebat manakala suara Citra turut terdengar dalam ponsel tersebut.
__ADS_1
" Citra!" Gumamnya yang membuat kesemua yang ada disana kini tegang.
" Berikan apa yang aku mau dan aku akan membebaskan mereka. Ingat, kalau kau membawa polisi kemari, maka jangan harap kau akan menemui mereka dalam kondis hidup!"
TUT
" Halo..halo!!"
" Brengsek!" Abimanyu mengumpat dan membuat Kalyna dan dua wanita itu tersentak.
" Devan bantu Niko mempersiapkan segala sesuatunya. Rania temani kakamu disini dulu!"
Abimanyu tak bisa lagi menunda hal ini. Ia akan membereskan siapapun benalu yang berani mengusik keluarganya.
" Papa!" Kalyna yang menangis kini memeluk Abimanyu yang sudah beranjak dan hendak melangkahkan kakinya. Gadis itu sangat manja kepada papanya, dan melihat pria kesayangannya itu kini nestapa, membuat hatinya bak tersusuk duri sembilu.
" Papa harus janji...akan baik-baik saja!" Kalyna menangis, membuat dada Abimanyu sesak. Pria itu kini memeluk Kalyna erat-erat. Menghujani kepala anaknya dengan ciuman yang tulus dan penuh kasih.
" Papa akan baik-baik saja. Papa janji! Sekarang, kita bagi tugas. Kamu jaga mama sama tante Rania. Doakan Papa berhasil jemput kakakmu!"
Kalyna mengeratkan pelukannya. Menghirup aroma tubuh pria Numero Uno dalam hidupnya itu. Berharap semuanya akan baik-baik saja.
" Apa kau tega meninggalkan kami dalam acara pentingmu ini?" Suara familiar pria konyol terdengar menginterupsi kegiatan peluk memeluk anak dan bapak itu.
Dananjaya yang kini berkumis itu terlihat membawa Shinta juga kedua anak kembarnya.
Membuat Abimanyu kini tersenyum manakala member of Trio Konglo itu hadir. Thanks guys!
" Bagiamana kalian bisa tahu?" Tanya Abimanyu yang kini berjabat tangan dengan memeluk dua sahabatnya.
" Untung aku tadi telpon Bastian karena dengar berita soal saham Delta Group. Tega sekali kau tidak melibatkan kami dalam hal begini ini!" Danan menggerutu.
Sekar dan Shinta bersama anak-anak langsung menghambur ke arah Dhira yang nampak syok. Abimanyu tersenyum penuh haru, tak mengira bila di usianya yang di ujung Renjana ini, bisa kembali berkolaborasi dengan ketiga sahabatnya yang soang itu.
" Ready?" Tanya Wisang menatap Abimanyu dan Danan secara bergantian.
"Ready!!"
.
.
Raka
Ia berusaha melepaskan ikatan tali yang membelenggu kedua tangannya meski rasa perih dan nyeri kini menyerang pergelangan tangannya.
__ADS_1
" Pak Raka, jangan memaksa. Lihatlah tangan anda sudah memerah!" Galuh menatap muram Raka yang masih berusaha melepas lilitan kita tali putih itu. " Pria yang itu sudah berjanji akan membebaskan kita!" Ucap Galuh yang kini dikurung berdua dengan Raka di ruangan lain.
Raka marah kepada dirinya sendiri yang tak mau mempercayai Jodhi. " Harusnya aku percaya kepada Jodhi Luh!" Raka menangis demi mengingat jika ia telah membuat kekacauan dalam keluarganya.
Saat sesal sudah tiada berguna.
" Memangnya apa yang sebenarnya terjadi Pak?" Dalam kondisi terikat, mereka berdua akhirnya kini saling berbicara.
Raka menceritakan apa yang menjadi sebab musabab mereka berkelahi, bahkan berkali-kali meminta maaf kepada Galuh sebab tadi pagi tak menyapanya. Untuk pertama kalinya, Galuh bisa melihat dengan jelas ketulusan yang terpancar di dua netra Raka.
Raka tak hentinya menyalahkan dirinya sendiri. " Gue emang bodoh.. bodoh!!" Raka membenturkan kepalanya sendiri ke dinding yang ada di belakangnya berkali-kali. Membuat Galuh cemas akan sikap impulsif Raka. Astaga pria ini kalau marah!
" Pak Raka jangan membuat diri anda lebih bodoh lagi dengan menyakiti diri sendiri Pak!" Teriak Galuh yang sukses membuat Raka berhenti menyiksa diri sendiri. Galuh terpaksa berkata kasar seperti itu karena tak tahu lagi harus bagaimana mengentikan Raka yang tersulut emosi.
Raka terdiam seraya menitikkan air matanya. Galuh benar. Perasaan menyesal karena seringkali menganggap semua orang itu baik seperti dirinya, justru membuatnya terseret dalam arus permasalahan pelik seperti saat ini.
Suasana senyap, hanya terdengar suara Raka yang mencoba menahan tangis di sela-sela suaranya yang sebenarnya tercekat.
" Percaya sama saya, pria bernama Anom itu sudah mengatakan akan membebaskan kita nanti!" Galuh menatap muram wajah Raka yang kini juga menatapnya sendu.
" Apa kau yakin?" Tanya Raka lesu. Ia seperti kehilangan harapan.
Galuh mengangguk muram. " Harga diri pria terletak pada ucapannya. Itu yang pria tadi ucapkan. Saya rasa, pria itu bukanlah penipu!"
Raka dan Galuh kini saling menatap. Ada rasa teduh dan tentram manakala Raka membaca kilatan kesungguhan dari dua netra Galuh yang juga berkaca-kaca.
" Makasih Luh, kamu selalu bersikap baik meski aku pernah salah menilaimu!" Ucap Raka dengan suara tercekat. Ingin rasanya Raka merengkuh Galuh kedalam pelukannya saat itu juga. Ingin berbagi kesesakan saat itu juga.
" Saya dan anda sama-sama manusia Pak. Kita semua pernah salah. Dan manusia memang tempatnya salah!"
" Kita harus ingat, semua orang berperang melawan ujiannya masing-masing Pak. Pun dengan saya...!" Galuh menghela nafasnya demi mengurangi sesak di dadanya. " Tapi selagi kita di beri hidup , kita tidak boleh kehilangan harapan. Tidaklah Tuhan memberikan kita suatu ujian kecuali kita sanggup menjalaninya!"
Raka semakin takjub. Wanita itu sebenarnya masih terluka, tapi lihatlah kebijaksanaan yang di suguhkannya? Hati Raka berubah kagum dengan sosok Galuh. Nyatanya, kejadian buruk ini selain bisa mencelikkan matanya akan kebusukan Dewi, ia kini juga tahu, alasan Tuhan membuat Galuh dekat dengan Citra.
Sejumput perasaan yang tak bisa dijelaskan, mendadak menyelinap dalam relung hati Raka.
" Aku berjanji akan merubah semua sikapku jika kita keluar dari tempat ini Luh. Aku berjanji!" Batin Raka yang kini menatap Galuh tak lekang.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...