Menjadi Ibu Untuk Anakmu

Menjadi Ibu Untuk Anakmu
Bab 125. Pingsan


__ADS_3

Bab 125. Pingsan


.


.


.


...🌺🌺 🌺...


Lintang


" Maafkan anak kami nak, maafkan kebejatan Jodhi! Karena telah membuat hidup kamu menderita selama ini! " Ucap Rania dengan tangis yang membuat suaranya bergetar.


Tubuhnya mematung, tatapannya kaku, serta lidahnya mendadak kelu. Membuat tenggorokannya turut tercekat. Sebab, selain karena ia belum menyentuh air sama sekali sejak bangun, kini Lintang benar-benar tak berkutik lantaran dugaannya melenceng.


Mama Jodhi justru memeluknya. Ya, wanita benar-benar memeluknya saat ini.


Ia bahkan bingung harus bersikap apa, tubuhnya mendadak tak bisa diajak kompromi. Dan entah mengapa, hatinya terasa hangat kala dipeluk wanita itu. Pelukan seorang Ibu.


Tanpa terasa, Air mata Lintang kini menetes. Ia teringat akan Ibunya yang telah tiada.


Tak mengira jika ia akan mendapatkan perlakuan hangat dari wanita yang melahirkan Jodhi itu.


" Atas nama keluarga, kami mohon maaf ya nak. Tante benar-benar minta maaf!"


Ia makin terisak kala mendengar suara bergetar dari mama Jodhi. Bahkan, ia bisa melihat jika pria yang kini berdiri si samping Jodhi turut menyusut sudut matanya.


Namun, kegiatan mengharu biru mereka rupanya terinterupsi oleh tangis Danuja yang tiba-tiba. Membuat kesemua yang ada disana, kini berduyun-duyun mengerubungi ranjang bayi itu.


" Ya- Yah! Ya- Yah!!" Rengek Danuja yang membuat Lintang seketika lemas. Kenapa bukan dirinya yang dicari, kenapa harus laki-laki itu?


.


.


Jodhistira


" Sinikan Jo, mama mau gendong. Ke kamar mandi dulu sana kamu!" Ucap Rania yang masih kesal dengan dirinya.


Jodhi hanya bisa melongo saat Rania mengambil paksa Danuja dari gendongannya. Jelas dia kalah telak.


" Astaga mas, lihat dia mas. Dia sangat mirip sekali dengan Jodhi waktu kecil!" Rania mencium Danuja penuh cinta kasih dengan sangat lama seraya menangis.


" Siapa Lin namanya Lin?" Tanya Rania yang benar-benar tengah larut dalam keharuan.


" Danuja Tante!" Sahut Lintang dengan suara pelan dan canggung.


" Nama yang bagus!" Ucap Bastian mengelus kepala semi botak milik Danuja.


Lintang hanya bisa terdiam kala melihat pemandangan itu. Entahlah, mengapa kini perasannya begitu merasa terenyuh saat melihat Rania yang begitu menyayangi Danuja.


Dan anehnya, Danuja tetap diam sembari lekat - lekat menatap Rania dengan wajah bingung. Siapakah dia, kenapa baru dilihatnya sejak beberapa hari ini?


" Ini Oma sayang, ini Oma kamu!" Rania menciumi pipi basah Danuja akibat tangis tadi.

__ADS_1


" O-ma!!" Kecap Danuja menirukan suara Rania dan berhasil membuat wanita itu tersenyum senang.


" Ya sayang, ini Oma!" Ucap Rania yang menangis haru saat melihat kondisi cucunya yang mengenakan pakaian sangat sederhana. " Ini Opa!" Rania mencondongkan tubuh bayi itu ke hadapan Bastian yang kini menyentuh jari jemari mungil Danuja.


" O- Pa!!" Danuja anak yang cerdas, ia kini mengikuti ucapan yang diajarkan oleh Rania. Membuat hati Bastian turut bahagia sebab mendapat panggilan mulia itu.


Sungguh, pertemuan yang mengharukan itu membuat hati Lintang seketika tersuluh cahaya surgawi. Apakah ini mimpi? Apa yang ia takutkan soal keluarganya Jodhi selama ini, nyatanya hanya sebatas isapan jempol belaka.


Kini, Lintang memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri saat merasa Danuja tak menolak wanita itu. Ia malu sebab belum menyentuh air sama sekali.


Dan melihat hal itu, tentu saja Jodhi harus mengalah.


" Ngapain kamu balik?" Tanya Rania ketus sambil menimang Danuja yang kini bermain-main menarik kumis Bastian.


" Kamar mandinya satu loh Ma! Masih di pakek sama Lintang, masa ia Jodhi mandi sama Lin..."


PLETAK!!!


" Aduh!"


Rania menjitak keras kepala anaknya demi mendengar ucapan yang ngawur itu.


" Mikir apa kamu hah?"


" Ya enggak mikir apa-apa ma!" Jawab Jodhi menunduk muram.


"Sekarang pikirin gimana caranya biar Lintang mau maafin kamu! Nikahin dia! Mama enggak mau tahu gimana caranya! Mama enggak rela ngelihat Lintang sama Danuja menderita lagi gara-gara kamu! Ucap Rania semakin berang.


" Pergi sana kamu, huhh!" Rania benar-benar geram kepada Jodhi. Hatinya sakit kala melihat kondisi Lintang dan Danuja yang nyaris compang - camping.


" Sebenarnya yang anak mama itu Lintang apa Jodhi sih ma?" Jawab Jodhi memanyunkan bibirnya dengan raut monyong.


Namun, kejadian mencengangkan sekaligus menegangkan itu sempat mencair lantaran kedatangan dokter yang memeriksa perkembangan Danuja.


Membuat satu keluarga itu kini menyembunyikannya perdebatan yang baru saja terjadi.


" Hasil lab bagus ya pak. Tidak kami temukan adanya indikasi penyakit lain!" Terang dokter wanita tersebut dengan sangat ramah.


Bastian dan juga Rania masih berdiri bersamaan sambil sibuk menggendong Danuja yang entah mengapa kerasan sekali dengan Rania yang juga enggan melepas anak itu.


" Dok, kapan cucu saya boleh pulang?" Tanya Rania yang kini mengkudeta Danuja.


Membuat Jodhi seperti kambing congek.


" Kalau malam ini diarenya sudah berhenti dan sudah tidak demam, besok sudah bisa pulang Bu!"


Rania tersenyum saat menatap dokter itu, namun sejurus kemudian ia kembali melengos saat menatap putra sulungnya.


Anak kurang ajar!


" Pergi sana kamu!" Ucap Rania ketus kepada anaknya. Jodhi memberengut namun kini di tepuk pundaknya oleh Bastian.


"Mama bahkan sudah mengusirku lebih dari dua kali!"


" Bersihkan diri kamu dulu, mama kamu lagi kepincut sama Jodhi kecil. Papa tahu kamu pasti punya alasan dibalik semua ini. Udah sana, sebelum mama kamu tambah ngamuk lagi !" Ucap Bastian yang selalu menjadi the best papa.

__ADS_1


Jodhi berjalan lesu dan gontai kala keluar ruangan itu. Ia akan menemui Novan dan berniat nebeng mandi diruangannya. Ia tahu, mamanya pasti kecewa.


Tapi, apa beliau tak mau mendengar versi darinya dulu?


Bukankah dia juga terluka?


.


.


Lintang


Badannya memang lebih segar usai mandi, menjadikan dirinya lebih percaya diri meski pakaian yang ia kenakan itu-itu saja. Lintang tak mementingkan apapun selain kebutuhan Danuja, bahkan untuk menyenangkan dirinya sendiri saja ia tak pernah sempat.


Wajah pucat tanpa riasan make up yang dulu sering menghiasi wajahnya juga tiada lagi pernah terlihat.


Baginya, hidup adalah hari ini dan untuk Danuja.


Walau terasa fresh, tapi entah mengapa persendiannya semakin terasa nyeri dan meriang. Kepalanya juga terasa berat, dan pandangannya perlahan mengabur.


Dengan lutut yang mendadak terasa lemas, Lintang menarik handle pintu kamar mandi di ruangan itu secara perlahan, dan tiba-tiba.


BRUK!


Baik Bastian maupun Rania yang asik bersama Danuja, kini membeku selama beberapa detik demi melihat hal mengejutkan di depan matanya itu.


" Lintang!" Teriak Rania saat melihat Lintang yang tak sadarkan diri.


Bastian bahkan berlari tunggang langgang demi melihat hal itu.


" Astaga mas, kenapa dia ini?" Ucap Rania panik saat melihat Bastian berupaya mengguncang tubuh Lintang untuk memeriksa.


" Lintang! Nak bangun nak!" Bastian semakin panik kala mendapati tubuh Lintang yang demam.


" Astaga, Lintang badannya panas sekali, minggir dulu ma biar Papa angkat!" Seru Bastian yang sudah bersiap akan mengevakuasi Lintang per segera.


Rania menatap khawatir ibu dari cucunya, yang kini tengah di angkat oleh Bastian.


Dengan panik dan kecemasan yang sama, Rania menatap kepergian suaminya yang kini membopong Lintang.


" Ya Allah, semoga tidak ada apa-apa nak. Kasihan Lintang!" Rania mendekap Danuja yang kini terlihat bingung.


Danuja yang melihat ibunya pergi, kini menangis. Ikatan batin yang terjalin agaknya mulai bekerja.


" Cup ya nak, ada Oma disini, tenang ya!" Rania yang melihat Danuja menangis tentu saja tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Nunggu satu bab lagi masih review ya buebo. Awal bulan depan dan jika sesuai deadline, novel ini akan tamat. 😘😘😘


__ADS_2